Setiap perguruan tinggi terutama PTIS (Perguruan Tinggi Islam Swasta) memiliki beberapa metode atau cara yang berbeda dalam mengintegrasikan nilai-nilai islam dalam setiap mata kuliahnya. Beberapa metode yang berbeda dalam pengintegrasian tersebut  ternyata menimbulkan dampak yang berbeda pula pada masing-masing PTIS.

Jumat (22/11) Program Studi Magister Manajemen  Fakultas Ekonomi (MM FE) UII mengadakan “Workshop Integrasi Nilai-nilai Islam Dalam Mata Kuliah Program Magister Manajemen.” Selain itu kegiatan ini juga turut mengundang sejumlah dua belas perguruan tinggi yang nantinya akan ikut berdiskusi pada saat sharing session berlangsung.

“Maksud tujuan kami mengadakan acara ini adalah mendiskusikan bagaimana nilai islam ini diintegrasikan pada setiap mata kuliah yang ada, mudah-mudahan dengan adanya sharing session ini kita akan menemukan format yang bisa diterapkan di Magister Manajemen ini dan juga perguruan tinggi lainnya,” tutur Dwipraptono Agus Harjito.

Jaka Sriyana menyampaikan bahwa, “Kita memang harus mengintropeksi diri apakah kita mempelajari ilmu yang mendekatkan pada syariat-syariat islam atau justru menjauhkan, karena mengetahui etistimologi sebuah ilmu dimulai dari niat sampai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah pembelajaran.” Sehingga penting untuk meninjau kembali mengenai ilmu yang diajarkan oleh para dosen mengenai syariat islam yang tertanam di dalamnya.

Seperti yang kita ketahui, ada beberapa mata kuliah yang memang sudah dikhususkan berbunyi islam seperti Kewirausahaan Syariah, Etika Bisnis Islam, dan lain-lain. Namun ada banyak mata kuliah yang dimasukkan nilai-nilai islam di masing-masing mata kuliah secara implisit.

Untuk mengintegrasikan nilai-nilai islam tersebut Hendy Mustiko Aji, SE.,M.Sc. selaku moderator memberikan beberapa poin luaran FGD supaya diskusi tersebut dapat menghasilkan langkah dan solusi terbaik antara lain mendapat pemahaman makna integrase dari setiap prodi PTIS, teknis integrasi di berbagai PTIS, cara dosen pengampu mata kuliah dalam pengajaran dan bagaimana integrasi nilai-nilai islam dapat diterjemahkan ke dalam kurikulum.

Dari hasil diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa beberapa poin yang dapat menjawab isu-isu tersebut antara lain setiap perguruan tinggi memerlukan modul dan bahan ajar yang dapat menjadi acuan pada setiap pembelajaran, mengadakan aksesi syariah serta menghasilkan jurnal-jurnal syariah. (LTG)