LT 2 600x400Bisnis keluarga merupakan salah satu bentuk bisnis yang didirikan serta melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnisnya. Sebagai  bisnis  yang  dimiliki  dan  dikendalikan oleh keluarga maka manajemen maupun kinerja perusahaan, baik yang berskala kecil maupun besar, banyak dipengaruhi oleh visi maupun misi keluarga.

Namun, bisnis keluarga tentu tidak luput dari ragam  persoalan yang terkadang sulit dipecahkan, seperti munculnya distrust atau ketidakpercayaan di antara sesama anggota keluarga, konflik dalam suksesi  kepemimpinan, konflik dalam pengambilan keputusan, isu putra mahkota (penerus tahta di perusahaan), perbedaan pola pikir manajerial antara generasi pertama dan generasi berikutnya, dan lain sebagainya. Akibatnya, tak jarang bisnis keluarga mengalami kemerosotan atau bahkan terpaksa tutup karena konflik yang berkepanjangan di internal keluarga.

Salah satu dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) yang menjadi pemerhati perkembangan bisnis keluarga adalah Achmad Sobirin, Ph.D. Ia kini menjabat sebagai Direktur Centre for Indonesian Family Business Studies di FE UII.

Achmad Sobirin menerangkan bahwa Generasi Y pada umumnya memiliki idealisme yang tinggi dalam dirinya yang menjadikannya cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Dalam konteks memiliki idealisme tinggi itu karakteristik yang bagus, tetapi kalau kembali ke cerita bisnis keluarga, karater tersebut bisa jadi kurang sesuai. Beberapa kasus dalam praktik bisnis keluarga juga muncul ketika generasi penerusnya ingin melanjutkan bisnis keluarganya, namun justru orang tuanya keberatan untuk melepas. Kenapa?

Yang pertama adalah faktor kepercayaan. Mendirikan bisnis itu ibarat orang melahirkan sehingga bisnis itu bukan sekedar segepok aset, tapi seperti bayi yang harus dirawat, dipelihara, dan dijaga dari mulai kecil hingga nanti tumbuh besar. Ini yang mengakibatkan orang tua tidak berani melepaskan begitu saja bahkan kepada anaknya sekalipun. Hal ini yang disebut founder centrality. Orang tua kadang otoriter didalam bisnisnya, segalanya harus dia, dari segala lini dia yang paling tahu. Yang kedua, ketika orang tua pensiun, maka dia akan berpikir tidak ada pekerjaan selain mengelola bisnis keluarganya sendiri.

Akan tetapi ada satu hal yang berbeda, kita belajar yang dikelola para profesional. Ketika sebuah bisnis dikelola secara profesional maka bentuk hubungannya transaksional. Kalau bisnis keluarga hubungannya tentu bercampur dengan hubungan emosional. Yang menjadikan bisnis keluarga itu unik adalah gabungan dari dua sistem yang menyatu dimana karakteristiknya bertolak belakang. Bisnis keluarga itu adalah gabungan sub sistem keluarga dengan sub sistem bisnis sehingga penting bagi para pelaakunya untuk bisa menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan kepentingan keluarga.

Jadi memang ada dua sisi dari bisnis keluarga ini, sisi positifnya, perusahaan keluarga punya intangible assets yang tidak dimiliki perusahaan non keluarga. Apa itu? Sumber daya keluarga (family resources) yang jika dikelola dengan baik maka akan menghasilkan sumber daya yang kompeten yang diperkuat dengan social capital dan network trust yang tinggi. Bisnis keluarga yang dijalankan oleh budaya keluarga Tiongkok menjadi salah satu contoh baik yang kerap menuai kesuksesan cemerlang. Salah satu kuncinya yaitu mereka tidak akan rela jika bisnis keluarganya jatuh ke tangan orang lain dengan alasan anggota keluarga tidak ada yang mumpuni, maka mereka akan mendidik dan menanamkan nilai-nilai bisnis pada anaknya sendiri dimulai dari dini guna untuk meneruskan bisnis keluarganya.

Berawal dari data di Indonesia ada sekitar 52 juta kegiatan usaha, 99,99% itu bisnisnya mikro, jadi sisanya 0,01% itu bisnis menengah ke atas. Berdasarkan asumsi dasar yang tadi, bahwa yang 99,99% itu merupakan bisnis keluarga. Jadi pada intinya bisnis keluarga di Indonesia masih didominasi oleh Unit Kegiatan Mikro (UKM) dan hanya sedikit sekali bisnis keluarga yang sudah berkembang menjadi besar serta go public. Kebanyakan unit bisnis di Indonesia yang skalanya dari kecil hingga menengah muncul persoalan keluarga dalam kepentingan bisnis itu dan sering kali menjadi kacau. Keuangan keluarga dan keuangan bisnis itu campur aduk, yang mana digunakan untuk kepentingan-kepentingan keluarga. Ini yang menjadi rentannya bisnis keluarga skala kecil.

Kemudian muncul pertanyaan bahwa ada atau tidak bisnis keluarga yang sudah besar masih dibawah kendali keluarga? Jawabannya adalah ada, seperti contohnya Batik Keris, Djarum dan Martha Tilaar. Bisnis keluarga itu tidak harus dikelola orang perorangan, melainkan bisa berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan banyak perusahaan keluarga yang berkembang pesat, bahkan telah go public. Potensi perkembangan bisnis keluarga di Indonesia sangat besar, hanya saja sampai saat ini belum ada regulasi atau undang-undang yang mengatur itu di Indonesia.

Berkaca dari berbagai negara maju, peraturan untuk keperluan ini telah dibuat. Di Uni Eropa misalnya, sudah ada peraturan eksplisit misal jika ada perusahaan go public yang 25% sahamnya dibawah kendali keluarga maka perusahaan itu dapat disebut perusahaan keluarga. Di Indonesia saat ini belum ada pembagian mana yang menjadi kendali dari keluarga atau tidak. Tipologi perusahaan di Indonesia umumnya hanya berdasarkan mikro, menengah, dan besar. Sehingga kajian perusahaan keluarga di Indonesia relatif masih sedikit, apalagi perusahaan keluarga yang go public.