Pergeseran generasi atau generation shifting terus menjadi topik hangat untuk dibicarakan. Pasalnya, pergeseran generasi sendiri sangat dirasakan oleh semua generasi karena sering kali merujuk kepada anggapan kesenjangan antara kaum muda dan orangtua. Bukan hanya berdampak terhadap kesenjangan generasi atau generation gap, pergeseran generasi ini juga akan berdampak banyak terhadap praktik SDM di dalam dunia kerja. Di dunia kerja sendiri, generation gap dapat menimbulkan perbedaan persepsi, kebiasaan, ekspektasi, hingga berujung konflik.

Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia mengadakan diskusi current issue gugus sumber daya manusia (SDM) FBE UII dengan tema Unpacking The Generation Shifting Issues” yang dilakukan secara daring via zoom. Diskusi ini berlangsung pada hari Rabu (05/05) dengan sesi pemaparan materi oleh empat pembicara yaitu dengan topik pembahasan Generation Characteristics oleh Fereshti Nurdiana Dihan, SE., MM; Interaction within generations oleh Alldila Nadhira Ayu Setyaning, SE., MBA; Shifting Generation, Shifting Tech oleh Handrio Adhi Pradana, SE., M. Sc; The Strategy of Integrating between Generations oleh Dr. Majang Palupi, BBA., MBA.

Feresthi Nurdiana D., S.E., M.M turut memaparkan bahwa terdapat empat generasi yang terlibat dalam organisasi yaitu Baby Boomers (1946-1960), Generasi X (1960-1980), Generasi Y (1981-1995), Generasi Z (1995-2010). Setiap generasi memiliki tantangan, cara pandang dan berkomunikasi yang berbeda serta memiliki skillset, kapasitas, dan metode kerja yang juga berbeda. Perbedaan karakteristik ini karena adanya dorongan kejadian yang bersifat masif di setiap generasinya.

Menurut Handrio Adhi P., S.E.,M.Sc., pembentuk karakteristik seseorang bersifat efek interaksional. “Orang itu terbentuk karena pribadi dirinya sendiri bagaimana dia memaknai kehidupan. Apa yang ia baca, alami, yakini, dan orang-orang di sekitar selama perjalanan hidup orang tersebut”, ujarnya.

Dengan perbedaan karakter ini, tujuan organisasi adalah salah satu yang dapat mengikat setiap individu. “Dari proses kolaborasi yang muncul antargenerasi yang berbeda, harapannya adalah masing-masing generasi bisa memperoleh manfaat dari kolaborasi tersebut”, ucap Dr. Majang Palupi, B.B.A., M.B.A.

Sebagai generasi senior, harus memiliki spirit of learning yang mempunyai kemauan untuk belajar, terlepas dari generasi yang lebih muda. Sebaliknya, generasi yang muda juga dengan segala kelebihannya yang dimiliki harus berbagi ilmu.

“Saling memahami dan membuka komunikasi yang diinginkan oleh generasi yang lebih muda, dan mencoba menyinkronkan apa yang diinginkan generasi senior” tambah Aldilla Nadhira Ayu S., S.E., M.M

Masalah akan cepat terselesaikan ketika terjadi komunikasi yang asertif dan transparan dari antargenerasi yang ada di dalam organisasi. (AD/AAM)