PPAk UII dan IAPI Menyelenggarakan Sosialisasi Sertifikasi Akuntan Publik

IAPIProfesi akuntan publik menjadi salah satu profesi yang cukup diminati, khususnya oleh para lulusan akuntansi. Kebutuhan yang tinggi terhadap tenaga profesional akuntan menyebabkan persaingan di dalam dunia kerja juga semakin ketat. Terlebih lagi, pasar bebas ASEAN nantinya akan membuka pasar bagi jasa akuntan di wilayah negara-negara ASEAN. Sementara itu, untuk mendapatkan sertifikasi certified public accountant (CPA), diperlukan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi. Oleh sebab itu, mahasiswa dan para lulusan program studi Akuntansi perlu mempersiapkan diri untuk dapat memperoleh sertifikasi menjadi seorang akuntan publik.
Menanggapi hal tersebut, program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia bekerjasama dengan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Certified Public Accountant (CPA). Sosialisasi ini diselenggarakan di Aula Utara Gedung Prof. Dr. Ace Partidiredja, Kampus Fakultas Ekonomi UII pada hari Rabu (28/4) dan dihadiri oleh mahasiswa FE UII serta mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Sosialisasi ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi UII,  Dr. Drs. Dwipraptono Agus Harjito, M.Si. Dalam sambutannya Agus Hardjito menekankan tentang pentingnya kegiatan ini bagi para mahasiswa yang ingin berkarir sebagai akuntan publik. Terlebih lagi karena FE UII saat ini menjadi salah satu tempat ujian sertifikasi CPA di wilayah Yogyakarta.
Sosialisasi yang bertema Sosialisasi CPA dan New CPA Program 2015 ini menghadirkan narasumber Tarkosunaryo, MBA, CPA, yang saat ini menjabat sebagai Ketua IAPI. Tarkosunaryo menyampaikan berbagai informasi penting tentang CPA yang merupakan sertifikasi untuk profesi akuntan publik yang akan diberikan kepada calon akuntan publik setelah menjalani sebuah pelatihan dan ujian sertifikasi. “Sertifikasi tersebut juga merupakan tanda perizinan bagi seorang akuntan publik untuk dapat memberikan layanan jasa assurance”, paparnya. IAPI sebagai organisasi akuntan publik di Indonesia membantu para calon akuntan publik yang ingin menjalani ujian sertifikasi CPA.
Selain menyampaikan mengenai sertifikasi CPA, Tarkosunaryo juga berbagi strategi kepada para mahasiswa untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015. “AEC juga membuka peluang kepada para akuntan publik untuk berkesempatan kerja di negara-negara ASEAN, dan sebaliknya. Sehingga akuntan publik di Indonesia harus siap dan mampu bersaing,” tegasnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, Tarko mengatakan bahwa mahasiswa harus meningkatkan pengetahuan teknis mereka tentang akuntansi, auditing, keuangan, dan bisnis sesuai dengan standar internasional.

Pekan Manajemen 2015 Hadirkan Stadium General “Best Practice in Human Resources Management”

pekan manajemenPeranan sumber daya manusia (SDM) tidak semata menjadi penggerak utama berjalannya proses bisnis di dalam sebuah perusahaan, melainkan juga menjadi aset penting bagi perusahaan. SDM, jika dilihat jangka panjang, merupakan bagian dari investasi bagi perusahaan. Hal ini menarik perhatian mahasiswa Program Studi Manajemen FE UII yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) Management Community untuk mengadakan acara Stadium General dengan mengangkat tema “Best Practice in Human Resources Management”. Penyelenggaraan kegiatan ini juga didukung oleh Program Studi Manajemen UII. Stadium General ini merupakan rangkaian acara dari kegiatan rutin tahunan MANIFEST (Management Annual Inaugural Festival) dari Management Community.
Kegiatan kuliah umum ini bertempat di Aula Utara FE UII pada Sabtu (17/04) dan dibuka oleh Ketua Prodi Manajemen, Dr. Drs. Sutrisno, MM. Peserta pada kegiatan ini adalah mahasiswa prodi manajemen, khususnya yang mengambil konsentrasi studi di bidang manajemen sumber daya manusia. Acara ini menghadirkan narasumber Bernadina Okti Adiyanti, S.Psi, P.Si, Human Resource Director, GoodYear dan dipandu oleh moderator, Drs. Arif Hartono, MHRM., Ph.D, dosen Prodi Manajemen.
Bernadina memaparkan tentang perkembangan manajemen SDM dari masa revolusi industri hingga saat ini. Dalam perkembangannya, dunia pengelolaan SDM telah mengalami perluasan fungsi pada tubuh perusahaan. “Saat ini HRM (human resource management –red) berlomba-lomba membangun SDM tidak hanya untuk menjadi pegawai biasa tetapi untuk menjadi talent yang dapat menggerakkan perusahaan”, ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa peranan manajemen SDM kini menjadi semakin penting terutama dalam memastikan keberhasilan pengelolaan perubahan yang dibutuhkan perusahaan, khususnya untuk mengelola bakat-bakat yang berpotensi memimpin perusahaan, agar tetap bertahan dan terus meningkatkan kinerjanya.
Diskusi dalam acara ini berlangsung komunikatif dengan banyaknya pertanyaan dari peserta yang antusias untuk mendapatkan cerita pengalaman dari narasumber sebagai praktisi profesional di bidang manajemen SDM. Dengan adanya acara ini diharapkan mahasiswa dapat menambah wawasan mengenai manajemen SDM dan mampu meningkatkan pemahamannya terkait teori yang telah didapat di bangku perkuliahan dengan implementasi di dunia nyata.

Pelayanan Prima Kunci Keberhasilan Perguruan Tinggi Pertahankan Eksistensi

2015.04.15. pelayanan primaDi tengah persaingan global yang semakin ketat terlebih dengan akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka seluruh perguruan tinggi dituntut untuk terus berusaha memperbaiki diri agar mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain baik perguruan tinggi dalam negeri maupun perguruan tinggi dari luar negeri.
Dengan jumlah perguruan tinggi dalam negeri yang begitu banyak dan di tambah semakin gencarnya promosi perguruan tinggi asing yang masuk ke Indonesia, maka setiap perguruan tinggi baik PTN maupun PTS semuanya memiliki tantangan dan peluang yang sama. Kompetisi tidak lagi hanya ditentukan dari rekam jejak institusi melalui akreditasi maupun ragam prestasi lainnya.
Dijelaskan Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., dalam arus globalisasi yang semakin tidak mengenal batas antarnegara, keunggulan dalam kompetisi saat ini setidaknya ditentukan oleh tiga hal: lebih cepat, lebih murah, lebih baik – faster, better, cheaper. “Kalau yang mahal lebih baik itu banyak, tapi kita berusaha dengan biaya yang lebih murah namun dapat memberika pelayanan yang lebih cepat dan lebih baik.” Ujar Dr. Harsoyo.
Dr. Harsoyo melanjutkan bahwa kualitas pelayanan akan menentukan keberhasilan sebuah perguruan tinggi dalam bersaing, “Keunggulan dalam kompetisi antarperguruan tinggi ke depan juga akan ditentukan oleh kualitas layanan di luar kelas. Pelayanan di dalam kelas seperti kualitas mengajar seorang dosen sudah menjadi sebuah keharusan, dan di saat yang sama, kualitas pelayanan di luar kelas seperti layanan informasi akademik, layanan kemahasiswaan, dan layanan terkait lainnya semakin bermakna penting untuk menunjang pelayanan prima universitas.” Papar Dr. Harsoyo.
Pelayanan prima menurutnya harus diwujudkan oleh seluruh unit yang ada di UII dengan memperhatikan kebutuhan stake holder mulai dari internal kemudian kepada pihak ekternal dari waktu ke waktu. “Pelayanan prima bagi eksternal tidak mungkin dapat berhasil jika di kalangan internal UII saja pelayanan tersebut masih belum terlaksana dengan baik.” Tegas Dr. Harsoyo
Drs. H. Syafaruddin Alwi, M.S. yang merupakan Ketua Pembina Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII mengungkapkan bahwa faktor utama mengapa customer meninggalkan sebuah perusahaan atau lembaga adalah buruknya pelayanan perusahaan tersebut terhadap customer. “75% disebabkan oleh pelayanan yang buruk, 11% ketidakpuasan terhadap produk, 7% harga di tempat lain lebih murah, dan 7% sisanya faktor lain-lain.” Papar Drs. Syafar.
Ia menjelaskan bahwa setiap staf dan karyawan UII perlu memahami kunci-kunci penggerak perubahan sistem pelayanan di antaranya adalah perubahan lingkungan global, penggunaan teknologi informasi yang semakin luas dalam multi dimensi kegiatan masyarakat, perkembangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan terbaik yang semakin tinggi, reaksi kritikal dan emosional dari pelanggan, serta derivasi dan konsekuensi dari visi organisasi.

Sumber : www.uii.ac.id

Tingkatkan Ilmu KeIslaman Melalui Pendampingan Agama Islam

Salah satu tujuan berdirinya UII adalah untuk membentuk cendekiawan muslim dan pemimpin bangsa yang bermanfaat bagi masyarakat serta mampu menerapkan nilai-nilai Islam. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Fakultas Ekonomi UII secara konsisten selalu melaksanakan kegiatan Pendampingan Agama Islam (PAI) dalam beberapa tahun terakhir. Kegiatan PAI akan diikuti secara wajib oleh seluruh mahasiswa baru pada setiap tahunnya selama 1 semester dan terintegrasi dengan kurikulum. Selama mengikuti kegiatan PAI, mahasiswa akan didampingi oleh mentor untuk meningkatkan ilmu keIslaman, terutama ibadah dan akhlak.

UPLOAD2Untuk membuka kegiatan PAI pada periode 2014-2015 ini, Fakultas Ekonomi UII mengadakan kuliah umum kepada seluruh peserta kegiatan PAI yang berlangsung pada Sabtu (28/3) di Hall Tengah FE UII. Menurut M. B. Hendrie Anto, S.E., M.Sc selaku ketua Tim PAI FE UII, PAI merupakan momentum penting bagi para mentor guna melatih kepercayaan diri dan mengajarkan ilmu agama yang mereka miliki kepada para mentee. “PAI juga merupakan salah satu cara untuk meneruskan tongkat estafet  dakwah di kampus FE UII”, tambahnya.

Turut hadir dalam acara ini, Dekan FE UII, Dr. D. Agus Hardjito, M.Si untuk memberi sambutan sekaligus membuka acara. Menurut Agus, kegiatan PAI merupakan bentuk keturutsertaan Fakultas dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada mahasiswa-mahasiswi baru FE UII sebagai tanggungjawab dalam mencetak para cendekiawan muslim tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga ilmu agama. “Kegiatan PAI diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ilmu agama untuk memperbaiki akhlak serta meningkatkan kesadaran untuk selalu rajin beribadah”, terang Agus.

Acara kuliah umum diisi oleh Ustadz Fadly Noor yang memaparkan materi dan sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta. Menurut Fadly, terdapat 2 jenis motivasi yakni push atau dari luar diri sendiri dan pull atau visi dari dalam diri sendiri. Fadly menambahkan bahwa motivasi push adalah seluruh kejadian yang berasal dari luar diri sendiri, bisa berupa ancaman, keterdesakan, dan lain-lain, sedangkan motivasi yang lebih baik adalah motivasi pull yang berasal dari dalam diri sendiri yang keberadaanya akan terus terjaga. “Sebagai manusia kita harus punya visi untuk mendapatkan yang terbaik dan mendapatkan yang lebih baik lagi”, pungkas Fadly.

Usai kuliah umum, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan antara mentor dengan mentee untuk menjalankan kegiatan mentoring selama PAI yang berisi penyampaian materi keIslaman, baca-tulis Al-Qur’an, dan materi ibadah lainnya. Mentoring akan dijadwalkan secara rutin sesuai kesepakatan mentor dan  mentee. Mentor PAI merupakan kakak-kakak angkatan dari para mahasiswa-mahasiswi baru. Kegiatan PAI diharapkan tidak hanya meningkatkan ilmu keIslaman melainkan juga mempererat silaturrahmi sesama mahasiswa FE UII.