Oleh: Faaza Fakhrunnas, Dosen Analisis Investasi dan Asuransi Islam, Prodi Ekonomi Pembangunan, FBE UII

Sebelum adanya pandemi Covid-19, kondisi perekonomian global masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. Walaupun sebelum Covid-19 ini perekonomian global diselimuti dengan beberapa ancaman yaitu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang dipicu oleh kesepakatan green deal UE, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta isu brexit yang belum selesai. Namun, secara keseluruhan kondisi ekonomi global sebelum pandemi Covid-19 masih baik dan prospektif untuk melakukan investasi.

Tidak hanya perekonomian global yang masih positif, sebelum pandemi pun perekonomian nasional masih cukup baik dilihat dari IHSG pada awal Januari yang sempat menyentuh angka 6300, hal ini adalah salah satu capaian yang baik dan menarik bagi Indonesia. Tidak hanya itu prospek ekonomi nasional juga masih stabil, dimana pertumbuhan ekonomi berada pada level lima sampai lima setengah persen. Kemudian regulasi-regulasi yang dibuat oleh pemerintah, kondisi rupiah yang cenderungnya lebih stabil dan cadangan devisa kita yang bagus menjadi daya tarik bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Kondisi Pasar Modal Setelah Pandemi

Virus covid-19 di Indonesia pertama kali ditemukan sekitar awal atau pertengahan Maret. Setelah virus ini ditemukan tren IHSG menjadi menurun. Karena pada saat itu muncul isu-isu mengenai Covid-19 yang mulai meluas dari Wuhan ke Jepang, Korea dan Negara Singapura yang paling dekat dengan Indonesia. Sehingga penurunan ini menyebabkan IHSG kita mengalami penurunan sampai di bawah level 4000. Penurunan ini tentunya juga tidak lepas dari sentimen investor yang melihat bahwa pemerintah Indonesia pada waktu itu belum serius dalam menangani Covid-19 ini sehingga ketika krisis kesehatan terjadi dan sentimen-sentimen itu ada, membuat para investor lebih memilih untuk menarik dananya dari pasar modal sehingga hal tersebut tentunya membuat harga saham mengalami penurunan.

Pengaruh Covid-19 terhadap Pergerakan Pasar Modal

Pergerakan pasar modal apabila ini adalah investasi maka akan sangat dipengaruhi oleh perusahaan. Ketika PSBB terjadi banyak perusahaan-perusahaan yang kolaps. Jika kita lihat pada hari ini, perusahaan-perusahaan yang listing di pasar modal, yang berperan di bidang pariwisata semuanya negatif. Sehingga kalau kita lihat, tidak hanya aspek finansial perusahaan yang terpukul karena pandemi covid-19, namun juga aspek riil dan fundamental juga ikut terkena imbasnya. Sehingga wajar saja harga saham sempat jatuh atau bahkan sekarang harga saham performance nya tidak sebaik sebelum terjadinya pandemi.

Meskipun banyak perusahaan-perusahaan yang tidak mampu bertahan di tengah kondisi saat ini, namun perusahaan telekomunikasi kinerjanya justru membaik pada masa pandemi ini. Selama pandemi ini perusahaan Telkomsel, XL, Indosat memiliki laba yang luar biasa, karena pemakaian internet selama Work From Home (WFH) dan belajar dari rumah semakin tinggi. Dan beberapa perusahaan yang bergerak di sektor food and beverage seperti halnya indofood sukses makmur juga cukup baik karena meskipun pandemi ini melanda, kinerja perusahaannya tetap naik, hal tersebut dikarenakan perusahaan Indofood memproduksi kebutuhan dasar yang saat ini juga dibutuhkan.

Perilaku Investor dalam Berinvestasi pada Masa Pandemi

Fluktuasi di pasar modal mempengaruhi perilaku investor dalam berinvestasi karena kita menganalisis pasar modal tidak hanya sekedar melihat angka saja, tetapi kita juga melihat dari aspek keuangan perilaku atau ekonomi perilaku seorang investor. Apabila investor tersebut kecenderungannya adalah investor yang menghindari risiko atau bahkan moderate, maka barangkali investor tersebut akan memilih untuk menarik dananya dari pasar modal dan kemudian menginvestasikan dananya pada skema atau instrumen-instrumen investasi yang save haven atau investasi yang memiliki tingkat risiko rendah misalnya adalah emas. Apabila investor tersebut merupakan investor yang risk taker mungkin dia akan tetap mempertahankan investasinya.

Memilih Sumber Bacaan yang Tepat Untuk Mengetahui Arus Investasi Terkini

Menjadi langkah awal yang tepat bagi seseorang yang ingin memperdalam ilmu investasi dengan menemukan sumber bacaan yang relevan. Dalam perspektif Islam, penting rasanya untuk mampu membedakan jenis investasi yang halal atau haram. Maka dari itu, diperlukan referensi-referensi yang mendasar seperti buku Islamic Financial System dan buku Islamic Capital Market. Tentu, buku textbook saja belum cukup. Kita juga harus mendapatkan sumber-sumber bacaan yang bersifat up-to-date untuk memahami aktivitas investasi secara riil. TIME Magazine dan Bloomberg menjadi salah dua majalah yang direkomendasikan. Selain itu, arus investasi juga bisa diperhatikan lewat pembaruan-pembaruan yang diberikan oleh lembaga-lembaga terkait seperti Lembaga Manajemen Aset Negara.

Rekomendasi Investasi yang Cermat Saat Ini

Tidak ada yang mengetahui investasi apa yang paling tepat selain diri sendiri. Sebaiknya, kenali terlebih dulu profil risiko diri sendiri dalam berinvestasi. Apakah kita cenderung orang yang tergolong risk averse (menghindari risiko), moderat, atau risk taker (pengambil risiko). Dengan kondisi ketidakpastian yang cenderung tinggi saat ini, seorang risk averse akan memilih instrumen investasi dengan tingkat stabilitas yang baik seperti emas. Berinvestasi emas saat ini sudah dimudahkan, karena tidak harus membeli secara langsung, tetapi bisa dilakukan dengan menyicil di bank-bank syariah. Pilihan lainnya adalah dengan berinvestasi pada sukuk ritel atau deposito dengan menggunakan akad mudhorobah. Sementara itu, seorang yang tergolong risk taker tentu akan memilih instrumen investasi yang berisiko, namun memberikan return yang tinggi. Di pasar saham, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, telekomunikasi, dan food and beverage menjadi primadona saat ini. Dengan menganalisa aspek fundamental berupa laporan keuangan perusahaan, akan tercermin apakah perusahaan tersebut layak untuk diinvestasikan atau tidak. Salah satu yang menjadi acuan adalah capital expenditure perusahaan, semakin tinggi nilainya, maka tinggi juga kemungkinan perusahaan untuk terus berkembang dan otomatis menghasilkan return yang besar bagi investornya.

Editor: Daffa Hakim K. & Annisarinda Syahputri