bakauIndonesia sebagai negara kepulauan merupakan salah satu negara pemilik garis pantai terpanjang di dunia. Hal ini menyebabkan wilayah pesisir Indonesia memiliki potensi kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah. Pesisir di pantai-pantai Indonesia juga menjadi tumpuan sumber pendapatan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. Berbagai aktifitas perekonomian tertumpu di sana mulai dari pertanian lahan pasir, perikanan, tambak, hingga pariwisata.

Sayangnya, keberadaan wilayah pesisir kini semakin terancam dengan maraknya aktifitas degradasi lingkungan. Salah satunya yakni pembalakan liar dan penggundulan hutan bakau. Padahal keberadaan hutan bakau sangat vital bagi kelangsungan ekosistem. Rusaknya hutan bakau sama saja dengan mempercepat laju abrasi pantai dan menyempitnya wilayah produktif di pesisir pantai. Hal ini tentunya juga mengganggu aktifitas perekonomian penduduk.

Kondisi inilah yang mengundang simpati sekelompok mahasiswa UII yang peduli dengan kelestarian lingkungan pesisir. Empat orang mahasiswa UII yang diketuai oleh Adam Ikhya Al-Farokhi kemudian menggagas gerakan pelestarian hutan bakau di wilayah pesisir yang melibatkan anak-anak dan generasi muda. Gerakan bernama ONCOM (One Child One Mangrove) merupakan program pelestarian lingkungan berkelanjutan yang ingin menanamkan kecintaan pesisir pada anak-anak di wilayah itu. Program itu telah dilaksanakannya di Desa Poncosari, Srandakan, Bantul.

Sebagaimana dituturkan oleh Adam Ikhya Al-Farokhi, “Saya kira kalau gerakan penanaman mangrove mungkin sudah biasa dilaksanakan. Oleh karenanya gerakan kami juga menekankan upaya penanaman rasa cinta lingkungan pesisir bagi anak-anak di sana”, kata mahasiswa Teknik Lingkungan UII ini. Dalam melaksanakan gerakan itu ia juga melibatkan tiga orang rekannya yakni, Muhamad Nur Laili Dwi Kurniyanto, Citra Endah Nur Setyawati, dan Nur Amalia Pawestri. Adam Ikhya menilai di tangan anak-anak inilah kelak masa depan wilayah pesisir bertumpu. Sehingga diperlukan upaya penyadaran sejak dini untuk cinta lingkungan.

Ketika ditanya bagaimana ia menanamkan rasa cinta itu, Adam Ikhya menceritakan pihaknya telah merancang berbagai aktifitas edukasi tentang lingkungan yang menarik dan sesuai untuk anak-anak. “Kami memiliki tiga sub aktifitas, yang pertama yaitu kelas apresiasi mangrove yang mengajak anak-anak menghargai pentingnya hutan bakau. Konsepnya disampaikan seperti dongeng oleh tim kami”, sambungnya. Di samping itu, ada pula penayangan video tentang lingkungan dan games kreatif yang melatih imajinasi anak-anak. Harapannya lewat games dan cerita, anak-anak dapat lebih mengapresiasi lingkungannya.

Puncak dari kegiatan itu adalah mengajak anak-anak tersebut terjun langsung dengan menanam pohon mangrove di dekat desa tempat tinggalnya. “Satu anak menanam satu pohon mangrove. Setelahnya mereka mendapat sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya. Alhamdulillah ada 1.000 bibit yang ditanam”, tutur Adam. Pasca penanaman, akan dilakukan monitoring dan evaluasi.

Untuk menyukseskan programnya itu, Adam mengaku mendapat dukungan dari banyak pihak. Selain yang utama dari warga desa setempat, ia juga disokong oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda, Kemenpora RI. Bahkan pihaknya juga ditawari mengaplikasikan program serupa di wilayah Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta.

sumber : www.uii.ac.id