Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia kembali mengadakan sosialisasi yang bertemakan Fungsi dan Peran LPS, dengan judul yang sangat menarik bagi para millenials yaitu “Meningkatkan Kepercayaan untuk Berinvestasi di Bank bagi Mahasiswa”. LPS merupakan lembaga independen yang berfungsi untuk menjamin pinjaman nasabah di perbankan. Sosialisasi tersebut menghadirkan dua pembicara yaitu Danu Febrianto yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Sumber Daya Manusia dan Administrasi dan Bagus Panuntun, SE., MBA yang menjabat sebagai Certified Financial Planner, Wealth Manager, Dosen Fakultas Ekonomi UII. Kegiatan yang terbuka bagi seluruh mahasiswa FE UII tersebut diselenggarakan pada Kamis, 27 Juni 2019 di Aula Utara Fakultas Ekonomi UII.

Pada kesempatan tersebut, Danu Febrianto menjelaskan mengenai kasus-kasus seperti apa saja yang dihadapi oleh LPS. Beliau mengatakan bahwa apabila suatu bank ditutup bukan berarti bank tersebut kalah bersaing, tetapi dikarenakan banyak pengurus bank yang ‘nakal’ sehingga bank mengalami kesulitan. Kasusnya seperti kredit fiktif dan korupsi. LPS sendiri mempunyai metode Least Cost Test yang merupakan tes uji biaya paling murah dengan cara mempertimbangkan apakah bank tersebut layak diselamatkan atau ditutup. Contohnya apabila pada bank tersebut sudah tidak ada nasabah lagi dan tidak ada sesuatu hal yang positif yang harus dipertahankan seperti tidak adanya produk unggulan, maka sebaiknya bank ditutup karena biaya penyelamatan yang akan dikeluarkan besar. Apabila bank tersebut diselamatkan dapat dilakukan dengan cara injeksi modal atau promosi. Namun berbeda halnya dengan nasabah yang ‘lari’ karena permasalahan riba, LPS tidak punya fungsi itu. Tetapi itu merupakan wewenang OJK untuk melakukan sosialisasi. Mengenai kasus bank century menurut beliau Bank Century bermasalah sebelum masuk ke LPS selain itu mengenai permasalahan kasus antaboga, antaboga bukan produk perbankan tetapi produk reksadana. Nasabah di bank iming-imingi produk antaboga, setelah nasabah mengambil uang di bank kemudian di investasikan di antaboga namun uang justru dibawa lari oleh pihak antaboga. Oleh karena itu, Sosialisasi mengenai peran dan fungsi LPS ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan bagi mahasiswa untuk berinvestasi di bank.

Pembicara yang kedua bapak Bagus Panuntun membicarakan tentang ekonomi mikro berbeda dengan pak Danu Febrianto yang membicarakan tentang ekonomi makro. Di era sekarang akses informasi paling tinggi diperoleh melalui internet yang dapat di akses secara bebas melalui smartphone. Melalui internet kita dapat memperoleh barang yang diinginkan secara mudah dan cepat. Menurut beliau keinginan hanya merupakan kenyamanan dan kesenangan semata. Masalah yang dihadapi adalah kelangkaan, maksudnya adalah keinginan yang tidak terbatas namun modal yang terbata. Sehingga di era sekarang penting untuk mengetahu tips mengatur keuangan. Tips pertama yang dibagikan adalah pada saat kita shopping maka kita harus membuat decision making. Apakah barang tersebut worth it untuk dibeli atau tidak, kita juga harus memikirkan apakah kita hanya sekedar ingin atau butuh atas barang tersebut. Tips yang kedua yaitu sharing, dengan cara berbagi maka kita dapat mengerti bahwa uang yang dimiliki bernilai tinggi, contohnya di dalam Islam yaitu zakat. Tips yang ketiga yaitu saving atau menabung, maksudnya adalah kita harus memiliki kontrol terhadap diri kita sendiri untuk menyisihkan uang agar tidak kita gunakan semua untuk hal-hal yang belum kita butuhkan. Tips yang keempat yaitu selling dengan cara menjual barang. Setelah itu kita membaca tips ini dibalik urutannya dari saving.dan yang terakhir beliau mengatakan bahwa kita jangan langsung percaya terhadap sesuatu (Financial check up), tentukan keinginan dan prioritas, rencana anggaran dan alokasi tabungan untuk masa depan. Oleh karena itu, diharapkan para millenials dapat mengatur keuangannya sebaik mungkin. (ASD/ARS)