Tidak hanya Idul Fitri, umat Islam memiliki hari besar lainnya yaitu Idul Adha atau juga sering disebut dengan Idul Qurban. Tentu kita semua paham bahwa hari tersebut merupakan hari besar yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Idul Adha ini merupakan wujud ketakwaan umat muslim kepada Allah Swt. sekaligus meneladani kisah Nabi Ibrahim as. Tidak sedikit masyarakat yang dengan sukarela turun tangan mengorbankan sebagian harta mereka untuk berpartisipasi pada hari Idul Adha ini.  

Minggu (11/8) Takmir Masjid Al Muqtashidin Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menggelar Salat Idul Adha yang dihadiri oleh sivitas akademik dan masyarakat sekitar.

Khatib Sholat Idul Adha pada kali ini dibersamai oleh Mohammad Bekti Hendrie Anto, S.E., M.Sc. Sedangkan imam sholat dibersamai oleh Hidayatur Rahman, S.E., M.M.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, Masjid Al Muqtashidin FE UII juga menyelenggarakan penyembelihan hewan Qurban. Hewan Qurban yang terkumpul kali ini total berjumlah enam belas ekor kambing. Namun, tidak semuanya disembelih ditempat, melainkan delapan ekor disembelih di FE UII dan delapan ekor lainnya dikirimkan ke masjid ataupun daerah yang lebih membutuhkan di Yogyakarta.

Idul Adha merupakan momen yang tepat untuk kita bersyukur. Ini sesuai dengan pernyataan Anto dalam khotbahnya yang menyatakan bahwa kita semua harus senantiasa meningkatkan rasa syukur atas segala nikmat Allah yang tiada terhingga. “Nikmat iman maupun islam, kesyukuran harus diwujudkan tidak hanya dalam kata-kata, namun wujudkan juga dalam perbuatan dengan menjalankan segala perintah Allah dan Rasulnya dengan kaffah”, terang Anto.

Perayaan Idul Adha berdekatan dengan perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tentu peristiwa ini bukan terjadi secara kebetulan. Namun, telah direncanakan oleh Allah agar menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, menurut Anto, pada hakekatnya, tauhid dan kemerdekaan adalah hal yang dekat. Dalam ajaran islam, keberkahan masyarakat didapatkan dari suatu bangsa yang bertakwa.

Dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 96 Allah Swt. berfirman tentang hubungan antara ketakwaan dan kesejahteraan suatu negeri yang artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Firman Allah Swt. tersebut memberikan satu pemahaman jika suatu bangsa ingin mendapatkan keberkahan, syaratnya adalah iman dan takwa yang diwujudkan masyarakatnya dalam pembangunan. “Ketaatan kepada Allah, menegakkan salat, puasa, zikir, dan lain sebagainya, harus senantiasa dilakukan oleh masyarakat di semua sektor dalam rangka bersungguh-sungguh untuk mengelola bangsa ini”, tambah Anto.

Sebagai umat Islam, peringatan Idul Adha haruslah diwujudkan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kembali kepada Allah Swt. Menurut Anto, memperkuat keyakinan bahwa berkah Allah diturunkan bagi orang yang bertakwa dan beriman, mestinya tidak hanya diwujudkan dalam aktivitas beribadah, namun juga diwujudkan dalam aktivitas muamalah. “Ketakwaan dalam muamalah ini juga mengajarkan bagaimana kita berani mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan orang banyak, Insya Allah hal tersebut dapat mendorong kejayaan negeri ini yang sudah lama diidam-idamkan oleh pendiri bangsa maupun masyarakat Indonesia”, pungkasnya. (ARS)

Saat ini tujuh dari sepuluh millenial ingin merintis sebuah bisnis. Sebagian dari mereka yang ingin berbisnis dan membangun usaha merasa kurang percaya diri karena adaya kendala dari segi dana. Dengan adanya keresahan yang dimiliki millenial saat ini, Entrepeneur Community Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia mengadakan seminar melalui event Indonesian Business Carnival yang diselenggarakan di Aula Utara Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia pada hari Rabu, (7/8).

Seminar ini mengangkat tema tentang pentingnya pengaruh bank sentral terhadap industri–industri kreatif yang ada. Seminar ini dipaparkan oleh Manajer Bank Indonesia Regional Yogyakarta, Ibu Andi Adityaning Palupi yang disambut langsung oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Bapak Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D.

Disamping tiga tugas pokok utama Bank Indonesia dalam bidang moneter, sistem keuangan, dan sistem pembayaran, Bank Indonesia memperkenalkan kebijakan baru kepada masyarakat luas dalam rangka membantu mengembangkan UMKM yang ada saat ini. Kebijakan yang Bank Indonesia perkenalkan ini termasuk dalam mendukung pencapaian tugas pokok Bank Indonesia di bidang moneter. Sasaran Bank Indonesia dalam melakukan kebijakan ini yaitu untuk berkontribusi nyata pada perekonomian Indonesia yang kuat, berimbang, berkelanjutan, dan inklusif. 

Dasar hukum kebijakan pengembangan UMKM BI tercantum dalam Peraturan Dewan Gubernur (PDG) No. 19/13/PDG/2017, tanggal 19 Desember 2017 tentang Kebijakan Pengembangan UMKM BI. Pengembangan UMKM yang dilakukan oleh Bank Indonesia diarahkan untuk mendukung UMKM komoditas VF (Volatile Food) dalam rangka mengurangi tekanan inflasi komponen bergejolak (VF) dari sisi pasokan, mendorong UMKM berorientasi ekspor dan mndukung pariwisata dalam rangka mengurangi CAD, mendorong peningkatan akses keuangan, mendorong pengembangan UMKM Syariah, mendorong pemanfaatan tekonologi digital, dan mendorong keikutsertaan UMKM dalam pameran dan event internasional untuk akses pasar global

Sasaran kebijakan ini adalah agar Bank Indonesia berkontribusi nyata dalam perekonomian Indonesia yang kuat, berimbang, berkelanjutan dan inklusif. Hal ini direalisasikan oleh Bank Indonesia dengan memberikan beberapa kategori terhadap UMKM yang ada di Yogyakarta dan memetakan sesuai dengan profil UMKM tersebut. Hasil pengelompokan ini terbagi menjadi empat level, yaitu UMKM level satu yang berarti UMKM berpotensial, UMKM level dua yang berarti UMKM sukses, UMKM level tiga yang berarti UMKM sukses digital, dan UMKM level empat yang berarti  UMKM berpotensi melakukan perdagangan internasional dalam bentuk ekspor. Pemberian level ini dilakukan agar Bank Indonesia bisa lebih fokus dalam mengelompokkan UMKM yang akan didampingi kedepannya. Alasan lain dibuatnya kelompok level ini karena Bank Indonesia merasa apa yang sudah dilakukan sebelumnya ketika melakukan pendampingan kepada UMKM tanpa pengelompokan level yang tepat mengakibatkan kurang efisien dan efektif.

Bank Indonesia memberikan feedback terhadap UMKM yang telah bergabung bersama dengan memberikan wadah pameran setiap tahunnya yang diadakan oleh Bank Indonesia bertajuk ‘Karya Kreator Indonesia’ yang nantinya para pendiri UMKM akan dipertemukan dengan pembeli potensial, baik dalam negeri maupun dari luar negeri. Dalam pameran ini, UMKM juga diperkenalkan dengan adanya fasilitas E-Commerce, Perbankan dan lain-lain. Peserta pameran ini juga akan diikuti oleh UMKM lain yang berpotensial.

Harapan dari Bank Indonesia dengan adanya kebijakan baru tersebut bisa menggerakkan millennial untuk tidak takut lagi memulai bisnis karena adanya kendala dana. Bank Indonesia juga berharap bahwa banyaknya potensi masyarakat Indonesia untuk menciptakan produk lokal yang berkualitas tinggi dapat bersaing di pasar internasional dengan produk-produk negara lain. Dengan adanya produk lokal yang dihasilkan masyarakat lokal, para UMKM akan turut menyumbang kestabilan ekonomi melalui kegiatan ekspor. (MRG/ULF)

Publikasi jurnal ilmiah menjadi program penting bagi para akademisi. Hal ini didukung dengan keluarnya surat edaran dari Dirjen Dikti yang mewajibkan publikasi karya ilmiah untuk program S1/S2/S3, baik dalam jurnal online maupun jurnal cetak. Namun, dalam kenyataannya untuk membuat sebuah artikel yang layak untuk diterbitkan di jurnal bukanlah hal yang mudah. Untuk sekedar menembus jurnal nasional saja sangatlah sulit bila author tidak menguasai rule-nya, apalagi jurnal bereputasi Internasional seperti Scopus. Oleh karena itu, pelatihan penulisan artikel untuk scientific journal sangat diperlukan.

Senin (1/10) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menyelenggarakan Coaching Clinic : Publication In Scopus Indexed Journals. Acara yang dihadiri oleh tiga belas perguruan tinggi ini ditunjukkan sebagai langkah awal pelatihan penulisan artikel untuk scientific journal. Dalam penyelenggaraannya, FE UII mendatangkan pembicara dari Universiti Teknologi MARA (UITM), Malaysia. Pada kesempatan kali ini Prof. Dr. Zuraidah Mohd Sanusi selaku Director Center of Leadership Development Universiti Teknologi MARA menyampaikan “Kami berharap Anda memiliki paper, jika Anda memiliki paper tentu saja segera selesaikan dan setelah itu keluarkan keraguan Anda kepada pelatih untuk berkonsultasi”. Sesuai arahan tersebut, peserta Coaching Clinic diminta untuk menulis artikel dengan didampingi satu coach untuk masing-masing grup yang terdiri dari empat sampai lima orang.

Dr. Dwipraptono Agus Harjito, M.Si, selaku moderator Coaching Clinic kali ini juga turut menyampaikan mengenai sulitnya mem-publish artikel ke dalam scientific journal bahkan, di kalangan para dosen sekalipun. Hal itu dikarenakan ketatnya seleksi kelayakan artikel itu sendiri. Di FE UII sendiri, terdapat 154 dosen dengan 142 artikel yang telah menembus scientific journal.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. Zuraidah Mohd Sanusi turut menyampaikan poin-poin penting mengenai tips dan trik menulis scientific journal yang tepat. Poin yang paling mendasar adalah membangun kompetensi menulis dengan cara meningkatkan research knowledge, conceptual thinking, creativity, dan research ethics. Setelah menguasai beberapa hal tersebut, tinggal bagaimana author menuangkan, dan mengembangkan kemampuannya ke dalam scientific journal.

Ketepatan pemilihan topik dalam penulisan scientific journal merupakan rule untuk membuat jurnal ilmiah yang ideal. Hal tersebut penting karena akan memberi pengaruh kepada respon pembaca, diantaranya dapat menimbulkan beberapa pertanyaan yaitu apakah paper itu menarik untuk dibaca dan apakah ada korelasi antara topik dengan isi yang disajikan. Sehingga untuk mendapatkan paper yang berkualitas, baiknya penulis dapat banyak membaca ulang dan mengevaluasi penelitian yang dibuat. 

Selain cara di atas, penulis juga dapat melakukan perbandingan dengan paper yang telah dibuat , hal tersebut akan membantu penulis untuk mendapatkan pengetahuan lebih tentang bahasa, dan cara merangkai kalimat pada paper. “Jangan lupa untuk memberikan data yang spesifik” tambah Prof. Dr. Zuraidah Mohd Sanusi.

Poin penting lainnya yang sering kurang diperhatikan dalam pembuatan artikel adalah cara merangkai kalimat dalam satu paragraf. Dimana banyak author yang masih membuat satu kalimat menjadi satu paragraf. 

Prof. Dr. Zuraidah Mohd Sanusi menyampaikan bahwa, “Dalam satu paragraf setidaknya berisi 4-5 kalimat, dimana setiap paragraf berasal dari satu ide”. Kalimat pertama dalam paragraf adalah kalimat topik, dilanjutkan kalimat penjelas. Author juga harus menambahkan argumen, bukti dari argumen yang diberikan, dan terakhir adalah mencermati korelasi antar kalimatnya. “Jangan selalu menyambung kalimat dengan kata ‘dan’, jika kalimat tersebut bisa dipisah, gunakan titik” pungkas beliau. 

Kegiatan Coaching Clinic ini diharapkan dapat mendobrak pengetahuan para akademisi dalam dunia  scientific journal. (HLL/NFF)

Dewasa ini, pengembangan ekonomi Islam baik di dunia akademik maupun praktik sangat penting untuk menjadi perhatian. Ini juga terkait bagaimana mengembangkan pemikiran dan aplikasi sistem ekonomi Islam di Indonesia. Salah satu upaya dapat dilakukan yaitu dengan pewarnaan lingkungan kampus serta kurikulum dan penyelenggaraan acara-acara akademik seperti seminar atau workshop dengan nilai-nilai Islam. 

Kamis (25/7) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) melalui lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) mengadakan acara tahunan yang bertajuk The 2nd Conference on Islamic Management, Accounting, and Economics (CIMAE) dengan tema “The Islamic Economics Role in Achieving the Sustainable Development Goals (SDGs) in Industrial 4.0 Era”. 

Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D. selaku Dekan FE UII dalam sambutannya menyatakan harapan besar terkait pembangunan ekonomi Islam di Indonesia dan bagaimana potensi ekonomi Islam dapat diterapkan di sektor pendidikan terutama di perguruan tinggi.

Para peneliti, akademisi maupun mahasiswa yang tertarik di Islamic Management, Islamic Accounting, dan Islamic Economics dapat mempresentasikan dan mempublikasikan makalah penelitian mereka serta membangun jejaring di antara para sarjana Manajemen Islam, Akuntansi dan Ekonomi secara nasional dan internasional.

Kegiatan yang berlokasi di garden room Hotel Eastparc Yogyakarta ini menghadirkan empat pembicara yang mumpuni di bidangnya, yaitu Muhammad Hasbi Zaenal, Ph.D. (Director of Center of Strategic Studies at The National Board of Zakat (BAZNAS), the Republic of Indonesia, Dr. Luqyan Tamanni (Head of Division Sharia Financial Infrastructure Development at Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Dr. (Cand) Priyonggo Suseno (Senior Researcher at Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia, dan Greget Kalla Buana, M.Sc. (Islamic Finance Specialist, United Nations Development Programme (UNDP).

Berbagai perspektif di bidang ekonomi islam yang dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) sendiri dibuat untuk menjawab tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata.  Menetapkan rangkaian target yang bisa diaplikasikan secara universal serta dapat diukur dalam menyeimbangkan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan seperti lingkungan, sosial, dan  ekonomi. 

Tujuan ekonomi Islam dalam beberapa sudut pandang yaitu tujuan filosofi yang terdiri dari Al-Falah (holistic prosperity) dan Maqasid al-Shariah dan tujuan operasional yang terdiri dari peningkatan iman, penciptaan maslahah, mencegah konsentrasi dari kekayaan, dan menghindari kegiatan berbahaya serta distribusi yang merata.

Empat konteks utama Ekonomi islam untuk SDGs di bawah revolusi industri 4.0 dengan menggunakan teori dari Maqashid Shariah, penyelarasan SDGs dengan Maqashid Shariah dan ekonomi islam, bagaimana revolusi industri 4.0 berdampak pada ekonomi islam, serta pendidikan dan penelitian pada ekonomi islam di bawah revolusi industri 4.0.

Hal yang penting untuk ditekankan juga pada aspek dampak. Dampak merupakan hal yang paling vital dan dirasakan langsung oleh masyarakat maupun lingkungan. Terutama dampak pada investasi yang merupakan penyebaran dana dengan tujuan untuk menghasilkan dampak sosial dan lingkungan serta pengembalian keuangan.

Ketua penyelenggara dari P3EI Heri Sudarsono, SE, M.Ec juga menyampaikan harapan agar acara-acara seperti ini tetap diselenggarakan. Mengingat bahwa ekonomi islam sangat potensial diterapkan di Indonesia dan memiliki dampak yang berkepanjangan bagi pembangunan ditengah-tengah revolusi industri 4.0. (ARS)

Kenalkan Mahasiswa Baru dengan Kapita Selekta Pasar Modal

Program Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menyambut mahasiswa baru tahun ajar 2019/2020 dengan membekali kuliah perdana pada hari Sabtu (20/7) tepatnya di ruangan aula utara FE UII. Program Magister dan Doktor FE UII ini memiliki tiga program magister yang meliputi Magister Akuntansi, Magister Manajemen serta Magister Ekonomi dan Keuangan. Selain itu Program Magister dan Doktor FE UII juga telah memiliki  satu Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE). Acara ini dibuka oleh Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D.selaku Dekan FE UII.

Kuliah perdana yang bertajuk Kapita Selekta Pasar Modal Indonesia (Activities Within Capital Market) ini menghadirkan Yoyok Isharsaya selaku Presiden Direktur PT Penilai Harga Efek. Beliau menyampaikan bahwasanya gambaran secara umum kondisi pasar modal Indonesia per 30 Juni 2019 terus berkembang. Berdasarkan data dari Indonesian Stock Exchange (IDX) menunjukkan bahwa besarnya stock market capitalization atau nilai saham yang beredar di pasar adalah sebesar Rp 7.243,05 T , sedangkan besar total outstanding bond atau nilai obligasi yang belum lunas/terhutang sebesar Rp 2.936,74 T. 

Selain itu komposisi investor di pasar saham antara lokal dan asing pun juga hampir sama. Hal ini di tunjukan berdasar data IDX Custodian House (KSEI). Berdasarkan data tersebut besarnya kepemilikan saham oleh investor lokal dari waktu ke waktu semakin meningkat. Pada tahun 2014 kepemilikan saham investor lokal hanya sebesar 35,51% saja, namun data tersebut terus berkembang hingga Juni 2019 ini telah mencapai angka 47,78%. Selain itu aktivitas perdagangan juga telah didominasi oleh investor lokal, dari bulan Januari-Juni 2019 sebesar 66,16% telah didominasi oleh pihak lokal. 

Senada dengan hal tersebut, Yoyok Isharsaya juga menyampaikan terkait perusahaan go pulic,  kegiatan ini adalah merupakan penawaran saham yang dilakukan oleh perusahaan/emiten untuk menjual saham atau efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya. 

Proses go public perusahaan ini sebenarnya sederhana, yang pertama perlu dilakukan adalah membentuk tim Initial Public Offering (IPO) internal. Kedua melakukan  Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk mendapatkan persetujuan dari pemegang saham. Terakhir perusahaan yang ingin melakukan go public harus melakukan pengadaan dan penunjukkan lembaga dan prosesi penunjang seperti penjamin pelaksana emisi efek (underwriter), konsultan hukum yang berasal dari dalam negeri atau internasional jika ada, akuntan publik, penilai independen, biro administrasi efek, notaris dan juga percetakan.

Menjadi perusahaan perusahaan untuk melakukan penawaran umum (IPO) atau go, tentu meningkatkan image perusahaan. Selain itu, banyak pula manfaat lain bagi public go public. Salah satunya ialah akses pendanaan dari pasar saham dan tambahan kepercayaan untuk akses pinjaman. Hal ini berupa ekspansi  atau diversifikasi usaha dengan tujuan memperbaiki struktur modal perusahaan dan membayar pinjaman perusahaan tersebut.

Liquiditas yang tinggi juga menjadi keuntungan lainnya jika perusahaan menjadi perusahaan go public. Valuasi saham dan kemungkinan divestasi ini jelas menguntungkan bagi founder. Hal ini tidak hanya bertujuan untuk mencari modal dan keuntungan bagi perusahaan saja. Namun, pemilik saham lama juga dapat menjual sahamnya kepada masyarakat dan mentunaikannya.

Namun, konsekuensi yang harus ditanggung bagi perusahaan go public ialah harus berbagi kepemilikan dengan publik. Selain itu tentu harus mematuhi kewajiban peraturan pasar modal berupa laporan keuangan, keterbukaan informasi tentang hal penting serta Good Corporate Governance. (ERF/SIN/DYH)

Kamis (18/7) Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengadakan kerja sama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk Peran Strategis Ekosistem Keuangan Syariah dalam Mendukung Industri Halal Secara Terintegrasi untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Ruang Sidang Dekanat 1/1 FE UII.

Acara ini terdiri dari serangkaian pelaksanaan penelitian yang dihadiri oleh 30 peserta Grup Riset Sektor Jasa Keuangan Syariah dengan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari Perwakilan Kantor Otoritas Jasa Keuangan  Daerah Istimewa Yogyakarta (OJK DIY), Manajer Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Ketua Korwil Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI (DIY)), Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Kepala Unit Usaha Syariah BPD DIY, Kepala Seksi Pembinaan Industri Pariwisata DIY dan jajaran-jajaran lainnya.

Selaku Ketua Tim Peneliti P3EI FE UII sekaligus moderator dalam acara ini, Agus Widardjono, Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan “Diharapkan dalam pertemuan ini menghasilkan manfaat yang baik dan terdapat nilai tambah agar masyarakat menjadikan bank syariah sebagai pilihan nomor satu”.

Selanjutnya Ratih A. Sekar Yuni selaku Analis Eksekutif Senior DRJK OJK, yang juga memberikan sambutan pada acara tersebut menyampaikan, “Terdapat tiga hal yang ingin dicapai dalam kegiatan ini, pertama terwujudnya ekosistem ekonomi syariah dalam mendukung industri halal, kemudian terciptanya sistem yang mengintegrasikan kontribusi masing-masing pemangku kepentingan, dan tumbuhnya perekenomian nasional” ucapnya.

Untung Nugroho selaku Kepala OJK DIY pada diskusi ini juga menyampaikan, “Masalah yang terjadi saat ini adalah industri halal belum tentu menggunakan keuangan berbasis syariah sehingga industri syariah belum ter-cover secara statistik”.

Tujuan utama diselenggarakannya forum ini antara lain untuk mengidentifikasi dan menggali peran strategis ekosistem keuangan syariah  dalam mendukung industri  halal secara terintegrasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Secara spesifik, melalui forum ini pula dapat menguji faktor-faktor apa saja yang berpotensi dalam mempengaruhi niat pelaku industri untuk memanfaatkan jasa keuangan dan perbankan syariah di Indonesia (demand-side), mengkonfirmasi hasil atau temuan pada demand-side tersebut kepada para penyedia jasa.

Masalah pembiayaan dan perbankan syariah  untuk sektor produktif yang masih rendah menjadi topik utama dalam pembahasan. Selain itu, terkait pelayanan bank konvensional yang dirasa lebih memuaskan oleh pelaku industri dibandingkan dengan skema pembiayaan syariah yang masih belum efektif dalam menyasar kebutuhan pelaku industri juga ikut diperbincangkan.  Hingga masalah belum optimalnya pemanfaatan Zakat Infaq Shadaqah Wakaf (ZISWAF) untuk pembiayaan dan yang terakhir berkaitan dengan masalah program pengembangan keuangan  syariah yang juga belum optimal bagi pelaku industri.

Harapannya, dari forum ini lembaga keuangan syariah dapat mengidentifikasi kebutuhan industri halal berdasarkan jenis, skala, dan tempat usaha. Selain itu juga dapat mendesain model layanan pada sektor produktif yang mencakup semua cluster industri halal, mengembangkan dan melakukan inovasi produk pembiayaan berorientasi pembiayaan industri halal, serta dapat membangun  model strategi kemitraan dengan  pelaku industri  halal yang  bersinergi dengan para stakeholder.  Sementara itu, diharapkan pula bagi OJK bersama para stakeholder dapat menyusun kebijakan dan strategi yang diperlukan untuk mewujudkan ekosistem keuangan syariah dalam mendukung industri halal secara terintegrasi. Para akademisi juga diharapkan dapat memperoleh informasi sebagai bahan rujukan dalam mendesain model pengembangan industri halal yang berbasis pada ekosistem keuangan syariah di Indonesia. (NDH/MSD)

Nanjing Xiaozhuang University (NXU) merupakan salah satu mitra Universias Islam Indonesia (UII) sejak penandatangan MoU pada tanggal 19 Februari 2014 lalu. Program yang telah terimplementasi diantaranya seperti Double Degree 2+2 untuk program S1. Dalam hal ini, UII telah menginisiasi kerjasama Double Degree untuk S1, khususnya untuk program studi Akuntansi, Teknik Informatika dan Manajemen.

Sebagai pengimplementasian program kerja sama dan juga memperkenalkan UII kepada mahasiswa NXU, pada tanggal 13- 19 Juli 2019, NXU berkesempatan bertolak ke UII. Kegiatan ini diadakan atas kesepakatan keduanya untuk melakukan Immersion Program. Kegiatan yang diikuti oleh sembilan belas orang mahasiswa dan juga dua orang dosen dari NXU ini merupakan satu wadah  untuk pemahaman mengenai budaya Indonesia, terkhusus di Yogyakarta. 

Kegitan yang berlangsung selama seminggu ini diawali dengan company visit ke Bumi Langit Institute. Kebun Bumi Langit ini merupakan sarana belajar bersama mengenai hubungan saling memberi manfaat antara manusia dan lingkungannya.  Melalui company visit ini dimaksudkan untuk menambah pengalaman kepada mahasiswa NXU mengenai potensi usaha yang dapat di kembangkan.

Sebagai langkah untuk membuka wawasan mahasiswa NXU tentang perekonomian Indonesia, UII juga memberikan perkuliahan yang bertajuk Undersanding Indonesian Economy. Kegiatan yang berlangsung pada hari Senin-Selasa (15-16/7) diruang sidang 1/1 Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) ini menyampaikan materi-materi terkait Makro dan Mikro Ekonomi di Indonesia. Materi ini disampaikan oleh para dosen yang memiliki keahlian dibidangnya, seperti Dr. Eko Atmadji, S.E., M.Ec., dan juga Rokhedi Priyo Santoso, S.E., MIDEc. Selain itu Drs. Akhsyim Afandi, M.A., Ph.D. juga berkesempatan memperkenalkan Ekonomi Islam di Indonesia. 

Senada dengan hal tersebut Drs. Achmad Tohirin, M.A., Ph.D. juga memperkenalkan Perbankan Indonesia. Pada kesempatan yang sama Drs. Agus Triyanta, M.A., Ph.D., menyampaikan terkait Hukum dan Regulasi Perbankan. Beliau menyampaikan bahwa pada tahun 1988 perbankan memiliki dasar hukum yang sangat lemah. Hal ini dibuktikan dengan bank-bank baru yang bermunculan seiring kemudahan izin mendirikan bank. Mudahnya akses untuk mendirikan bank ini tidak dibarengi dengan pengawasan dan peraturan yang ketat. Pada tahun 1992 pemerintah mencabut izin usaha bank yang mengalami kredit macet. Tak sedikit bank yang kala itu dikuasai para konglomerat yang membawa dana masyarakat ke luar negeri dan ditempatkan di perusahaan dalam grupnya. Akibatnya, saat kurs rupiah jeblok, utang valuta asing (valas) perbankan membengkak. 

Di saat yang sama, bank yang terpapar krisis mengalami kesulitan likuiditas (mismatch) yang sangat besar dan sulit melunasi kewajiban valas kepada perbankan. Hal ini semakin memperkeruh moneter di Indonesia. 

Hukum di Indonesia mengenai perbankan beberapa kali mengalami amandemen sehingga terdapat pula perubahan regulasi. Pada amandemen UU Nomer 10 Tahun 1998 lisensi yang diberikan pemerintah tidak semudah dahulu dikarenakan banyaknya masalah. Sebagai dampak dari krisis moneter, beberapa bank konvensional mengalami koleps tetapi bank syariah dapat bertahan. Sehingga, pemerintah mewajibkan konversi dari bank konvensional ke bank syariah.  

Dalam amandemen ini juga disebutkan Conversion of Conventional into Islamic Bank, yang dapat diartikan bahwa konversi bank konvensional menjadi bank syariah. Walaupun bank konvensional dapat dikonversi menjadi bank syariah, bank syariah tidak dapat dikonversi menjadi bank konvensional. Tidak semua bank syariah didirikan oleh Muslim, namun Bank syariah dapat didirikan oleh seseorang terlepas dari latar belakang agama apapun, selama mematuhi prinsip-prinsip Islam. Sesungguhnya undang-undang yang pernah berlaku dahulu,saat ini masih berlaku juga walaupun terjadi kontradiksi dengan undang-undang yang baru. 

Selanjutnya, Abdul Hakim,S.E., M.Ec.,Ph.D. selaku pemateri terakhir pada kegiatan tersebut menyampaikan terkait Islamic Banking Operations. Beliau mengatakan bahwa pengopasian perbankan syariah ini sama halnya dengan bank konvensional pada umumnya bedanya, bank syariah beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Salah satu contohnya dalam perbankan syariah tidak menggunakan sistem bunga seperti bank-bank konvensional pada umumnya, melainkan sistem perbankan syariah ini menerapkan sistem bagi hasil kepada pemberi pinjaman dan penerima pinjaman.

Dengan demikian harapan diadakannya aktivitas yang melibatkan kedua institusi ini dapat menambah erat hubungan kerjasama dan juga dapat memberi manfaat yang positif antara UII dan juga NXU. (ERF/WEM)

Kamis (11/7/2019), Fakultas Ekonomi UII kembali mengadakan acara spesial kali ini dengan mendatangkan tamu dari mancanegara. Jauh datang dari Eropa tepatnya negara Italia, menjadikan acara ini sebagai waktu yang tepat bagi para peserta acara untuk meningkatkan kapabilitasnya terutama dalam hal membuat paper.

Giuseppe Grossi adalah seorang profesor Administrasi Bisnis (dengan fokus pada Manajemen Publik dan Akuntansi) di Departemen Administrasi Bisnis dan Ilmu Kerja. Saat ini, Giuseppe bertindak sebagai associate profesor paruh waktu di University of Siena (Italia).

Dia juga bertindak sebagai rekan peneliti dan profesor tamu di berbagai negara seperti Universitas Stockholm (2010-2011); Universitas Sydney (Juli-Agustus 2011); Victoria University of Wellington (September 2011); dan Universitas Kozminsky (2015 sampai sekarang)

            Pengalaman serta reputasi yang memukau membuat acara sayang untuk dilewatkan. Dengan bertempat di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi UII, para peserta yang terdiri dari dosen-dosen bidang akuntansi diberi kesempatan untuk mempresentasikan papernya dan di review secara langsung oleh  Profesor Giuseppe Grossi untuk mengetahui apa yang kurang dan perlu diperbaiki. Dengan berfokus pada Public Sector Accounting, Profesor Giuseppe Grossi juga memapaparkan bagaimana tips membuat jurnal yang baik dan dapat dipublikasikan.

Dalam workshop ini, secara singkat terdapat tiga poin penting terkait pembuatan paper, yaitu :

  1. Journal decision-making process and key decision takers
  2. Papers get (desk) rejection. Why?
  3. Practical advice on how to get publisher in accounting journals

Kendati workshop yang diadakan berupa small group, para peserta dan pembicara tetap terlihat sangat antusias dan hangat. Hal ini direpresentasikan dengan acara yang didesain tidak bersifat kaku melainkan peserta diizinkan bertanya atau menginterupsi di setiap waktu materi dipaparkan.

Acara ini berlangsung selama dua hari di tempat yang sama. Di hari Kamis (11/7/2019) atau merupakan hari pertama, acara dimulai dengan pembukaan hingga sambutan dari Dekan Fakultas Ekonomi UII yaitu Dr. Jaka Sriyana, M.Si. serta dari Ketua APSAE – Moh Mahsun, SE, M.Si, Ak, CA, CPA, CfrA.

Selanjutnya ialah penjelasan teknis singkat terkait pelaksanaan Clinical Papers oleh Fitra Roman Cahaya SE, M.Com, Ph.D. Selepas itu, para peserta mempresentasikan papernya dengan waktu yang telah ditentukan untuk dapat di review oleh Profesor Giuseppe Grossi secara langsung.

Di hari kedua, Jum’at (12/7/2019), acara kembali dilanjutkan dengan presentasi revisi paper oleh para peserta dan di review kembali oleh Profesor Giusepe Grossi. Sebagaimana workshop yang semestinya, Profesor Giusepe Grossi benar-benar menunjukkan kapabilitasnya. Hal ini jelas dimanfaatkan oleh para peserta dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

Dengan mengingat bahwa peserta workshop ini yaitu dosen-dosen bidang akuntansi baik yang sudah pernah membuat banyak jurnal hingga yang belum sama sekali, selepas acara ini diharapkan para peserta mendapat pemikiran-pemikiran baru terkait pembuatan paper di Public Sector Accounting.

Sebagai langkah awal untuk memperkenalkan betapa pentingnya The Association of Chartered Certified Accountants (ACCA), Prodi Akuntansi FE UII mengadakan acara UII-ACCA Appreciation Day untuk mahasiswa yang telah lulus dua modul dan berhak menyandang gelar Advanced Diploma in Accounting and Business. Acara ini diselenggarakan di Aula Utara pada hari Minggu (14/07), dengan dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik & Riset UII, Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc., Dr. Mahmudi, SE., M.Si., Ak., CA., CMA selaku Ketua Program Studi Akuntansi FE UII , serta Conny Siahaan selaku Country Head of ACCA Indonesia dan orang tua mahasiswa akuntansi FE UII.

Sertifikasi Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) adalah wadah global bagi akuntan profesional. Ujian kualifikasi ACCA sendiri merupakan ujian bertaraf internasional yang menyediakan kesempatan untuk memiliki karir di luar negeri dalam bidang akuntansi maupun bisnis. Perusahaan akan mengakui kualifikasi ACCA, karena keterampilan dan kompetensi yang dimiliki sangat relevan dengan setiap area akuntansi dan finansial. Acara ini dimulai dengan upacara pemberian sertifikat kepada tiga alumni FE UII yang telah berhak menyandang gelar Advanced Diploma in Accounting and Business yaitu Lyanda Pasadhini, Mudi Waning Utami, dan Tiyas Kurnia Sari. Mereka adalah mahasiswa yang telah lulus memperoleh gelar ACCA setelah sebelumnya menempuh dua ujian kualifikasi ACCA yaitu modul F5 (Performance Management) dan F8 (Auditing & Assurance) dan sekarang ini sedang bekerja di perusahaan Big Four. Setelahnya, tiga mahasiswa UII diberikan kehormatan untuk menjadi pembicara dalam acara ini.

Selanjutnya, pemberian apresiasi juga diberikan kepada dua mahasiswa yang berhasil lulus satu ujian ACCA yaitu Fira Fimanila lulus modul F8 (Auditing & Assurance) dan Nadhira Fitriani lulus modul F5 (Performance Management). Acara ini diadakan untuk memberikan apresiasi sekaligus memberikan motivasi kepada mahasiswa baru untuk bisa seperti alumni-alumni mereka yang telah sukses. Dalam sambutannya, Mahmudi menyampaikan bahwa untuk memperoleh gelar ini diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan kedepannya diharapkan banyak dari mahasiswa akuntansi dapat memperoleh gelar advance diploma bahkan nanti bisa professional level. Beliau mengatakan “Program ACCA ini levelnya Internasional yang dapat mempersiapkan mahasiswa UII dengan kualifikasi dan kompetensi pada level Internasional.”

Dalam kompetisi global ini, Imam Djati juga mengatakan bahwa persaingan merebutkan dunia pekerjaan sangat ketat dan diharapkan mahasiswa UII berbekal kompetensi yang dibutuhkan perusahaan besar global seperti dengan sertifikasi-sertifikasi yang diakui oleh global. Dengan sertifikasi ini diharapkan mahasiswa UII dapat bersaing di dunia Internasional. Lyanda Pasadhini, salah satu penerima gelar advance diploma dari ACCA mengatakan bahwa sebuah kelulusan dari ACCA itu bukanlah point utamanya, “ Point utama adalah kalian akan mempunyai  yang membuat kalian menjadi professional dan akan membedakan kalian dari teman-teman kalian yang hanya S.Ak.,” tandasnya. Dengan adanya acara ini, prodi Akuntansi berharap bahwa kedepannya mahasiswa prodi Akuntansi FE UII dapat termotivasi untuk mengikuti jejak penerima gelar ACCA agar bisa menjadi akuntan ataupun professional keuangan yang dapat bersaing dengan dunia global. (VRS)

Pada kamis malam (5/07), Manifest menggelar acara dengan mengundang Cak Nun sebagai pengisinya. Manifest merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen atau yang biasa dikenal dengan Management Community ( MC) FE UII. Manifest terdiri dari beberapa rangkaian acara yakni sosial, sport, entertainment, dan edukasi. Acara yang dikemas dalam tajuk “Sinau Bareng Cak Nun Dan Kiai Kanjeng” merupakan salah satu rangkaian acara dalam bidang edukasi. Pengajian tersebut digelar di Balai Padukuhan Dero, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta telah mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat.

Salah satu pendakwah terkenal di Indonesia adalah Emha Ainun Nadjib atau yang biasa dikenal dengan Cak Nun, beliau merupakan seorang tokoh intelektual muslim dan budayawan asal Jombang, Jawa Timur. Acara pengajian ini dihadiri pula oleh Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag selaku Wakil Rektor UII bidang kemahasiswaan, keagamaan dan alumni serta Faaza Fakhrunnas, SE., M.Sc selaku perwakilan dari Dekan Fakultas Ekonomi UII.

Luasnya padukuhan Dero nyatanya tidak mampu membendung antusias dari para jamaah yang hadir. Jemaah terlihat memenuhi lokasi bahkan hingga memenuhi jalanan yang aksesnya sengaja ditutup oleh panitia, karena sebelumnya telah memprediksi besarnya animo masyarakat yang datang. Sudah menjadi rahasia umum ketika Cak Nun menjadi pengisi pengajian maka banyak sekali jemaah yang akan mengikuti kajiannya. Andre selaku Liaison Officer Cak Nun menyampaikan “Lebih dari 2.500 jemaah datang untuk menghadiri acara ini”.

Manifest sendiri mengusung tema “Inclusive Society” yang merupakan sebuah lingkup sosial yang terdiri dari masyarakat dengan perbedaan ras, suku bangsa, kepercayaan, sudut pandang, status sosial dan ekonomi dimana mereka merasa diterima, tanpa memperdulikan perbedaan yang dimiliki. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan rasa menghargai perbedaan antar sesama serta membentuk dan mendorong terbentuknya suatu masyarakat inklusif. Tujuan meningkatkan rasa menghargai perbedaan antar sesama sangat tercerminkan pada malam itu, pasalnya Cak Nun mengajak salah satu temannya untuk menjadi personil pada malam itu. Seorang wanita yang berasal dari Amerika biasa disapa “Bu Ann” yang saat ini tengah mempelajari musikologi etnik di Indonesia. Bu Ann pandai berbahasa Indonesia, bahkan ia dapat melantunkan Sholawat.

Cak Nun selalu memiliki bahasan yang menarik, menyisipkan guyonan, serta menggunakan bahasa yang terkesan santai yaitu campuran Bahasa Indonesia dan Jawa. Ia sangat pintar dalam membawa suasana, serta berdakwah dengan sederhana. Menerapkan bentuk duduk lesehan dengan tikar menciptakan kedekatan antar jemaah yang melebur bersama tanpa adanya perbedaan status, ras, bahkan agama.

Para petinggi universitas pun turut duduk bersama di tikar tersebut. Beliau meminta 3 kelompok berisi 5 orang untuk berdiskusi mengenai sistem hukum yang hidup berdampingan dengan kita. Mayoritas berpendapat sama, yaitu keluarga, masyarakat, negara, agama dan alam. Dan menurut mereka yang paling mengikat adalah hukum agama, namun sebagian menjawab adat adalah yang paling mengikat. Beliau juga memberikan pertanyaan mengenai apa sumber utama kepantasan dalam hidup. Akhlak atau moral, cinta, filosofi, nurani, ruh dan lain-lain berada di level diatas hukum, namun tidak ada jawaban yang benar. Menurut Cak Nun semua dikatakan ‘dinamis’, semua berdampingan.

Cak Nun menyampaikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita  melekat pada dua hukum yaitu hukum negara dan agama, akan tetapi hukum yang lebih terikat dengan kita adalah hukum negara. Kepandaian Cak Nun dalam menyampaikan kajian melalui kata demi kata serta diselingi sholawat menggema bersama jemaah, membuat acara yang di mulai dari lepas isya hingga tengah malam menjadi terasa singkat. Rangkaian acara tersebut ditutup dengan bersalaman antara Cak Nun dan jamaah. (LN/DMR)