Kamis, (16/1/2020) menjadi saksi sejarah bagi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) yang sekarang resmi berganti menjadi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII). Setelah 72 tahun FE UII berkiprah di dunia pendidikan serta telah mencetak insan-insan Ulil Albab di kancah bisnis dan ekonomi, kini FBE siap meneruskan prestasi yang sudah diraih sebelumnya.

Symposium & Soft Launching Business and Economic Outlook Indonesia 2020 dengan tajuk “Besarnya Kebutuhan Investasi” menjadi acara pertama yang diselenggarakan FBE. Acara yang dihadiri Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, Drs. Swarsono, M.A., Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D,, Kepala Prodi, Wakil Dekan, para dosen FBE UII, dan pengurus Lembaga kemahasiswaan FBE UII. Lobi Drop Off-Pick Up FBE UII menjadi tempat dibukanya acara yang kemudian dilanjutkan di Ruang P1/2.

Jaka Sriyana, SE., M. Si., Ph. D. selaku Dekan FBE UII memberikan laporan terkait perubahan nama FE menjadi FBE. “Ide untuk mengubah nama ini sebenarnya sudah lama, sudah 15 tahun yang lalu. Bukan sekedar plakat dan surat menyurat, tetapi kita harapkan nama ini menjadi semangat baru perkembangan Fakultas Bisnis dan Ekonomika”. Alasan perubahan nama FBE sendiri pun ditilik dari sejarah, yakni prodi yang pertama kali muncul adalah Manajemen, kemudian disusul Akuntansi dan Ekonomi Pembangunan. “Dari tiga jurusan ini, kompetensi yang kita hasilkan lebih dekat kepada bisnis daripada ekonomi.” jelas beliau.

Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. berkesempatan memberikan sambutan dalam acara ini. “Idenya sudah 15 tahun. Saya diperintahkan pak Dekan mengesahkan pada 1 Januari, dan saya tidak mungkin menolak perintah dari FE kalau hidupnya tidak ingin rumit,” gurau beliau pada awal sambutannya. Nama baru ini diperoleh dengan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah menghormati sejarah FE, mengkritisi masa kini yang kompetensinya berbeda, dan harapan bahwa FBE nantinya akan membantu dalam menjemput masa depan yang cerah. Menurut beliau, nama fakultas seharusnya mengandung tiga prinsip yaitu melindungi serta mewakili, mengayomi, dan mengedepan (futuristic). Fathul Wahid juga memprovokasi fakultas lain agar memikirkan hal yang serupa.

Symposium yang digelar FBE UII kali ini juga menghadirkan beberapa pembicara, yakni Drs. Suwarsono Muhammad, MA., Hilman Tisnawan, Irwan Taufiq Ritonga, S.E., M.Bus., Ph.D., CA. dan Dr. Aftoni Sutanto, S.E., M.Si. Sesi diskusi ini membabat habis topik investasi secara sempit hingga luas. Harapannya FBE dapat mengajak berbagai pihak guna mengkampanyekan pentingnya investasi dalam negeri. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan pandangan yang komprehensif tentang perekonomian Indonesia saat ini dan prospek ekonomi (economic outlook) 2020 guna mendukung prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tentu saja disertai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi. (HLL)

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) mengadakan kegiatan International Student Mobility (ISM) yang diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 2019 hingga 18 Desember 2019. Kegiatan ini ditekankan kepada organisasi mahasiswa FE UII untuk menjalin kerja sama internasional dengan organisasi mahasiswa yang berada di luar negeri.

Kerja sama internasional ini berupa sebuah kolaborasi. Kolaborasi memberikan banyak manfaat bagi suatu organisasi, karena secara tidak langsung dengan terjadinya kolaborasi dapat menambah ilmu, pengalaman hingga sebuah wadah untuk belajar bagi kedua belah pihak.

Pada kegiatan ISM ini, universitas yang menjadi tujuan berada di Malaysia yaitu Univesiti Sains Islam Malaysia dan Univesiti Putra Malaysia. Kemudian FE UII juga melakukan program Corporate Social Responsibility (CSR) yaitu dengan memberikan santunan kepada anak-anak yatim di panti asuhan Cahaya Kasih Bestari. Peserta yang mengikuti ISM ini terdiri dari sebelas dosen dan enam belas perwakilan mahasiswa. Mahasiswa-mahasiswa tersebut merupakan perwakilan dari setiap lembaga yang ada di FE UII.

Arief Rahman, SE., M.Com., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Sumber Daya berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan dan relasi. Ia menyampaikan “Kita ingin mendorong mahasiswa untuk memperluas wawasannya, tidak hanya wawasan di Indonesia. Poin yang paling penting adalah mahasiswa dapat menambah relasi dan pengalaman baru yang skalanya internasional.”

Universitas pertama yang dikunjungi oleh peserta ISM adalah Fakulti Ekonomi dan Muamalat Universiti Sains Islam Malaysia (FEM USIM)  yang merupakan salah satu perguruan tinggi negeri di Malaysia. FEM USIM mempunyai organisasi mahasiswa yang bernama Sekretariat Mahasiswa/i Fakulti Ekonomi dan Muamalat (SekreFEM). Organisasi mahasiswa ini mempunyai tugas untuk menghubungkan mahasiswa FEM USIM dengan bagian manajemen FEM dan bertanggung jawab dalam menganjurkan program pembangunan intelektual mahasiswa FEM USIM.

Adapun hasil tentang diskusi antara perwakilan lembaga-lembaga FE UII dan pihak SekreFEM diwujudkan dalam bentuk kolaborasi kegiatan kemahasiswaan. Kolaborasi ini bernama International Week yang mencakup berbagai bentuk kegiatan akademik dan non-akademik seperti workshop, kompetisi menulis laporan ilmiah, expo, aksi sosial dan lomba Muamalat Interactive Game (MIG). 

Disepakati oleh kedua belah pihak bahwa acara ini akan berlangsung selama dua kali yaitu pada bulan April 2020 yang dilaksanakan di Universitas Islam Indonesia, kemudian pada bulan Oktober 2020 yang dilaksanakan di Universiti Sains Islam Malaysia.

Selain itu FE UII juga bertandang menuju Faculty of Economics and Management, Univesiti Putra Malaysia (FEM UPM). Universitas ini merupakan salah satu universitas terbaik di Malaysia dibuktikan dengan penghargaan yang diraih yaitu Quacquarelli Symonds (QS) Top 50 Under 50 Rankings 2020. Organisasi mahasiswa yang dimiliki oleh FEM UPM adalah Faculty of Economics and Management Student Association (FEMSA UPM). 

Dalam kunjungan kali ini juga menghasilkan kegiatan kolaborasi antara pihak lembaga FE UII dan FEMSA UPM yang diperkirakan akan berlangsung antara bulan April 2020 atau Agustus 2020. (AFM)

Teknologi yang saat ini terjadi di seluruh dunia tidak bisa terlepas dari kepentingan politik masing-masing negara. Dengan kondisi seperti ini sangat perlu dipahami  bagaimana politik ini akan mempengaruhi kehidupan ekonomi dan bisnis.

Inilah yang menjadi topik perbincangan pada kuliah umum yang digelar oleh Program Studi Akuntansi,Fakultas Ekonomi UII (FE UII) Kamis (19/12) yang bertajuk “Peran Profesi Akuntansi  dalam Pembangunan Ekonomi Digital”. Acara ini berlangsung di Aula Utara FE UII dan menghadirkan beberapa pembicara yakni Roseno Aji Affandi, Dosen Universitas Bina Nusantara, Yusuf “shembah” Hadi, shareholder and CEO at Republik Digital (REDI Group-holding) dan Cahyo Priyatno, Praktisi Bisnis Digital.

Yang harus dipahami pada kondisi saat ini adalah ketergantungan masyarakat terhadap akses internet untuk memenuhi kebutuhan mobilitasnya, seperti untuk kepentingan pendidikan, pembayaran bahkan perjalanan atau transportasi. Begitu juga dengan bisnis yang saat ini tengah marak menggunakan berbagi aplikasi seperti melalui whatsApp, LINE, e-commerce dan masih banyak yang lain. 

Hal tersebut merupakan suatu perubahan serta adaptasi yang semakin berkembang, sehingga perilaku masyarakat juga akan berubah maka muncul yang disebut era milenial.

“Perubahan secara behavior akan merubah pola bisnis dari berbagai macam hal. Sehingga pola bisnis yang dihadapi akan berganti menyesuaikan permintaan masyarakat yang berubah sangat signifikan,” pungkas Roseno Aji Affandi.

Roseno Aji Affandi mengungkapkan berdasarkan penelitian yang dilakukan McKinsey Global Institute, ada sekitar 400 perusahaan besar di dunia yang sudah menginvestasikan dalam 19 industri yang berkaitan dengan bisnis teknologi data yang saat ini sudah menggunakan AI (Artificial Intelligence) dan IoT (Internet of Things).

Selanjutnya sekitar 23 juta jenis pekerjaan di Indonesia diprediksi akan hilang pada tahun 2030 karena adanya revolusi big data. Namun secara bersamaan akan ada sekitar 27-46 juta  jenis pekerjaan baru yang muncul.

Roseno Aji juga menambahkan bahwa “Masa depan industri akan berbasis IoT karena lebih murah lebih efektif dan efisien, hal ini telah dibuktikan oleh perusahaan-perusahaan di Amerika. Selain itu dengan menggunakan IoT perusahaan akan lebih mudah di kontrol.”

Industri kedepan adalah berbentuk smart factory begitupun dengan produknya. Sehingga yang menjadi persaingan ke depan adalah business model competition dan bukan lagi pada product competition.

Implikasi dari berkembangnya IoT ini ada dua aspek yaitu pada bidang sosial politik serta bisnis dan ekonomi.

“Munculnya smart city, e-government merupakan pekerjaan-pekerjaan yang erat dengan transparansi sangat berkaitan dengan seorang akuntan, salah satunya bagaimana membuat sebuah sistem yang berkaitan dengan akuntansi biaya.  Selain itu juga berkaitan dengan manajemen akuntansi karena pada masa tersebut seorang akuntan akan lebih pada strateginya, dan untuk implementasinya sudah akan terikat oleh IOT,” tutur Roseno Aji.

Senada dengan hal tersebut Cahyo juga menambahkan “Seorang akuntan akan menganalisa transaksi. Pola bisnis digital ini akan menjadikan skema transaksi sedikit berbeda dengan sebelumnya, akan sangat bahaya jika seorang akuntan tidak bisa menganalisa nature dari suatu transaksi. Sehingga diperlukan kemampuan menganalisa yang sangat baik agar seseorang dapat bersaing.” (ERF)

Jumat (13/12) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) bertandang ke kampus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII). Kedatangannya kali ini bertujuan untuk bertukar informasi serta saling mengembangkan semangat persahabatan antara kedua belah pihak.

Selain itu, dalam ke kunjungannya kali ini dimaksudkan juga untuk membuat suatu kesepakatan antara Pascasarjana UNTIRTA  dan Program Studi Magister Manajemen FE UII untuk mempromosikan kerjasama dalam negeri dan melakukan kerjasama dalam mengembangkan persahabatan dan kepentingan bersama secara timbal balik, dan saling menghormati mengenai status dari masing-masing universitas. 

Kegiatan ini terbagi menjadi dua sesi yakni sesi diskusi antar pimpinan kedua delegasi dan juga kuliah Magister Manajemen yang diberikan oleh Arif Hartono S.E., M.Ec., Ph.D., Dosen Jurusan Manajemen FE UII kepada mahasiswa Program Magister Manajemen UNTIRTA.

Dalam sesi diskusi kali ini membahas mengenai kerjasama kedua belah pihak pada bidang pendidikan yakni visiting Profesor dan Doktor, pada bidang penelitian yakni pengiriman artikel jurnal dosen dan mahasisa, serta pada bidang penelitian bersama pengabdian masyarakat.

Di sesi yang lain, Arif Hartono dalam dalam kuliahnya menyampaikan pentingnya strategi open innovation kepada para mahasiswa. Menurutnta, pada era saat ini, sebuah perusahaan harus saling berkolaborasi dengan pihak eksternal agar selalu memiliki ide-ide baru untuk mendukung inovasi guna mengembangkan perusahaan. “Karena dengan berkolaborasi akan menambah pengetahuan dalam bidang baru  yang sedang dibutuhkan, maka akan lebih mudah untuk memenuhi keperluan pasar agar dapat terus berinovasi,” terang Arif. 

Ia juga menambahkan, dalam praktik open innovation, perusahaan dapat menggunakan virtual brand community sebagai pihak eksternal yang potensial untuk mendapat informasi lebih terhadap produk ataupun jasa yang sedang dibutuhkan. “Crowdsourcing juga dapat menjadi salah satu praktek implementasi open innovation, yaitu dengan cara mengundang komunitas orang yang luas seperti konsumen atau pengguna”, tambahnya.

Dalam sesi kuliah umum tampak antusiasme yang ditunjukkan oleh mahasiswa pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan munculnya banyak pertanyaan yang diajukan. (AM/SFM)

“National Conference on Accounting and Finance (NCAF)” digelar kembali. Acara ini telah tiga kali digelar oleh Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) UII. Konferensi nasional ini mengangkat topik “Organisasi Publik dan Revolusi Industri 4.0” yang dihadiri oleh peserta yang berasal dari Pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Bali di Aula Utara FE UII (13/12). Acara ini juga menghadirkan dua pakar di bidangnya, yaitu Prof. Dr. Abdul Halim, Ak, MBA, CA dan Johan Arifin, M.Si, Ph.D, CFrA. 

Selaku ketua panitia acara kali ini Fitra Roman Cahaya, S.E., M.Com., Ph.D, CSRS, CSRA menyampaikan, “NCAF ini rencananya kami lakukan setiap semester, saya harap NCAF berikutnya dapat dihadiri oleh mahasiswa dari seluruh  Pulau yang ada di Indonesia. Untuk teknis konferensi yang pertama panitia akan menerima seluruh hasil riset karena tujuannya agar peserta memiliki kesempatan untuk memaparkan hasil risetnya, dan yang kedua untuk mendapatkan masukkan.”

Dr. Jaka Sriyana, M.Si selaku dekan FE UII juga menyampaikan, dalam sambutannya “Karya ilmiah ini harus kita jaga dalam aspek quality dan accessibility sehingga karya ini tidak hanya kita yang mengetahui tetapi orang lain diluar ruangan ini juga dapat mengetahui. Disisi lain semoga acara ini sebagai ajang silaturahmi kita sebagai akademisi antar perguruan tinggi khususnya bidang Akuntansi.”.

Menurut Johan selaku dosen akuntansi FE UII, dalam sesi diskusi kali ini menyampaikan “Kemajuan teknologi informasi membawa potensi ancaman (threat) organisasi atau perusahaan tidak hanya dari segi kompetitor saja tetapi dapat muncul dan berkembang dari teknologi informasi yang berkembang cepat.”

Dimasa industri 4.0, ukuran maturity sebuah organisasi/perusahaan bukan dilihat dari seberapa besar ukurannya, namun dapat dilihat dari aspek penguasaan dan penggunaan teknologi informasi dalam lingkup organisasi atau perusahaan. Akuntan adalah salah satu profesi yang terlibat langsung di dalamnya yang berpengaruh terhadap profesi tentang bagaimana akuntan harus beradaptasi dengan meningkatkan keahlian (mastering skills), wawasan dan terbuka terhadap perubahan serta mempertahankan nilai dan etika yang baik untuk berkontribusi dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang sudah terjadi sekarang ini.

Senada dengan hal tersebut Abdul Halim menambahkan, “Dalam revolusi industri 4.0 ini banyak APBN/D/Des, dalam pelaksanaannya terjadi kecurangan atau tindakan korupsi yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dari berbagai institusi dengan berbagai modus teknologi. Oleh Karena itu persiapkanlah diri dengan sebaik-baiknya, khususnya para calon sarjana akuntansi di bidang akuntansi publik atau pemerintah yang melek perkembangan teknologi, agar menjadi controller yang mumpuni, bukan untuk menjadi pelaku kecurangan atas uang negara.” (ADN/SDI)

Jika mendengar kata sejarah, yang terlintas di pikiran kita adalah suatu hal yang sangat membosankan. Banyak yang berpendapat bahwa sejarah adalah pelajaran menghafal tanggal dan tokoh. Materi yang diajarkan juga dianggap terlalu banyak. Hal itu yang membuat mata kuliah sejarah tidak disukai oleh sebagian mahasiswa.

Hal itu yang membuat Faaza Fakhrunnas, SE., M.Sc sebagai dosen mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi menginisiasi adanya “Expo Sejarah Pemikiran Ekonomi”. Acara yang berlangsung di Hall Fakultas Ekonomi UII (12/12) merupakan expo sejarah yang perdana. 

“Saya ingin menjadikan mahasiswa tidak hanya sebagai sebuah objek dan dosen terus menjelaskan materi kuliah, namun dalam perkuliahan itu mahasiswa seharusnya menjadi subjek. biarkan mahasiswa bercerita dan menyampaikan pemikirannya,” ungkap Faaza

Belajar sejarah tidak harus dilaksanakan di kelas saja, tetapi bisa juga dengan inovasi-inovasi lainnya. Harapannya Sejarah Pemikiran Ekonomi tidak hanya spesifik diketahui oleh mahasiswa Ilmu Ekonomi saja, namun dapat berbagi ke mahasiswa lain.

“Acaranya menarik, alhamdulillah temen-temen antusias sama acara ini. Sejarah yang terkesan membosankan ternyata kalau dikemas dengan baik akan menarik minat untuk dipelajari lebih dalam.” Ungkap Daniel Dahler saat mengunjungi expo ini. “Aku juga semakin semangat belajarnya, soalnya ada komunikasi dua arah antara aku sama yang jelasin,” tambahnya.

Ini merupakan salah satu inovasi metode pembelajaran. Saat expo, mahasiswa dapat saling berbagi pengetahuan mengenai mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi. Jika mahasiswa belajar sendiri namun tetap diarahkan dengan baik dan tepat, maka pembelajaran akan lebih matang dan menarik. (DYH)

Hidup dalam kebersamaan merupakan hal yang indah. Begitu juga di suatu instansi pendidikan, hubungan antara universitas dan alumni juga sangat patut untuk terus dijalin dengan baik. Silaturahmi ini memiliki manfaat agar mendapatkan relasi dan untuk membantu universitas dalam menghadapi tantangan pengelolaan perguruan tinggi. Kebersamaan dapat dirasakan dan mempunyai arti penting apabila tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya suatu kebutuhan bersama yang mengikat dan menjalin silaturahmi antar sesama alumni.

Sehubungan dengan hal itu, Jumat (6/12) Fakultas Ekonomi UII mengadakan acara Pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Program Studi di Lingkungan FE UII yang dilaksanakan di Aula Utara. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FE UII, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) IKA UII Daerah Istimewa Yogyakarta, dan segenap jajarannya serta para alumni FE UII  yang telah mengepakkan sayapnya di dunia karier.

Ramah tamah yang terjalin ini dimaksudkan untuk menyambung silaturahmi antar alumni yang membuat suasana pelantikan semakin hangat antara pengurus IKA dari masing-masing prodi yang ada di lingkungan FE UII.  

Kepengurusan ini berkedudukan sebagai pengurus pusat di Yogyakarta serta memiliki masa bakti 4 tahun periode 2019-2023. Kepengurusan IKA yang terbentuk terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan bidang-bidang lainnya dalam menjalankan kebijaksanaan maupun program kerja.

Dalam sambutannya, Didik Nur Dewantara SH MM sebagai Ketua IKA UII DPW D.I.Yogyakarta menegaskan bahwa “Peran alumni sangatlah penting untuk membantu secara khusus kebutuhan yang dibutuhkan di masing-masing prodi di dalam pengembangan prodi maupun fakultas.”

Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D. selaku Dekan FE UII dalam sambutannya turut menyampaikan rasa terima kasih untuk alumni yang sudah datang di acara pelantikan kepengurusan. “Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh alumni yang telah meluangkan waktu untuk dapat hadir pada pelantikan kali ini,  dan selanjutnya semoga kita bisa terus bersinergi untuk membina dan membangun FE UII,” pungkasnya.

Acara pelantikan berlanjut dengan agenda pemaparan materi dengan tema “Peran Strategis Alumni Dalam Meningkatkan Rekognisi Institusi” yang disampaikan oleh Abdurrahman Al Faqiih, S.H., M.H., L.LM. selaku Direktur Direktorat Pengembangan Karier dan Alumni (DPKA) UII. “Perkembangan zaman pada saat ini membuat tantangan dalam pengelolaan perguruan tinggi semakin komprehensif, karena itu tidak cukup jika hanya melibatkan tenaga pendidik saja, diperlukan juga peran alumni untuk ikut serta dalam membangun almamater kita tercinta ini”, terang Abdurrahman.

Selain itu Abdurrahman Al Faqiih juga menyampaikan bahwa Peran IKA dapat membantu UII dalam banyak hal. “IKA UII Program Studi dapat membantu UII dalam banyak hal, khususnya dalam pendataan alumni, karena faktanya alumni saat ini berjumlah kurang lebih 98.000 orang, tetapi tidak didukung dengan pengelolaan data yang baik, karena pentingnya pengelolaan data ini sehingga diharapkan IKA dapat membantu pendataan alumni-alumni”, pungkasnya.

Keberadaan alumni sangat penting untuk membawa almamaternya dalam memperluas jaringan. Harapannya IKA dapat memberikan peran agar alumni bisa saling memiliki ikatan yang erat dalam membantu memberikan pengetahuan mahasiswa dalam dunia kerja. (DH)

Saat ini kita tengah berada di masa revolusi industri 4.0 yang ternyata menimbulkan banyak isu didalamnya. Beberapa isu yang terjadi saat ini ada pada bidang penelitian, marketing, dan ambiguitas. Isu ini penting untuk didiskusikan karena akan menambah wawasan serta mengintegrasikan pendapat-pendapat yang mungkin bertolak belakang antara beberapa pihak. 

Menanggapi hal tersebut Jumat (6/12),  Program Studi Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menggelar diskusi yang bertajuk “Current Research : Impact of Goodwill on Firms Capital Structure”. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen serta mahasiswa MM FE UII. 

Turut dihadirkan juga narasumber yang memiliki keahlian di bidangnya, seperti Prof. Dr. Bany Ariffin Amin Noordin dari Universiti Putra Malaysia, Syamsul Hadi SE., MM. dari Praktisi Bisnis & Alumni MM FE UII, dan Prof. Dr. D. Agus  Harjito, M. Si. yang merupakan Ketua Prodi MM FE UII.

Untuk membuka diskusi pada acara kali ini, Prof. Dr. Bany Ariffin Amin Noordin menyampaikan terkait dampak Goodwill atau aset tidak berwujud pada struktur modal perusahaan. 

Bany mengungkapkan bahwa “Manajer perusahaan berbasis aset tidak berwujud di negara berkembang dan negara maju dapat merumuskan kebijakan pinjaman mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan manajer perusahaan berbasis aset berwujud. Selain itu, pembuat kebijakan di negara berkembang harus merumuskan terlebih dahulu terkait kebijakan pendidikan mereka. Hal tersebut dikarenakan pendidikan  merupakan salah satu komponen penting dalam berinvestasi pada perusahaan.”

Selanjutnya, Syamsul Hadi SE., MM., turut menyampaikan terkait kloning bisnis yang terjadi pada marketplace. Kloning yang dimaksud adalah adanya kesamaan bisnis antara beberapa pengusaha, hal ini akan menciptakan kesempatan dan ancaman secara bersamaan. 

Syamsul mengatakan bahwa “Kita perlu melakukan riset tentang produk populer dengan cara membuka di marketplace, belajar pada ahli, biaya produk, dan trade off.”

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. D. Agus Harjito, M. Si. juga menyampaikan bahwa ambiguitas menjadi hambatan utama pada era 4.0. Ambiguitas merupakan sesuatu hal yang memiliki makna ganda atau lebih singkatnya ketidakjelasan. 

“Untuk  mencegah adanya ambiguitas maka pemimpin perusahaan dituntut untuk memiliki kejelasan visi dan misi dalam jangka panjang. Selain itu, turut didukung juga oleh para akademisi yang memiliki kreatifitas, kompetensi serta soft skill yang memadai. Pengambilan keputusan manajemen yang fleksibel juga dapat menanggulangi adanya ambiguitas,” pungkas Agus Harjito.  (WEM/LTG)

Di masa sekarang, kehidupan kita tidak pernah terlepas dari teknologi. Hal ini menimbulkan adanya perubahan yang  terjadi secara terus-menerus seiring berjalannya waktu. Perubahan yang terjadi ternyata banyak merubah perilaku manusia menuju cara-cara baru dalam melakukan berbagai macam hal. Salah satunya yaitu dalam berinovasi dan digitalisasi pada revolusi 4.0. Kehadiran industri revolusi 4.0 menjadi penguat sekaligus tantangan bagi generasi milenial saat ini.

Kita perlu mempersiapkan diri kita untuk menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Adanya persiapan tersebut juga akan berpengaruh dengan bagaimana sudut pandang kita melihat peluang bisnis yang dapat di kembangkan pada era saat ini. Adanya pembekalan denga n metode transfer knowledge oleh orang-orang yang berpengalaman dan ahli di bidang tersebut juga akan berpengaruh besar dalam persiapan ini.

Selasa (03/12) Program Studi Manajemen FE UII mengadakan Studium Generale : “Human Capital & Business Strategies In Industrial Revolution 4.0.” Kegiatan ini mengundang dua narasumber yang ahli di bidang tersebut, yaitu Syafri Yuzal yang merupakan Business Director PT. Aino Indonesia sekaligus alumni dari FE UII dan Satya Bilal selaku Director PT. Carya Learning Center. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa dosen serta sejumlah mahasiswa dan mahasiswi angkatan 2016-2018 yang tengah mengambil mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.

Anjar Priyono selaku Ketua Prodi Manajemen mengatakan, “Kita akan berbincang mengenai isu-isu yang terkait dengan milenial revolusi industri dan semacamnya. Ini adalah salah satu bagian dari aktivitas kita untuk membekali saudara yang nantinya akan memasuki dunia kerja.”

Senada dengan hal tersebut Syafri Yuzal menambahkan, “Jadi ketika kita semua diam saja, tidak beradaptasi dengan perubahan, dan tidak memiliki keunikan, maka kita akan tertinggal dengan teknologi kemudian kita akan ketinggalan zaman. Tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang, akan jadi apa kita di lima tahun kedepan.”

Satya Bilal dalam sesinya turut menyampaikan, “Mimpi tidak bisa diatur, namun harapan bisa di setting, masa depan bangsa ada di tangan kita semua. So we need to prepare untuk menghadapi tantangan di masa depan.”

Untuk menghadapi revolusi industri 4.0., mahasiswa harus mulai belajar menempa diri dan memiliki soft skills yang nantinya akan sangat berguna sebagai bekal memasuki dunia kerja serta beradaptasi di suatu lingkungan baru. Selain itu mahasiswa juga dapat melakukan hal-hal produktif yang nantinya akan menciptakan perubahan kearah yang lebih baik. (MNZ/LTG)

Persaingan di dunia kerja saat ini memang sangat ketat. Seperti yang kita ketahui walaupun tengah menyandang gelar Sarjana, hal tersebut tidak seratus persen dapat menjamin untuk seseorang dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Sehingga sangat penting untuk setiap individu memiliki  keahlian khusus yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Menanggapi hal tersebut, pada Rabu (4/12) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) gelar workshop dan talkshow bertajuk Building Skills & Career Preparation for Millenials. Acara yang bertempat di Aula Utara FE UII kali ini,  turut menghadirkan pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya, yakni Fajaruddin Achmad Muharom, ST., Direktur PT. Raya Internasional Kosmetik, Teddie Dian Patria, SE., PIT., CEO PT. Bakoel Nusantara, serta Nur Pratiwi Novianti, S.Psi., M.Psi., Psi., Kepala UII Career Center.

Fajarrudin dalam sesinya menerangkan beberapa hal terkait lahirnya pengusaha, “Pertama dari nasab, dimana jika orangtuanya adalah seorang pengusaha dan akan mewariskan usahanya kepada anaknya. Kedua nasib, yang biasanya hal ini terjadi karena adanya unsur ketidaksengajaan. Sedangkan bila hal tersebut direncanakan dari awal maka namanya adalah design.”

“Dalam mempersiapkan karier, yang kita perlukan adalah mimpi. Dream big! But remember, dreams without goals are just dreams,” tambah Fajaruddin.

Ia juga menjelaskan bahwa ketika dreams dan goals sudah didapatkan, selanjutnya adalah mencari benchmark. Hal tersebut diharapkan dapat membantu dalam membangun mimpi menjadi sebuah kenyataan. Tidak sampai disitu, setelah mendapatkan benchmark kita juga harus mencari mentor yang tepat. Dalam membangun mimpi tersebut penting sekali untuk kita membangun sebuah kolaborasi yang akan membantu untuk mengakselerasi bisnis yang sedang  dimulai ataupun yang sedang berjalan.

Selanjutnya Teddie  Dian Patria turut menjelaskan betapa pentingnya keterampilan negosiasi dalam menunjang bisnis dan juga karier. Seperti yang ia kutip dari Carrie Fisher, “everything is negotiable, whether or not the negotiation is easy is another thing,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Nur Pratiwi Noviati turut mengungkapkan tentang bagaimana menjadi pekerja profesional yang baik. “Banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari persiapan mental, persiapan fisik, sampai persiapan dalam menghadapi wawancara kerja,” tutur Nur Pratiwi.

“Kiat-kiat yang dapat dilakukan dalam mempersiapkan mental yakni jangan mudah tergiur nama besar perusahaan, ukur kemampuan diri, jangan mudah menyerah, dan harus mau untuk selalu belajar. Tak kalah pentingnya yaitu persiapan fisik yang meliputi kondisi kesehatan tubuh,  kelengkapan berkas, dan berpenampilan sesuai dengan latar belakang perusahaan,” tambah Nur Pratiwi. (HLL/ARS)