Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang begitu cepat jelas berdampak secara signifikan terhadap peradaban manusia. Salah satu yang terkena dampak dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi ini adalah perpustakaan. Kondisi perpustakaan saat ini menunjukkan bahwa inovasi layanan perpustakaan mulai tumbuh berkembang secara refleksif terhadap lahirnya generasi milenial.

Kamis (29/08) Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan seminar nasional di Aula Utara Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia dengan tajuk “Serba-Serbi Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Dominasi Pemustaka Generasi Milenial”. Seminar ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang cara perpustakaan beradaptasi keadaan generasi saat ini yaitu generasi milenial.

Dalam seminar ini, ada empat narasumber yang menyampaikan materi berbeda. Narasumber pertama adalah Ida Fajar Priyanto, Ph.D dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan tema Digital Resources, Library Management, and the Millennial Users. Narasumber kedua adalah Umi Proboyekti, S.Kom., MLIS dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dengan tema Sistem Teknologi Informasi di Perpustakaan. Narasumber ketiga adalah Dr. Hj. Sri Rohyanti Zulaikha, S.Ag., SIP., M.Si. dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Sunan Kalijaga) dengan tema Perpustakaan di Era Generasi Milenial. Narasumber terakhir adalah Anastasia Tri Susanti, S. Kom., MA. dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan tema Penempatan Pustakawan Berdasarkan Karakteristik Generasi.

Generasi milenial merupakan anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Generasi X. Perpustakaan perlu memulai untuk menyesuaikan keinginan dan kebutuhan para pembaca. Mulai dari sistem informasi perpustakaan hingga penambahan fitur-fitur perpustakaan. Generasi milenial cenderung memilih sesuatu yang mudah. Salah satu paradigma yang biasa pada generasi milenial adalah bahwa generasi milenial dapat mengakses informasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja sehingga tidak perlu untuk datang ke perpustakaan.

Umi Proboyekti, S.Kom., menyampaikan bahwa teknologi informasi di perpustakaan fokus terhadap generasi Z. Generasi Z sendiri  adalah generasi yang menginginkan segala sesuatunya itu mudah. Salah satunya dengan adanya mobile library service. Mobile library service adalah layanan yang dapat diakses lewat perangkat bergerak dengan tujuan memudahkan pengguna perpustakaan mengakses informasi lewat perangkat bergerak tersebut atau yang sering kita sebut dengan gadget. Dengan cara ini, kunjungan pengguna secara virtual ke perpustakaan akan meningkat.

Perpustakaan saat ini sebaiknya tidak terkesan terlalu kaku. Pemustaka dapat membuat hal-hal yang dapat menarik minat generasi milenial untuk datang ke perpustakaan. Diantaranya adalah dengan design interior perpustakaan serta sarana prasarana seperti meja, kursi maupun karpet yang mengedepankan nilai seni. Bahkan beberapa perpustakaan sudah ada yang menyediakan fasilitas tempat tidur dan jasa pijat untuk para pembaca. Kebijakan-kebijakan yang terlalu kaku juga dapat dirubah sesuai keadaan saat ini.

Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Hj. Sri Rohyanti Zulaikha, S.Ag., SIP., M.Si., menjelaskan bahwa “Ruang kerja digital itu adalah manusia sebagai  sentral yaitu aktor pengendali, adanya mobilitas yaitu ruang gerak yang tinggi dan layanan yang lebih prima serta sosial kemasyarakatan dengan desain sesuai kebutuhan manusia.”

Anastasia Tri Susanti, S. Kom., MA., juga menjelaskan pentingnya potensi setiap generasi. “Perpustakaan yang mampu memanfaatkan potensi setiap generasi yang bekerjasama akan lebih siap dalam menghadapi tantangan organisasi dan perpustakaan harus memastikan semua siap untuk lebih fleksibel terhadap perubahan.” ujarnya.

Perpustakaan hendaknya dapat memanfaatkan potensi setiap generasi, karena dengan adanya regenerasi yang berbeda dapat dijalin kerjasama agar lebih siap menghadapi segala tantangan dan perubahan. (AFM/NAP)