Perumpamaan saudara semuslim bagaikan satu tubuh, jika ada satu bagian tubuh yang terluka, maka bagian lainnya turut merasakan nestapa. Hal tersebut telah tercantum dalam Hadits Bukhari dan Muslim, yang kemudian secara langsung dijabarkan oleh Ustaz Ransi Al Indragiri. “Seorang manusia dapat diakui sebagai saudara sesama muslim, yaitu apabila seseorang tersebut bersyahadat, melaksanakan salat, dan membayarkan zakat. Kendati seseorang tersebut malas, sekalipun melakukan ketiga hal tersebut namun masih mengakui, maka dia masih dapat kita akui sebagai sesama saudara muslim,” jelasnya mengawali tausiyah pada pengajian syawalan 1442 H yang diselenggarakan oleh Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) pada Rabu (19/5).

Sesuai dengan tema yang diusung, penyelenggaraan acara ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan menegaskan pentingnya mengukuhkan iman dalam ikatan persaudaraan. Lebih lanjut, ketika seseorang telah mengucapkan syahadat, melakukan salat, dan juga membayar zakat, mereka telah layak kita sebut sebagai saudara sesama muslim. Tidak hanya itu, saudara sesama muslim itu bukan hanya status, melainkan juga menjadi tanggung jawab kita untuk bisa peduli terhadap apa yang menimpanya.

Ransi kemudian menjelaskan lebih lanjut terkait dengan status dan pengukuran keimanan sesama saudara muslim. “Bila kita ingin mengukur kadar iman seseorang, maka dapat dilihat dari seberapa care atau peduli kita terhadap saudara sesama muslim,” tutur Ustaz Ransi Al-Indragiri. Dijelaskan oleh Ustaz Ransi dalam buku Pandangan Hidup Muslim yang ditulis Prof. Dr. Buya Hamka,  bahwa orang yang benar imannya, amalannya, ilmunya, dan diterima di sisi Allah SWT, adalah orang yang dekat kepada persaudaraan. Ransi juga mengingatkan bahwa ada enam hak sesama muslim, yaitu memberi salam jika bertemu, membalas hamdalah setelah bersin dengan mengucapkan yarhamukallah, menghadiri undangan sebagai bentuk kepedulian, memberi nasihat ketika diminta, dan bertakziah kala saudara sesama muslim ada yang wafat.

Namun, dalam melakukan amal, perlu juga diketahui bahwa semua harus diniatkan dan dilakukan secara totalitas. “Allah tidak menerima yang setengah-setengah. Oleh karena itu, kita harus totalitas peduli dengan sesama, niscaya mereka juga akan totalitas dalam memberikan kepedulian terhadap kita,” pesan Ustaz Ransi di akhir tausiahnya.(AR/SAR)