PerpusPerpustakaan sebagai jantung ilmu pengetahuan kini menghadapi gelombang perubahan yang tidak terbendung. Salah satunya yakni proses digitalisasi informasi yang berlangsung sangat cepat. Di era digital, masyarakat dapat mengakses informasi dan pengetahuan dengan mudah di mana pun mereka berada tanpa harus berkunjung ke perpustakaan. Oleh karenanya, perpustakaan yang masih bertahan pada layanan konvensional diprediksi akan mengalami kesulitan. Untuk itu, perpustakaan dituntut untuk terus mengembangkan diri, baik dari segi sistem informasi, sarana prasarana, layanan, hingga kompetensi sumber daya manusianya.

Sebagaimana tergambar dalam acara Seminar Nasional “Menuju Perpustakaan Sebagai Knowledge Enterprise” yang diadakan oleh Direktorat Perpustakaan UII pada Kamis (15/10). Seminar yang diadakan di Ruang Auditorium, Lantai 2, Gedung Perpustakaan pusat UII ini banyak dihadiri oleh pustakawan, dosen, kalangan umum, serta pemerhati perpustakaan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Disampaikan oleh Direktur Perpustakaan UII, Joko Sugeng Prianto, SIP, M.Hum bahwa tujuan diadakannya seminar adalah untuk memperkenalkan paradigma baru kepada peserta tentang perpustakaan yang berbasis knowledge enterprise. Menurut Joko Sugeng Prianto, perubahan pola mengakses informasi yang kini sedang berlangsung hendaknya juga direspon dengan baik oleh perpustakaan dan SDM di dalamnya. “Saat ini perubahan sudah di depan mata, keberadaan perpustakaan harus merespon perkembangan zaman, tidak bisa stagnan”, katanya.

Pemateri seminar yang juga Wakil Rektor I UII, Dr.-Ing. Ilya Maharika, MA mengatakan saat ini di Barat muncul kegelisahan tentang bagaimana eksistensi perpustakaan ke depan. Sebab pola akses informasi masyarakat sudah sangat berubah seiring dengan digitalisasi informasi. Oleh karena itu, mulai dipikirkan konsep pengembangan perpustakaan yang berbasis knowledge enterprise.

Konsep tersebut membawa makna adanya integrasi teknologi informasi ke dalam layanan dan pembangunan sistem perpustakaan yang mampu mengelola informasi dan ilmu pengetahuan secara optimal. “Jadi ketika user membutuhkan informasi tertentu, sistem yang ada di perpustakaan siap merespon hal itu dengan mengarahkan user untuk memperoleh hal yang ingin dicarinya secara spesifik”, terangnya. Perpustakaan ke depan diprediksikan akan menjalin kemitraan secara kolaboratif dengan berbagai sektor dan lembaga.

Pembicara lain, Dra. Sri Sumekar, M.Si dari Pusat Preservasi Bahan Pustaka, Perpusnas RI menilai perpustakaan yang maju tidak hanya berbicara sistem namun juga kemampuan pustakawan sebagai pengelola informasi. “Saat ini tidak berlaku lagi istilah, tidak ada pengunjung, pustakawan menganggur namun bagaimana pustakawan harus rajin menjemput bola”, katanya.

Pembangunan profesionalisme pustakawan menurutnya dapat dimulai lewat program sertifikasi profesi pustakawan yang tengah digarap oleh lembaganya. Ia juga menekankan perlunya inovasi layanan perpustakaan yang ramah dan mendengarkan kebutuhan pengguna.

sumber: www.uii.ac.id