Sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat Indonesia untuk memperingati Idul Fitri dengan menguatkan tali silaturahmi melalui kegiatan yang dikenal dengan nama ‘Halal bi Halal’ atau ‘Syawalan’. Masa pandemi Covid-19 tentu tidak menyurutkan semangat untuk terus menguatkan silaturahmi dan tradisi untuk saling bermaaf-maafan, meski dilakukan secara daring, seperti yang dilaksanakan oleh Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII (29/5).

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII­, Prof. Jaka Sriyana, SE., M.Si. Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan Syawalan kali ini merupakan yang pertama dilaksanakan secara daring. “Meski kegiatan Syawalan ini dilakukan secara daring, namun Insya Allah tidak mengurangi keakraban kita sebagai keluarga besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII­”, terang Jaka. Pada kesempatan ini, Jaka juga mendoakan agar rekan-rekan yang telah dijadwalkan untuk menunaikan ibadah haji dapat tetap berangkat menunaikan haji di tahun ini, yakni Ibu Maisaroh, SE., M.Si., Bapak Siswantoro, S.Sos., dan Bapak Dwi Anjar Suseno.

Pada Syawalan daring kali ini, seluruh sivitas akademika mengucap Ikrar Syawalan secara bersama-sama yang dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII, Arief Rahman, SE., M.Com., Ph.D. Ikrar Syawalan memiliki makna untuk mengajak seluruh sivitas akademika saling memohon maaf dan saling memaafkan guna menjaga tali silaturahmi. “Melalui Ikrar Syawalan, kami mengajak untuk menuju kedamaian hati dan menuju kesucian jiwa serta mempererat rasa persaudaraan dengan saling memohon maaf dan saling memaafkan”, jelas Arief.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Priyonggo Suseno, SE., M.Sc. menyampaikan pentingnya bersabar dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Menurutnya, meski telah lazim digunakan oleh masyarakat Indonesia, ternyata kata sabar terkadang mengalami penyimpangan makna dari yang seharusnya. “Di Indonesia, kata sabar memiliki beberapa konotasi yang menimbulkan penyimpangan makna, seperti ‘yang penting sampai’ atau ‘menerima diperlakukan semena-mena atau haknya dirampas’, konotasi seperti itu tidak sesuai dengan makna sabar yang sesungguhnya”, terang Priyonggo.

Ia menambahkan bahwa menurut Imam Gazhali, sabar sebenarnya bermakna menahan diri, teguh, dan tahan untuk menentang atau memerangi hawa nafsu. “Kita memerlukan kesabaran untuk memerangi hawa nafsu, karena ada ujian di dalam setiap hawa nafsu”, lanjut Priyonggo. Ia juga menerangkan bahwa sabar memiliki banyak jenis, di antaranya adalah sabar akan segala kenikmatan yang diberi Allah, di mana kita harus menyadari bahwa ada hak Allah dan hak orang lain dari segala kenikmatan tersebut. Selain itu, ada pula sabar dalam ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menuntut ilmu.

Menutup tausiyahnya, Priyonggo menekankan bahwa sabar bukanlah hanya berdiam diri, tetapi berikhtiar untuk menghasilkan kebaikan dalam melaksanakan perintah Allah Swt. “Sabar dalam menjalankan perintah Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan merupakan upaya untuk menghasilkan kebaikan”, terangnya. Priyonggo juga mengajak seluruh sivitas akademika Fakultas Bisnis dan Ekonomika untuk meraih kesabaran dengan berlatih. “Mari kita bersama-sama menguatkan keyakinan akan manfaat bersabar dan memilih untuk bersabar, serta menutup pintu-pintu timbulnya nafsu, kita mulai dari diri sendiri untuk dipraktikkan dan kemudian diajarkan kepada orang lain”, pungkasnya. (BZD)