Menyambut era kenormalan baru, Program Studi Manajemen Program Magister Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia menggelar The 8th National Conference on Applied Business yang bertajuk “Strategi Pemulihan UMKM dan Pendidikan Tinggi pada Era Kenormalan baru Selama Pandemi Covid-19”, Sabtu (3/10). Dengan menghadirkan tiga pembicara yakni Prof. Fathul Wahid, S. T.,M.Sc., Ph.D. selaku Rektor UII, Gancar Premananto dari Universitas Airlangga, dan Halim Alamsyah yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Dalam sambutannya, Prof. Jaka Sriyana, S.E., M.Si., Ph.D mengatakan, “Konferensi ini diadakan untuk menyebarluaskan ilmu yang telah kita pelajari”.

“Pandemi Covid-19 telah memaksa Perguruan Tinggi dalam keadaan yang tidak nyaman. Salah satunya terjadi di Yogyakarta. Ketika mahasiswa pendatang pulang pulang kampung. Maka, dampak ekonomi lokal itulah yang sangat luar biasa,” tutur Fathul Wahid dalam sambutannya. Ia juga menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipikirkan demi masa yang akan datang, tidak hanya bidang ekonomi, namun juga pada Perguruan Tinggi.

Berbeda dengan penuturan Fathul, Gancar Premananto lebih membahas pada ranah bisnis. “Kalau kita ingin menjadi entrepreneur, maka belajar untuk menjadi suffer. Entrepreneur harus siap dalam menghadapi  tantangan luar biasa nantinya. Harus melakukan sustainable improvement”.

Dalam bidang ekonomi, salah satu hal yang perlu diselamatkan ialah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah). “Kita saat ini berhadapan dengan sesuatu yang kita tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Perbedaan ini terutama menyangkut pada masalah kematian. Di bidang ekonomi, hal ini berdampak pada kegiatan ekspor impor yang merupakan indikator ekonomi dunia, kini perlahan-lahan berhenti. Banyak perusahaan memberlakukan PHK (Putus Hubungan Kerja) dan investasi menurun tajam,” ungkap Halim Alamsyah. Menurutnya, sudah tidak ada harapan lagi bagi para pebisnis yang menjalankan usahanya untuk bertahan di tengah kondisi seperti ini. Maka, diperlukan langkah-langkah yang tepat mengingat UMKM merupakan salah satu harapan negara saat ini.

“Dengan menggunakan ekonomi digital, pasar tradisional dapat dihubungkan dengan e-commerce. Ini merupakan salah satu strategi pengembangan UMKM agar dapat naik kelas,” ujar Halim. Ia juga memaparkan bagaimana tahapan pengembangan UMKM secara rinci mulai dari korporatisasi UMKM berbasis klaster, dilanjutkan dengan penguatan kapasitas produksi dan usaha, SDM (Sumber Daya Alam), serta kapasitas pasar. Setelah dua tahapan itu terlewati, maka UMKM akan masuk ke tahap penguatan akses pembiayaan.

“Terapkan strategi Hybrid Market Driven dan Government Intervention untuk mendorong UMKM naik kelas. Dengan menggunakan program on boarding, UMKM menerapkan e-commerce dan e-payment yang sistematis dan terstruktur yang dapat menguatkan sinergi kebijakan nasional UMKM,” tutupnya. (AMA)