Photo source: urbane.co.id

Tol Trans Jawa diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tepat pada 20 Desember 2018. Jalan sepanjang ± 1.000 kilometer tersebut berhasil menyambungkan Ibu Kota Indonesia, DKI Jakarta, sampai Kota Surabaya. Namun, pembangunan tol ini sering dikaitkan dengan nasib para penggiat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Menurut Lak Lak Nazhat El Hasanah,,S.E., M.Si. selaku dosen program studi Ilmu Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, suatu pembangunan selalu mempunyai multiplier effect. “Multiplier effect dari pembangunan tol ini bisa positif, bisa juga negatif. Pembangunan ini menyebabkan kelancaran proses distribusi, sehingga para investor akan terpancing untuk melakukan investasi.” tutur beliau.

Sedangkan dampak negatif yang mungkin timbul adalah berkurangnya pendapatan dari sektor UMKM. “Seusai pembangunan Tol Trans Jawa, UMKM seakan-akan “mati suri”. Saya mendapati dari beberapa sumber bahwasanya 60% gerai yang berada di sepanjang Jalan Pantura, khususnya di Brebes, mengalami penurunan omset secara signifikan.” katanya.

Dulu, Jalur Pantura selalu ramai dan padat oleh kendaraan. Sebagai satu-satunya akses jalan yang layak, tidak ada alternatif lain bagi pengendara mobil dan truk. Para penggiat UMKM pun ikut merasakan angin segar. Berbeda dengan sekarang, para pengendara mobil memilih untuk melewati jalan tol. Beberapa pengendara truk besar pun hanya melewati Jalur Pantura jika ingin menghindari satu gerbang tol, kemudian melanjutkan perjalanan melewati jalur tol lagi. “Sepinya Jalur Pantura menyebabkan berkurangnya pendapatan dari sektor UMKM, sekaligus mempengaruhi turunnya tingkat kesejahteraannya.” imbuhnya.

Adanya pembangunan Jalan Tol Trans Jawa tentunya diikuti dengan pembukaan rest area baru. Presiden Joko Widodo dalam satu kesempatan menyampaikan keinginannya agar rest area bisa diisi dengan produk lokal. “Saya minta jangan sampai titik-titik kegiatan ekonomi ditempati oleh merek-merek asing seperti McD, Kentucky, atau Starbucks. Saya minta itu diganti dengan sate, soto, dan gudeg.”

Senada dengan Presiden Jokowi, Lak Lak berpendapat “Saya sangat setuju. Apalagi jika semua prosedur dilakukan dengan baik dan benar, siapa tahu sedikit banyak bisa membantu mengobati “luka” penjual di Jalan Pantura. Namun tidak berhenti sampai disitu, pemerintah seharusnya juga memfasilitasi dengan mengatur tata ruangnya. Tentu konsumen menginginkan kenyamanan saat bertransaksi. Tempatnya harus bersih dan nyaman. Jangan terkesan seperti nemplek, artinya tidak ditata dengan baik sehingga tampak berantakan.”

Beliau juga membagikan pengalamannya saat mudik lebaran yang lalu. Tahun ini, beliau berangkat dari Jakarta menuju Solo. “Waktu saya mudik, belum ada tuh rest area khusus UMKM.. Sebagai seorang Ibu, saya juga pengin, sih, untuk membawakan buah tangan untuk keluarga di rumah. Misalnya berbentuk batik lokal, makanan khas, dan semacamnya. Seharusnya sinyal ini bisa ditangkap pemerintah dan pengusaha UMKM sebagai satu peluang penting.”

Untuk meningkatkan daya saing, pengusaha-pengusaha UMKM tidak bisa serta-merta hanya berpangku tangan menunggu bantuan dari pemerintah. Seiring dengan perubahan zaman, tentu akan muncul banyak peluang-peluang baru bagi penggiat UMKM untuk terus bertumbuh. Perubahan zaman menuntut semua pihak untuk membuat gagasan baru. “Saya kira sangat mungkin bagi pengusaha UMKM untuk survive dari tantangan ini. Perkembangan teknologi dan internet yang begitu masif memungkinkan pengusaha-pengusaha ini untuk beralih dari pemasaran produk dengan teknik hard selling menuju teknik yang disebut dengan digital marketing. Sehingga, pengusaha-pengusaha kecil ini dapat mengurangi biaya untuk memasarkan produk-produknya di pasar lewat pemasaran secara online. (DHK/SM)

 

Yogyakarta – Dari tahun 2017 hingga hari ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus-menerus mengalami pelemahan. Hingga saat ini tercatat nilai tukar rupiah hampir mendekati Rp. 15.000 per dolar.

Menurut Drs. Akhsyim Afandi., MA., Ph.D selaku dosen program studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia bahwa “Ini sebenarnya bukan hanya fenomena kurs rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar, namun hampir semua mata uang non-USD itu mengalami hal yang sama”. Salah satu penyebab dari fenomena tersebut dikarenakan faktor Federal Funds Rate (FFR) atau Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga bank dan cenderung akan naik lagi, hal ini dikarenakan perekonomian di Amerika Serikat belum sepenuhnya pulih. Ketika perekonomian di Amerika Serikat kembali membaik maka suku bunga di Amerika Serikat itu akan dinaikkan lagi, hal ini berguna untuk mengantisipasi terjadinya inflasi. Namun ketika hal itu terjadi maka akan mengakibatkan pelarian uang lagi dari negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

Persoalannya sekarang ini terletak pada seberapa kuatnya perekonomian negara tersebut. Kasus yang terjadi pada Indonesia ini termasuk dalam kategori pada perekonomian yang kurang baik. Hal itu disebabkan Indonesia mengalami defisit-defisit neraca pembayaran atau  dengan istilah lainnya defisit transaksi berjalan. Saat ini Indonesia mengalami defisit yang sangat besar yaitu 3% dengan ambang batas 4% dari besarnya Gross Domestic Product (GDP), hal tersebut merupakan kondisi yang sudah dianggap berbahaya bagi perekonomian Indonesia. Pada tahun 2018 ini Indonesia mengalami defisit yang lebih tinggi dari pada tahun lalu. Hal ini disebabkan karena investor lebih memilih mencabut modalnya yang ada di Indonesia.

Untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat agar nilai tukar rupiah kembali stabil salah satu instrumen yang dapat digunakan yaitu dengan meningkatkan suku bunga. Namun setiap pengambilan kebijakan akan memiliki dilema tersendiri. Fenomena yang akan terjadi ketika suku bunga ini dinaikkan maka akan menghambat atau mengurangi belanja konsumsi dan belanja investasi yang akan berdampak pada besarnya pendapatan nasional.

Dalam kasus lain ada yang berpendapat bahwa penurunan nilai rupiah itu terjadi karena perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Drs. Akhsyim Afandi., MA., Ph.D  berpendapat bahwa “Seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini karena produk-produk China yang masuk ke Amerika dikenakan tarif yang tinggi, sehingga ekspor China ke Amerika menjadi berkurang dan diambil peluangnya oleh Indonesia untuk barang-barang yang sama dan serupa sehingga produk-produk yang ada di Indonesia menjadi lebih kompetitif”. Hal itu disebabkan tarif yang ditetapkan oleh Amerika terhadap China tersebut tidak dikenakan pada produk-produk dari Indonesia. Namun permasalahannya Indonesia memiliki produk yang sama atau tidak dengan yang dimiliki oleh China.

Ketika peluang ini dimanfaatkan dengan menaikan ekspor maka akan dapat mengatasi defisit transaksi berjalan yang juga terjadi di Indonesia. Jika defisit berkurang atau bahkan bisa surplus akan mengakibatkan depresiasi rupiah juga kian berkurang. Hal ini sebenarnya yang ingin diperbaiki oleh pemerintah yang menjadi masalah fundamental ekonomi yang ada di Indonesia yaitu transaksi berjalan. Cara yang bisa diterapakan yaitu menaikan ekspor dan mengurangi impor.

Sekarang ini yang sedang dilakukan oleh pemerintah dalam jangka pendek itu dengan mengurangi kuota impor. Pemerintah mulai menginstruksikan kepada departemen-departemen terkait yang memilliki rencana impor untuk dikurangi dan diseleksi mana yang masih bisa ditunda dan mana yang sudah tidak bisa ditunda. Pemerintah juga telah mengimbau kepada perusahaan-perusahaan swasta yang ingin melakukan ekspansi yang membutuhkan bahan-bahan baku untuk ditunda terlebih dahulu, agar belanja impor yang ada di Indonesia sendiri berkurang. Hal itu disebabkan karena ketika belanja impor itu naik maka harga rupiah itu akan semakin terpuruk dan ketika melakukan impor suatu negara juga membutuhkan devisa.

Namun banyak eksportir Indonesia yang tidak membawa pulang dolarnya, mereka malah menyimpannya di luar negeri seperti Singapura dan Hong Kong, sehingga tidak berdampak baik terhadap supply devisa dalam negeri. “Ketika kita menggunakan analisis pasar yang di dalamnya ada permintaan ada penawaran, pasar valas misalnya, kalo ada devisa masuk dari ekspor atau penanaman modal asing itu akan menambah penawarannya, kalau permintaanya tetap sedangkan penawarannya naik maka nilai atau harga US dolar akan turun, sebaliknya nilai rupiah akan turun.” Tutur Drs. Akhsyim Afandi., MA., Ph.D.

Ilmu dan praktik akuntansi saat ini terus mengalami perkembangan di berbagai cabang keilmuannya. Tak hanya pada cabang ilmu akuntansi yang umumnya menjadi pokok mata kuliah di perguruan tinggi seperti akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, akuntansi biaya dan pengauditan, namun cabang ilmu akuntansi juga semakin berkembang dalam bidang-bidang khusus sebagai akibat dari perkembangan dunia bisnis serta pengaruh sosial, politik dan berbagai faktor lainnya. Read more

LT 2 600x400Bisnis keluarga merupakan salah satu bentuk bisnis yang didirikan serta melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnisnya. Sebagai  bisnis  yang  dimiliki  dan  dikendalikan oleh keluarga maka manajemen maupun kinerja perusahaan, baik yang berskala kecil maupun besar, banyak dipengaruhi oleh visi maupun misi keluarga. Read more