Masa pandemi tidak menghalangi Nabila, pemilik NDJ Tenun Batik untuk terus mengembangkan usahanya. Hingga pada akhirnya melahirkan inovasi baru bagi yang membuat bisnisnya semakin berkembang. Sifat adaptif dan inovatif ini yang kemudian  menyebabkan minat pasar semakin bertambah. “Bisa menjadikan omzet yang turun dan naik sampai saat ini stabil,” ungkap Nabila.

Disamping itu, usahanya dalam membangun bisnis batik ini pun tidak hanya demi meraup keuntungan, melainkan juga bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kain batik. Telah diketahui pula sebelumnya bahwa batik merupakan kain khas bangsa Indonesia yang telah dikenal oleh kalangan lokal maupun internasional. Namun, dibalik ketenarannya, batik di Indonesia sendiri masih memiliki sedikit peminat dari generasi muda. Hal tersebut mendasari keinginan Nabila untuk terus menumbuhkan kembali rasa cinta anak muda terhadap batik. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya sebuah bisnis kain batik yang bernama NDJ Tenun Batik yang mana didalamnya terjual beraneka ragam produk yang biasa digunakan oleh anak muda dan dilengkapi juga dengan corak batik khas Indonesia.

NDJ Tenun Batik ini pada awalnya berhasil ia tekuni semasa berkuliah di Universitas Islam Indponesia (UII), yang kemudian terus berlanjut hingga sekarang. Berbagai ajang kompetisi telah ia ikuti, bahkan hingga mendapatkan dana hibah, salah satunya dari Kementrian Koperasi dan UMKM RI. Nabila juga menuturkan kiatnya dalam menjalani bisnis, “Kita harus mempunyai desain atau produk yang betul-betul diminati oleh anak muda,” jelasnya.

Tidak hanya dari UMKM RI, bisnis NDJ Tenun Batik milik Nabila ini juga didukung penuh oleh Inkubator Bisnis dan Inovasi Bersama (IBISMA) UII. Dukungan yang diberikan pun tidak hanya dalam bentuk nominal uang saja, melainkan juga bimbingan mengenai pembuatan strategi bisnis. “Bagaimana teknik pemasaran yang baik, merealisasikan rencana, dan juga diajarkan banyak cara agar produk yang dijalankan dapat dikenal oleh masyarakat luas dan lebih berkembang lagi,” tutur Nabila.

Satu persatu penghargaan telah ia raih, salah satunya penghargaan sebagai desainer muda pada acara peragaan busana Jogja International Batik Biennale 2018. Adapun penghargaan lainnya, yakni berupa pendampingan eksklusif pada program miliki UNESCO dan juga City Foundation. Nabila tidak hanya memberikan inspirasi sebagai desainer muda yang produktif, melainkan juga sebagai salah satu penggerak home industry yang mayoritas diinisiasi oleh kaum wanita Indonesia, khususnya di Jepara dan Jogja. “Jadi, kita memberdayakan beberapa pengrajin yang ada di daerah-daerah,” pungkasnya. Tentu, hal ini juga menjadi nilai tambah bagi kain batik itu sendiri, karena keindahannya telah dipertahankan selama ratusan tahun oleh tangan-tangan yang terampil. (KR/ESP/AMA)