Pariwisata merupakan salah satu sektor yang menjadi penopang perekonomian Indonesia selama ini. Namun, mewabahnya Covid-19 memberikan tantangan yang cukup besar sehingga banyak pelaku usaha pariwisata yang harus gigit jari. Selama lebih dari enam bulan dilanda pandemi, industri pariwisata menjadi lumpuh seiring dengan melemahnya perekonomian Indonesia.

Dalam kondisi ini, kepercayaan publik, pentingnya pemahaman pariwisata berkelanjutan serta peran teknologi informasi (TI) menjadi sangat krusial dalam membangun kembali industri pariwisata pasca pandemi. Hal ini disampaikan oleh Johan Arifin, S.E, M.Si, Ph.D, Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) melalui sambutannya pada serial webinar dengan judul “Wajah Pariwisata Yogyakarta Pasca Pandemi: Optimalisasi TI dalam Mengembangkan Potensi Daerah” yang diselenggarakan oleh Program Studi Sarjana Akuntansi FBE UII (13/11).

Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur, Dr. Drs. Agus Rochiyardi, MM. menyampaikan bahwa mindset wisatawan saat ini menjadi lebih mengutamakan sustainable tourism dan menuntut wisata dengan higiene yang tinggi. “Saat kondisi pandemi, kita harus membiasakan diri dengan menerapkan contactless dalam melakukan aktivitas apapun. Selain itu, karena perekonomian sedang sulit mindset wisatawan pun berubah dengan mencoba menahan pengeluaran serta mengutamakan sustainable tourism saat berwisata dengan higiene yang tinggi dan jangkauannya yang masih bersifat regional,” tutur Agus.

Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal akan tiga kekuatannya dalam menarik minat wisatawan, yaitu budaya, pendidikan, serta konten event. Sehingga Yogyakarta dan Bali menjadi kota yang paling siap dalam menerima wisatawan. Sebagai langkah optimalisasi Pariwisata, Yogyakarta akan mengembangkan tujuh destinasi prioritas pariwisata, diantaranya yakni Kawasan Kraton-Malioboro, Kawasan Prambanan-Ratu Boko, Lereng Merapi, Kawasan Gunung Sewu, Pantai Parangtritis, Pegunungan Menoreh, serta Desa Wisata Tembi dan Wukirsari.

Optimalisasi pengembangan potensi daerah pariwisata dituntut untuk mempertimbangkan empat hal, yakni daya saing, sustainable, produk dan jasa unik, serta value experience bagi wisatawan. Sehingga pemerintah perlu melakukan pembinaan dengan harapan mengenalkan produk-produk wisata, baik secara langsung maupun dengan memanfaatkan media digital yang ada. 

Berbeda hal dengan penuturan Yuni Nustini, MAFIS, Ph.D., CA, Ak., melalui hasil penelitiannya memaparkan bahwa tren kunjungan wisata ke Yogyakarta sebenarnya relatif menurun pada tahun 2012-2019. Namun, pemanfaatan media sosial cukup membantu menarik kunjungan wisatawan ke Yogyakarta. Whatsapp dan Instagram merupakan media sosial dengan penggunaan terbanyak dalam memperoleh informasi terkait destinasi wisata di Yogyakarta. “Word of mouth, manfaat, sikap, dan kenyamanan wisatawan, serta media sosial berpengaruh terhadap kunjungan wisata ke Yogyakarta,” terang Yuni. 

“Salah satu alasan penting bagi wisatawan untuk mengunjungi lokasi wisata. Pemanfaatan internet dan media sosial, fasilitas yang memadai seperti layanan publik, layanan angkutan, harga dan layanan dari penyedia jasa juga sangat mempengaruhi kepuasan wisatawan,” tutup Dr. Wing Wahyu Winarno, MAFIS, CA, Ak. (ATE/SAR)