Minimnya kajian ilmiah maupun observasi aplikatif terkait mitigasi risiko pada industri financial technology berdampak pada kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kondisi industri financial technology yang terjadi saat ini. Seperti yang kita ketahui, industri financial technology semakin berkembang dan terjadi banyak perubahan di dalamnya. Sebagai contoh, kita bisa melihat semakin populernya layanan payments yang terbentuk melalui dompet digital atau uang elektronik. Ditambah lagi saat ini kita telah memasuki industri 4.0, dimana teknologi tidak bisa lagi dihindarkan baik dari bidang sosial, ekonomi, dan budaya.

Dalam rangka menanggulangi risiko tersebut, Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menyelenggarakan “National Conference on Accounting and Finance (NCAF)”. Konferensi nasional ini mengangkat topik “Mitigasi Risiko Fraud dalam Financial Technology di Era Industry 4.0” yang dihadiri oleh peserta yang berasal dari Pulau Jawa dan Bali di Aula Utara FE UII (18/5). Konferensi nasional ini menghadirkan dua pembicara dengan kapabilitas mumpuni di bidangnya, yaitu Stevanus Alexander, M.For.Accy., CPA., CFE dan  Hendi Yogi Prabowo, M.For.Accy., Ph.D., CFrA., CAMS.  

Selaku ketua panitia acara kali ini Fitra Roman Cahaya, S.E., M.Com., Ph.D, CSRS, CSRA menyampaikan, “NCAF ini dimaksudkan sebagai ikhtiar menyatukan gagasan terkait isu-isu kontemporer di bidang akuntansi dan keuangan serta mitigasi risiko yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi tantangan tersebut. harapannya dapat mengubahnya menjadi peluang strategis di era yang dinamis ini”. Dr. Jaka Sriyana, M.Si selaku dekan FE UII juga menyampaikan, dalam sambutannya “Etika pertama seorang akademisi ketika membuat kajian harus dipublikasikan. Sharing penelitian menjadi hal yang penting untuk menjadi wadah saling koreksi dan menjadi pembelajaran tidak hanya dari sisi substansi materi, tetapi juga sisi academic writing”.

Menurut Hendi Yogi Prabowo, M.For.Accy., Ph.D., CfrA, CAMS selaku dosen akuntansi FE UII, dalam sesi diskusi kali ini menyampaikan “Industri 4.0 tidak hanya teori atau wacana, namun telah benar-benar terjadi”. Terdapat data yang menyatakan persentase pengguna komputer di dunia sebesar 57% dan pengguna internet di Indonesia sebesar 55%.  Hal yang harus dipersiapkan dalam bidang forensic accounting untuk menghadapi industri 4.0 adalah pendidikan, pengalaman, dan sertifikasi. Tantangan yang dihadapi saat ini yaitu bagaimana memasukkan ilmu pengetahuan dalam teknologi. Selain itu teknologi merupakan kunci utama dalam investigasi fraud karena teknologi sangat mempermudah untuk melakukan investigasi fraud. Seorang forensic accounting perlu open minded karena harus dengan cepat beradaptasi terhadap perubahan yang ada, selain itu harus membangun jaringan yang luas karena seorang forensic accounting tidak bisa bekerja sendirian.

Senada dengan hal tersebut, Stevanus Alexander, M.For.Accy., CPA., CFE. juga menyampaikan, “Saat ini data berkembang sangat pesat, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana cara untuk menganalisa data yang sangat banyak”. Sehingga mau tidak mau kita harus paham dengan adanya teknologi, karena jika kita tidak paham dengan hal tersebut kita tidak bisa menganalisis dan jika kita tidak menggunakan teknologi dalam menginvestigasi akan membutuhkan waktu yang sangat lama.

“Seminar nasional NCAF ke depannya diharapkan dapat menjadi kegiatan rutin tiap semesternya sehingga budaya akademik semakin kuat terasa demi terciptanya pengembangan keilmuan akuntansi yang lebih baik di tahun-tahun yang akan datang”  harap Fitra untuk seminar tersebut. (AA/SHP)