Saat ini kita tengah berada di masa revolusi industri 4.0 yang ternyata menimbulkan banyak isu didalamnya. Beberapa isu yang terjadi saat ini ada pada bidang penelitian, marketing, dan ambiguitas. Isu ini penting untuk didiskusikan karena akan menambah wawasan serta mengintegrasikan pendapat-pendapat yang mungkin bertolak belakang antara beberapa pihak. 

Menanggapi hal tersebut Jumat (6/12),  Program Studi Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menggelar diskusi yang bertajuk “Current Research : Impact of Goodwill on Firms Capital Structure”. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen serta mahasiswa MM FE UII. 

Turut dihadirkan juga narasumber yang memiliki keahlian di bidangnya, seperti Prof. Dr. Bany Ariffin Amin Noordin dari Universiti Putra Malaysia, Syamsul Hadi SE., MM. dari Praktisi Bisnis & Alumni MM FE UII, dan Prof. Dr. D. Agus  Harjito, M. Si. yang merupakan Ketua Prodi MM FE UII.

Untuk membuka diskusi pada acara kali ini, Prof. Dr. Bany Ariffin Amin Noordin menyampaikan terkait dampak Goodwill atau aset tidak berwujud pada struktur modal perusahaan. 

Bany mengungkapkan bahwa “Manajer perusahaan berbasis aset tidak berwujud di negara berkembang dan negara maju dapat merumuskan kebijakan pinjaman mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan manajer perusahaan berbasis aset berwujud. Selain itu, pembuat kebijakan di negara berkembang harus merumuskan terlebih dahulu terkait kebijakan pendidikan mereka. Hal tersebut dikarenakan pendidikan  merupakan salah satu komponen penting dalam berinvestasi pada perusahaan.”

Selanjutnya, Syamsul Hadi SE., MM., turut menyampaikan terkait kloning bisnis yang terjadi pada marketplace. Kloning yang dimaksud adalah adanya kesamaan bisnis antara beberapa pengusaha, hal ini akan menciptakan kesempatan dan ancaman secara bersamaan. 

Syamsul mengatakan bahwa “Kita perlu melakukan riset tentang produk populer dengan cara membuka di marketplace, belajar pada ahli, biaya produk, dan trade off.”

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. D. Agus Harjito, M. Si. juga menyampaikan bahwa ambiguitas menjadi hambatan utama pada era 4.0. Ambiguitas merupakan sesuatu hal yang memiliki makna ganda atau lebih singkatnya ketidakjelasan. 

“Untuk  mencegah adanya ambiguitas maka pemimpin perusahaan dituntut untuk memiliki kejelasan visi dan misi dalam jangka panjang. Selain itu, turut didukung juga oleh para akademisi yang memiliki kreatifitas, kompetensi serta soft skill yang memadai. Pengambilan keputusan manajemen yang fleksibel juga dapat menanggulangi adanya ambiguitas,” pungkas Agus Harjito.  (WEM/LTG)

Di masa sekarang, kehidupan kita tidak pernah terlepas dari teknologi. Hal ini menimbulkan adanya perubahan yang  terjadi secara terus-menerus seiring berjalannya waktu. Perubahan yang terjadi ternyata banyak merubah perilaku manusia menuju cara-cara baru dalam melakukan berbagai macam hal. Salah satunya yaitu dalam berinovasi dan digitalisasi pada revolusi 4.0. Kehadiran industri revolusi 4.0 menjadi penguat sekaligus tantangan bagi generasi milenial saat ini.

Kita perlu mempersiapkan diri kita untuk menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Adanya persiapan tersebut juga akan berpengaruh dengan bagaimana sudut pandang kita melihat peluang bisnis yang dapat di kembangkan pada era saat ini. Adanya pembekalan denga n metode transfer knowledge oleh orang-orang yang berpengalaman dan ahli di bidang tersebut juga akan berpengaruh besar dalam persiapan ini.

Selasa (03/12) Program Studi Manajemen FE UII mengadakan Studium Generale : “Human Capital & Business Strategies In Industrial Revolution 4.0.” Kegiatan ini mengundang dua narasumber yang ahli di bidang tersebut, yaitu Syafri Yuzal yang merupakan Business Director PT. Aino Indonesia sekaligus alumni dari FE UII dan Satya Bilal selaku Director PT. Carya Learning Center. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa dosen serta sejumlah mahasiswa dan mahasiswi angkatan 2016-2018 yang tengah mengambil mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.

Anjar Priyono selaku Ketua Prodi Manajemen mengatakan, “Kita akan berbincang mengenai isu-isu yang terkait dengan milenial revolusi industri dan semacamnya. Ini adalah salah satu bagian dari aktivitas kita untuk membekali saudara yang nantinya akan memasuki dunia kerja.”

Senada dengan hal tersebut Syafri Yuzal menambahkan, “Jadi ketika kita semua diam saja, tidak beradaptasi dengan perubahan, dan tidak memiliki keunikan, maka kita akan tertinggal dengan teknologi kemudian kita akan ketinggalan zaman. Tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang, akan jadi apa kita di lima tahun kedepan.”

Satya Bilal dalam sesinya turut menyampaikan, “Mimpi tidak bisa diatur, namun harapan bisa di setting, masa depan bangsa ada di tangan kita semua. So we need to prepare untuk menghadapi tantangan di masa depan.”

Untuk menghadapi revolusi industri 4.0., mahasiswa harus mulai belajar menempa diri dan memiliki soft skills yang nantinya akan sangat berguna sebagai bekal memasuki dunia kerja serta beradaptasi di suatu lingkungan baru. Selain itu mahasiswa juga dapat melakukan hal-hal produktif yang nantinya akan menciptakan perubahan kearah yang lebih baik. (MNZ/LTG)

Persaingan di dunia kerja saat ini memang sangat ketat. Seperti yang kita ketahui walaupun tengah menyandang gelar Sarjana, hal tersebut tidak seratus persen dapat menjamin untuk seseorang dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Sehingga sangat penting untuk setiap individu memiliki  keahlian khusus yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Menanggapi hal tersebut, pada Rabu (4/12) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) gelar workshop dan talkshow bertajuk Building Skills & Career Preparation for Millenials. Acara yang bertempat di Aula Utara FE UII kali ini,  turut menghadirkan pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya, yakni Fajaruddin Achmad Muharom, ST., Direktur PT. Raya Internasional Kosmetik, Teddie Dian Patria, SE., PIT., CEO PT. Bakoel Nusantara, serta Nur Pratiwi Novianti, S.Psi., M.Psi., Psi., Kepala UII Career Center.

Fajarrudin dalam sesinya menerangkan beberapa hal terkait lahirnya pengusaha, “Pertama dari nasab, dimana jika orangtuanya adalah seorang pengusaha dan akan mewariskan usahanya kepada anaknya. Kedua nasib, yang biasanya hal ini terjadi karena adanya unsur ketidaksengajaan. Sedangkan bila hal tersebut direncanakan dari awal maka namanya adalah design.”

“Dalam mempersiapkan karier, yang kita perlukan adalah mimpi. Dream big! But remember, dreams without goals are just dreams,” tambah Fajaruddin.

Ia juga menjelaskan bahwa ketika dreams dan goals sudah didapatkan, selanjutnya adalah mencari benchmark. Hal tersebut diharapkan dapat membantu dalam membangun mimpi menjadi sebuah kenyataan. Tidak sampai disitu, setelah mendapatkan benchmark kita juga harus mencari mentor yang tepat. Dalam membangun mimpi tersebut penting sekali untuk kita membangun sebuah kolaborasi yang akan membantu untuk mengakselerasi bisnis yang sedang  dimulai ataupun yang sedang berjalan.

Selanjutnya Teddie  Dian Patria turut menjelaskan betapa pentingnya keterampilan negosiasi dalam menunjang bisnis dan juga karier. Seperti yang ia kutip dari Carrie Fisher, “everything is negotiable, whether or not the negotiation is easy is another thing,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Nur Pratiwi Noviati turut mengungkapkan tentang bagaimana menjadi pekerja profesional yang baik. “Banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari persiapan mental, persiapan fisik, sampai persiapan dalam menghadapi wawancara kerja,” tutur Nur Pratiwi.

“Kiat-kiat yang dapat dilakukan dalam mempersiapkan mental yakni jangan mudah tergiur nama besar perusahaan, ukur kemampuan diri, jangan mudah menyerah, dan harus mau untuk selalu belajar. Tak kalah pentingnya yaitu persiapan fisik yang meliputi kondisi kesehatan tubuh,  kelengkapan berkas, dan berpenampilan sesuai dengan latar belakang perusahaan,” tambah Nur Pratiwi. (HLL/ARS)

Tahun ini, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi UII menggandeng Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) FE UII dalam menggelar acara Business Expo 2019. Kegiatan ini merupakan wadah untuk mengembangkan ide bisnis mahasiswanya, pameran yang bertemakan “Start Your Business With Your Wonderful Idea” ini digelar pada Senin (2/12). Pameran yang berlokasi di Hall Tengah Kampus FE UII kali ini diisi oleh mahasiswa manajemen angkatan 2019 yang tengah mengambil Mata Kuliah Bisnis Pengantar.

Pameran bisnis ini turut diramaikan oleh 52 tenant, yang letaknya terbagi atas dua area yakni hall tengah FE UII diramaikan oleh 45 tenant dari mahasiswa manajemen, dan area lapangan sorak yang diisi oleh 4 tenant dari Entrepreneur Community FE UII beserta 3 tenant umum yang berasal dari Program Studi Akuntansi dan Ilmu Ekonomi FE UII.

Ide bisnis yang dituangkan oleh mahasiswa dalam Business Expo ini dinilai oleh enam juri yang tentunya mumpuni di bidangnya yang juga merupakan dosen Program Studi Manajemen FE UII. Kompetisi ini dituangkan dalam tiga kategori pemenang, yaitu Best Decor Tenant yang berhasil diraih oleh tim Kuno Kini, Best Attractive Tenant diraih oleh tim Ambyar, dan Most Favourite Tenant  diraih oleh tim Aku Tahu. Setiap pemenang dari masing-masing kategori berhak mendapatkan sertifikat beserta uang pembinaan senilai Rp 500.000,00.

Tiara Shaira, mahasiswa Manajemen International Program FE UII yang juga merupakan salah satu peserta Business Expo 2019 mengungkapkan bahwa, “Acaranya seru, bisa menambah pengalaman kita. Disini kita bisa belajar bikin bisnis itu gimana, sih,” dalam wawancara. Ia juga berharap lebih agar acara seperti ini bisa digelar lebih dari satu hari. Pada kesempatan yang sama, Tiara merasa dengan adanya acara ini ia terinspirasi untuk membuka bisnis dan menekuninya.

Dinny Marcellina selaku ketua panitia Business Expo 2019 menuturkan harapannya pada pameran bisnis ini,  “Harapan untuk acara kali ini, semoga bisa diselenggarakan di tahun tahun berikutnya. Karena tidak cukup jika mahasiswa hanya diberikan teori saja, namun diperlukan praktek secara langsung untuk menambah skill berbisnis, sehingga hal seperti ini dapat menjadi gambaran dari Mata Kuliah Bisnis Pengantar yang dipelajari di kelas,” pungkas Dinny. (AFM/SAL/LIS)

Untuk mendapatkan pendidikan yang layak bukanlah suatu hal yang mustahil. Saat ini sudah banyak kampus yang menyediakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi ataupun kurang mampu. Beasiswa tentu sangat membantu orang-orang yang membutuhkan, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak mendapat pendidikan yang layak. Selain itu, cara untuk mendapat beasiswa pun sangat mudah, kita hanya perlu mengikuti prosedur dengan taat.

Untuk mengedukasi mahasiswanya, Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan info session terkait beasiswa. Acara yang diselenggarakan di Aula Utara (29/11) menjelaskan bahwa beasiswa terdiri dari dua jenis beasiswa, yaitu beasiswa internal dan beasiswa eksternal.

Hazhira Qudsyi S, Psi. M.A. selaku Kadiv. Pembinaan Kepribadian dan Kesejahteraan DPK UII menjelaskan beasiswa internal merupakan bantuan yang diberikan secara langsung oleh UII kepada mahasiswa yang membutuhkan. Ada beberapa bentuk beasiswa yang ditawarkan yaitu beasiswa Unggulan UII, Hafiz Al-Qur’an, prestasi akademik (IPK tinggi), pondok pesantren, PSB dhuafa, alumni.

Hazhira mengungkapkan bahwa “Kita harus memiliki strategi untuk mendapatkan beasiswa, beberapa tips untuk mendapatkan beasiswa, yaitu dengan aktif mengecek info tentang beasiswa di website maupun instagram kemahasiswaan UII. Selain itu pastikan membaca dengan detail informasi yang tertera di website atau Instagram tersebut. Setelah itu melengkapi segala persyaratan, melampirkan berkas-berkas, dan pastinya bersikap jujur, serta terus berdoa kepada Tuhan agar dikabulkan.”

“Kunci utama yang perlu dimiliki untuk mendapatkan beasiswa adalah kejujuran. Kenapa? Karena beasiswa merupakan suatu keberkahan, maka jika kita berbohong beasiswa yang kita dapat pun tidak berkah.” Ungkap Hazhira saat memberikan tipsnya. 

Selain beasiswa internal, kemahasiswaan UII juga menyediakan beasiswa eksternal seperti bidikmisi, PPA, Dikpora DIY, Toyota Astra, PIISEI, YVDMI, Cendekia BAZNAS, Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, BPD Syariah, Beasiswa Sarjana Muamalat dan Beasiswa Tokopedia. Untuk persyaratannya sama dengan beasiswa internal, namun diutamakan bagi mahasiswa yang memiliki nilai diatas rata-rata dan membutuhkan bantuan keuangan. 

Senada dengan hal tersebut Dr. Phill Emi Zulaifah M, Sc turut menerangkan terkait beasiswa LPDP. Beasiswa LPDP merupakan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah kepada mahasiswa. Untuk mendapatkan beasiswa LPDP ini membutuhkan usaha yang lebih besar dibandingkan dengan beasiswa internal UII seperti yang dijelaskan sebelumnya. “Pertama, kita harus mengumpulkan berkas-berkas persyaratan, kemudian mendaftar secara online. Setelah mendaftar secara online tahap selanjutnya bagi yang lolos seleksi ada tahap Leaderless Group Discussion (LGD) untuk melihat bahwa tidak adanya rasa dominan dan over exposure di antara calon pendaftar. Lalu, di tahap terakhir ada wawancara yang dilakukan oleh 3 orang, biasanya 3 orang itu terdiri dari tenaga pendidikan, psikolog dan kebangsaan,” ungkap Emi.

Kini mahasiswa tidak perlu takut untuk melanjutkan jenjang pendidikannya karena keterbatasan biaya. Banyak sekali beasiswa yang ada dan ditawarkan baik dari internal kampus maupun eksternal kampus yang dapat diikuti. (AA/DYH)

Rabu (27/11) Program Studi Magister Akuntansi  Fakultas Ekonomi (FE) UII bersama  dengan Asosiasi Program Studi S2 Akuntansi Indonesia (APSSAI) menggelar rapat kerja sekaligus Focus Group Discussion (FGD) di Eastparc Hotel Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh para akademisi dan juga praktisi yang ahli dibidangnya.  Fokus diskusi pada kegiatan kali ini adalah membangun sinergi akademisi dan  praktisi dalam memperkuat eksistensi audit forensik di era industri 4.0.

Kejahatan ekonomi merupakan persoalan yang dihadapi dunia saat ini.  Akuntansi forensik dan audit investigasi merupakan salah satu metode yang bisa digunakan sebagai kunci dalam menghadapi perkembangan kejahatan ekonomi dalam bidang keuangan, utamanya financial technology (fintech). Sekarang ini kejahatan yang profesional sudah beralih  menggunakan teknologi sebagai tools of crime, sehingga hal ini perlu segera dipikirkan oleh lembaga terkait untuk memberikan aturan tentang fintech tersebut.

Dr Sukardi S.H., M.Hum, Penyidik, Dosen LB, Konsultan Hukum Pidana BARESKRIM POLRI menyampaikan bahwa, “Dampak dari perkembang ini adalah munculnya berbagai kejahatan-kejahatan baru terutama di bidang ekonomi. Bukan hanya borderless, tidak! Kelihatan batas-batas negara yang hukum itu diperdebatkan tentang teritorial cyber ini dimana. Tapi dibidang ekonomi juga yang paling menonjol adalah destruction innovation, yang mau tidak mau harus dihadapi saat ini.”

Dilihat dalam bidang hukum, para ahli nantinya akan menempati posisi sentral dalam penegakan hukum. Akuntansi forensik yang kita pahami adalah kolaborasi antara hukum dan ekonomi yang dalam arti akuntansi. Walaupun auditor menempati posisi sentral, namun di satu sisi perkembangan teknologi yakni robot akan turut mengancam posisi manusia. Dengan web analisis dan big data sistem ekonomi akan cenderung digantikan oleh sistem robot.

Selanjutnya Moh. Mahsun., S.E., M.Si., Ak., CPA., CFrA., Praktisi Kantor Akuntan Publik turut menyampaikan terkait praktik audit forensik yang ada di Indonesia, “Di dalam mengelola kantor akuntan publik itu strategi blue ocean patut diterapkan. Bagaimana kita membuat portofolio yang berbeda dengan kantor lainnya. Jika pada umumnya kantor akuntan publik menggunakan general audit maka diferensiasinya adalah audit forensik dan  investigasi audit,” jelasnya.

Penempatan seperti ini dikarenakan perkembangan bisnis akan menyebabkan sengketa dan fraud meningkat. “Disitulah diperlukan peran seorang auditor forensik. Dimana dalam melakukan pekerjaan sebagai auditor forensik selalu berkoordinasi bersama BARESKRIM sebagai penyidik. Hal ini menjadi salah satu poin pemeriksaan yang berbeda dari yang namanya general,” tambah Mahsun.

Pada umumnya, audit keuangan dilakukan secara  periodik yang tujuannya memberikan opini tentang kewajaran laporan keuangan secara rutin.  Di luar hal tersebut, audit kinerja  yang biasanya dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN)  juga dilakukan secara simultan setelah audit keuangan dilakukan dengan menggunakan dasar Keputusan Menteri nomor 100/MBU/2002, yang wajib dinilai kesehatannya, dengan menggunakan data laporan keuangan audit. Alur penyelesaian audit didahului dengan pengauditan laporan keuangan kemudian kesesuaian substansi akhir dengan bukti audit yang diterima. Segala bentuk bukti tersebut akan dipakai untuk audit kinerja untuk menilai level kewajaran keuangan suatu perusahaan. (ERF/ADL)

Fenomena era revolusi industri 4.0 tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Saat ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat, sehingga hal tersebut turut memberikan dampak perubahan di dalam lingkungan bisnis yang relatif pesat.

Untuk merespon fenomena tersebut Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menyelenggarakan UII – Business and Accounting Competition 2019 (BAC). Acara kali ini mengambil tema Prepare Young Entrepreneur for Digital Revolution yang di laksanakan selama tiga hari pada 19-21 November 2019 di Kampus FE UII.

“Inti dari tujuan acara ini untuk membangun komunikasi dan menjelaskan serta menyampaikan informasi kepada para siswa terkait perkembangan ilmu akuntansi terkini,” ucap Jaka Sriyana selaku Dekan FE UII saat berlangsungnya konferensi pers, Rabu (20/11).

Saat ini berkembang isu seputar program studi akuntansi di khalayak ramai, World Economic Forum pernah menyampaikan beberapa karier yang akan hilang di era revolusi industri 4.0 ini dan salah satunya adalah akuntan.

“Kami menolak akan hal isu yang berkembang mengenai hilangnya karier akuntan di era revolusi industri 4.0. Ilmu akuntansi akan tetap relevan di era revolusi industri 4.0 ini, tetapi kami akan berevolusi, akuntansi itu tidak lagi pada hal yang sifatnya kritikal tetapi lebih banyak ke arah analisis data akuntansi dan keuangan,” pungkas Mahmudi, Ketua Program Studi Akuntansi.

BAC ini meliputi beberapa rangkaian kompetisi yaitu Business Simulation Games (BSG), yang diharapkan dapat melatih pembuatan keputusan bisnis yang cepat dan tepat serta memberikan pemahaman mengenai fundamental ekonomi dan bisnis, manajemen operasional bisnis, Enterprise Resource Planning (ERP), dan Logistics and Supply Chain Management (SCM). Selain itu, rangkaian acara lainnya yakni Business Plan Competition (BPC), Business Vlog Competition (BVC) dan juga Mobile Photo Contest  (MPC).

Puncak acara dilaksanakan di hari terakhir kegiatan, yakni 21 November 2019 di Aula Utara Fakultas Ekonomi UII.

Kegiatan diawali dengan TalkShow yang bertema ‘Accounting for Millenial Entrepreneurship’ maksud dari kegiatan ini adalah memberikan bekal bagi para peserta yang merupakan siswa SMA bahwa akuntansi tidak hanya seputar keuangan, tetapi banyak hal baru dari ilmu akuntansi yang berguna karier mereka kedepannya.

“Akuntansi kalo ngomongin perusahaan ya penting banget, karena yang namanya bahasa bisnis cuma satu, uang. Walaupun bisnis sosial, kalau tidak ada uangnya tidak akan jadi bisnis” ungkap Asep Bagja Priandana, salah satu pembicara pada pagi itu.

Senada dengan hal tersebut, Hervy Deviyanto, City Manager Grab Yogyakarta dan Central Java menyampaikan bahwa, ilmu-ilmu akuntansi utamanya dalam bidang analisis pasarlah yang telah mengantarkannya hingga dapat menduduki jabatannya saat ini.

Berkembangnya transportasi online dengan perilaku dan ketergantungan masyarakat dengan promo yang ditawarkan tentu membutuhkan ilmu akuntansi yang baik untuk menemukan solusinya.

Selanjutnya, Fitra Roman Cahaya, Dosen FE UII dalam penyampaian materinya turut menerangkan bahwa, berkembangnya zaman yang dikuasai oleh generasi milenial, menjadi seorang pengusaha merupakan salah satu bidang usaha yang banyak diminati.

Pemberian rangkaian materi ini membuka wawasan baru bagi peserta BAC, bahwa program studi Akuntansi memiliki berbagai prospek karier. Ilmu akuntansi akan sangat banyak mengambil peran dalam perkembangan ekonomi global. (SAL/SHP/ADL)

Setiap perguruan tinggi terutama PTIS (Perguruan Tinggi Islam Swasta) memiliki beberapa metode atau cara yang berbeda dalam mengintegrasikan nilai-nilai islam dalam setiap mata kuliahnya. Beberapa metode yang berbeda dalam pengintegrasian tersebut  ternyata menimbulkan dampak yang berbeda pula pada masing-masing PTIS.

Jumat (22/11) Program Studi Magister Manajemen  Fakultas Ekonomi (MM FE) UII mengadakan “Workshop Integrasi Nilai-nilai Islam Dalam Mata Kuliah Program Magister Manajemen.” Selain itu kegiatan ini juga turut mengundang sejumlah dua belas perguruan tinggi yang nantinya akan ikut berdiskusi pada saat sharing session berlangsung.

“Maksud tujuan kami mengadakan acara ini adalah mendiskusikan bagaimana nilai islam ini diintegrasikan pada setiap mata kuliah yang ada, mudah-mudahan dengan adanya sharing session ini kita akan menemukan format yang bisa diterapkan di Magister Manajemen ini dan juga perguruan tinggi lainnya,” tutur Dwipraptono Agus Harjito.

Jaka Sriyana menyampaikan bahwa, “Kita memang harus mengintropeksi diri apakah kita mempelajari ilmu yang mendekatkan pada syariat-syariat islam atau justru menjauhkan, karena mengetahui etistimologi sebuah ilmu dimulai dari niat sampai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah pembelajaran.” Sehingga penting untuk meninjau kembali mengenai ilmu yang diajarkan oleh para dosen mengenai syariat islam yang tertanam di dalamnya.

Seperti yang kita ketahui, ada beberapa mata kuliah yang memang sudah dikhususkan berbunyi islam seperti Kewirausahaan Syariah, Etika Bisnis Islam, dan lain-lain. Namun ada banyak mata kuliah yang dimasukkan nilai-nilai islam di masing-masing mata kuliah secara implisit.

Untuk mengintegrasikan nilai-nilai islam tersebut Hendy Mustiko Aji, SE.,M.Sc. selaku moderator memberikan beberapa poin luaran FGD supaya diskusi tersebut dapat menghasilkan langkah dan solusi terbaik antara lain mendapat pemahaman makna integrase dari setiap prodi PTIS, teknis integrasi di berbagai PTIS, cara dosen pengampu mata kuliah dalam pengajaran dan bagaimana integrasi nilai-nilai islam dapat diterjemahkan ke dalam kurikulum.

Dari hasil diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa beberapa poin yang dapat menjawab isu-isu tersebut antara lain setiap perguruan tinggi memerlukan modul dan bahan ajar yang dapat menjadi acuan pada setiap pembelajaran, mengadakan aksesi syariah serta menghasilkan jurnal-jurnal syariah. (LTG)

Selasa (19/11) bertempat di Ruang Kelas II/6 Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, telah diadakan “Pelatihan Penelitian Kualitatif” yang diisi oleh Dr. Eko Atmadji, M.Ec yang merupakan dosen Program Studi Ilmu Ekonomi Program Magister, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia. Acara ini berlangsung selama dua jam mulai pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB dan acara gratis tanpa dipungut biaya.

“Pelatihan ini diadakan untuk memperkenalkan mahasiswa tentang pendekatan penelitian kualitatif yang mulai ditinggalkan karena kita selama ini terlalu terkagum-kagum dengan pendekatan kuantitatif seperti statistik, ekonometri dan lainnya.” Tutur Eko saat menjelaskan tujuan dari acara ini. “Tetapi sebetulnya ada kelemahan dari penelitian kuantitatif, yaitu hanya memperlihatkan angka dan menunjukkan perilaku tetapi untuk suasananya tidak terdeteksi, padahal itu penting untuk bisa melihat suasana. Selain itu, latar belakang juga tidak kalah penting dalam sebuah penelitian dan hal ini mulai dilupakan. Maka dari itu, saya mengenalkan kepada mahasiswa bahwa ada pendekatan lain selain pendekatan kuantitatif dimana hasil dari pendekatan kualitatif itu tidak kalah powerfull dari pendekatan kuantitatif.” Tambah Eko saat memaparkan tujuan acara ini.

Beliau juga menambahkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang biasanya berkaitan dengan sosial yang lebih membutuhkan deskripsi daripada hanya sekadar angka. Hasil dari penelitian kualitatif adalah deskripsi serta analisis tentang kegiatan, dan juga peristiwa-peristiwa penting. Masukan yang sangat penting untuk menyempurnakan praktik adalah beberapa studi kasus yang dilakukan secara terpisah pada kurun waktu yang berbeda terhadap fokus masalah, kegiatan dan program yang sama.

Hasil dari penelitian kualitatif akan memiliki nilai yang lebih tinggi dari penelitian kuantitatif jika hasil dari penelitian kualitatif bersifat mendalam dan juga rinci. Dengan demikian, yang dituju dalam penelitian ini adalah interpretasi atas apa yang terkandung dalam sebuah teks dan bukannya untuk menghasilkan angka-angka. Interpretasinya disampaikan melalui laporan-laporan naratif yang terperinci mengenai persepsi, pemahaman atau penuturan para partisipan terhadap fenomena yang dimkasud. Dikarenakan ilmu ekonomi juga ilmu sosial, maka penelitian kualitatif ini dapat sejalan dengan penerapan ilmu ekonomi tersebut.

Untuk output yang ingin dicapai diantaranya adalah ada keinginan dari mahasiswa agar mulai tumbuh keinginan untuk memproposalkan penelitian kualitatif. Sehingga Bapak Dr. Eko Atmadji M.Ec juga memaparkan bahwa untuk mendapatkan data secara kualitatif itu juga tidak mudah. (NDP/AFM)

Integrasi ilmu tidak hanya sekedar menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum saja, akan tetapi integrasi ilmu merupakan sebuah upaya untuk menyatukan ilmu agama yang bersumber dari wahyu dan ilmu umum sebagai temuan hasil pemikiran manusia. Integrasi ilmu tersebut harus dengan prinsip tidak mengucilkan keagungan wahyu dan tidak mengucilkan manusia itu sendiri sebagai ciptaan Allah Swt, Kuntowijoyo (2005:57-58). Begitu pentingnya integrasi ilmu, sehingga dengan menggabungkan berbagai ilmu tersebut tidak ada lagi dikhotomi ilmu yang dikaji maupun yang dikuasai oleh para sarjana Muslim. Hal ini dikarenakan, para sarjana Muslim dalam mengkaji ilmu tersebut tidak mempelajarinya secara parsial. 

Dalam rangka meningkatkan pengintegrasian nilai-nilai Islam di dalam proses perkuliahan, Program Studi (Prodi) Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (MM FE UII) mengadakan seminar nasional yang bertajuk “Integrasi Nilai-Nilai Islam Dalam Mata Kuliah Program Studi Magister Manajemen” yang berlokasi di ruang P 1/2 Fakultas Ekonomi UII. Acara yang berlangsung pada Kamis, 21 November 2019 ini dihadiri oleh mahasiswa pasca sarjana prodi Magister Manajemen dan beberapa narasumber yang mumpuni di bidangnya yaitu Drs. Widiyanto, M.Si., PhD dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Arif Hartono, MHRM., Ph.D  dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dan Prof. Dr. Ahmad Rodoni, M.M. dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D selaku Dekan FE UII dalam sambutannya menyatakan bahwa topik dalam acara ini sebenarnya sudah pernah diadakan beberapa tahun yang lalu. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sampai sekarang belum berhasil secara maksimal diterapkan, sehingga perlu dikaji lebih dalam lagi. 

“Tentunya kegiatan semacam ini penting untuk terus dikembangkan karena sejalan dengan visi utama dari UII yaitu menciptakan cendekiawan muslim. Dimana seorang cendekiawan muslim harus senantiasa memiliki perspektif Islam di setiap pekerjaaan yang dilakukannya.” ujarnya.

Dr. Dwipraptono Agus Harjito, M.Si. selaku Ketua Program Studi Manajemen Program Magister FE UII, dalam hal ini juga menyatakan hal yang senada

“Diadakannya seminar ini tentu sejalan dengan bagaimana UII sebagai perguruan tinggi Islam yang memiliki visi Islam Rahmatan Lil’alamin yang senantiasa berusaha menerapkan atau menyampaikan nilai-nilai Islam di dalam seluruh kegiatan perkuliahan.”

Seminar ini diharapkan agar nilai-nilai islam khususnya dalam bidang Pendidikan, dapat tetap eksis di era disruptive seperti sekarang ini. Untuk dapat mengintegrasikan nilai-nilai Islam tersebut, terutama dalam bidang ilmu (fardhu kifayah); diperlukan penguatan ilmu fardhu ain dengan mempelajari keterkaitannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, ijma’, dan turunannya. 

Arif Hartono, MHRM., Ph.D mengupas konsep, praktek, serta problematika Integrasi Ilmu dan Islam, sekaligus menjelaskan mengenai bagaimana definisi Integrasi antara Ilmu & Islam itu sendiri.

“Integrasi antara Ilmu & Islam yaitu pembauran antar Ilmu & Islam hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat. Dari sini dapat dilihat bagaimana topik ini menjadi penting dan perlu dikembangkan secara serius,” ujarnya.

Sedangkan Prof. Dr. Ahmad Rodoni, M.M. dalam penjelasannya menyatakan beberapa bentuk hubungan ilmu manajemen dan ilmu keislaman secara komprehensif.

“Integrasi semacam ini dapat diwujudkan dengan menjadikan ilmu manajemen sebagai inspirasi dalam mengembangkan teori-teori baru dalam agama Islam, menjadikan ilmu manajemen sebagai perspektif dalam kajian ilmu keislaman, serta menjadikan ilmu manajemen sebagai pengamal nilai-nilai keislaman yang diabadikan untuk kemaslahatan manusia,” tegasnya.

Oleh karena itu perguruan tinggi Islam menurut Syafi’I Antonio (2010:2) diharapkan sudah harus menggunakan pendekatan integrasi ilmu dalam proses pendidikannya, untuk menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki berbagai pengetahuan (AYK&MSD).