Tokoh Agama (toga) perlu lebih banyak menyampaikan edukasi dan pencerahan dengan topik daging halal. Mengingat minat membeli daging halal dipengaruhi norma subjektif dan indikator paling besar pengaruhnya adalah para tokoh agama. Para tokoh agama merupakan referensi penting masyarakat untuk menentukan pilihan membeli daging halal. Untuk itu sudah saatnya pemerintah memberlakukan hukum wajib bagi pengusaha daging untuk memiliki sertifikat jaminan daging halal bukan sekedar sukarela seperti saat ini.

“Ini merupakan manfaat praktis yang dapat diambil dari penelitian ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kepentingan bisnis,” tandas Promovendus Drs. Sumadi, M.Si ketika mempertahankan disertasi berjudul ‘Minat Beli Daging Halal’ di kampus UII Condongcatur, Rabu (17/2). Sumadi mempertahankan disertasi dengan promotor Prof. Dr. Tulus Haryono, Mek didampingi Drs. Anas Hidayat MBA., Ph.D dan Dr. Zainal Mustafa EQ., MM merupakan Doktor ke-31 Program Pascasarjana FE UII.

Selain itu menurutnya, konsumen muslim banyak percaya kepada penjual dalam mendapatkan daging halal. Sehingga untuk menghindari resiko dalam memilih, menurut ayah dari Adityo Galuh Laksono, ST dan Medha Mahoittama, Spt, konsumen memanfaatkan simbol-simbol sosial kemasyarakatan seperti penjual yang bergelar haji atau yang jika perempuan mengenakan kerudung.

“Sehingga perlu ada kolaborasi lebih meningkat antara pemerintah dengan lembaga pendidikan Islam untuk memberikan edukasi pada masyarakat dalam pengawasan praktik operasional pengadaan daging halal. Selain tentu saja kemudian hadirnya lembaga pemberi sertifikat halal di daerah. Dengan demikian akan mempermudah akses bagi pengusaha daging dalam memperoleh sertifikasi jaminan halal'” tambah suami Sri Prastiningsih SP.

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar prosesi wisuda pada jenjang Doktor, Magister, Sarjana dan Ahli Madya untuk Periode III Tahun Akademik (TA) 2015/2016 di Auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir pada hari ini (20/2). Wisuda pada hari ini diikuti oleh 513 wisudawan/wisudawati yang terdiri dari 2 orang dari Program Diploma (D3), 418 orang dari Program Strata Satu (S1), 88 orang wisudawan/wisudawati dari Program Magister dan 5 orang wisudawan/wisudawati dari Program Doktor. Dari jumlah tersebut, 104 orang berhasil meraih predikat cumlaude.

Indek Prestasi Komulatif (IPK) tertinggi pada Program Strata Satu, dengan nilai sempurna 4.0 (Empat Koma Nol) berhasil diraih oleh Novitasari, mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Kimia. Ini menjadi catatan baru bagi prosesi wisuda kali ini sebab peraih IPK tertinggi seringkali diraih oleh mahasiswa dari bidang studi ilmu sosial.

Sementara waktu studi tercepat dengan masa studi Tiga Tahun Empat Bulan berhasil diraih oleh 11 orang sekaligus, yakni 4 orang dari Fakultas Hukum, 4 orang dari Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya dan 3 orang lainnya dari Fakultas Ekonomi. Sampai wisuda kali ini, alumni UII telah mencapai jumlah 80.196 orang.

Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., dalam sambutannya berpesan agar para lulusan senantiasa membekali diri dengan kompetensi dan berbagai skill. Meski pendidikan formal telah berhasil ditempuh namun kewajiban untuk terus belajar hendaknya menjadi sikap hidup yang terus diamalkan. Hal ini disampaikannya terkait dengan tantangan di dunia kerja yang semakin kompetitif. Terlebih implementasi MEA telah mulai dilakukan pada awal tahun ini.

Sementara itu perwakilan alumni UII, Urip Indra Hartawan mendapatkan kesempatan untuk memotivasi para wisudawan UII melalui penyampaian orasinya. Saat ini, alumnus Jurusan Teknik Informatika UII tersebut berkarir sebagai ahli networking di sebuah perusahaan IT Singapura, Signetique IT Pte Ltd.

“Sebagai alumni UII, saya merasakan manfaat yang begitu besar dalam perjalanan hidup saya. Tanpa disadari, sistem pendidikan di universitas ini telah mempersiapkan saya agar dapat beradaptasi dengan baik di dalam masyarakat”, katanya. Hal ini ia ceritakan terkait dengan pengalamannya pernah tinggal dan berkarir di Singapura yang notabene merupakan lingkungan non-muslim.

Selain itu, ia juga berpesan agar wisudawan memiliki semangat yang tinggi untuk mengejar cita-cita dan tidak mudah menyerah. Pria yang telah malang-melintang di dunia IT ini mengaku bahwa sebagai engineer, keberhasilan karirnya dibangun dengan kerja keras dan keyakinan. “Saya menjalani semua itu dengan penuh dedikasi dan tentunya terus berharap kepada Allah SWT untuk memudahkan segala urusan saya”, pungkasnya.

Inovasi merupakan suatu dilema bagi perusahaan, dapat menghasilkan hal yang menakjubkan namun sekaligus dapat mengakibatkan kerugian. Kemampuan memilih inovasi yang tepat adalah kunci sukses perusahaan dalam meraih keunggulan. Inovasi yang dapat dipilih oleh perusahaan sangat beragam jenisnya dan tergantung pada kemampuan perusahaan mengelola inovasinya.

Penelitian tentang inovasi sejatinya telah banyak dilakukan, namun lebih banyak menggunakan pendekatan parsial, belum banyak yang menggunakan pendekatan yang komprehensif, holistik atau menyeluruh. Adalah Trias Setiawati yang berhasil meraih gelar Doktor dari Universitas Islam Indonesia (UII) berkat penelitian desertasinya yang secara komprehensif membahas tentang inovasi dalam organisasi. Desertasi yang diberi judul Inovasi vs Regulasi; Studi Kasus Transisi Industri Jamu ke Industri Herbal di Indonesia berhasil ia pertahankan dihadapan para penguji dalam Ujian Terbuka Sidang Promosi Doktor Fakultas Ekonomi UII yang dipimpin oleh Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., Senin (1/2).

Dalam penelitiannya, Trias mengungkap proses inovasi yang berlangsung di PT. Deltomed Laboratories. Menurutnya, kemampuan melakukan inovasi dalam mengelola bisnis jamu dan ikutannya secara modern akan menjadi kunci keunggulan perusahaan dalam bisnis produk kesehatan tersebut.

“Menurut LIPI (2010) untuk top ten Industri jamu tahun 2010 di Indonesia, Sido Muncul adalah rangking pertama, dan PT. Deltomed Laboratories (PT DL) adalah rangking ketujuh. Tapi keunggulan PT DL dalam mengelola usaha jamu masih dalam generasi kedua sementara lainnya sudah generasi ketiga dan keempat. Hal tersebut menunjukkan bahwa PT DL memiliki suatu keunggulan yang berbeda dengan perusahaan lainnya.” Papar Trias.

Berdasarkan penelitian tersebut, Trias menyimpulkan bahwa inovasi organisasi adalah bahwa inovasi organisasi merupakan inovasi di tingkat organisasi yang dipicu oleh faktor eksternal dan internal. Sedangkan pendorong eksternal inovasi PT DL adalah mendayung di antara dua gelombang, industri farmasi sarat beban tapi menjanjikan,industri jamu dalam himpitan gelombang industri herbal. Sedangkan faktor internalnya adalah perubahan kepemimpinan perusahaan, perubahan intrastruktur organisasi, penguatan organisasi pembelajar, pengembangan manajemen pengetahuan dan pengelolaan manajemen SDM.

Proses inovasi meliputi enam tahap; pertama, ingin berlari seperti industri. Kedua, Semangat mengatur diri untuk berkompetisi. Proses ketiga, menaati regulasi dan bertekad menjadi pelopor transisi. Keempat, berkompetisi di industri herbal global. Kelima, berinvestasi teknologi untuk makin berdaya saing tinggi. Keenam, meneguhkan diri bertransisi untuk makin bernilai tinggi.

“Analisis menunjukkan bahwa inovasi yang dilakukan PT DL adalah pergulatan atas regulasi pemerintah (Adaptasi), dan sekaligus langkah bermutu untuk memenangkan persaingan.” Ujar Dosen FE UII sekaligus Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah tersebut.

Trias menyampaikan bahwa dari penelitian desertasinya tersebut dihasilkan empat tulisan ilmiah yang telah ia presentasikan di beberapa forum ilmiah, salah satunya ia presentasikan di Paris, Prancis.

Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga 2010 mencapai 7.824.623Ha. Perkebunan kelapa sawit paling paling banyak ada di Provinsi Riau dengan luas sekitar 1.612.382 hektar pada tahun dan bertambah menjadi 2.256.538 pada tahun 2011 (Rian Dalam Angka, 2012). Perkebunan ini tersebar di semua kabupaten maupun kota di Provinsi Riau, yang menunjukkan bahwa kelapa sawit adalah tanaman primadona masyarakat di provinsi ini.

Demikian disampaikan Ir. Farida Hanum Hamzah, SP.,M.Si. saat mempresentasikan hasil penelitian disertasinya di hadapan promotor dan para penguji dalam Ujian Terbuka Sidang Promosi Doktor di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Kamis (14/1).

Farida menyampaikan, luas areal perkebunan yang terus bertambah menyebabkan meningkatnya kebutuhan terhadap tenaga kerja termasuk tenaga kerja dengan spesifikasi manajer. Jumlah manajer perkebunan kelapa sawit yang sangat terbatas telah menyebabkan adanya persaingan antar perusahaan untuk mendapatkan manajer. Upaya untuk mendapatkan manajer bahkan sering dengan membajak manajer perusahaan perkebunan kelapa sawit lain.

“Pembajakan manajer terjadi karena perluasan kebun tidak diikuti dengan pertambahan sumber daya manusia terutama di level manajer. Sehingga ada gap yang sangat lebar antara supply dan demand level manajer perkebunan kelapa sawit. Fakta-fakta perpindahan ini dimungkinkan dan dipicu oleh perkembangan yang pesat dari adanya jaringan Teknologi Informasi dan komunikasi yang menembus daerah-daerah kantong perkebunan. Seorang manajer dengan mudah mendapatkan tawaran untuk mendapatkan jabatan atau gaji lebih tinggi dari perusahaan lain.” Jelas Dosen Fakultas Pertanian Universitas Riau tersebut.

fenomena perpindahan manajer menurutnya dipengaruhi oleh faktor internal yaitu dari dalam diri seorang manajer itu sendiri kemudian ditambah dengan faktor eksternal seperti rendahnya gaji, kurangnya kesempatan promosi ke jabatan yang lebih tinggi, dan faktor-faktor eksternal lainnya yang mengakibatkan para manajer lebih tertarik untuk pindah dari perusahaan yang ditempati ke perusahaan yang baru.

 

“Di perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mapan, untuk naik ke posisi lebih atas cenderung lebih sulit, sehingga banyak dari mereka yang memilih pindah keperusahaan-perusahaan baru yang masih berkembang sehingga ia mendapatkan gaji dan posisi yang lebih tinggi. Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya ikatan kerja yang membatasi gerak seorang manajer sehingga tidak ada konsekuensi bagi manajer yang pindah.” Papar Farida.

Dalam suatu perusahaan perkebunan kelapa sawit, kepindahan seorang manajer seringkali diikuti oleh bawahan-bawahannya, sehingga akan sangat merugikan perusahaan yang ditinggalkan. “Bahkan ada perusahaan perkebunan kelapa sawit yang manajernya pindah ke perusahaan lain kemudian bawahan-bawahannya juga ikut pindah sampai perusahaan tersebut bangkrut dan gulung tikar karena orang-orangnya pindah semua”. Ujar Farida.

Menurutnya, selama ini penelitian-penelitian hanya menyentuh manufacture dan lain-lainnya tidak ada yang masuk ke permasalahan yang lebih dalam yaitu fenomena turn over tersebut. “Saya berharap ada kajian lagi yang masuk ke dalam seperti ini, Jika penelitian ini tidak dilakukan maka fenomena turn over ini tidak akan terungkap, sebenarnya ini fenomena dahsyat. Oleh karena itu penelitian ini saya berharap bermanfaat bagi industri khususnya bagi Perguruan Tinggi untuk menghasilkan SDM perkebunan kelapa sawit yang berintegritas agar fenomena turn over tidak benyak terjadi.” Papar Farida.

Berkat penelitiannya tersebut Farida berhak menyandang gelar Doktor dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Ia menjadi Doktor ke-29 yang dululuskan oleh Fakultas Ekonomi UII.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Madani Balikpapan Kalimantan Timur melakukan studi banding ke Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi UII, pada selasa 15 Desember 2015. Rombongan STIE Madani terdiri dari pengelola STIE termasuk Ketua Yayasan H. Abdul Wahab, didampingi pembantu ketua bidang kemahasiswaan H. Muhammad Amin Latief, ketua II bidang Keuangan ibu Marthatila serta karyawan dan keluarga.

Rombongan diterima oleh Direktur PPS FE UII, Dr. Zainal Mustofa El Qodri, MM., diruang Sidang MM Lt. 3 Gedung Prof. Ace Partadiredja, kampus FE UII, Condongcatur. Turut menyambut rombongan Sekretaris PPS FE UII, Dra. Erna Hidayah,  M.Si., Koordinator Program MM PPS FE UII, Dr. Zaenal Arifin, M.Si., Abdul Hakim, SE., M.Ec., Ph.D dan Drs. Achmad Tohirin, MA., Ph.D, serta Johan Arifin, SE., M.Si., Ph.D.

STIE Madani merupakan sekolah tinggi pertama sebagai Yayasan legal yang memiliki ijin di Balikpapan Kalimantan Timur. Dalam kunjungan ini STIE Madani ingin melihat lebih dekat tata kelola Pascasarjana FE UII serta menjalin kerjasama dengan Pascasarjan FE UII, mengingat bahwa persaingan perguruan tinggi semakin sulit. Menurut H. Muhammad Amin Latief bahwa kendala utama banyak mahasiswa lebih memilih belajar ke Samarinda dibanding Balikpapan. Untuk itu ke depannya diharapkan adanya kerjasama dibidang pemasaran dengan Pascasarjana Fakultas Ekonomi UII untuk meningkatkan jumlah minat mahasiswa belajar di Balikpapan.

Menurut Dr. Zainal Mustafa EQ., MM, untuk mengatasi masalah yang dihadapi STIE Madani salah satunya dengan mengadakan pelatihan atau workshop, hal ini dimaksudkan untuk lebih mengenalkan STIE Madina kepada masyarakat luas, Kalimantan Timur khususnya. Selanjutnya Dr. Zainal Mustafa EQ., MM  juga memaparkan mengenai proses pengajuan akreditasi BAN PT yang dilakukan olehProgram Pascasarjana FE UII. Ditambahkan juga oleh Abdul Hakim, SE., M.Ec., Ph.D, informasi perkembanganProgram Doktor, serta beberapa informasi teknis yang terkait. Diskusi dan tanya jawab berlangsung sangat intensif dari kedua belah pihak dan berakhir pada pukul 12.00 WIB. Acara ditutup dengan bertukar cinderamata dan berfoto bersama.

Dipimpin Direktur Program, Wakil Program, staf dan Koordinator Program lainnya, memberikan bantuan dan pelatihan di Panti Asuhan Cipto Siswoyo Dusun Karangwuni, Turi, Sleman, hari Rabu 30 Desember 2015. Bantuan dan pelatihan ini diterima pengelola panti beserta perangkat desa yang mengelola panti asuhan Cipto Siswoyo.

Dalam Perkenalannya, Bapak Ismaji selaku pengelola mengatakan tidak semata-mata mendirikan panti asuhan ini untuk mencari untung, tetapi ingin berbagi pada anak-anak yang kondisinya kurang mampu, untuk itu ia menghibahkan rumahnya dijadikan panti asuhan yang sebagian masih dibangun dengan bantuan penduduk sekitar. Saat ini panti asuhan ini masih merawat 7 anak yang rata–rata masih mengenyam pendidikan Sekolah Dasar.

Hal senada juga disampaikan Dr. Zainal Mustafa EQ., MM dalam penyampaian pelatihannya bahwa panti asuhan merupakan organisasi sosial  seperti yang diamanatkan dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 bahwa “Fakir Miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara” jadi bukan tanggung jawab Negara saja tapi merupakan masalah kita bersama yang harus diselesaikan bersama-sama. Kedepannya diharapkan panti asuhan dapat dikelola dengan manajemen yang baik dan benar baik dalam memberikan pendidikan Agama Islam, pendidikan akhlak dan membuang kebiasaan atau kepribadian  yang buruk bagi anak asuh hingga menentukan nasib dan masa depan para anak yatim.

Sebagai penutup acara Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi UII (PPs FE UII) memberikan bantuan bagi panti asuhan serta bantuan ke Masjid Al Fatah. Diharapkan kelak program pengabdian masyarakat ini dapat dilakukan setiap tahunnya.

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar prosesi wisuda pada jenjang Doktor, Magister, Sarjana dan Ahli Madya untuk Periode II Tahun Akademik (TA) 2015/2016 di Auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir pada hari ini (19/12). Wisuda pada hari ini diikuti oleh 761 wisudawan/wisudawati yang terdiri dari 17 orang dari Program Diploma (D3), 638 orang dari Program Strata Satu (S1), 101 orang wisudawan/wisudawati dari Program Magister dan 5 orang wisudawan/wisudawati dari Program Doktor. Dari jumlah tersebut, 140 orang berhasil meraih predikat cumlaude.

Indek Prestasi Komulatif (IPK) tertinggi pada Program Strata Satu, 3,96 (tiga koma sembilan puluh enam) berhasil diraih oleh Andy Tri Lesmana, mahasiswa Fakultas Ekonomi, Program Studi Manajemen, yang juga berhasil menempuh waktu studi tercepat dengan masa studi tiga tahun tiga bulan. Sampai kelulusan kali ini, alumni UII telah mencapai jumlah 79.682 orang.

Turut hadir dalam pelaksanaan wisuda UII kali ini, Kordinator kopertis wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES., DEA., perwakilan dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UII Dra. Yuliani Putri Sunardi, serta alumni UII Syafri Yuzal yang saat ini menjabat sebagai direktur PT. Aino Indonesia.

Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., dalam sambutannya menyampaikan kepada wisudawan/wisudawati bahwa tantangan kedepan di dunia kerja akan semakin tinggi, terlebih lagi karena implementasi MEA sudah siap di lakukan pada 31 Desember 2015 mendatang.

“Ada baiknya kita semua berpikir positif bahwa implementasi MEA 2015 itu bukan lah sebuah ancaman, sebaliknya jadikan itu sebagai peluang, memang benar tantangan dunia kerja akan semakin berat, tapi jangan lupa bahwa peluangnya juga menjadi semakin luas”, ungkapnya.

Sebelumnya Bambang Supriyadi juga menyinggung hal tersebut, kemudian selebihnya Beliau berpesan kepada wisudawan/wisudawati untuk mengembangkan potensi diri di dunia kerja seluas-luasnya, jangan hanya di Yogyakarta saja. Kalau sudah mendapatkan ilmu di Yogyakarta, maka manfaatkan ilmu tersebut untuk membangun daerahnya masing-masing agar pembangunan ekonomi Indonesia bisa dilakukan secara serentak dan menyeluruh.

Sementara itu Syafri Yuzal mendapatkan kesempatan untuk menceritakan pengalamannya belajar di UII kepada wisudawan/wisudawati. Mulai dari awal keputusannya masuk UII, pengalaman selama proses belajar, organisasi yang diikuti, sampai dengan diterima kerja diperusahaan satu hari tepat sebelum wisuda.

“Fokuslah pada hidup kita sendiri, jangan pernah menginginkan kehidupan orang lain, karena yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT begitu pula sebaliknya, rencanakan masa depan kita sendiri, percaya dengan apa yang kita sukai dan kuasai, lakukan hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain”, pungkasnya

Persaingan yang sehat dalam dunia usaha merupakan sebuah keharusan, hanya dengan itu pelaku usaha bisa bebas keluar masuk industri atau pasar tanpa hambatan. Pada pasar dengan persaingan yang sehat konsumen akan diuntungkan, namun tidak merugikan pelaku usaha, sebaliknya pada pasar monopoli hanya akan menguntungkan pelaku usaha tetapi merugikan konsumen.

Dalam Islam, persaingan usaha ini sudah banyak dibahas dalam berbagai kajian, seperti ketika Rosulullah SAW tidak mau menetapkan harga kurma pada batas tertentu pada saat harga kurma sangat mahal. Tujuannya bagus yaitu untuk melindungi konsumen, namun hal itu menyalahi mekanisme pasar, dari situ menunjukkan bahwa Islam tidak memperbolehkan kartelisasi harga, harga sepenuhnya harus diserahkan kepada pasar.

Untuk mengkaji masalah itu lebih dalam, Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) bekerjasama dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Republik Indonesia hari ini (01/12) menyelenggarakan Seminar Nasional Persaingan Usaha dalam Perspektif Islam bertempat di Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat UII.

Hadir sebagai pembicara diantaranya Dr. Halim Alamsyah, Dr. Muhammad Syarkawi Rauf, SE., M.Ec., Prof. Dr. Abdul Ghafar Ismail, Drs. Munrokhim Misanam, MA.Ec., Ph.D., Dr. Syafiq Mahmadah Hanafi, M.Ag., Prof. Dr. Jamal Othman., dan lain-lain.

Wakil Rektor II UII Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI., dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa Islam memang harus hadir dalam berbagai konteks kekinian, termasuk dalam persaingan usaha, agar tercapai persaingan yang sehat dan adil bagi semua pihak. Selebihnya Dekan FE UII Dr. Drs. Agus Hardjito, M.Si., menambahkan bahwa seminar nasional ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam hasanah keilmuan Islam termasuk mengenai persaingan usaha yang sehat.

Materi yang disampaikan diantaranya berkaitan dengan konsep dasar dan tujuan bisnis dalam Islam, mekanisme pasar dalam Islam, konsep dan praktek persaingan usaha dalam Islam, mekanisme pengawasan persaingan usaha, implikasi pengaturan, dan juga formulasi pengaturan persaingan usaha

Purwanto, S.Com.,MM. meraih gelar Doktornya di Universitas Islam Indonesia (UII) setelah berhasil mempertahankan penelitian desertasinya di hadapan para penguji yang dipimpin oleh Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., Rabu (25/11) di Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi UII.

Dalam desertasinya, Purwanto mengangkat topik tentang Pengaruh Struktur Kepemilikan, Tata Kelola dan Krisis Terhadap Tunneling Pinjaman Berelasi. Penelitian Purwanto merupakan studi empiris yang di lakukan pada perusahaan-perusahaan dalam suatu kelompok bisnis dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Dijelaskan Purwanto, Pinjaman Berelasi merupakan hal yang sering dilakukan dalam kelompok bisnis terutama dengan struktur kepemilikan piramida yang merupakan karakteristik perusahaan di Indonesia. Pinjaman Berelasi selain memberikan manfaat juga memberikan sejumlah resiko terhadap masalah keagenan, seperti dalam pengambilalihan hak pemegang saham minoritas melalui aktifitas tunneling.

Tunneling merupakan tranfer sumber daya dalam sebuah grup bisnis yang bertujuan untuk saling mensupport antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya dalam satu grup bisnis agar mampu bersaing.” Papar Purwanto.

Ia menjelaskan tujuan penelitian ini adalah untuk menguji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tunneling pinjaman berelasi pada perusahaan publik di Indonesia. Penelitian dilakukan di perusahaan selain bank dan lembaga keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Hasil penelitian desertasi yang dilakukan Purwanto tersebut menunjukkan bukti empiris bahwa transaksi pinjaman dengan pihak berelasi adalah sarana untuk tunneling, meskipun kerangka regulasi telah banyak mengalami perbaikan sejak krisis keuangan Asia 1997. Struktur kepemilikan piramida dan kepemilikan keluarga tidak selalu buruk, namun temuan penelitiannya memberikan bukti risiko dari jenis kepemilikan tersebut.

Persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat menjelang pemberlakuan pasar bebas Asean pada akhir 2015 mendatang.Ini akan mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus.

Hal ini diungkapkan oleh A.H.Mulyanto, Ph.D. dalam sambutannya sebagai pembicara di Kuliah Dosen Tamu yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Sabtu (21/11/2015). Pembicara yang menjabat sebagai Direktur PT. Emindo Energi Primer Indonesia, Grup PT. Energi Management Indonesia (Persero), turut juga hadir sebagai moderator Drs. Nursyabani, M.Si dan Dra. Nursyamsiah, MM.

A.H Mulyanto Ph.D menjelaskan bahwa Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.”Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya.”

Untuk itu perlu adanya Standar ISO 9001:2015 dan ISO 50001:2011. ISO 9001:2015 bagaimana sistem manajemen harus dilakukan oleh suatu organisasi untuk bisa menjamin mutu produknya, baik barang (goods) maupun jasa (service), agar mutu produk tersebut sesuai dengan persyaratan pelanggan, atau persyaratan lain, maupun sesuai standard mutu yg telah ditetapkan organisasi yang berfokus pada manajemen atau pengelola mutu organisasi tersebut. Kepatuhan atau compliance inilah yang membedakan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 dengan model manajemen lainnya, organisasi tidak bisa bebas mengembangkan sendiri sistem manajemennya. Itulah sebabnya audit ISO 9001:2015 yang dilakukan oleh Badan Sertifikasi disebut juga dengan compliance audit atau audit kepatuhan. Sedangkan ISO 50001 dirancang untuk membantu perusahaan agar lebih baik dalam menggunakan aset energinya, untuk mengevaluasi dan memprioritaskan penggunaan teknologi hemat energi, serta untuk mendorong efisiensi pada seluruh rantai suplai. ISO 50001 juga dirancang agar dapat terintegrasi dengan standar manajemen lain, terutama ISO 14001 (sistem manajemen lingkungan) dan ISO 9001 (sistem manajemen mutu).