Di tengah pandemi, semangat mahasiswa masih terus ada untuk tetap menuntut ilmu serta mengasah kemampuannya. Khususnya kemampuan dalam menulis. Hal tersebut tersalurkan dalam workshop jurnalistik yang diadakan melalui webinar pada Sabtu, 27 Juni 2020 dengan mengangkat tema “Upgrade your media knowledge and skill”. Workshop ini diadakan oleh Program Studi Akuntansi FBE UII untuk mahasiswa dan mahasiswi Prodi Akuntansi UII angkatan 2017, 2018, dan 2019.

Selaku ketua Prodi Akuntansi FBE UII, Dr. Mahmudi, SE., M.Si., CMA dan Prodi Akuntansi mengharapkan serta berpesan bahwa pelatihan jurnalistik  memiliki kemampuan komunikasi yang excellent, karena jurnalistik melatih kita untuk dapat berkomunikasi dengan baik, komunikasi secara lisan maupun tulisan dan juga dalam bentuk infografik yang akan berkaitan mengenai informasi bisnis. 

Sebagai seorang pelajar, memahami ilmu jurnalistik tentu menjadi sebuah kepentingan. Dengan mempelajari jurnalistik,  kita dapat menjadi agent of change dalam memberikan informasi positif kepada masyarakat dengan menggunakan tata bahasa yang baik dan jelas. Informasi yang kita berikan lewat berita, dapat memperluas cakrawala pemikiran.

Reren Indranila, pewarta berita dan pemimpin redaksi online Radar Yogyakarta mengatakan bahwa selain penulisan artikel itu harus menggunakan kalimat yang singkat, padat, jelas dan mudah dipahami oleh orang banyak. Selain itu, sebuah artikel berita juga harus memiliki beberapa susunan seperti adanya teras berita. Dalam menulis sebuah artikel, yang paling sulit dibuat adalah teras berita karena sering terjebak dengan banyaknya informasi yang  didapatkan dari narasumber. Oleh karena itu, seorang wartawan harus memiliki trik yang tepat untuk memasukkan informasi yang memang penting untuk dibaca oleh masyarakat yang membutuhkan informasi terkait.

Novan J. Andrea, seorang fotografer, freelancer, dan Dosen fotografi Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia Yogyakarta sebagai pembicara kedua menjelaskan bagaimana seorang pewarta foto jurnalistik bekerja. Seseorang yang menjadi pewarta foto tetap harus berpedoman dan mengacu pada prinsip serta konsep jurnalisme. Terdapat elemen yang harus dikuasai oleh pewarta foto yaitu kemerdekaan atau independen, kemampuan teknis, kepekaan estetika, energi, daya, serta keingintahuan intelektual. Foto yang dihasilkan harus dilengkapi dengan caption untuk meminimalisir kesalahan dalam mempersepsikan foto. Dari hal-hal yang sudah disebutkan sebelumnya, diharapkan seorang pewarta foto tidak hanya bertugas mengambil sebuah foto saja. Namun, dapat memberikan informasi yang nyata dan berdasarkan fakta yang ada. Hal penting yang perlu diketahui juga, bahwa seorang pewarta foto tidak bekerja sendirian. Salah satu rekan kerja pewarta foto adalah editor. Dari sekian banyak foto yang dihasilkan oleh pewarta foto, hanya satu atau dua saja yang dipilih oleh editor untuk kemudian dijadikan bahan untuk ditayangkan.

“Fotografi identik dengan melihat. Fotografer harus dapat melakukan pengamatan dan perekaman untuk dapat menciptakan persepsi visual yang dapat di interpretasi,” ujar Novan J. Andrea. (ARS/KAYK)