perekonomian indonesiaPerekonomian Indonesia pada tahun 2016 mendatang diprediksi akan membaik. Meskipun pertumbuhannya tidaklah sebesar tahun 2015, namun berbagai faktor politik ekonomi dalam negeri akan mendorong perekonomian berada pada kondisi stabil. Rasa optimis cukup rasional jika perekonomian bisa sekitar 5,2 hingga 5,4 persen pada tahun 2016, lebih tinggi dari tahun 2015 yang diperkirakan sebesar 4,7 persen.

Demikian disampaikan Wakil Rektor II UII, Dr. Nur Feriyanto, M.Si. pada penyampaian hasil rumusan penyelenggaraan Seminar Nasional Perekonomian Indonesia: Evaluasi Tahun 2015 dan Prospek 2016, yang digelar di Auditorium Kahar Mudzakkir UII, Rabu (2/12). Kegiatan ini terselenggara berkat kerjama antara UII dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta.

Pemateri yang dihadirkan dalam penyelenggaraan seminar merupakan pemangku kebijakan dibidang terkait, akademisi dan juga praktisi. Pemateri yang dihadirkan yakni Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan RI, Iman Pambagyo, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia, Dr. Solikin M Juhro, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu RI, Parjiono, Ph.D., Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D., Dosen Fakultas Ekonomi UII, Suwarsono Muhammad, MA. dan Pengusaha Yuli Sugianto.

Disampaikan Dr. Nur Feriyanto yang merupakan pakar ekonomi UII, optimisme pertumbuhan ekonomi tersebut dimotori dampak positif dari berbagai paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah yang diprediksi baru terasa dampaknya di tahun depan. Selain itu, pertumbuhan tersebut didukung pula oleh pemulihan di pasar negara maju, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, dan Jepang, yang merupakan negara tujuan ekspor Indonesia. Komitmen Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan belanja negara di sektor infrastruktur menurut Dr. Nur Feriyanto juga turut menjadi kekuatan pendorong.

Lebih lanjut disampaikan Dr. Nur Feriyanto, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi akan sedikit mengalami pelemahan pada tahun 2016 mendatang. Pelemahan ini lebih disebabkan karena pengaruh kebijakan moneter eksternal yang dilakukan oleh beberapa negara yang memiliki hubungan finansial dengan Indonesia, seperti Tiongkok, Jepang dan AS. “Menguatnya sentimen negatif terhadap perekonomian Tiongkok dan rencana The Fed yang menaikkan suku bunga akan menyebabkan adanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ungkap Dr. Nur Feriyanto.

Sementara berkenaan dengan sektor industri seperti dituturkan Dr. Nur Feriyanto merupakan sektor yang paling vital untuk mendorong perekonomian nasional. Sektor ini yang akan menjadi pilar daya saing Indonesia di lingkungan ekonomi global. Namun sayangnya, Indonesia mengalami defisit ekspor impor barang dan jasa sejak tahun 2011. “Hal ini terjadi karena sebagian besar ekspor Indonesia merupakan ekspor produk SDA bernilai tambah rendah. Disisi lain, sebagian besar impor Indonesia merupakan impor produk teknologi menengah dan tinggi yang bernilai tambah tinggi,” paparnya.

Sumber : www.uii.ac.id