ANASTUTY KUSUMOWARDHANI | Deputi Direktur Bank Indonesia

Anastuty Kusumowardhani, kalau ditanya siapa dia mungkin sebagian besar orang yang kita tanya akan menjawab dengan geleng kepala, lain halnya ketika kita bertanya tentang siapa yang mengenal Bank Indonesia, mungkin sebagian orang justru akan melontarkan pertanyaan seputar lowongan pekerjaan yang ada di tempat tersebut, giliran Ibu Anastuty yang menggelengkan kepalanya. Ia terkenal sebagai anak yang berprestasi semasa kecilnya, namun ayahnya tidak suka akan hal itu “dulu ayah nggak suka ke sekolahku karena paling-paling cuma suruh ambil piala, mungkin karena beliau pegawai negeri ya” ceritanya sembari tertawa kecil. Terbiasa dengan lingkungan tempat tinggalnya di Sukamandi mungkin membuat Anastuty menjadi penggemar olahraga sedari kecil mulai dari kehidupan bangku sekolahnya yang pertama. Ia tinggal disebuah rumah besar di komplek Belanda disitulah Anastuty sering merebahkan dirinya untuk istirahat sepulang sekolah mulai dari TK hingga SMP. Kehidupanya di Sukamandi hanya bertahan hingga Anastuty menginjak SMP kelas 2, ia harus pindah ke Tanah Kusir awalnya ia tak mau pindah, ia menangis jika harus meninggalkan kampung halamanya, karena baginya sudah terukir kenangan indah disetiap sudut. Ia tak akan bisa lagi menikmati indahnya alam, atau hanya sekedar menghirup nafas di sekitaran sawah hijau nan lapang. Tetapi semua itu harus dilaluinya demi menggapai masa depan yang lebih baik, pada kesempatan kali ini Anastuty lebih aktif dari sebelumnya ia mengikuti kegiatan – kegiatan yang berada di sekolah khususnya ekstrakurikuler. Perjalanan pendidikanya ketika SMA bisa dibilang sangat lancar ia pun aktif di lingkungan organisasi terutama OSIS, hingga akhirnya tibalah saat ketika Anastuty harus melanjutkan ke studi yang lebih tinggi. Anastuty yang tadinya ingin menjadi insinyur mencoba dengan mendaftar Perguruan Tinggi dengan mengambil jurusan Teknik Industri namun usahanya belum berbuah manis, tak berhenti sampai disitu ia kembali mencoba dengan mendaftar Arstiek namun apa daya usahanya juga belum berhasil, hingga pada suatu hari ayahnya tak berbicara panjang lebar langsung membelikan tiket ke Jogja untuk tes di UII. Seperti kebanyakan mahasiswa lainya, Anastuty menuntut ilmu di UII ia lalui dengan berbagai aktivitas yang tak jauh beda ketika dia SMA, ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman – temanya “mencari network lah ya” pungkasnya. Dentuman drum dan iringan musik khas Marching Band akan selalu terngiang di kepala Anastuty, belum lagi ditambah senda gurau bersama teman satu timnya inilah momen yang selalu mengisi keseharian Anastuty ketika ia sedang bosan dengan rutinitas kuliah.

Anastuty lulus dari UII pada tahun 1990, tidak ingin menunggu lama dalam proses memulai kerja ia langsung mencari pekerjaan dengan mendaftar dibeberapa perusahaan bonafit di Indonesia. Sebelum masuk ke Bank Indonesia, Anastuty pernah bekerja di lembaga pendidikan BNI dan di perusahaan minyak asing namun tak lama bekerja disana dalam waktu 2 bulan, ia mendapat panggilan dari Bank Indonesia walaupun awalnya Anastuty bahkan tidak tahu apa itu Bank Indonesia tetapi akhirnya ia tetap memenuhi panggilan tersebut. Tahun itu 1992, ia resmi bekerja di Bank Indonesia, perjalanan karirnya pun cukup cepat karena pada tahun 1993 Anastuty diangkat menjadi Asisten Manajer hingga tahun 1999 ia dipromosikan menjadi Manajer. Selanjutnya pada tahun 2000 karena tuntutan pekerjaan ia harus melanjutkan studi ke Australia, hingga pada akhirnya tahun 2011 Anastuty diangkat menjadi Deputi Direktur Bank Indonesia, ketika ditanya tentang kendala ia menjawab “Banyak sih kendalanya tapi harus stay calm, tipsnya jadi orang baik” tutur Anastuty. Memiliki banyak jaringan dengan orang – orang yang dikenalnya melalui organisasi maupun sekedar bermain biasa dahulu kala kuliah menjadi support system tersendiri bagi Anastuty, “selain peran Almamater, saya juga dulu ya banyak mainnya juga organisasi, saya jadi kenal banyak orang” ceritanya sambal menikmati minuman yang dipesan. Ia mengatakan dalam kuliah kita harus fokus karena kuliah membentuk cara kita berpikir, bagaimana cara kita bergaul juga menentukan bagaimana kita suskes nanti dan pesan bagi mahasiswa zaman sekarang khususnya mahasiswa FE UII “Jangan bergantung dengan orang lain, bergantunglah pada Allah SWT” ucapnya penuh makna.