Sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat Indonesia untuk memperingati Idul Fitri dengan menguatkan tali silaturahmi melalui kegiatan yang dikenal dengan nama ‘Halal bi Halal’ atau ‘Syawalan’. Masa pandemi Covid-19 tentu tidak menyurutkan semangat untuk terus menguatkan silaturahmi dan tradisi untuk saling bermaaf-maafan, meski dilakukan secara daring, seperti yang dilaksanakan oleh Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII (29/5).

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII­, Prof. Jaka Sriyana, SE., M.Si. Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan Syawalan kali ini merupakan yang pertama dilaksanakan secara daring. “Meski kegiatan Syawalan ini dilakukan secara daring, namun Insya Allah tidak mengurangi keakraban kita sebagai keluarga besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII­”, terang Jaka. Pada kesempatan ini, Jaka juga mendoakan agar rekan-rekan yang telah dijadwalkan untuk menunaikan ibadah haji dapat tetap berangkat menunaikan haji di tahun ini, yakni Ibu Maisaroh, SE., M.Si., Bapak Siswantoro, S.Sos., dan Bapak Dwi Anjar Suseno.

Pada Syawalan daring kali ini, seluruh sivitas akademika mengucap Ikrar Syawalan secara bersama-sama yang dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII, Arief Rahman, SE., M.Com., Ph.D. Ikrar Syawalan memiliki makna untuk mengajak seluruh sivitas akademika saling memohon maaf dan saling memaafkan guna menjaga tali silaturahmi. “Melalui Ikrar Syawalan, kami mengajak untuk menuju kedamaian hati dan menuju kesucian jiwa serta mempererat rasa persaudaraan dengan saling memohon maaf dan saling memaafkan”, jelas Arief.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Priyonggo Suseno, SE., M.Sc. menyampaikan pentingnya bersabar dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Menurutnya, meski telah lazim digunakan oleh masyarakat Indonesia, ternyata kata sabar terkadang mengalami penyimpangan makna dari yang seharusnya. “Di Indonesia, kata sabar memiliki beberapa konotasi yang menimbulkan penyimpangan makna, seperti ‘yang penting sampai’ atau ‘menerima diperlakukan semena-mena atau haknya dirampas’, konotasi seperti itu tidak sesuai dengan makna sabar yang sesungguhnya”, terang Priyonggo.

Ia menambahkan bahwa menurut Imam Gazhali, sabar sebenarnya bermakna menahan diri, teguh, dan tahan untuk menentang atau memerangi hawa nafsu. “Kita memerlukan kesabaran untuk memerangi hawa nafsu, karena ada ujian di dalam setiap hawa nafsu”, lanjut Priyonggo. Ia juga menerangkan bahwa sabar memiliki banyak jenis, di antaranya adalah sabar akan segala kenikmatan yang diberi Allah, di mana kita harus menyadari bahwa ada hak Allah dan hak orang lain dari segala kenikmatan tersebut. Selain itu, ada pula sabar dalam ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menuntut ilmu.

Menutup tausiyahnya, Priyonggo menekankan bahwa sabar bukanlah hanya berdiam diri, tetapi berikhtiar untuk menghasilkan kebaikan dalam melaksanakan perintah Allah Swt. “Sabar dalam menjalankan perintah Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan merupakan upaya untuk menghasilkan kebaikan”, terangnya. Priyonggo juga mengajak seluruh sivitas akademika Fakultas Bisnis dan Ekonomika untuk meraih kesabaran dengan berlatih. “Mari kita bersama-sama menguatkan keyakinan akan manfaat bersabar dan memilih untuk bersabar, serta menutup pintu-pintu timbulnya nafsu, kita mulai dari diri sendiri untuk dipraktikkan dan kemudian diajarkan kepada orang lain”, pungkasnya. (BZD)

Angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia diperkirakan akan meroket tajam di tengah pandemi Covid-19. Berdasarkan data terakhir World Bank, menunjukkan bahwa angka kemiskinan Indonesia telah mencapai sekitar 24 juta lebih. Selain itu, mengutip dari penyampaian Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah sekitar dua juta orang lebih telah di PHK secara massal. Hal yang mengejutkan adalah sekitar 1,5 juta tenaga kerja yang di PHK justru berasal dari sektor formal. Pertumbuhan ekonomi di kuartal I juga menurun sebesar 2,97% karena dampak awal merebaknya virus ini. Isu-isu di atas inilah, yang menjadi alasan bagi Pusat Pengkajian Ekonomi (PPE) Jurusan Ilmu Ekonomi FBE UII, mengadakan webinar diskusi ekonomi bertajuk “Menyoroti Kemiskinan dan Pengangguran Pasca Covid-19”, Selasa (12/5).

Data menunjukkan bahwa kondisi ekonomi global sebelum adanya pandemi sudah mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan karena adanya perang dagang Amerika-China dan harga komoditas minyak bumi yang sedang tidak stabil. Kini, kondisi tersebut diperparah dengan munculnya pandemi Covid-19, sehingga indikator terjadinya resesi ekonomi kian bertambah.

Bhima Yudhistira Adhinegara selaku pemateri yang juga merupakan peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menjelaskan bahwa krisis yang diakibatkan oleh Covid-19 ini unik dan berbeda dari krisis-krisis sebelumnya. “Krisis akibat Covid-19 tidak bisa dibandingkan dengan krisis moneter tahun 1998 maupun 2008, karena ada fenomena yang disebut decoupling”, terang Bhima.

Bhima menjelaskan bahwa kondisi finansial Indonesia pada 1998 memang sangat menderita. Bahkan terjadi kerusuhan massal dan krisis multidimensi. Namun, dalam waktu singkat, geliat bisnis UMKM tumbuh relatif cepat. Maka sering dikatakan pula pada krisis 1998 ketika sektor formal mengalami PHK massal, ada sektor informal yaitu UMKM yang mampu menyerap ekses tenaga kerja dari manufaktur. Sedangkan hal tersebut tidak terjadi pada tahun 2020.

Diterapkannya Work From Home (WFH) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih menjadi pro-kontra karena dianggap hanya memihak kaum middle class. Tak hanya memukul kondisi ekonomi makro, sektor perkantoran dan UMKM juga kelimpungan dalam mempertahankan cash flow-nya. Banyak perkantoran dan UMKM yang terpaksa tutup membuat gelombang PHK kian membesar.

Bahkan World Trade Organization (WTO) menyatakan bahwa krisis ekonomi Covid-19 mirip dengan The Great Depression 1930. “Kondisi krisis keuangan tahun 1998 dan 2008 cenderung cepat pulih. Berbeda dengan krisis tahun ini, selain dihadapkan dengan krisis keuangan, juga dihadapkan dengan krisis kesehatan,” tambah Bhima.

Ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua model pemulihan pasca krisis. Pertama model ‘V shape’, yang menyatakan perekonomian negara akan terpuruk karena krisis, namun hanya membutuhkan waktu singkat untuk pulih. Sedangkan yang kedua adalah ‘U shape’, dimana perekonomian akan terpuruk namun butuh waktu lama untuk tahap pemulihannya.

Masa pemulihan pasca krisis tentu tergantung pada kecepatan penanganan Covid-19, besarnya stimulus, kompensasi bagi UMKM yang tidak bisa berjualan, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Senada dengan hal tersebut, Bhima juga mengajukan pendekatan 10 program radikal bidang ekonomi. “Perlu adanya program-program radikal untuk menjadi stimulus pemulihan ekonomi pasca krisis Covid-19, yaitu tambahan dana riset kesehatan, universal basic income (khusus korban PHK), rombak total Kartu Pra-Kerja, tunda proyek-proyek mercusuar, pajak progresif orang kaya, restrukturisasi utang pemerintah, potong gaji pejabat, realokasi anggaran, solidaritas global dalam bidang kesehatan, dan kerja sama ekonomi serta galang solidaritas lokas melalui dapur umum”, pungkasnya. (DYH/ERF)

 

Pandemi Covid-19 yang terjadi di tahun 2020 ini memang memberatkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat beberapa mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia untuk tetap berprestasi. Diketahui bahwa pada bulan April lalu, MonsoonSIM Australia dan MonsoonSIM Indonesia yang dikenal sebagai sebuah platform simulasi bisnis dalam bentuk game, mengadakan kompetisi MonsoonSIM Indonesian Final League dan April Absurdity. Kompetisi ini diikuti oleh beberapa universitas, salah satunya yaitu Universitas Islam Indonesia yang diwakilkan oleh lima orang yang membentuk tim bernama Arsanta Widyadharma yang terdiri atas Adin Ihtisyamuddin, M. Faiq Jauhar, Ainun Jariyah, Sukma Putri, dan Akhlis Faris Mushaffa.

Dua kompetisi yang diikuti oleh tim Monsoon UII adalah MonsoonSIM Indonesian Final League dan April Absurdity. Kualifikasi grup sendiri dimulai dari 7 Maret 2020 sampai dengan 25 April 2020 sementara April Absurdity 8 April 2020 sampai dengan 29 April 2020. Mengikuti dua kompetisi di waktu yang hampir bersamaan tentunya bukan hal yang mudah. Namun, tim UII berhasil membuktikan kemampuan mereka yang sudah tidak diragukan lagi.

Dalam ajang MonsoonSIM Indonesian Final League, tim UII berhasil meraih juara pertama, yang kemudian diikuti oleh juara ke-2 yaitu Universitas Hasanuddin dan disusul Universitas Galuh Ciamis sebagai juara ke-3. Sementara itu, dalam ajang April Absurdity setiap tim dipantau kinerjanya selama 4 minggu. Dengan kinerja yang bagus, tim dari Universitas Islam Indonesia berhasil menyabet gelar sebagai pemenang dan disusul oleh dua universitas lainnya yaitu Universiti Tunku Abdul Rahman dari Malaysia serta President University yang menjadi juara kedua dan ketiga.

Dikutip dari monsoonsim.com, mereka memberikan ucapan selamat bagi kelima orang pemenang atas capaian kinerjanya selama sebulan, serta dapat menjadi tim yang efektif dan mampu mengatasi tantangan komunikasi secara daring di kala pandemi Covid-19 ini. MonsoonSIM juga berharap agar kompetisi yang diadakannya ini dapat bermanfaat bagi semua peserta untuk menambah pengalaman belajar dan dapat melatih kerjasama pada masa Work From Home yang dicanangkan pemerintah saat ini.

Hal tersebut tentunya sejalan dengan tim dari FBE UII, salah satunya adalah Adin Ihtisyamuddin yang mengatakan bahwa komunikasi dan kerja sama saat pandemi ini bukanlah sesuatu yang sulit. “Meskipun dalam situasi pandemi, kita tetap bisa berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik secara daring. Jarak bukan sebuah masalah. Hanya dibekali dengan pelatihan dan pembelajaran yang konsisten dari setiap kesalahan yang kami buat. Kami percaya bahwa setiap kerja keras yang telah dilakukan, tidak pernah ada yang sia-sia. Lakukan yang terbaik di setiap kesempatan, sisanya urusan Allah,” tuturnya.

Direktur ERP Competence Center Prodi Akuntansi FE UII, Dra. Isti Rahayu, M.Si., Ak., CA., Cert.SAP mengapresiasi atas capaian yang telah diraih oleh tim UII. “Semoga capaian ini semakin memotivasi para mahasiswa yang saat ini sedang mengikuti kompetisi MonsoonSIM internal UII untuk mencapai yang terbaik, dan juga memotivasi untuk mengikuti kompetisi eksternal. ERP Competence Center siap untuk mendampingi para mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi berbasis teknologi,” pungkasnya. (HLL/AMA)

Proses kegiatan belajar mengajar saat ini terpaksa dilakukan secara daring dikarenakan pandemi corona yang mengejutkan semua orang,  khususnya perguruan tinggi yang terbiasa dengan pembelajaran tatap muka, kini harus menjalankan pembelajaran daring. Hal ini tentu tidak mudah untuk dilakukan karena mengimplementasikan metode daring dengan sistematis merupakan sebuah tantangan.

Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu faktor penting yang mendukung sistem belajar secara daring. Berbeda dengan perguruan tinggi biasanya, Universitas Terbuka (UT) diketahui menerapkan sistem belajar yang tidak dilakukan secara tatap muka. Sejak awal mahasiswa diharapkan dapat belajar secara mandiri dengan menggunakan media cetak seperti modul maupun media non-cetak seperti internet, komputer, video, siaran radio, dan televisi.

Program Studi Ilmu Ekonomi Program Sarjana Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII)  pada Jumat, 1 Mei 2020 melaksanakan kegiatan Sharing Session secara daring yang dihadiri oleh para dosen dari Universitas Terbuka. “Saat ini, ada complain mahasiswa bahwa kuliah daring membosankan dan mahal, karenanya kami ingin mengetahui bagaimana Universitas Terbuka yang justru sepenuhnya menggunakan E-learning,” terang Moh Bektie Hendrie Anto SE., M.Sc selaku Sekretaris Program Studi Ekonomi Pembangunan Program Sarjana FBE UII.

Dr. Etty Puji Lestari SE., M.Si yang merupakan pembicara dalam kegiatan ini menerangkan terkait E-learning yang sudah dikembangkan UT sejak tahun 2005. UT telah terbiasa menggunakan metode daring dan terkait dengan platform yang digunakan adalah moodle. Kemudian ketika hampir semua orang mulai melakukan work from home, UT tanpa meminta bayaran, memberikan kemudahan dalam mengakses platform-nya untuk siapa saja yang membutuhkan agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif.

Metode E-learning UT didukung oleh adanya perpustakaan digital, suaka UT dan sistem pendidikan dimana hal ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa. Selaras dengan hal ini, E-learning pastinya mempunyai kelebihan seperti jauh lebih efektif didalam biaya. Namun, disamping kelebihan yang ada, pun terdapat kekurangan pada E-learning misal, kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar.

Etty mengatakan, “Ada Learning Management System (LMS), merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola khusus atau pelatihan yang mendukung E-learning dimana didalam LMS ini sudah terdapat modul, jurnal atau referensi pendukung yang juga dapat diakses oleh setiap orang. Sederhananya semua ada di digital.” (SSL/ARA)

Dalam psikologi pendidikan, pemahaman karakter peserta didik dapat membantu para tenaga pengajar dalam merumuskan strategi pengajaran yang efektif. Dewasa ini, khususnya dalam lingkup universitas telah banyak kajian tentang penyesuaian karakter generasi muda dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai di perguruan tinggi. Berdasarkan data demografi di Indonesia, populasi terbesar saat ini didominasi oleh Generasi Z.

Generasi Z ialah mereka yang memiliki rentan tahun lahir dari tahun 1996 hingga tahun 2010. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang kini sedang dihadapi para pengajar universitas merupakan bagian dari Generasi Z. Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII mengadakan Sharing Session yang bertajuk “Mengenal Mahasiswa Generasi Z, Sudah Tepatkah Pembelajaran Kita” (30/4). Seminar daring ini dihadiri oleh para dosen Program Studi Ilmu Ekonomi dengan mengundang narasumber Hazhira Qudsyi S.Psi., MA yang merupakan dosen Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya UII sekaligus ahli dibidang psikologi pendidikan.

“Di zaman digitalisasi ini, kalau boleh dibilang mereka (Generasi Z) yang lebih menjadi digital native-nya, sementara kita inilah yang sebetulnya pendatang,” imbuh Hazhira dalam menyampaikan materinya.

Generasi Z merupakan generasi yang dekat dengan internet dan mahir dalam multitasking sehingga sering disebut juga iGeneration atau Generasi Net. Dari hasil survey, ponsel merupakan gawai yang menjadi perangkat utama Generasi Z. Bahkan tujuh puluh persen dari mereka dapat memeriksa ponselnya sekitar tiga puluh kali dalam waktu satu jam. Kecenderungan pola belajar iGeneration yang lebih informatis membuat mereka tidak betah jika hanya mendengarkan ceramah. Sebab, menurut mereka semua informasi yang diperlukan dapat dicari melalui gawai yang mereka miliki. Bahkan atensi keefektifan mendengarkan ceramah mereka hanya lima belas menit, mereka lebih menyukai apabila para pengajar membuka forum diskusi atau memberikan contoh-contoh konkrit dari materi yang diajarkan.

Mahasiswa Generasi Z menolak untuk menjadi pembelajar pasif, hal ini karena karakter mereka sudah mengarah pada pembelajaran dewasa atau adult learner. Sebetulnya Generasi Z memiliki potensi kecenderungan menjadi pembelajar aktif, kecenderungan ini akan berkembang ketika diberikan tantangan baru yang memiliki kesulitan lebih dari kemampuan yang mereka miliki. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang cocok dengan mahasiswa iGeneration ini adalah learning by doing.

Setelah mengetahui karakteristik mahasiswa Generasi Z, dapat menjadi bahan untuk dosen dalam menyusun konsep dan strategi pembelajaran. Hazhira menjelaskan, “Mengajar itu bukan sekedar profesi melainkan sudah menjadi passion kita. Ada orang-orang yang memang sangat senang mengajar, posisinya sebagai apapun, baik sebagai dosen, penceramah, tutor,pendamping, atau coach. Jadi memang mengajar itu bisa juga sebagai sebuah passion.” (AWF/AFM)

Bulan Ramadan yang telah digadang-gadang tahun ini telah datang. Namun suasana tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dikarenakan dampak Covid-19. Euforia ramadan yang identik dengan ramai dan gembira telah berubah menjadi ramadan yang terasa sepi karena adanya jarak antar individu.

Menanggapi adanya Covid-19 dikala bulan ramadan ini, pemerintah memberi imbauan pada masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah dan menghindari kerumunan massa. Namun beberapa kegiatan masjid tertentu tetap dapat dilakukan dengan memerhatikan protokol keselamatan yang ada. Sama seperti halnya yang dilakukan oleh Masjid Al Muqtashidin Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII), seluruh kegiatan rutinnya ditiadakan kecuali beberapa kegiatan tertentu yang dilakukan sesuai dengan protokol pemerintah. Hal ini diungkapkan oleh ketua takmir masjid Al Muqtashidin dikutip dari jogja.idntimes.com, bahwa semua aktivitas masjid dihentikan kecuali pembagian takjil dengan metode drive thru, pembagian sembako dan azan rutin.

Meluasnya dampak Covid-19 membuat Masjid Al Muqtashidin berinovasi dengan membagikan takjil dengan sistem drive thru. “Dari depan gerbang FBE UII, tidak ke masjid,” jelas Faaza Fakhrunnas, Ketua Takmir Masjid Al Muqtashidin, Jumat (24/4/2020). Dengan ini, warga dan mahasiswa cukup mengambil takjilnya di depan gerbang FBE UII tanpa harus duduk, menunggu, dan berkumpul di dalam masjid. Sistem drive thru yang diterapkan ini pun bertujuan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Tidak tanggung-tanggung, masjid menyediakan 150 porsi takjil dengan variasi menu berbeda setiap harinya dan jumlah porsi ini mungkin dapat berubah menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Sebagai bentuk kepedulian serta dukungan terhadap imbauan pemerintah tentang work from home dan social distancing, Masjid Al Muqtashiddin FBE UII membagikan sembako kepada warga sekitar kampus yang terdampak Covid-19. Selain pembagian takjil yang dilakukan Sesuai dengan protokol yang ada, pembagian sembako tersebut pun dijalankan dengan menaati imbauan yang ada. Sementara kegiatan dengan massa yang banyak seperti salat tarawih dan salat Jumat berjamaah pada Ramadan kali ini juga ditiadakan. Kajian tatap muka yang biasa dilakukan menjelang buka puasa juga digantikan dengan kajian secara daring melalui media sosial Instagram.

Sebulan penonaktifan aktivitas dengan jumlah orang yang banyak menjadi wujud usaha Masjid Al Muqtashiddin FBE UII untuk memerangi Covid-19 agar wabah ini segera berakhir dan kegiatan sehari-hari dapat berjalan seperti biasa. (AMA/HLL)

Lulus dari bangku kuliah merupakan langkah awal dalam meniti karier. Oleh karena itu fase ini sangat penting untuk dipersiapkan sejak dini bagi para lulusan perguruan tinggi yang akan terjun ke dunia kerja. Berbagai cara ditempuh UII untuk meningkatkan lulusan terbaik dalam mengembangkan soft skill dan hard skill mahasiswanya. Salah satunya dengan mengadakan “Career & Business Week 2020” yang diselenggarakan oleh Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia di Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UII. Acara yang berlangsung selama 2 hari ini, yaitu Rabu (26/2) dan Kamis (27/2) ini terdiri dari 4 rangkaian acara yaitu Career Talkshow, Career Orientation Training, Career Workshops dan Coffee Making Class di FBE UII.

Kegiatan ini diadakan dengan tujuan mengembangkan karir dan pengenalan bisnis di bidang startup bagi mahasiswa FBE UII melalui platform digital. “Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan soft skill dan hard skill mahasiswa FBE UII dan menambah wawasan mengenai bisnis. Selain itu lebih ke bagaimana cara mengembangkan karir untuk mahasiswa setelah lulus atau untuk yang ingin membangun bisnis startup semenjak menjadi mahasiswa.” terang Rakha selaku koordinator acara.

Karenanya, ada 4 pembicara yang diundang untuk mendukung kesuksesan acara ini yaitu yaitu Nur Pratiwi Noviati sebagai Kepala UII Career Centre, Akbar Faisal sebagai founder Jogja Startup, Serial Technopreneur & Angel Investor, Amarria Dila Sari dan Monica Ayu Rahma Puspitasari & Monica Ayu Rahma Fatikasari, mahasiswa FBE UII yang juga sebagai penulis buku “LA MASCHERA : THE TWINS JOURNEY

Materi yang disampaikan beragam, Nur Pratiwi Noviati misalnya memaparkan mengenai strategi membangun karir mahasiswa melalui platform digital. Akbar Faisal menyampaikan materi mengenai strategi membangun karir bisnis yang diminati investor. Sementara pembicara Amarria Dila Sari menjelaskan mengenai sosialisasi program hibah pendanaan startup mahasiswa dan dosen. 

Disampaikan Nur Pratiwi bahwa penting bagi mahasiswa untuk mengetahui bayangan seperti apa ketika lulus nanti, karir atau bisnis apa yang dapat dimanfaatkan melalui platform digital yang sesuai dengan trend pada jamannya. Sementara pembicara Akbar Faisal lebih menjelaskan mengenai bisnis-bisnis startup dan karakteristik bisnis yang pantas untuk dijadikan investasi. 

Dapat dilihat selama acara berlangsung antusiasme yang tinggi dari para mahasiswa yang hadir terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada pembicara. Besar harapan dengan diadakannya acara ini mahasiswa dapat mempelajari dan memanfaatkan platform digital sebagai sarana untuk mengembangkan usaha dan karir di masa yang akan datang. (ASD)

Setiap orang dilahirkan dengan memiliki soft skill, namun dengan kadar yang berbeda-beda. Kamampuan soft skill tersebut sebenarnya juga dapat dibentuk jika seseorang ingin berusaha untuk mengubah serta mengembangkannya.

Melalui kegiatan Soft Skill Development pada hari Minggu (23/02),  Program Magister dan Doktor Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), UII membekali mahasiswanya yang kini sedang atau akan mengerjakan tesis sebagai tugas akhirnya. Kegiatan yang bertempat di Gedung Moh. Hatta Perpustakaan Pusat UII ini diikuti oleh segenap mahasiswa Program Magister FBE UII angkatan 51.

Kegiatan ini dipercaya akan memberikan dampak yang baik bagi mahasiswa Program Magister FBE UII, dan juga diharapkan akan menambah motivasi mahasiswa untuk dapat menyelesaikan tugas akhirnya di waktu yang tepat.

Dekar Urumsah, ketika membuka acara tersebut menyampaikan bahwa, “Program soft skill development ini bertujuan untuk memotivasi kembali kepada para mahasiswa yang kini sudah mulai menulis tesis sebagai tugas akhir. Serta memberikan dorongan kepada yang belum mulai menulis agar bisa fokus dan semangat menyelesaikan kewajibannya untuk menulis tesis”.

Kegiatan ini terdiri dari dua rangkaian acara. Pertama sesi mentoring yang dilakukan oleh masing-masing ketua program studi yakni Dr. Dwipraptono Agus Harjito, M.Si., Ketua Program Studi Manajemen Program Magister, Dekar Urumsah, SE., S.Si., M.Com(IS)., Ph.D., CFrA., Ketua Program Studi Akuntansi Program Magister, Drs. Achmad Tohirin, MA., Ph.D. Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Program Magister.

Selain itu kegiatan ini juga memberikan sesi motivasi, problem solving, serta soft skill development yang diampu oleh beberapa dosen dari Jurusan Psikologi salah satunya, Annisaa Miranty Nurarendra, S.Psi., M.Psi.,. 

Motivasi merupakan suatu dorongan atau sebab yang menjadi dasar semangat seseorang untuk melakukan sesuatu dan mencapai tujuan tertentu. 

Annisaa mengatakan, “Motivasi harus tetap dibangun dan selalu dijaga pada diri mahasiswa, dalam hal ini termasuk motivasi untuk menyelesaikan studi dan mencapai tujuan setelah lulus nanti.”

Soft skill development merupakan salah satu upaya mengembangkan kemampuan diri yang sifatnya lebih kepada cara berpikir, sikap dan karakter diri. Mempunyai hard skill memanglah sangat penting, namun tetap harus diimbangi dengan kemampuan soft skill sehingga dapat menghadapi berbagai tantangan dalam dunia kerja.

Elemen-elemen tersebut bertujuan untuk memotivasi mahasiswa dalam menyelesaikan studinya dan juga membantu untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang dimiliki oleh mahasiswa itu sendiri sehingga tercipta proses pembelajaran yang baik. Proses pembelajaran adalah ciri khas dalam suatu lingkungan akademisi, dengan demikian aktivitas belajar adalah suatu aktivitas utama yang seharusnya dilakukan oleh setiap mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan. (AFM/ERF)

Program Magister Keuangan dan Ekonomi Islam dan Program Doktor FBE UII mengadakan 4th International Workshop on Islamic Economic Theory. Acara yang bertemakan Toward Maintaining Islamic Economics in the 4.0 Industry itu diadakan di Yogyakarta (20-21/2)  ini bekerjasama dengan berbagai universitas, antara lain adalah Universiti Sains Islam Malaysia dan Universiti Kebangsaan Malaysia dan lain-lainnya.

“Di acara ini kita harap bisa membantu dan saling melengkapi antara masing-masing reviewer”, ucap Prof. Dr. Jaka Sriyana, SE, M.Si. selaku Dekan FBE UII

Terdapat 16 paper yang sebagian besar dari internal UII dan ada juga yang berasal dari eksternal seperti Universitas Islam Sultan Agung. “Sebagai komitmen kami untuk penyebaran pengetahuan berkelanjutan, tahun ini kami mengadakan Workshop Internasional ke-4 tentang mempertahankan ekonomi islam di era industry 4.0.” tambahnya Jaka Sriyana.

Jaka Sriyana dalam sambutannya menjelaskan bahwa program ini sangat bermanfaat karena dapat membuat banyak jurnal internasional setelahnya. Kemudian ia juga berharap agar para peserta dapat terus mengembangkan publikasi mengenai ekonomi islam agar tidak tergerus oleh ekonomi konvensional.

Dari sisi akademik,  Prof. Dr. Abdul Ghafar Ismail sebagai Profesor Ekonomi Islam, Sekolah Ekonomi  Universiti Kebangsaan Malaysia sekaligus reviewer pada acara kali ini menyatakan bahwa penyelenggaraan rangkaian workshop ini akan meningkatkan motivasi belajar bagi mahasiswa serta memberikan pengetahuan dan wawasan tentang perkembangan terbaru di bidang ekonomi islam. Selain itu, bagi dosen-dosen muda, kegiatan ini membuka peluang untuk bertemu dengan pakar di bidang terkait, dan penjajagan untuk studi lanjut S3 di bawah supervisi dari para profesor tersebut.

Dalam bidang penelitian, Ghafar juga menyebutkan bahwa konferensi ini dapat membuka peluang untuk terjalinnya kolaborasi penelitian dengan para pakar baik dari dalam maupun luar negeri bermuara pada peningkatan kualitas penelitian di UII dan jumlah publikasi ilmiah. Selain itu, dengan adanya kerja sama dan kolaborasi riset dengan industri diharapkan dapat terjalin dengan baik dan meningkat.

Drs. Achmad Tohirin, MA., Ph.D. selaku Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Program Magister yang hadir dalam penutupan mengapresiasi upaya dari para peserta untuk sampai di acara ini. Ia berharap workshop ini membuka peluang bagi para peserta untuk pertukaran dan berbagi pengetahuan.

“Para peserta yang berasal dari berbagai negara tentu memiliki pengalaman masing-masing selama perjalanan akademisnya. Semoga kita semua dapat saling berbagi hal tersebut. Selain itu, juga hubungan relasi ini tidak akan berakhir di workshop ini saja, namun bisa berlanjut ke relasi pertemanan untuk kedepannya pula.” Pungkasnya. (ADN/DYH)

Sebagai langkah pengabdian masyarakat, Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Universitas Islam Indonesia menjalin kerja sama dengan Komunitas Dero. (16/2) FBE UII menghadiri kegiatan Panen Perdana Air Hujan dan Sayuran. Acara yang digelar di Jalan Lely Baru Perumnas, Condong Catur, Depok, Sleman ini dikelola oleh Komunitas Drainase dan Lingkungan Hidup DERO wilayah RW 17 Perumnas Condong Catur

Sekitar bulan Oktober 2018, dibentuk sebuah wadah organisasi yang diberi nama “Komunitas Peduli Drainase dan Lingkungan Hidup (KPDLH) DERO”. Dero sendiri diambil dari nama dusun sekitar.

“Dero memiliki makna, yaitu cermat dalam urusan kebersihan, dapat dipercaya, dan gemar menolong.” ungkap Drs. Juliono Dwi Wasito, S.H, MM selaku Ketua Komunitas Drainase dan lingkungan hidup DERO

Berangkat dari permasalahan pemukiman perumnas yang sangat padat, penerapan konsep lingkungan hidup yang masih belum optimal, dan penanganan sampah serta drainase yang belum baik sehingga terbentuk komunitas masyarakat ini.

Upaya yang telah dilakukan antara lain adalah kerja sama dengan beberapa instansi, dukungan dari berbagai pihak sehingga dapat menanamkan jiwa kerelawanan dari masyarakat, serta uji coba pelaksanaan lingkungan hidup yang baik.

Komunitas ini berharap dapat dibimbing oleh perguruan tinggi sekitar wilayah tersebut, sehingga program-program yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. (DYH/ERF)