Akuntan adalah seseorang yang bertugas dalam melakukan pencatatan mengenai aliran keuangan yang ada dalam sebuah organisasi. Semua aliran ini harus dicatat secara detail agar data keuangan perusahaan yang dihasilkan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Akuntan sendiri memiliki jenis yang beragam, salah satunya akuntan pemerintah. Akuntan pemerintah ialah seorang akuntan yang bekerja pada sektor lembaga pemerintahan yang bertugas untuk mengemban tanggung jawab kepada organisasi atau institusi yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Akuntan pemerintah bertugas sebagai pemeriksa dan pengawasan sistem keuangan negara dan membuat rancangan sistem yang ditujukan untuk pemerintah.

Mengingat pentingnya peran akuntan pemerintah dalam sistem keuangan negara, Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia mengadakan diskusi Talkcounting#4 yang mengangkat tema “Keliling Dunia Menjadi Akuntan Pemerintah” yang dilakukan melalui platform Zoom. Diskusi ini diisi oleh pembicara yang menjabat sebagai Kepala Subbagian Monitoring dan Evaluasi Kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu), Nur Fadhilah Yulia Dwi Suprina. (2/9)

Pada awal sesi, Nur Fadhilah menjelaskan alasan mengapa ia memutuskan untuk menjadi akuntan pemerintah. Hal ini didasari oleh pemikirannya yang ingin langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus dari Program Studi Akuntansi FBE UII. Nur Fadhilah juga menambahkan bahwa adanya kejelasan karier dan kesempatan untuk mengembangkan diri sehingga di saat yang bersamaan menjadikan Nur Fadhilah semakin yakin untuk menjadi seorang akuntan pemerintah.

Nur Fadhilah menuturkan beberapa tips agar dapat diterima sebagai seorang akuntan pemerintah. “Pahami dasar-dasar materi perkuliahan serta melatih kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa-bahasa yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujar Fadhilah. “Jika ingin berkarier sebagai akuntan pemerintah maupun swasta, kemampuan berbahasa asing akan menjadi nilai lebih,” tegas Nur Fadhilah.

Nur Fadhilah mengatakan bahwa tantangan terbesar bekerja di Kemlu adalah penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan kerja karena adanya rotasi rutin yang dilakukan setiap 3-4 tahun sekali. “Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita dapat mengikuti dinamika mutasi pegawai yang ada di Kemlu, tetapi tetap dapat mengerjakan semua pekerjaan sesuai dengan target kinerja yang telah ditetapkan,” ujarnya. Nur Fadhilah juga menambahkan bagaimana cara ia dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan kerja. “Terbuka, dalam artian menerima adat, budaya dan prosedur yang berlaku di lingkungan kerja yang baru serta tidak menjadi orang yang judgemental,” tambah Nur Fadhilah.

Untuk mengakhiri diskusi, Nur Fadhilah mengatakan, “Nikmati proses kuliahnya, ambil ilmu sebanyak-banyaknya, ikut kepanitiaan, seimbangkan belajar dan bermain, tingkatkan kompetensi diri serta jangan takut untuk bersaing.” (MID/HAN)