Acara tahunan dari salah satu study club Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII), Entrepreneur Community (EC), hadir kembali. EC sebagai komunitas yang mewadahi ide-ide kreatif mahasiswa untuk berkembang dalam industri kreatif ini kembali menghadirkan Indonesian Business Carnival (IBC). Kegiatan yang berjalan selama tiga hari ini digelar di Gedung Olah Raga Amongraga, Yogyakarta.(13-15/9)

Pada acara pembukaan hari Jumat (13/9), Arief Rahman, S.E., M.Com., Ph.D. selaku Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FE UII menyampaikan apresiasi kepada para penyelenggara IBC, “Selamat kepada penyelenggara IBC dan juga EC yang telah menyelenggarakan acara yang bagus dan telah memberikan kesempatan bagi para mahasiswa.” tuturnya.

Acara IBC tahun ini merupakan gelaran yang ke-7 dan diselenggarakan dengan tiga rangkaian acara: Expo, Entertain, dan Workshop (lokakarya). Dengan tujuan utama yang ingin disasar yakni untuk mengangkat start up brand yang ada di Indonesia agar bisa lebih dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Juga untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap produk lokal.

Selama tiga hari penuh, 13, 14, 15 September 2019, IBC #7 menghadirkan 60 creative local tenants dari industri kreatif yang turut meramaikan expo, mulai dari tenant kuliner, non-kuliner, fashion, lifestyle, hingga food truck yang hadir dari wilayah Yogyakarta dan Semarang. Dan 20 diantaranya merupakan tenant yang dimiliki oleh mahasiswa FE UII sendiri. Kegiatan expo ini diadakan sebagai sarana untuk memperkenalkan berbagai produk unik dari Usaha Kecil Menengah (UKM) kreatif kepada para pengunjung. Berbagai produksi hasil kreasi masyarakat Yogyakarta sebelumnya telah melalui proses seleksi untuk bisa mengisi expo yang diadakan di acara IBC #7.

Acara yang mengusung tema “SWARA RUPA” ini juga turut disemarakkan oleh sederet bintang tamu: Praduga Tak Bersalah, Utpala Lakshya, Kala Project, Karsha, Astera, B.L.N.T.R, RFRNDS, Xaviera Unisi, Asaptebal, Kasino Brothers, Loca Polka, Define Soul, The Mega Hits, Dharma, Olski, dan The Panturas.

Selain itu, hadir pula lokakarya dari tiga narasumber yang memumpuni dalam bidangnya seperti Kena House, Speakless, dan Sony Wicaksana. Narasumber pertama, Kena House membahas tentang bagaimana cara menggunakan instastory secara maksimal dan memanfaatkannya untuk brand. Narasumber kedua, Speakless dengan kegiatannya membuat card holder sendiri. Serta narasumber ketiga, Sony Wicaksana yang membahas tentang ilustrasi digital.

Tak kalah serunya, Education Corner, yang merupakan kegiatan diskusi membahas hal-hal ringan yang berkaitan dengan tren, tips, dan gaya hidup dilaksanakan di hari ke-2 IBC #7 (14/9) dengan kegiatan menyablon kaos yang ditujukan untuk pengunjung yang berminat untuk belajar menyablon kaos secara gratis. Terlebih lagi hasil dari Education Corner ini boleh dibawa pulang, sebagai kenang-kenangan manis dari IBC #7.

Untuk pembeda dari tahun-tahun sebelumnya, IBC #7 ini mengundang salah satu komunitas motor CB dan Vespa yang ada di Yogyakarta untuk turut memeriahkan acara. Selain itu juga dengan mengadakan kegiatan yang dinamai “Social Project”. Kegiatan sosial pra-event ini dilakukan sebelum hari H IBC berlangsung, dengan mengunjungi Panti Asuhan Atap Langit Yogyakarta untuk berbagi kebahagiaan.

“Harapannya, semoga dengan adanya IBC dapat meningkatkan awareness dari masyarakat terhadap produk lokal yang ada dan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia.” tutur Tengger Pinandhito, selaku ketua Organizing Committee IBC #7 dalam wawancara. (SAL/ERF/IBS)