Revolusi industri 4.0 saat ini memang tengah sangat berkembang, terutama di China dan juga Amerika. Tak terkecuali di Indonesia, yang juga mulai merasakan revolusi industri 4.0 ini. Fenomena tersebut memang perlu segera diwaspadai, mengingat perkembangan teknologi saat ini sungguh sangat pesat.

Hal ini menjadi sebuah topik pembahasan dalam studium general The need for growth mindset” pada Jumat (20/8) oleh  Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) yang bertempat di ruang P1/2. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Graduate Employability & Development Centre (GEDC) UII.

Assoc. Prof. Dr. Maran Marimuthu dari Department of Management and Humanities, Universiti Teknologi Petronas Malaysia, dalam penyampaian materinya menyampaikan bahwa dengan adanya revolusi industri 4.0 ini diharapkan mahasiswa semakin terbuka pemikirannya. “Saya berharap dengan adanya revolusi industri 4.0 ini mahasiswa dapat berfikir secara terbuka. Terbuka dengan pemikiran, satu sisi industri kondisinya sudah berubah atau industrial revolution, yang kedua dari sisi educational industry juga berubah dan harus siap untuk menghadapi revolusi industri 4.0,” pungkasnya.

Ia pun menjelaskan bahwa terdapat sembilan elemen dalam revolusi industri yang harus kita ketahui. Hal yang menjadi fokus dalam pembahasan kali ini yaitu terkait AI (Artificial Intelligence) dan juga big data.

Dengan hadirnya AI ini kedepannya industri akan didominasi oleh robot. Pekerjaan-pekerjaan yang sekarang ini masih dikerjakan oleh manusia, nantinya akan digantikan oleh robot. Meskipun penerapan teknologi tersebut diperkirakan masuk ke Indonesia masih terbilang cukup lama, namun industri 4.0 ini akan terus berjalan.

Maran menyimpulkan bahwa dari revolusi teknologi industri 4.0 ini dapat diambil berbagai analisis seperti bisnis analisis dan konsumen analisis yang selanjutnya akan menjadi solusi bagi perusahaan.

“Mahasiswa saat ini harus open minded agar siap menghadapi revolusi teknologi industri 4.0. Kita itu mengetahui segalanya, namun nyatanya kita adalah bukan orang yang dibutuhkan oleh industri. Sehingga, disini kita perlu memiliki soft skill yang dibutuhkan oleh industri dan ini menjadi tugas untuk setiap kampus untuk menjembatani atau memberikan jalan agar mahasiswa benar benar siap diterjunkan di industri yang sebenarnya,” tegasnya. (NAP)