Bertambahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjalankan sistem perekonomian yang sesuai dengan nilai-nilai islam, membuat semakin banyak juga pebisnis yang akhirnya mulai mencari tahu tentang bagaimana konsep dan sistem bisnis syariah yang seharusnya. Di dunia bisnis sekalipun seorang muslim hendaknya menjalankannya sesuai dengan landasan hukum islam. 

Oleh karena itu, pada Sabtu (6/7) Lembaga Dakwah Fakultas Jama’ah Al-Muqtashidin  (LDF) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) mencoba memberikan wadah diskusi kepada mahasiswa FE UII untuk membahas tentang perekonomian yang berlandaskan syariat islam. Acara yang bertajuk Kajian at FE (My Café) kali ini mengangkat tema diskusi “Bisnis Berkah Rejeki Melimpah”. Acara yang berlangsung di ruang P1/2 FE UII ini dihadiri oleh pembicara seorang pebisnis muda yaitu Ferry Atmaja yang merupakan Owner dari rumah makan Geprek Susu (Preksu).

Dalam penyampaian materinya Ferry Atmaja mengatakan, bahwa ia telah memulai usahanya sejak lulus kuliah pada tahun 2011 silam. Namun, sebelum ia mencoba bergerak dibidang usaha kuliner, pria alumni Fakultas Teknik Industri UII ini juga pernah menjajaki bisnis di bidang clothing. Ketertarikan  akan bisnis syariah, mendorongnya untuk mencoba membuka bisnis warung makan dengan menerapkan prinsip-prinsip islam. 

Ferry juga menjelaskan bagaimana cara untuk membuka bisnis sesuai dengan syariah dan dikemas secara syar’i. Seperti yang telah di terapkan pada warung makannya saat ini, ia menjual menu ayam geprek yang menerapkan sistem islam syar’i. Sistem syar’i disini dimaksudkan adalah dengan menjual produk-produk halal, tidak merugikan orang lain, dan tidak menggunakan riba atau bebas riba. Bisnis dengan sistem syar’i sendiri tidak semata – mata mencari keuntungan, tetapi juga mempertimbangan nilai keberkahan dari bisnis tersebut. Sistem yang digunakan untuk menjalankan bisnisnya adalah dengan mewajibkan para karyawannya untuk ikut kajian rutin, tahsin, dan tak lupa juga mewajibkan karyawan perempuannya menggunakan jilbab . Selain itu para karyawan yang bekerja tidak diperbolehkan untuk menunda sholat, ia mewajibkan para karyawannya untuk sholat berjamaah di masjid. Namun, walau begitu bisnis yang dijalaninya tidak terhambat. Caranya pelayanan konsumen akan dilayani oleh karyawati ketika para karyawan tengah menjalankan sholat berjamaah. Kemudian karyawati bergantian sholat setelah para karyawan selesai. 

Tentu saja selain menerapkan sistem syar’i dalam berbisnis, Ferry Atmaja juga menjadikan bisnisnya untuk sarana bersedekah. Sedekah yang diterapkannya adalah dengan memberi makan gratis untuk orang-orang yang berpuasa Senin-Kamis. Selain itu pada hari jumat bagi siapapun yang telah membaca surah Al Kahfi dapat minuman gratis sepuasnya, yang dibutuhkan dalam hal ini hanyalah kejujuran dari konsumen. Untuk menyenangkan hati konsumennya, ia juga memberikan kebebasan untuk menambah nasi dan es teh sepuasnya setelah sekali bayar. Hal tersebut juga membuktikan bahwa dengan berbagi dan bersedekah tidak akan membuatmu miskin, melainkan akan ada berkah didalamnya.  Terbukti dalam beberapa tahun, ia telah sukses membuka beberapa cabang warung makan di lokasi-lokasi strategis yang ada di Yogyakarta. 

Sehingga dalam urusan berbisnis, baiknya tidak hanya memikirkan tentang keuntungan duniawi semata,  melainkan ada hal lain yang juga harus diperhatikan untuk kepentingan akhirat seperti ibadah dan sedekah. (NAK/VRS)