Dilema Menghadapi Dolar Menguat

 

Yogyakarta – Dari tahun 2017 hingga hari ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus-menerus mengalami pelemahan. Hingga saat ini tercatat nilai tukar rupiah hampir mendekati Rp. 15.000 per dolar.

Menurut Drs. Akhsyim Afandi., MA., Ph.D selaku dosen program studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia bahwa “Ini sebenarnya bukan hanya fenomena kurs rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar, namun hampir semua mata uang non-USD itu mengalami hal yang sama”. Salah satu penyebab dari fenomena tersebut dikarenakan faktor Federal Funds Rate (FFR) atau Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga bank dan cenderung akan naik lagi, hal ini dikarenakan perekonomian di Amerika Serikat belum sepenuhnya pulih. Ketika perekonomian di Amerika Serikat kembali membaik maka suku bunga di Amerika Serikat itu akan dinaikkan lagi, hal ini berguna untuk mengantisipasi terjadinya inflasi. Namun ketika hal itu terjadi maka akan mengakibatkan pelarian uang lagi dari negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

Persoalannya sekarang ini terletak pada seberapa kuatnya perekonomian negara tersebut. Kasus yang terjadi pada Indonesia ini termasuk dalam kategori pada perekonomian yang kurang baik. Hal itu disebabkan Indonesia mengalami defisit-defisit neraca pembayaran atau  dengan istilah lainnya defisit transaksi berjalan. Saat ini Indonesia mengalami defisit yang sangat besar yaitu 3% dengan ambang batas 4% dari besarnya Gross Domestic Product (GDP), hal tersebut merupakan kondisi yang sudah dianggap berbahaya bagi perekonomian Indonesia. Pada tahun 2018 ini Indonesia mengalami defisit yang lebih tinggi dari pada tahun lalu. Hal ini disebabkan karena investor lebih memilih mencabut modalnya yang ada di Indonesia.

Untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat agar nilai tukar rupiah kembali stabil salah satu instrumen yang dapat digunakan yaitu dengan meningkatkan suku bunga. Namun setiap pengambilan kebijakan akan memiliki dilema tersendiri. Fenomena yang akan terjadi ketika suku bunga ini dinaikkan maka akan menghambat atau mengurangi belanja konsumsi dan belanja investasi yang akan berdampak pada besarnya pendapatan nasional.

Dalam kasus lain ada yang berpendapat bahwa penurunan nilai rupiah itu terjadi karena perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Drs. Akhsyim Afandi., MA., Ph.D  berpendapat bahwa “Seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini karena produk-produk China yang masuk ke Amerika dikenakan tarif yang tinggi, sehingga ekspor China ke Amerika menjadi berkurang dan diambil peluangnya oleh Indonesia untuk barang-barang yang sama dan serupa sehingga produk-produk yang ada di Indonesia menjadi lebih kompetitif”. Hal itu disebabkan tarif yang ditetapkan oleh Amerika terhadap China tersebut tidak dikenakan pada produk-produk dari Indonesia. Namun permasalahannya Indonesia memiliki produk yang sama atau tidak dengan yang dimiliki oleh China.

Ketika peluang ini dimanfaatkan dengan menaikan ekspor maka akan dapat mengatasi defisit transaksi berjalan yang juga terjadi di Indonesia. Jika defisit berkurang atau bahkan bisa surplus akan mengakibatkan depresiasi rupiah juga kian berkurang. Hal ini sebenarnya yang ingin diperbaiki oleh pemerintah yang menjadi masalah fundamental ekonomi yang ada di Indonesia yaitu transaksi berjalan. Cara yang bisa diterapakan yaitu menaikan ekspor dan mengurangi impor.

Sekarang ini yang sedang dilakukan oleh pemerintah dalam jangka pendek itu dengan mengurangi kuota impor. Pemerintah mulai menginstruksikan kepada departemen-departemen terkait yang memilliki rencana impor untuk dikurangi dan diseleksi mana yang masih bisa ditunda dan mana yang sudah tidak bisa ditunda. Pemerintah juga telah mengimbau kepada perusahaan-perusahaan swasta yang ingin melakukan ekspansi yang membutuhkan bahan-bahan baku untuk ditunda terlebih dahulu, agar belanja impor yang ada di Indonesia sendiri berkurang. Hal itu disebabkan karena ketika belanja impor itu naik maka harga rupiah itu akan semakin terpuruk dan ketika melakukan impor suatu negara juga membutuhkan devisa.

Namun banyak eksportir Indonesia yang tidak membawa pulang dolarnya, mereka malah menyimpannya di luar negeri seperti Singapura dan Hong Kong, sehingga tidak berdampak baik terhadap supply devisa dalam negeri. “Ketika kita menggunakan analisis pasar yang di dalamnya ada permintaan ada penawaran, pasar valas misalnya, kalo ada devisa masuk dari ekspor atau penanaman modal asing itu akan menambah penawarannya, kalau permintaanya tetap sedangkan penawarannya naik maka nilai atau harga US dolar akan turun, sebaliknya nilai rupiah akan turun.” Tutur Drs. Akhsyim Afandi., MA., Ph.D.