Maraknya kejahatan keuangan di Indonesia terbilang tinggi menjadi ancaman di masa depan khususnya bagi instansi atau perusahaan yang kerap dirugikan atas tindakan kriminal tersebut. Bagi akuntan forensik di masa depan, tantangan yang dihadapi juga semakin dinamis karena perkembangan teknologi di era ini. Dalam mendeteksi kecurangan yang berkembang ke ranah digital, berbagai perspektif ilmu dan kompetensi terutama di bidang digital perlu dikuasai oleh akuntan forensik di masa depan.

Bekerja sama dengan Ikatan Akuntansi Seluruh Indonesia Wilayah D.I. Yogyakarta, Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII)  menyelenggarakan Webinar Akuntansi Forensik dengan tema “Mempersiapkan Akuntan Forensik Masa Depan dalam Mengurangi Badai Tantangan Dunia Baru”, (11/9).  

Pada sesi diskusi ini diisi oleh tiga pembicara yang ahli pada bidang dan beragam perspektif terkait Akuntansi seperti Herry Subowo, S.E., MPM., Ak., CA, CIA., CFE., selaku Auditor Utama Investigasi, BPK-RI; Alexander Sianturi, CPA., CFE., CA., CSRS., API., selaku Partner Forensic & Integrarity Services, Ernest & Young Indonesia; dan Hendi Yogi Prabowo, S.E., MForAccy., Ph.D., CRfA., CAMS., selaku Direktur Pusat Studi Akuntansi Forensik UII.

Penggunaan akuntansi forensik di Indonesia lebih ditekankan kepada pengungkapan tindak pidana korupsi. “Secara teori dan praktik, sebenarnya akuntansi forensik kegunaannya bisa lebih dari itu, kesamaannya adalah digunakan untuk menyiapkan bukti untuk proses litigasi atau proses pembuktian di persidangan,” jelas Hery Subowo. 

Herry Subowo juga memaparkan bahwa selain harus memiliki kompetensi pengetahuan auditing, seorang akuntan forensik di sektor publik diharuskan mengerti ilmu hukum, “karena kita bekerja dalam ranah hukum yang ada di Indonesia, maka semua cabang hukum seperti hukum pidana, hukum perdata, administrasi negara, tata usaha negara, harus dikuasai karena disitulah lingkungan kita bekerja,” tambahnya.

Menurut Alexander Sianturi, tantangan yang akan dihadapi akuntansi forensik di masa depan adalah teknologi. “Pada saat melakukan kegiatan forensik, kita berhadapan dengan banyak data karena transaksinya digital. Kita harus punya kemampuan menganalisis data tersebut untuk mencari pola dan bukti kecurangan. Kalau tidak punya skill atau kompetensi yang bisa digunakan untuk me-review data, kita tidak bisa apa-apa,” ucap Alex.

Dalam mempersiapkan akuntan masa depan, FBE UII membuat program khusus bernama Certified Forensic Auditor (CFrA) Klaster 1 UII yang bisa diikuti oleh mahasiswa program studi Akuntansi FBE UII. “Bagi mahasiswa yang sebentar lagi lulus, akan melakukan ujian dan mendapatkan pengakuan Prevention and Detection of Fraud dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi yang bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Forensik  yang diuji oleh dosen dan beberapa praktisi dari asosiasi,” pungkas Hendi Yogi Prabowo.(AR/AAM)