“National Conference on Accounting and Finance (NCAF)” digelar kembali. Acara ini telah tiga kali digelar oleh Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) UII. Konferensi nasional ini mengangkat topik “Organisasi Publik dan Revolusi Industri 4.0” yang dihadiri oleh peserta yang berasal dari Pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Bali di Aula Utara FE UII (13/12). Acara ini juga menghadirkan dua pakar di bidangnya, yaitu Prof. Dr. Abdul Halim, Ak, MBA, CA dan Johan Arifin, M.Si, Ph.D, CFrA. 

Selaku ketua panitia acara kali ini Fitra Roman Cahaya, S.E., M.Com., Ph.D, CSRS, CSRA menyampaikan, “NCAF ini rencananya kami lakukan setiap semester, saya harap NCAF berikutnya dapat dihadiri oleh mahasiswa dari seluruh  Pulau yang ada di Indonesia. Untuk teknis konferensi yang pertama panitia akan menerima seluruh hasil riset karena tujuannya agar peserta memiliki kesempatan untuk memaparkan hasil risetnya, dan yang kedua untuk mendapatkan masukkan.”

Dr. Jaka Sriyana, M.Si selaku dekan FE UII juga menyampaikan, dalam sambutannya “Karya ilmiah ini harus kita jaga dalam aspek quality dan accessibility sehingga karya ini tidak hanya kita yang mengetahui tetapi orang lain diluar ruangan ini juga dapat mengetahui. Disisi lain semoga acara ini sebagai ajang silaturahmi kita sebagai akademisi antar perguruan tinggi khususnya bidang Akuntansi.”.

Menurut Johan selaku dosen akuntansi FE UII, dalam sesi diskusi kali ini menyampaikan “Kemajuan teknologi informasi membawa potensi ancaman (threat) organisasi atau perusahaan tidak hanya dari segi kompetitor saja tetapi dapat muncul dan berkembang dari teknologi informasi yang berkembang cepat.”

Dimasa industri 4.0, ukuran maturity sebuah organisasi/perusahaan bukan dilihat dari seberapa besar ukurannya, namun dapat dilihat dari aspek penguasaan dan penggunaan teknologi informasi dalam lingkup organisasi atau perusahaan. Akuntan adalah salah satu profesi yang terlibat langsung di dalamnya yang berpengaruh terhadap profesi tentang bagaimana akuntan harus beradaptasi dengan meningkatkan keahlian (mastering skills), wawasan dan terbuka terhadap perubahan serta mempertahankan nilai dan etika yang baik untuk berkontribusi dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang sudah terjadi sekarang ini.

Senada dengan hal tersebut Abdul Halim menambahkan, “Dalam revolusi industri 4.0 ini banyak APBN/D/Des, dalam pelaksanaannya terjadi kecurangan atau tindakan korupsi yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dari berbagai institusi dengan berbagai modus teknologi. Oleh Karena itu persiapkanlah diri dengan sebaik-baiknya, khususnya para calon sarjana akuntansi di bidang akuntansi publik atau pemerintah yang melek perkembangan teknologi, agar menjadi controller yang mumpuni, bukan untuk menjadi pelaku kecurangan atas uang negara.” (ADN/SDI)

Jika mendengar kata sejarah, yang terlintas di pikiran kita adalah suatu hal yang sangat membosankan. Banyak yang berpendapat bahwa sejarah adalah pelajaran menghafal tanggal dan tokoh. Materi yang diajarkan juga dianggap terlalu banyak. Hal itu yang membuat mata kuliah sejarah tidak disukai oleh sebagian mahasiswa.

Hal itu yang membuat Faaza Fakhrunnas, SE., M.Sc sebagai dosen mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi menginisiasi adanya “Expo Sejarah Pemikiran Ekonomi”. Acara yang berlangsung di Hall Fakultas Ekonomi UII (12/12) merupakan expo sejarah yang perdana. 

“Saya ingin menjadikan mahasiswa tidak hanya sebagai sebuah objek dan dosen terus menjelaskan materi kuliah, namun dalam perkuliahan itu mahasiswa seharusnya menjadi subjek. biarkan mahasiswa bercerita dan menyampaikan pemikirannya,” ungkap Faaza

Belajar sejarah tidak harus dilaksanakan di kelas saja, tetapi bisa juga dengan inovasi-inovasi lainnya. Harapannya Sejarah Pemikiran Ekonomi tidak hanya spesifik diketahui oleh mahasiswa Ilmu Ekonomi saja, namun dapat berbagi ke mahasiswa lain.

“Acaranya menarik, alhamdulillah temen-temen antusias sama acara ini. Sejarah yang terkesan membosankan ternyata kalau dikemas dengan baik akan menarik minat untuk dipelajari lebih dalam.” Ungkap Daniel Dahler saat mengunjungi expo ini. “Aku juga semakin semangat belajarnya, soalnya ada komunikasi dua arah antara aku sama yang jelasin,” tambahnya.

Ini merupakan salah satu inovasi metode pembelajaran. Saat expo, mahasiswa dapat saling berbagi pengetahuan mengenai mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi. Jika mahasiswa belajar sendiri namun tetap diarahkan dengan baik dan tepat, maka pembelajaran akan lebih matang dan menarik. (DYH)

Hidup dalam kebersamaan merupakan hal yang indah. Begitu juga di suatu instansi pendidikan, hubungan antara universitas dan alumni juga sangat patut untuk terus dijalin dengan baik. Silaturahmi ini memiliki manfaat agar mendapatkan relasi dan untuk membantu universitas dalam menghadapi tantangan pengelolaan perguruan tinggi. Kebersamaan dapat dirasakan dan mempunyai arti penting apabila tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya suatu kebutuhan bersama yang mengikat dan menjalin silaturahmi antar sesama alumni.

Sehubungan dengan hal itu, Jumat (6/12) Fakultas Ekonomi UII mengadakan acara Pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Program Studi di Lingkungan FE UII yang dilaksanakan di Aula Utara. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FE UII, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) IKA UII Daerah Istimewa Yogyakarta, dan segenap jajarannya serta para alumni FE UII  yang telah mengepakkan sayapnya di dunia karier.

Ramah tamah yang terjalin ini dimaksudkan untuk menyambung silaturahmi antar alumni yang membuat suasana pelantikan semakin hangat antara pengurus IKA dari masing-masing prodi yang ada di lingkungan FE UII.  

Kepengurusan ini berkedudukan sebagai pengurus pusat di Yogyakarta serta memiliki masa bakti 4 tahun periode 2019-2023. Kepengurusan IKA yang terbentuk terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan bidang-bidang lainnya dalam menjalankan kebijaksanaan maupun program kerja.

Dalam sambutannya, Didik Nur Dewantara SH MM sebagai Ketua IKA UII DPW D.I.Yogyakarta menegaskan bahwa “Peran alumni sangatlah penting untuk membantu secara khusus kebutuhan yang dibutuhkan di masing-masing prodi di dalam pengembangan prodi maupun fakultas.”

Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D. selaku Dekan FE UII dalam sambutannya turut menyampaikan rasa terima kasih untuk alumni yang sudah datang di acara pelantikan kepengurusan. “Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh alumni yang telah meluangkan waktu untuk dapat hadir pada pelantikan kali ini,  dan selanjutnya semoga kita bisa terus bersinergi untuk membina dan membangun FE UII,” pungkasnya.

Acara pelantikan berlanjut dengan agenda pemaparan materi dengan tema “Peran Strategis Alumni Dalam Meningkatkan Rekognisi Institusi” yang disampaikan oleh Abdurrahman Al Faqiih, S.H., M.H., L.LM. selaku Direktur Direktorat Pengembangan Karier dan Alumni (DPKA) UII. “Perkembangan zaman pada saat ini membuat tantangan dalam pengelolaan perguruan tinggi semakin komprehensif, karena itu tidak cukup jika hanya melibatkan tenaga pendidik saja, diperlukan juga peran alumni untuk ikut serta dalam membangun almamater kita tercinta ini”, terang Abdurrahman.

Selain itu Abdurrahman Al Faqiih juga menyampaikan bahwa Peran IKA dapat membantu UII dalam banyak hal. “IKA UII Program Studi dapat membantu UII dalam banyak hal, khususnya dalam pendataan alumni, karena faktanya alumni saat ini berjumlah kurang lebih 98.000 orang, tetapi tidak didukung dengan pengelolaan data yang baik, karena pentingnya pengelolaan data ini sehingga diharapkan IKA dapat membantu pendataan alumni-alumni”, pungkasnya.

Keberadaan alumni sangat penting untuk membawa almamaternya dalam memperluas jaringan. Harapannya IKA dapat memberikan peran agar alumni bisa saling memiliki ikatan yang erat dalam membantu memberikan pengetahuan mahasiswa dalam dunia kerja. (DH)

Saat ini kita tengah berada di masa revolusi industri 4.0 yang ternyata menimbulkan banyak isu didalamnya. Beberapa isu yang terjadi saat ini ada pada bidang penelitian, marketing, dan ambiguitas. Isu ini penting untuk didiskusikan karena akan menambah wawasan serta mengintegrasikan pendapat-pendapat yang mungkin bertolak belakang antara beberapa pihak. 

Menanggapi hal tersebut Jumat (6/12),  Program Studi Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menggelar diskusi yang bertajuk “Current Research : Impact of Goodwill on Firms Capital Structure”. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen serta mahasiswa MM FE UII. 

Turut dihadirkan juga narasumber yang memiliki keahlian di bidangnya, seperti Prof. Dr. Bany Ariffin Amin Noordin dari Universiti Putra Malaysia, Syamsul Hadi SE., MM. dari Praktisi Bisnis & Alumni MM FE UII, dan Prof. Dr. D. Agus  Harjito, M. Si. yang merupakan Ketua Prodi MM FE UII.

Untuk membuka diskusi pada acara kali ini, Prof. Dr. Bany Ariffin Amin Noordin menyampaikan terkait dampak Goodwill atau aset tidak berwujud pada struktur modal perusahaan. 

Bany mengungkapkan bahwa “Manajer perusahaan berbasis aset tidak berwujud di negara berkembang dan negara maju dapat merumuskan kebijakan pinjaman mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan manajer perusahaan berbasis aset berwujud. Selain itu, pembuat kebijakan di negara berkembang harus merumuskan terlebih dahulu terkait kebijakan pendidikan mereka. Hal tersebut dikarenakan pendidikan  merupakan salah satu komponen penting dalam berinvestasi pada perusahaan.”

Selanjutnya, Syamsul Hadi SE., MM., turut menyampaikan terkait kloning bisnis yang terjadi pada marketplace. Kloning yang dimaksud adalah adanya kesamaan bisnis antara beberapa pengusaha, hal ini akan menciptakan kesempatan dan ancaman secara bersamaan. 

Syamsul mengatakan bahwa “Kita perlu melakukan riset tentang produk populer dengan cara membuka di marketplace, belajar pada ahli, biaya produk, dan trade off.”

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. D. Agus Harjito, M. Si. juga menyampaikan bahwa ambiguitas menjadi hambatan utama pada era 4.0. Ambiguitas merupakan sesuatu hal yang memiliki makna ganda atau lebih singkatnya ketidakjelasan. 

“Untuk  mencegah adanya ambiguitas maka pemimpin perusahaan dituntut untuk memiliki kejelasan visi dan misi dalam jangka panjang. Selain itu, turut didukung juga oleh para akademisi yang memiliki kreatifitas, kompetensi serta soft skill yang memadai. Pengambilan keputusan manajemen yang fleksibel juga dapat menanggulangi adanya ambiguitas,” pungkas Agus Harjito.  (WEM/LTG)

Di masa sekarang, kehidupan kita tidak pernah terlepas dari teknologi. Hal ini menimbulkan adanya perubahan yang  terjadi secara terus-menerus seiring berjalannya waktu. Perubahan yang terjadi ternyata banyak merubah perilaku manusia menuju cara-cara baru dalam melakukan berbagai macam hal. Salah satunya yaitu dalam berinovasi dan digitalisasi pada revolusi 4.0. Kehadiran industri revolusi 4.0 menjadi penguat sekaligus tantangan bagi generasi milenial saat ini.

Kita perlu mempersiapkan diri kita untuk menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Adanya persiapan tersebut juga akan berpengaruh dengan bagaimana sudut pandang kita melihat peluang bisnis yang dapat di kembangkan pada era saat ini. Adanya pembekalan denga n metode transfer knowledge oleh orang-orang yang berpengalaman dan ahli di bidang tersebut juga akan berpengaruh besar dalam persiapan ini.

Selasa (03/12) Program Studi Manajemen FE UII mengadakan Studium Generale : “Human Capital & Business Strategies In Industrial Revolution 4.0.” Kegiatan ini mengundang dua narasumber yang ahli di bidang tersebut, yaitu Syafri Yuzal yang merupakan Business Director PT. Aino Indonesia sekaligus alumni dari FE UII dan Satya Bilal selaku Director PT. Carya Learning Center. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa dosen serta sejumlah mahasiswa dan mahasiswi angkatan 2016-2018 yang tengah mengambil mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.

Anjar Priyono selaku Ketua Prodi Manajemen mengatakan, “Kita akan berbincang mengenai isu-isu yang terkait dengan milenial revolusi industri dan semacamnya. Ini adalah salah satu bagian dari aktivitas kita untuk membekali saudara yang nantinya akan memasuki dunia kerja.”

Senada dengan hal tersebut Syafri Yuzal menambahkan, “Jadi ketika kita semua diam saja, tidak beradaptasi dengan perubahan, dan tidak memiliki keunikan, maka kita akan tertinggal dengan teknologi kemudian kita akan ketinggalan zaman. Tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang, akan jadi apa kita di lima tahun kedepan.”

Satya Bilal dalam sesinya turut menyampaikan, “Mimpi tidak bisa diatur, namun harapan bisa di setting, masa depan bangsa ada di tangan kita semua. So we need to prepare untuk menghadapi tantangan di masa depan.”

Untuk menghadapi revolusi industri 4.0., mahasiswa harus mulai belajar menempa diri dan memiliki soft skills yang nantinya akan sangat berguna sebagai bekal memasuki dunia kerja serta beradaptasi di suatu lingkungan baru. Selain itu mahasiswa juga dapat melakukan hal-hal produktif yang nantinya akan menciptakan perubahan kearah yang lebih baik. (MNZ/LTG)

Persaingan di dunia kerja saat ini memang sangat ketat. Seperti yang kita ketahui walaupun tengah menyandang gelar Sarjana, hal tersebut tidak seratus persen dapat menjamin untuk seseorang dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Sehingga sangat penting untuk setiap individu memiliki  keahlian khusus yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Menanggapi hal tersebut, pada Rabu (4/12) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) gelar workshop dan talkshow bertajuk Building Skills & Career Preparation for Millenials. Acara yang bertempat di Aula Utara FE UII kali ini,  turut menghadirkan pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya, yakni Fajaruddin Achmad Muharom, ST., Direktur PT. Raya Internasional Kosmetik, Teddie Dian Patria, SE., PIT., CEO PT. Bakoel Nusantara, serta Nur Pratiwi Novianti, S.Psi., M.Psi., Psi., Kepala UII Career Center.

Fajarrudin dalam sesinya menerangkan beberapa hal terkait lahirnya pengusaha, “Pertama dari nasab, dimana jika orangtuanya adalah seorang pengusaha dan akan mewariskan usahanya kepada anaknya. Kedua nasib, yang biasanya hal ini terjadi karena adanya unsur ketidaksengajaan. Sedangkan bila hal tersebut direncanakan dari awal maka namanya adalah design.”

“Dalam mempersiapkan karier, yang kita perlukan adalah mimpi. Dream big! But remember, dreams without goals are just dreams,” tambah Fajaruddin.

Ia juga menjelaskan bahwa ketika dreams dan goals sudah didapatkan, selanjutnya adalah mencari benchmark. Hal tersebut diharapkan dapat membantu dalam membangun mimpi menjadi sebuah kenyataan. Tidak sampai disitu, setelah mendapatkan benchmark kita juga harus mencari mentor yang tepat. Dalam membangun mimpi tersebut penting sekali untuk kita membangun sebuah kolaborasi yang akan membantu untuk mengakselerasi bisnis yang sedang  dimulai ataupun yang sedang berjalan.

Selanjutnya Teddie  Dian Patria turut menjelaskan betapa pentingnya keterampilan negosiasi dalam menunjang bisnis dan juga karier. Seperti yang ia kutip dari Carrie Fisher, “everything is negotiable, whether or not the negotiation is easy is another thing,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Nur Pratiwi Noviati turut mengungkapkan tentang bagaimana menjadi pekerja profesional yang baik. “Banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari persiapan mental, persiapan fisik, sampai persiapan dalam menghadapi wawancara kerja,” tutur Nur Pratiwi.

“Kiat-kiat yang dapat dilakukan dalam mempersiapkan mental yakni jangan mudah tergiur nama besar perusahaan, ukur kemampuan diri, jangan mudah menyerah, dan harus mau untuk selalu belajar. Tak kalah pentingnya yaitu persiapan fisik yang meliputi kondisi kesehatan tubuh,  kelengkapan berkas, dan berpenampilan sesuai dengan latar belakang perusahaan,” tambah Nur Pratiwi. (HLL/ARS)

Tahun ini, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi UII menggandeng Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) FE UII dalam menggelar acara Business Expo 2019. Kegiatan ini merupakan wadah untuk mengembangkan ide bisnis mahasiswanya, pameran yang bertemakan “Start Your Business With Your Wonderful Idea” ini digelar pada Senin (2/12). Pameran yang berlokasi di Hall Tengah Kampus FE UII kali ini diisi oleh mahasiswa manajemen angkatan 2019 yang tengah mengambil Mata Kuliah Bisnis Pengantar.

Pameran bisnis ini turut diramaikan oleh 52 tenant, yang letaknya terbagi atas dua area yakni hall tengah FE UII diramaikan oleh 45 tenant dari mahasiswa manajemen, dan area lapangan sorak yang diisi oleh 4 tenant dari Entrepreneur Community FE UII beserta 3 tenant umum yang berasal dari Program Studi Akuntansi dan Ilmu Ekonomi FE UII.

Ide bisnis yang dituangkan oleh mahasiswa dalam Business Expo ini dinilai oleh enam juri yang tentunya mumpuni di bidangnya yang juga merupakan dosen Program Studi Manajemen FE UII. Kompetisi ini dituangkan dalam tiga kategori pemenang, yaitu Best Decor Tenant yang berhasil diraih oleh tim Kuno Kini, Best Attractive Tenant diraih oleh tim Ambyar, dan Most Favourite Tenant  diraih oleh tim Aku Tahu. Setiap pemenang dari masing-masing kategori berhak mendapatkan sertifikat beserta uang pembinaan senilai Rp 500.000,00.

Tiara Shaira, mahasiswa Manajemen International Program FE UII yang juga merupakan salah satu peserta Business Expo 2019 mengungkapkan bahwa, “Acaranya seru, bisa menambah pengalaman kita. Disini kita bisa belajar bikin bisnis itu gimana, sih,” dalam wawancara. Ia juga berharap lebih agar acara seperti ini bisa digelar lebih dari satu hari. Pada kesempatan yang sama, Tiara merasa dengan adanya acara ini ia terinspirasi untuk membuka bisnis dan menekuninya.

Dinny Marcellina selaku ketua panitia Business Expo 2019 menuturkan harapannya pada pameran bisnis ini,  “Harapan untuk acara kali ini, semoga bisa diselenggarakan di tahun tahun berikutnya. Karena tidak cukup jika mahasiswa hanya diberikan teori saja, namun diperlukan praktek secara langsung untuk menambah skill berbisnis, sehingga hal seperti ini dapat menjadi gambaran dari Mata Kuliah Bisnis Pengantar yang dipelajari di kelas,” pungkas Dinny. (AFM/SAL/LIS)

Untuk mendapatkan pendidikan yang layak bukanlah suatu hal yang mustahil. Saat ini sudah banyak kampus yang menyediakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi ataupun kurang mampu. Beasiswa tentu sangat membantu orang-orang yang membutuhkan, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak mendapat pendidikan yang layak. Selain itu, cara untuk mendapat beasiswa pun sangat mudah, kita hanya perlu mengikuti prosedur dengan taat.

Untuk mengedukasi mahasiswanya, Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan info session terkait beasiswa. Acara yang diselenggarakan di Aula Utara (29/11) menjelaskan bahwa beasiswa terdiri dari dua jenis beasiswa, yaitu beasiswa internal dan beasiswa eksternal.

Hazhira Qudsyi S, Psi. M.A. selaku Kadiv. Pembinaan Kepribadian dan Kesejahteraan DPK UII menjelaskan beasiswa internal merupakan bantuan yang diberikan secara langsung oleh UII kepada mahasiswa yang membutuhkan. Ada beberapa bentuk beasiswa yang ditawarkan yaitu beasiswa Unggulan UII, Hafiz Al-Qur’an, prestasi akademik (IPK tinggi), pondok pesantren, PSB dhuafa, alumni.

Hazhira mengungkapkan bahwa “Kita harus memiliki strategi untuk mendapatkan beasiswa, beberapa tips untuk mendapatkan beasiswa, yaitu dengan aktif mengecek info tentang beasiswa di website maupun instagram kemahasiswaan UII. Selain itu pastikan membaca dengan detail informasi yang tertera di website atau Instagram tersebut. Setelah itu melengkapi segala persyaratan, melampirkan berkas-berkas, dan pastinya bersikap jujur, serta terus berdoa kepada Tuhan agar dikabulkan.”

“Kunci utama yang perlu dimiliki untuk mendapatkan beasiswa adalah kejujuran. Kenapa? Karena beasiswa merupakan suatu keberkahan, maka jika kita berbohong beasiswa yang kita dapat pun tidak berkah.” Ungkap Hazhira saat memberikan tipsnya. 

Selain beasiswa internal, kemahasiswaan UII juga menyediakan beasiswa eksternal seperti bidikmisi, PPA, Dikpora DIY, Toyota Astra, PIISEI, YVDMI, Cendekia BAZNAS, Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, BPD Syariah, Beasiswa Sarjana Muamalat dan Beasiswa Tokopedia. Untuk persyaratannya sama dengan beasiswa internal, namun diutamakan bagi mahasiswa yang memiliki nilai diatas rata-rata dan membutuhkan bantuan keuangan. 

Senada dengan hal tersebut Dr. Phill Emi Zulaifah M, Sc turut menerangkan terkait beasiswa LPDP. Beasiswa LPDP merupakan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah kepada mahasiswa. Untuk mendapatkan beasiswa LPDP ini membutuhkan usaha yang lebih besar dibandingkan dengan beasiswa internal UII seperti yang dijelaskan sebelumnya. “Pertama, kita harus mengumpulkan berkas-berkas persyaratan, kemudian mendaftar secara online. Setelah mendaftar secara online tahap selanjutnya bagi yang lolos seleksi ada tahap Leaderless Group Discussion (LGD) untuk melihat bahwa tidak adanya rasa dominan dan over exposure di antara calon pendaftar. Lalu, di tahap terakhir ada wawancara yang dilakukan oleh 3 orang, biasanya 3 orang itu terdiri dari tenaga pendidikan, psikolog dan kebangsaan,” ungkap Emi.

Kini mahasiswa tidak perlu takut untuk melanjutkan jenjang pendidikannya karena keterbatasan biaya. Banyak sekali beasiswa yang ada dan ditawarkan baik dari internal kampus maupun eksternal kampus yang dapat diikuti. (AA/DYH)

Rabu (27/11) Program Studi Magister Akuntansi  Fakultas Ekonomi (FE) UII bersama  dengan Asosiasi Program Studi S2 Akuntansi Indonesia (APSSAI) menggelar rapat kerja sekaligus Focus Group Discussion (FGD) di Eastparc Hotel Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh para akademisi dan juga praktisi yang ahli dibidangnya.  Fokus diskusi pada kegiatan kali ini adalah membangun sinergi akademisi dan  praktisi dalam memperkuat eksistensi audit forensik di era industri 4.0.

Kejahatan ekonomi merupakan persoalan yang dihadapi dunia saat ini.  Akuntansi forensik dan audit investigasi merupakan salah satu metode yang bisa digunakan sebagai kunci dalam menghadapi perkembangan kejahatan ekonomi dalam bidang keuangan, utamanya financial technology (fintech). Sekarang ini kejahatan yang profesional sudah beralih  menggunakan teknologi sebagai tools of crime, sehingga hal ini perlu segera dipikirkan oleh lembaga terkait untuk memberikan aturan tentang fintech tersebut.

Dr Sukardi S.H., M.Hum, Penyidik, Dosen LB, Konsultan Hukum Pidana BARESKRIM POLRI menyampaikan bahwa, “Dampak dari perkembang ini adalah munculnya berbagai kejahatan-kejahatan baru terutama di bidang ekonomi. Bukan hanya borderless, tidak! Kelihatan batas-batas negara yang hukum itu diperdebatkan tentang teritorial cyber ini dimana. Tapi dibidang ekonomi juga yang paling menonjol adalah destruction innovation, yang mau tidak mau harus dihadapi saat ini.”

Dilihat dalam bidang hukum, para ahli nantinya akan menempati posisi sentral dalam penegakan hukum. Akuntansi forensik yang kita pahami adalah kolaborasi antara hukum dan ekonomi yang dalam arti akuntansi. Walaupun auditor menempati posisi sentral, namun di satu sisi perkembangan teknologi yakni robot akan turut mengancam posisi manusia. Dengan web analisis dan big data sistem ekonomi akan cenderung digantikan oleh sistem robot.

Selanjutnya Moh. Mahsun., S.E., M.Si., Ak., CPA., CFrA., Praktisi Kantor Akuntan Publik turut menyampaikan terkait praktik audit forensik yang ada di Indonesia, “Di dalam mengelola kantor akuntan publik itu strategi blue ocean patut diterapkan. Bagaimana kita membuat portofolio yang berbeda dengan kantor lainnya. Jika pada umumnya kantor akuntan publik menggunakan general audit maka diferensiasinya adalah audit forensik dan  investigasi audit,” jelasnya.

Penempatan seperti ini dikarenakan perkembangan bisnis akan menyebabkan sengketa dan fraud meningkat. “Disitulah diperlukan peran seorang auditor forensik. Dimana dalam melakukan pekerjaan sebagai auditor forensik selalu berkoordinasi bersama BARESKRIM sebagai penyidik. Hal ini menjadi salah satu poin pemeriksaan yang berbeda dari yang namanya general,” tambah Mahsun.

Pada umumnya, audit keuangan dilakukan secara  periodik yang tujuannya memberikan opini tentang kewajaran laporan keuangan secara rutin.  Di luar hal tersebut, audit kinerja  yang biasanya dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN)  juga dilakukan secara simultan setelah audit keuangan dilakukan dengan menggunakan dasar Keputusan Menteri nomor 100/MBU/2002, yang wajib dinilai kesehatannya, dengan menggunakan data laporan keuangan audit. Alur penyelesaian audit didahului dengan pengauditan laporan keuangan kemudian kesesuaian substansi akhir dengan bukti audit yang diterima. Segala bentuk bukti tersebut akan dipakai untuk audit kinerja untuk menilai level kewajaran keuangan suatu perusahaan. (ERF/ADL)

Fenomena era revolusi industri 4.0 tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Saat ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat, sehingga hal tersebut turut memberikan dampak perubahan di dalam lingkungan bisnis yang relatif pesat.

Untuk merespon fenomena tersebut Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menyelenggarakan UII – Business and Accounting Competition 2019 (BAC). Acara kali ini mengambil tema Prepare Young Entrepreneur for Digital Revolution yang di laksanakan selama tiga hari pada 19-21 November 2019 di Kampus FE UII.

“Inti dari tujuan acara ini untuk membangun komunikasi dan menjelaskan serta menyampaikan informasi kepada para siswa terkait perkembangan ilmu akuntansi terkini,” ucap Jaka Sriyana selaku Dekan FE UII saat berlangsungnya konferensi pers, Rabu (20/11).

Saat ini berkembang isu seputar program studi akuntansi di khalayak ramai, World Economic Forum pernah menyampaikan beberapa karier yang akan hilang di era revolusi industri 4.0 ini dan salah satunya adalah akuntan.

“Kami menolak akan hal isu yang berkembang mengenai hilangnya karier akuntan di era revolusi industri 4.0. Ilmu akuntansi akan tetap relevan di era revolusi industri 4.0 ini, tetapi kami akan berevolusi, akuntansi itu tidak lagi pada hal yang sifatnya kritikal tetapi lebih banyak ke arah analisis data akuntansi dan keuangan,” pungkas Mahmudi, Ketua Program Studi Akuntansi.

BAC ini meliputi beberapa rangkaian kompetisi yaitu Business Simulation Games (BSG), yang diharapkan dapat melatih pembuatan keputusan bisnis yang cepat dan tepat serta memberikan pemahaman mengenai fundamental ekonomi dan bisnis, manajemen operasional bisnis, Enterprise Resource Planning (ERP), dan Logistics and Supply Chain Management (SCM). Selain itu, rangkaian acara lainnya yakni Business Plan Competition (BPC), Business Vlog Competition (BVC) dan juga Mobile Photo Contest  (MPC).

Puncak acara dilaksanakan di hari terakhir kegiatan, yakni 21 November 2019 di Aula Utara Fakultas Ekonomi UII.

Kegiatan diawali dengan TalkShow yang bertema ‘Accounting for Millenial Entrepreneurship’ maksud dari kegiatan ini adalah memberikan bekal bagi para peserta yang merupakan siswa SMA bahwa akuntansi tidak hanya seputar keuangan, tetapi banyak hal baru dari ilmu akuntansi yang berguna karier mereka kedepannya.

“Akuntansi kalo ngomongin perusahaan ya penting banget, karena yang namanya bahasa bisnis cuma satu, uang. Walaupun bisnis sosial, kalau tidak ada uangnya tidak akan jadi bisnis” ungkap Asep Bagja Priandana, salah satu pembicara pada pagi itu.

Senada dengan hal tersebut, Hervy Deviyanto, City Manager Grab Yogyakarta dan Central Java menyampaikan bahwa, ilmu-ilmu akuntansi utamanya dalam bidang analisis pasarlah yang telah mengantarkannya hingga dapat menduduki jabatannya saat ini.

Berkembangnya transportasi online dengan perilaku dan ketergantungan masyarakat dengan promo yang ditawarkan tentu membutuhkan ilmu akuntansi yang baik untuk menemukan solusinya.

Selanjutnya, Fitra Roman Cahaya, Dosen FE UII dalam penyampaian materinya turut menerangkan bahwa, berkembangnya zaman yang dikuasai oleh generasi milenial, menjadi seorang pengusaha merupakan salah satu bidang usaha yang banyak diminati.

Pemberian rangkaian materi ini membuka wawasan baru bagi peserta BAC, bahwa program studi Akuntansi memiliki berbagai prospek karier. Ilmu akuntansi akan sangat banyak mengambil peran dalam perkembangan ekonomi global. (SAL/SHP/ADL)