Kegiatan orientasi dan pengenalan kampus Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) atau yang dikenal juga dengan Semangat Ta’aruf (Semata) mengadakan kegiatan SemaTalks 4.0 dengan tema “UII Alumni: How the  World Sees Us” yang diadakan secara online via live Youtube bersama salah satu alumni Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia Bapak Restu Satriotomo, SE, MBA. 

Restu Satriotomo menjelaskan bahwa, mahasiswa harus selalu haus akan ilmu dan kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya, “Jangan sampai adik-adik membatasi kemampuan adik-adik sendiri. Sebenarnya UII menjadi tempat untuk menutup segala kekurangan itu”. Restu Satriotomo yang merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2000 memiliki semangat yang tinggi untuk kuliah di luar negeri meski tantangan yang harus dihadapi sangatlah berat. Restu Satriotomo menjelaskan bahwa dia menjalani ujian TOEFL (Test of English as a Foreign Language) sampai tujuh kali. Tetapi tidak pernah merasa gagal dan tetap terus mencoba sampai akhirnya diterima di Cleveland States University, USA.

Banker yang juga merupakan pianis ini menceritakan tapak tilasnya mencapai cita-citanya. Restu menyampaikan, “Wajar bila kita cenderung lambat dalam mempelajari bahasa asing, tetapi karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang fleksibel, maka jika ada keinginan yang kuat untuk mempelajari bahasa asing maka kita pasti bisa”.

Pada saat Restu berkuliah di FBE UII, ia sangat tertarik di bidang saham sehingga bergabung dalam anggota Pojok BEI (Bursa Efek Indonesia) adalah langkah awalnya untuk mengejar passion-nya. Salah satu ilmu investasi yang masih ia terapkan hingga saat ini yaitu value investing yang merupakan ilmu investasi jangka panjang.

Restu memberikan tips untuk para mahasiswa baru menentukan cita-cita mereka sejak semester pertama, karena pada saat lulus, kebimbangan akan karir selanjutnya pasti terjadi. Sembari menunggu pengumuman kelulusannya di USA, ia magang di BNI Securities untuk mendapatkan berbagai ilmu finance. Setelah ia diterima menjadi mahasiswa MBA (Master of Business Administration) di Cleveland States, perjuangannya masih belum berakhir karena kemampuan bahasa inggrisnya yang belum sesuai dengan standar universitas tersebut, serta tingginya biaya hidup di Negeri Paman Sam juga menuntutnya untuk mencari pekerjaan tambahan. 

Pengalaman mengelilingi benua dari Amerika hingga Eropa ini, membuat Restu tidak hanya mempelajari ilmu teoritis dan akademik dari negara-negara yang pernah ia singgahi. Dalam salah satu kalimatnya ia menerangkan, “Pola pikir kita karena exchange knowledge akhirnya otomatis terbawa. Tidak lagi narrow minded, tetapi mulai open minded yang tidak secara teori lagi tapi by experiences, ini bermanfaat dalam bisnis internasional karena setiap kita bernegosiasi bisnis kita harus tahu pendekatan culturenya seperti apa”.

Investasi merupakan kegiatan ekonomi yang sangat menjanjikan di masa pandemi ini. Demi memaksimalkan kesempatan investasi tersebut, Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) mengadakan kegiatan orientasi dan pengenalan kampus yang disebut dengan Semangat Ta’aruf (Semata) 2020 hari ketiga secara daring melalui platform siaran langsung YouTube berupa talkshow bertema “Investasi sebagai Solusi Finansial Anak Muda” bersama Ketua Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM), Rahim Hardiarto dan seorang anggota KSPM yakni Afiq Kamal Rizki, serta diikuti lebih dari 500 peserta.  

Dengan diadakannya talkshow bertemakan investasi, diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa baru untuk memulai melakukan investasi. Riset mahasiswa FBE UII membuktikan bahwa hingga saat ini hanya 5% mahasiswa FBE UII yang melakukan investasi. 

Anggota KSPM FBE UII, Afiq menyampaikan bahwa investasi dan menabung merupakan tindakan dalam menyisihkan beberapa bagian dari pemasukan untuk disimpan. Dengan melakukan investasi, maka dapat memperoleh keuntungan di masa yang akan datang.

Afiq menyebut investasi adalah menabung yang bisa memberikan keuntungan. Dengan melakukan investasi, maka dapat melawan inflasi karena bukan tidak mungkin, setiap tahunnya harga barang yang diinvestasikan akan terus meningkat. Ia lantas mengingatkan bahwa investasi juga tidak selalu memberikan keuntungan, artinya tetap ada resiko yang harus diterima. Menurut Afiq, tujuan investasi atau keuntungan lainnya yang tidak kalah penting ialah untuk pendidikan, menikah, anak, keluarga, dan untuk masa tua. Sehingga sebaiknya jangan menunda untuk melakukan investasi.

“Ketika memutuskan untuk melakukan investasi, maka silahkan pilih investasi yang sesuai dengan keinginan diri sendiri. Jangan sampai mengikuti atau dipengaruhi oleh keputusan orang lain,” kata Afiq.

Lebih lanjut, langkah awal yang dapat mengarahkan kita pada keputusan investasi yang tepat yaitu dengan memahami terlebih dahulu profil resiko dari investasi tersebut. Diantaranya terdapat beberapa istilah, yakni konservatif yang memiliki resiko minim, moderat berada di antara konservatif dan agresif, sedangkan agresif mencari keuntungan besar dengan resiko yang ada.

Di sisi lain, Rahim Hardianto selaku Head of KSPM FBE UII secara pribadi memilih melakukan investasi dengan penanaman saham. “Sebelum melakukan investasi, sebaiknya memang memahami profil resiko. Dengan begitu, kita bisa mengetahui apakah keuntungan yang diperoleh sesuai dengan kerugian yang didapatkan,” ujarnya. 

Rahim Hardianto berpesan, “Jika kalian ingin mendapatkan passive income ketika tua nanti, saya sarankan kalian untuk mulai investasi sejak kini,” ujarnya. “Ayo kita investasi dari sekarang! Karena dengan investasi kita tidak hanya membantu diri sendiri, namun juga membantu orang lain dan negara,” tutup Afiq. (SSL/ARA)

Pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan yang tidak dapat dihindari. Namun, ternyata perubahan ini membawa banyak kebaikan untuk lebih preventif dan visioner dalam mempersiapkan masa depan. Organisasi memerlukan sosok pemimpin yang mampu mempertahankan perusahaan dengan keputusan terbaik.

Dengan adanya isu kepemimpinan masa depan ini, Selasa (17/09) Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia mengadakan webinar yang bertajuk “Implementasi Kepemimpinan Efektif pada Era Virtual: Strategi Mengelola Sumber Daya Manusia pada Masa Pandemi Covid-19 (Future Leadership Theory in Digital Era)”.

Rumusan dan bangunan konseptual mengenai future leadership theory telah dijelaskan secara lengkap oleh Dr. Dra. Trias Setiawati, M.Si. Menurutnya, sosok pemimpin masa depan harus bisa menguasai banyak bidang seperti bisnis, media, dan teknologi. Selain itu, dibutuhkan pula pengikut yang memiliki jiwa yang sama dengan sang pemimpin agar keduanya dapat bekerja sama dengan baik. “Perlu dilakukan penelitian empiris dengan berbagai metode dan berbagai area agar dapat menemukan model kepemimpinan masa depan future leadership theory,” ujarnya. 

Shina Setia, S.Psi., M. Com. selaku narasumber mengatakan, “Yang kita butuhkan pada saat ini adalah Technology Leadership. Penguasaan teknologi merupakan kecakapan hidup (life skills) yang penting. Penguasaan teknologi merupakan peluang untuk pembangunan ekonomi dan persyaratan untuk dipekerjakan (employability)”.

Ia memaparkan empat permasalahan online learning di Indonesia, yaitu jaringan infrastruktur belum memadai, sinyal internet tidak stabil, dan tidak semua siswa memiliki digital tools pendukung untuk online learning. Kemudian, tidak semua guru dan siswa memahami teknologi, serta orang tua siswa juga menanggung beban ekonomi yang cukup berat, seperti pulsa internet, membeli perangkat untuk sekolah daring. Sehingga, menurutnya technology leadership ini adalah jawaban dari permasalahan-permasalahan tersebut. 

Herry Zudianto, S.E., Akt., M.M menjelaskan konsep kepemimpinan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang bisa mempengaruhi dan memberikan inspirasi kepada lingkungan kita atau orang lain. Tugas pemimpin adalah seseorang yang dapat menggerakkan. “Seorang pemimpin harus mempunyai visi agar organisasinya dapat berjalan, mampu mendahului, dan meramal arti ilmiah, karena di dunia ini tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri,” ujarnya.

Beliau mengatakan, “Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mendengar yang baik dan dapat membaca lingkungan dari aspek sosial hingga ekonomi. Sampai nantinya kita bisa mendengar pemikiran dari orang-orang sekitar kita karena adanya komunikasi yang baik antara pemimpin dan masyarakat. Pemimpin harus peka terhadap perubahan dan aspirasi yang nantinya berdampak pada keberanian dalam mengambil keputusan terbaik. Dan yang terakhir, seorang pemimpin harus memiliki konsistensi, karena konsistensi berjalan beriringan dengan keteladanan”. (LIN/ARS)

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia adakan talkshow melalui kanal Instagram Live pada Rabu, (16/09). Kegiatan ini merupakan salah satu dari berbagai rangkaian acara Semangat Ta’aruf (Semata) 2020. Dengan menghadirkan Idznila Sabrina sebagai pembicara, acara ini mengusung tema “Tips from Expert: How to Balance our Academics and Social Life” dan diikuti oleh para mahasiswa baru Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII).

Acara dibuka oleh Haniyyah Aziz selaku moderator, lalu dilanjutkan dengan diskusi. Dalam paparannya, Idznila menyebutkan bahwa salah satu hal yang membuatnya aktif berkegiatan di luar akademik adalah dengan mengikuti akun-akun lomba maupun akun motivasi di Instagram. Selain itu ia juga menjelaskan, “Jangan takut untuk ngomong ke dosen kalau punya keahlian di luar kelas karena dosen pasti mau mendukung dan memfasilitasi. UII pasti juga akan mendukung kalian untuk menjadi the best version of yourself”.

Idznila juga bercerita terkait dengan pengalaman organisasi dan pengalamannya saat berkuliah. “Supaya bisa balance antara akademik dan kegiatan non akademik, kita kuliah di UII jangan biasa-biasa aja. Harus aktif dan harus terus melangkah, apapun itu. Lakukan apa yang kamu suka dan tinggalkan apa yang kamu nggak suka. Tapi kuncinya kamu harus aktif,” jelasnya.

Ia pun turut berbagi cerita tentang masa kecilnya. Sejak kecil ia kerap mengikuti berbagai lomba seperti speech dan news reading. Karena kegemarannya dalam dunia public speaking, semasa kuliahnya pun ia bergabung dengan MUN (Model United Nation).

Sejak awal menjajaki dunia perkuliahan, Idznila terus membiasakan diri untuk selalu menjadi lebih baik. Perempuan yang baru saja lulus ini mengaku, suksesnya tidak lepas dari peran serta kedua orangtuanya yang selalu mendukung. ­Merekalah yang selalu menjadi pengingatnya di kala keadaan sedang tidak bersahabat.

Memiliki nilai yang baik dan kehidupan sosial yang seimbang ternyata diikuti dengan trade-off atau konsekuensi yang tidak terlalu mudah. “Ada hari-hari dimana kamu harus bangun lebih pagi untuk pergi kuliah dan ada juga hari-hari dimana kamu harus pulang lebih malam karena kegiatan organisasi yang juga tidak kalah penting,” sambung Idznila.

Pada akhirnya, semua potensi yang akan diraih itu tergantung dari seberapa kuat keyakinan yang ada di dalam diri. Idznila berpesan, “Suporter terbesarmu adalah dirimu sendiri. Kamu harus yakin. Kalau kamu nggak yakin, gimana orang lain bisa yakin?”.  (DHK/ALS)

Selasa (15/9), kegiatan orientasi dan pengenalan kampus Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia atau yang dikenal dengan Semangat Ta’aruf (Semata) harus mengadakan kegiatannya secara daring melalui platform Instagram bersama dosen Program Studi Manajemen, Bagus Panuntun, S.E.,M.B.A. yang diikuti lebih dari 400 peserta. Talkshow dengan tema “Melihat Potensi Bisnis Sebagai Mahasiswa/i” yang dilatarbelakangi dari tingginya angka pengangguran terdidik.

Sebagai intelektual, kemampuan berpikir seorang mahasiswa/i harus diimbangi dengan awareness yang tinggi terhadap lingkungan sosial tempat dimana ia berada. Hal ini terjadi karena mahasiswa diharapkan dapat menjadi mujtahid sehingga menghasilkan suatu pemikiran, gagasan-gagasan dalam proses pembelajaran, dan juga pengabdian kepada masyarakat. 

“Bisnis yang bisa dilakukan pada masa kuliah itu banyak karena waktu kita fleksibel untuk belajar secara mandiri (akademik dan non akademik), terlebih yang telah mempunyai pengalaman sebagai online shopper. Semua jenis bisnis bisa dilakukan karena sekarang telah dibantu oleh teknologi. Keberuntungan dari bonus demografi yang baik menjadi kesempatan terbaik pula untuk mahasiswa/i menciptakan industri kreatif,” ujar alumni sekaligus Dosen FBE UII.

Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa jangan jadikan berbisnis sebagai jalan terakhir karena tidak mendapatkan pekerjaan seperti karyawan. Padahal perlu diketahui, pebisnis itu create opportunity hingga problem solving-nya. Sedangkan karyawan hanya perlu problem solving. Sehingga beliau menyarankan agar mahasiswa/i memanfaatkan waktu kuliah 3,5 tahun untuk mulai merintis bisnis sejak semester satu. Dosen yang juga aktif di IBISMA UII (Inkubasi Bisnis & Inovasi Bersama UII) ini juga menerangkan bahwa berbisnis bukan perkara yang mudah, membutuhkan waktu untuk trial and error, sehingga masa kuliah adalah masa yang tepat untuk itu. “Bisnis itu yang penting founder-nya bukan modalnya,” tutur Dosen Prodi Manajemen tersebut.

Bagus Panuntun juga memberikan resep tentang logika berbisnis, “Pastikan jangan banyak bicara karena kita hanya memiliki satu mulut, cukup banyak memperhatikan karena kita memiliki dua mata, perbanyak mendengarkan karena kita memiliki dua telinga, dan banyak bekerja karena kita memiliki dua tangan. Melek teknologi dan mau beradaptasi adalah tips untuk membangun sebuah bisnis, karena bisnis harus di eksekusi bukan hanya sebuah ide”.

Tidak hanya itu, Dosen FBE UII ini juga tak lupa memberikan motivasi untuk para peserta, “All our dream can come true, if we have the courage to pursue them dan sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”. (NAP/FNL)

Revolusi Industri 4.0 merupakan sebuah contoh betapa kencangnya laju perkembangan teknologi masa kini. Salah satunya yaitu penguasaan keterampilan dan kemampuan akademik tanpa adanya batasan ruang dan waktu. Segala bentuk keterbatasan akibat adanya Covid-19, tidak menjadi hambatan dalam mewujudkan internasionalisasi perguruan tinggi. Seperti yang dilakukan oleh Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) dengan menggandeng Universiti Teknologi MARA (UiTM), mengubah sistem program pertukaran pelajar yang sebelumnya dilakukan secara langsung, harus digantikan menjadi sebuah program Virtual Study Exchange.

Sekretaris Program Studi Akuntansi Program Internasional, Ayu Chairina Laksmi, S.E, M.App.Com., M.Res., Ak., CA., Ph.D. menyampaikan komitmen Program Studi Akuntansi dalam membantu meningkatkan kualitas mahasiswanya. “Kami selalu berusaha yang terbaik dalam membantu mahasiswa kami untuk selalu meningkatkan dan memperbaiki kemampuan dirinya sendiri,” ungkapnya.

Kegiatan yang diselenggarakan melalui Zoom meeting pada Sabtu (5/9) ini merupakan sosialisasi mengenai program Virtual Study Exchange dengan Universiti Teknologi MARA Malaysia (UiTM). Pelaksanaan program pertukaran pelajar yang berada di tengah pandemi, tentu perlu dilakukan berbagai inovasi dan perubahan strategi dengan melibatkan kemajuan perkembangan teknologi informasi serta komunikasi dalam mendukung program ini. Sehingga mahasiswa tidak diwajibkan untuk datang langsung ke Universiti Teknologi MARA Malaysia (UiTM), namun pembelajaran akan dilakukan secara daring dengan pemanfaatan media digital, seperti melalui aplikasi Google Meet, Zoom Meeting, maupun aplikasi video conference lainnya.

Rifqi Muhammad, S.E., M.Sc. Ph.D selaku Sekretaris Program Studi Akuntansi Program Sarjana, menjelaskan regulasi penerimaan calon peserta program Virtual Study Exchange dimulai dari pendaftaran, pengumpulan curriculum vitae (CV), seleksi administrasi, dan kemudian lanjutkan dengan seleksi wawancara. Program ini diperuntukkan bagi mahasiswa angkatan 2019, khususnya mahasiswa yang sedang menempuh semester tiga. Program Virtual Study Exchange akan dilaksanakan dalam jangka waktu yang relatif singkat, yaitu selama satu semester pada semester ganjil tahun ajaran 2020/2021. Para mahasiswa yang terpilih untuk mengikuti program ini pun akan difasilitasi dengan beasiswa penuh oleh FBE UII. Selain itu, nilai mata kuliah yang mereka tempuh juga bisa dikonversi dengan mata kuliah yang ada di UII.

Terciptanya kerja sama internasional melalui Student Exchange ini diharapkan dapat membantu mahasiswa agar siap menghadapi setiap tantangan di era revolusi industri. Serta menjadikan mahasiswa sebagai global citizen yang memiliki pengalaman yang luas. “Kami juga berkomitmen untuk memproduksi lulusan yang memiliki global business inside, yaitu memiliki pandangan yang luas tentang dunia bisnis yang global serta pentingnya membangun network yang baru dan pengalaman internasional,” ujar Ayu Chairina Laksmi. (AAP/SAR)

Pada saat ini, masyarakat Indonesia masih dihadapkan dengan Covid-19, dimana peristiwa tersebut menjadi faktor penghambat aktivitas manusia di luar ruangan dan penghambat laju ekonomi di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) menyelenggarakan webinar yang bertajuk “Tantangan dan Peluang Industri ‘Fintech’ di Masa Pandemi Covid-19”, yang diselenggarakan pada hari Selasa (1/9). Pada kesempatan ini, Program Studi Manajemen FBE UII menghadirkan pembicara yang ahli  pada sektor fintech, yaitu Tries Yulianto (Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan), Syafri Yuzal, S.E., MBA. (Direktur Bisnis PT. Aino Indonesia), dan Arif Singapurwoko, S.E., MBA. (Dosen Manajemen FBE UII). Sesi ini diikuti oleh beberapa kalangan, baik itu mahasiswa, dosen, dan juga praktisi.

Fintech merupakan hal yang tumbuh dengan pesat di Indonesia. Pada masa krisis seperti ini, tentu gaya masyarakat harus lebih mengutamakan aktivitas secara online. “Dulu ketika ingin melakukan perjalanan ke luar kota, kita sibuk harus ke bandara, stasiun, dan sebagainya untuk memesan tiket. Berbeda dengan zaman sekarang yang serba digital,” ungkap Tries Yulianto selaku Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. Menurut data yang dipaparkan oleh Tries Yulianto, per Juni 2020 terdapat sekitar 299 perusahaan yang berkaitan dengan fintech di Indonesia. Angka tersebut  tentu menunjukkan bahwa Indonesia saat ini telah didominasi oleh teknologi.

Selama masa pandemi Covid-19, masyarakat semakin mudah untuk beradaptasi dengan digitalisasi terutama dalam bidang fintech. Contohnya, orang yang sebelumnya tidak pernah berbelanja online menjadi ingin untuk berbelanja online dengan ada pandemi seperti sekarang ini. “Fintech hadir menawarkan ekosistem sebagai solusi,” ujar Syafri Yuzal, Co-founder dan CEO dari PT Aino Indonesia. Beliau menjelaskan bagaimana perilaku konsumen berubah karena dampak dari pandemi Covid-19. PT Aino sendiri berusaha untuk terus melakukan inovasi seperti contohnya Touchless, Cashless, Cardless, dan Deviceless.

Menata kembali fintech di Indonesia, materi tersebut berusaha untuk di sampaikan oleh Arif Singapurwoko selaku Dosen Manajemen FBE UII. Hal yang harus di tata meliputi aspek internal dan eksternal. Mulai dari regulasi fintech sudah harus dimunculkan image “Kawan” agar fleksibel dan optimal dalam penggunaannya, secara ekosistem fintech di atur dengan menciptakan norma dan tata cara untuk meminimalisir penyalahgunaan, dan pembuatan pedoman yang jelas untuk mempermudah tata kelola. Bapak Arif Singapurwoko juga berpesan, “Penggunaan Digital Payment atau E-Wallet tetap harus memperhatikan risiko yang mungkin muncul seperti hacking atau peretasan,” ujar Arif Singapurwoko. (KAYK/MA)

Perlambatan ekonomi tampaknya menjadi isu hangat disaat pandemi ini. Banyak hal yang perlu dibenahi oleh negara untuk menyelamatkan sistem ekonomi. Menanggapi hal tersebut, Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) menggagas National Conference on Accounting and Finance (NCAF) yang ke-4 dengan tajuk “Strategi Adaptasi dan Resiliensi Organisasi Menghadapi Pandemi” pada Rabu, (26/8) secara virtual.

Dalam kegiatan atas kerjasama dengan IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) ini, Rofikoh Rokhim menjelaskan, “Secara overall, kita masih bisa optimis karena di semester dua sudah mengalami perbaikan. Dilihat dari indikator perbankan, aset perbankan masih mengalami kenaikan karena masih ada kredit yang tumbuh hingga 4,2% dan deposito 12%,”. Angka-angka tersebut ditemui berdasarkan kebutuhan modal masyarakat yang relatif tinggi serta tumbuhnya kesadaran untuk menabung di masa ketidakpastian.

Namun, kondisi pandemi ini juga tidak bisa diremehkan karena sangat berpengaruh pada berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan. “Tidak mungkin membicarakan pendidikan tanpa memikirkan dampak ekonomi yang menyertainya. Dengan adanya mahasiswa yang diibaratkan turis yang menetap selama empat tahun. Ya, selama itulah mereka turut menggerakkan ekonomi rakyat untuk kebutuhhan sehari-harinya,” kata Prof. Fathul Wahid selaku akademisi UII.

Terkait dengan kondisi ekonomi saat ini, Sandiaga Uno yang juga jadi pembicara menegaskan bahwa rasa optimis juga harus dibarengi dengan kewaspadaan. “Melihat kondisi saat ini, angka perlambatan ekonomi Indonesia diibaratkan sudah mencapai di dasar jurang,” ungkapnya. “Apa itu kekuatan utama ekonomi kita? Yaitu UMKM dan ekonomi rakyat,” lanjutnya.

“Permasalahan setingkat ini tidak bisa menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Karenanya, perlu ada kolaborasi berskala besar. Dengan demikian, pemerintah sangat mendukung penuh momentum kejayaan UMKM (Unit Mikro, Kecil, dan Menengah),” terang Dr. Sri Haryati, mewakili Gubernur DKI Jakarta. Dukungan pemerintah ini juga telah direalisasikan dengan adanya website jakpreneur.jakarta.co.id yang memungkinkan kolaborasi antar pelaku UMKM. Tidak hanya itu, UII juga sangat mendukung kebangkitan perekonomian, dibuktikan dengan direalisasikannya Warung Rakyat yang diyakini dapat mengintegrasikan antar UMKM. 

Selain itu, tindakan pemerintah yang tepat yaitu dengan memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada masyarakat. “BLT diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian Indonesia dengan cara membelanjakannya untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Sandiaga Uno, selaku mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta. “Belanja kebutuhan sehari-hari ke tetangga, ke UMKM, ataupun ke grup arisan. Gunakan produk saudara kita untuk memperbaiki ekonomi,” tambahnya. Hal ini juga ditegaskan kembali oleh Prof. Rofikoh Rokhim selaku Dosen FBE UII yang juga menjabat sabagai Komisaris Independen PT BRI (Persero) Tbk. “Dengan penggunaan produk lokal, maka middle income trap akan dapat dihindari,” tutupnya. (AMA)

 

Transformasi atau dalam kata lain inovasi tentunya satu hal yang harus selalu kita tingkatkan seiring berjalannya waktu. Dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia, telah terjadi banyak transformasi terhadap tantangan yang ada, seperti integritas terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sering dipertanyakan sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi aparat negara untuk fokus meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat dan terus memperbaiki pola pemerintahan. Dalam menanggapi kondisi tersebut, Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia menyelenggarakan webinar melalui media Zoom yang bertajuk “Inovasi Birokrasi Di Masa Dan Pasca Pandemi” bersama Rini Widyantini, SH., MPM, selaku Deputi Bidang Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KEMENPAN RB) dan Arief Rahman, SE., M.Com., Ph.D, selaku Dosen Akuntansi Universitas Islam Indonesia.

Dalam dunia teknologi, sudah banyak negara yang telah mengubah segala hal mulai dari cara manusia bekerja sehingga berkomunikasi dan penggunaan IT atau Internet of things mendorong dunia untuk berusaha mengubah mode pelayanan. “Bapak Presiden juga sudah beberapa kali mengatakan bahwa kita sudah harus beralih ke Artificial Intelligence dalam pemerintahan,” ujar Rini Widyantini. Oleh karena itu, pemerintah diharuskan untuk bergerak cepat dalam merespon kebutuhan masyarakat secara progresif dengan menerapkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

Secara global, indeks SPBE Indonesia meningkat dari peringkat ke-107 pada tahun 2018, sekarang meningkat menjadi peringkat ke-88. Suatu peningkatan yang sangat baik dalam penerapan transformasi digital di Indonesia.

“Perubahan inovasi birokrasi di era pandemi ini harus mengubah kebiasaan masyarakat terlebih dahulu karena masih banyak masyarakat yang kurang melek teknologi dan masih minimnya layanan internet,” ujar Arief Rahman. “Di era pandemi ini, bisa menjadi momentum untuk melakukan perbaikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta tetap menjaga dan melanjutkan momentum itu ketika pandemi selesai, karena banyaknya manfaat TIK pada segala bidang,” tambahnya.

Adanya lima langkah presiden dalam melakukan transformasi digital menjadi acuan KEMENPAN RB dalam melakukan transformasi kebijakan. Salah satunya segera lakukan percepatan perluasan akses, peningkatan infrastruktur, dan penyediaan layanan internet ini menjadi sangat penting di era pandemi saat ini. 

“Pada tahun 2019 sampai 2024, Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KEMENPAN RB) bergerak untuk meningkatkan birokrasi dan menuju Smart Governance, dimana penerapan penuh SPBE sebagai pendukung pencapaian sasaran pembangunan nasional, pembangunan lintas sektor dan berbagai proses bisnis,” jelas Rini Widyantini. Menurutnya, perlu adanya kolaborasi yang melibatkan mitra pembangunan dalam membangun sinergi perusahaan dengan pemerintah.

“Tanpa kolaborasi yang kuat antar instansi pemerintah dan masyarakat maka SPBE dan birokrasinya yang responsif, dinamis dan inovatif tidak dapat tercapai,” tutup Rini Widyantini. (AAM/MRF)

Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi saat ini sangatlah pesat. Semua kegiatan ekonomi tampaknya harus dapat beradaptasi pada perubahan. Semula dilakukan secara manual, kini telah beralih ke digital. Salah satunya, seperti yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang terus berupaya memperbarui sistemnya sehingga dapat menyesuaikan dengan era digital saat ini. Dengan itu, DJP bersama dengan Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) mengadakan webinar yang bertajuk “Digitalisasi Pelaporan Perpajakan (Implementasi E-Bupot)”, sebagai sarana pemberian informasi yang berguna bagi para wajib pajak dalam menghadapi perubahan teknologi pada Selasa, (25/8). Kegiatan kali ini dibersamai oleh Yunipan Nur Yogantara, Moh. Fuad, ST., MT, dan Shanti S. Sudarmadi, S.S. T. selaku perwakilan dari Kanwil DJP Yogyakarta serta Sinta Sudarini yang mewakili Harto Basuki selaku ketua Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Memaparkan tentang sistem pajak yang terbaru, Yunipan Nur Yogantara mengatakan, “E-Bupot yaitu bukti pemotongan pajak penghasilan (PPh) pasal 23/26 secara elektronik. Dengan aplikasi ini, wajib pajak dapat melaporkan secara online, sehingga lebih memudahkan,”. E-Bupot (Elektronik Bukti Pemotongan) sebenarnya telah dicanangkan semenjak tahun 2017 hingga tahun 2019 mulai dari tahap realisasi 1-5, hingga pada akhirnya tahun 2020 E-Bupot telah siap untuk diimplementasikan secara nasional pada September mendatang. Ia juga menjelaskan bahwa E-Bupot memiliki sistem pengamanan dengan menggunakan tanda tangan dan sertifikat elektronik.

“Digitalisasi perpajakan harus selalu update terhadap teknologi. Seperti yang kita tahu, dari bulan Maret telah ada Covid-19 yang juga telah mengubah kebiasaan tatap muka menjadi kegiatan secara daring. Hal ini juga berdampak pada perpajakan, yang seharusnya bulan Maret lalu merupakan puncak dari pelaporan SPT (Surat Pemberitahuan Pajak) tahunan pribadi, justru diperpanjang hingga tiga bulan kemudian dan itupun dibuka secara terbatas. Namun, bukan berarti layanan pajak berhenti, melainkan beralih menjadi layanan secara daring,” ungkap Fuad selaku Kepala seksi Bimbingan Penyuluhan dan Pengelolaan Dokumen DJP Yogyakarta.

Melanjutkan pernyataannya, Fuad juga menjelaskan alasan diberlakukannya pelaporan pajak secara online. “Untuk mengurangi penggunaan kertas, mempercepat proses, dan juga mempermudah wajib pajak,” ujarnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak pemotong PPh Pasal 23 dan/atau Pasal 26. Dikuatkan juga dengan landasan hukum yang ada, seperti Undang-Undang KUP (Ketentuan Umum Perpajakan), Undang-Undang PPh, dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011.

“KPP (Kantor Pelayanan Pajak) ingin selalu mengedukasi dan memberikan informasi kepada para wajib pajak. Semakin hari, semakin ingin memberi kemudahan. Bahkan ada rencana untuk membuat podcast,” tutupnya selaku perwakilan dari DJP Yogyakarta yang memiliki jargon “Pajak Kuat, Indonesia Maju”. (AMA/ARA)