2018.08.31.susu NMenjalankan program pengabdian masyarakat di tengah kuliah kerja nyata (KKN) memang tengah menjadi rutinitas ratusan mahasiswa UII akhir-akhir dari bulan Agustus hingga September. Namun siapa sangka jika di tengah pelaksanaan program itu, muncul ide bisnis yang terpantik karena melihat potensi dari masyarakat setempat. Inilah yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa KKN UII yang melakukan program KKN di Desa Keditan, Kecamatan Ngablak, Magelang. Melihat melimpahnya produk susu segar yang dihasilkan oleh peternak sapi di desa itu, mereka terpantik untuk menambah nilai jual produk susu tersebut. Salah satunya yakni dengan memperkenalkan cara pembuatan yoghurt kepada masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, produk olahan susu sapi itu kemudian diberi kemasan menarik dan dipasarkan dengan nama Yoghurtime.

“Susu sapi segar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai, seperti yoghurt, ice cream dan sebagainya. Namun sayangnya hasil olahan susu sapi di desa belum pernah dikembangkan sebelumnya. Peternak sapi hanya menjual susu murni tanpa diolah dengan harga jual murah sehingga tidak mempunyai nilai tambah”, ungkap Fatma Kurnia Koto, salah seorang mahasiswi UII yang menggagas produksi yoghurt di desa tersebut. Meski yoghurt cukup populer, namun menurutnya produk itu belum banyak dikenal masyarakat desa.

Tahap awal yang dilakukannya untuk mengajak masyarakat adalah melalui sosialisasi, penyuluhan, dan pelatihan. “Awalnya memang tidak mudah karena masyarakat sudah terbiasa menjual produk susu apa adanya, tanpa proses pengolahan yang cukup kompleks seperti membuat yoghurt. Toh dijual mentah pun tetap laku”, ujar Fatma Kurnia menirukan keraguan para penduduk tentang produk yoghurt.

Namun, ia dan teman-teman KKN-nya tidak mengenal lelah untuk meyakinkan penduduk Keditan. Sosialisasi dan penyuluhan terus dilakukan. Di antaranya dengan memaparkan nilai ekonomis produk susu yang telah diolah menjadi yoghurt. Di samping itu, disampaikan juga tentang nilai gizi yoghurt yang sangat sehat untuk dikonsumsi dan bisa dinikmati oleh banyak kalangan. Jika tidak dijual pun, produk yoghurt dapat dikonsumsi sendiri bersama keluarga.

Setelah mendapat kepercayaan penduduk, akhirnya mulailah dilaksanakan program pelatihan pembuatan yoghurt. “Kami juga mengenalkan inovasi dengan menambah sensasi rasa dari yoghurt, seperti plain, strawberry, anggur, dan greentea. Pembuatan yoghurt sebenarnya sangatlah mudah, namun kesterilan alat adalah kunci utama untuk menjaga bakteri yoghurt tetap stabil”, pungkasnya.

Ia berharap meski program KKN di Desa Keditan pada nantinya akan berakhir, masyarakat tetap dapat melanjutkan produksi yoghurt tersebut. Ia yakin upaya ini di samping akan mengembangkan ekonomi kreatif desa juga meningkatkan pendapatan bagi peternak sapi dan warga sekitarnya.

Sumber : uii.ac.id.