Baskara Agung Wibawa: Life is beautiful

BASKARA AGUNG WIBAWA | Direktur Utama PT Permata Graha Nusantara

Integritas. Satu kata yang selalu Beliau pegang dan mengantarkan Beliau untuk mencapai titik seperti sekarang. Baskara Agung Wibawa, Beliau merupakan salah satu alumni lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) program studi Manajemen. Pria kelahiran 20 Juli 1970, di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang pegawai negeri hingga awal orde baru, dan ibunya merupakan seorang “Rektor Sekolah Dasar”. Tujuh bersaudara dan merupakan anak bungsu tidak mengurangi semangat keluarga Beliau untuk memberikan pendidikan hingga sarjana kepada Baskara dan saudaranya. Mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Wates, yaitu di SMA 1 Wates dan diterima pada Perguruan Tinggi diluar Jogja. Namun, nasihat ibu yang selalu ia jadikan pegangan hidup tersebut sempat membuat Beliau untuk menolak perguruan tinggi diluar Jogja tersebut dan Universitas Islam Indonesia-lah yang menjadi pilihan Beliau.

Masa remaja Baskara hampir sama dengan remaja laki-laki pada umumnya yang mungkin cukup nakal. Berkelahi adalah satu kegiatan yang menjadi kebiasaan Beliau pada masa remaja. Modal nyali merupakan yang Beliau miliki untuk memutuskan keputusannya pada masa remaja. Akhir dekade 80-an, Beliau memilih Universitas Islam Indonesia sebagai pilihan perguruan tinggi karena merupakan salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Yogyakarta. Masuk melalui jalur tes tertulis gelombang pertama, dengan saingan yang sangat banyak pada masa itu, tidak membuat Beliau gentar. Kemandirian adalah hal yang selalu ia terapkan pada hampir semua aktivitas Beliau.

Kehidupan mahasiswa Beliau cukup berwarna karena Beliau aktif di beberapa kegiatan organisasi mahasiswa diantaranya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Koperasi Mahasiswa, beberapa kepanitiaan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) yang ada di Universitas Islam Indonesia yang mempunyai nama PEKTA atau Pekan Ta’aruf. Pada masa Beliau kuliah, dengan pergaulan kampus yang berstandar ekonomi cukup tinggi tidak membuat Beliau gentar untuk aktif di dunia perkuliahan. Hal yang Beliau pegang adalah jangan terbuai pada kekayaan atau kelebihan orang tua, namun banggalah pada usaha dan kelebihan diri sendiri. Value, atau nilai merupakan hal yang memotivasi Beliau untuk selalu maju kedepan walaupun banyak hal yang menjadi tantangan untuk mencapai keinginan Beliau. Semua hal selalu Beliau nikmati dan integritas merupakan kunci utama Beliau untuk mencapai titik sekarang.

Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia pada tahun 1994, beberapa lowongan Baskara ambil dengan berbagai macam jalan dan berakhir pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Tantangan demi tantangan selalu ia dapatkan, namun ia selalu menghadapi tantangan-tantangan tersebut dengan cara menikmati tantangan tersebut hingga ia bisa menduduki jabatan yang penting sebagai Direktur Utama PT Permata Karya Jasa sejak April 2015 sampai sekarang. Menurut Baskara, hidup harus dinikmati dan yang penting adalah semua hal yang diterima harus disyukuri. Baskara juga aktif di beberapa organisasi eksternal seperti komunitas pengendara vespa yang bernama Gas Vespa Club dan Pertamina Scooter Club dan ia juga sempat aktif sebagai Sekjen RW namun sudah tidak aktif karena saat ini Beliau harus kosentrasi terhadap disertasi yang sedang ia susun. Satu pesan yang ia ingatkan kepada mahasiswa UII adalah sebagai mahasiswa UII harus memiliki integritas dan jangan membanggakan kekayaan orang tua, namun banggalah terhadap kekayaan yang kita peroleh dari usaha kita sendiri.

Helmy Setyawan: Berani Menantang Diri adalah Kunci Sukses dalam Berkarier

HELMY SETYAWAN | Group Head Human Capital Management PT Perusahaan Gas Negara, Tbk.

Berjiwa Islami, pantang menyerah, dan selalu bersyukur kepada Allah SWT adalah beberapa ideologi yang dipegang teguh oleh Helmy. Helmy adalah salah satu dari ribuan atau bahkan jutaan alumni sukses Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia dengan predikat cum laude yang hingga kini memiliki karier yang gemilang dengan amanat jabatan yang terakhir beliau emban sebagai Group Head Human Capital Management di salah satu perusahaan BUMN yaitu PT Perusahaan Gas Negara, Tbk atau lebih ramah kita sebut sebagai PT PGN. Beliau mengambil program studi Manajemen angkatan 1992 dan menempa ilmu di sana hingga tahun 1997

Masa kecil Helmy bermula lahir di Semarang, 2 Oktober 1973. Helmy bukanlah anak satu-satunya karena beliau juga memiliki seorang adik dan menjadikannya dua bersaudara yang bersama tumbuh besar dengan kedua orang tua mereka di Semarang. Helmy memulai jenjang karier pendidikannya dari SD Negeri hingga SMP Negeri di Kota Semarang, hingga akhirnya Helmy lulus SMP dan memilih untuk melanjutkan pendidikan SMA-nya di Kota Yogyakarta. Setelah diterima disalah satu SMA di Yogyakarta, Helmy langsung bergegas mengemasi beberapa barang miliknya untuk keperluan sekolah dan hidupnya di Yogyakarta sebagai pelajar perantauan. Meskipun orang tua Helmy menyarankan agar Helmy tinggal bersama sanak keluarga yang tinggal di Yogyakarta, Helmy menolaknya. Pada awal meminjakkan kaki di Kota Yogyakarta Helmy sempat tinggal di rumah Tante dan Paman-nya yang tinggal di Yogyakarta, namun selang waktu kurang lebih sebulan Helmy lalu memutuskan untuk tinggal di indekos. Menurut Helmy, jika terus tinggal bersama keluarga, beliau tidak akan mendapatkan pengalaman merantau yang sesungguhnya dan pengalaman bagaimana melawan ego diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik tanpa harus diatur oleh orang tua. Pada akhirnya Helmy pun bisa menjadi orang yang disiplin waktu dan taat beragama, terlebih lagi Helmy memiliki Almarhum Paman yang menjadi seorang yang aktif dikegiatan majelis ilmu oleh Muhammadiyah yang mana setiap ada pengajian atau acara yang berkaitan dengan kebaikan Helmy selalu diajak.

Menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia menjadi pilihan Helmy setelah lulus SMA dan menjadi mahasiswa yang menempuh pendidikan pada jurusan Manjemen angkatan 1992. Helmy mengaku ketika kuliah tidak terlalu banyak ikut kegiatan organisasi namun beberapa kali Helmy mengikutin kegiatan OSPEK mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia setelah Helmy menempuh satu tahun pertamanya menjadi mahasiswa. Selain itu Helmy juga merupakan mahasiswa yang berprestasi secara akademik dengan mendapatkan beasiswa prestasi akademik di semester satu dan dua. Menurut Helmy dunia perkuliahan itu terkadang bisa menjadi penjaga dan penyemangat hidup tapi juga bisa menjadi penjebak untuk diri sendiri, karena jika dari SMA hingga kuliah hanya terus belajar tanpa mau bersosialisasi dan kurang berani mencoba meng-explore diri, beliau yakin orang tersebut pasti akan terjebak dengan nilai dan ipk tanpa sadar dirinya telah membuat dinding yang besar di sekeliling dirinya dari lingkungan sekitarnya. Maka dari itu Helmy berpesan untuk ikuti saja jalannya proses perkuliahan tanpa meremehkannya. Selalu berusaha menjadi yang terbaik dangan tidak meremehkan aspek apapun. Helmy berhasil lulus dengan predikat cum laude lalu menjadi fresh graduate yang mendaftar dan diterima di lowongan pekerjaan PT PGN.

Pribadi yang baik dalam bersosialisasi, berani menantang diri, selalu menghargai waktu, dan selalu taat beragama merupakan kunci sukses karier Helmy dari dunia pendidikan hingga ke dunia kerja saat ini di PT PGN. Terdapat satu hal yang Helmy tekankan bahwa hidup ini tidak pernah sesuai dengan keinginan kita jadi bagaimana kitalah yang harus bisa fleksibel memanfaatkan segala peluang yang ada dan pantang menyerah, hal ini sudah dibuktikan oleh Helmy dengan lulus SMA dari jurusan Fisika, lalu kuliah di UII dari jurusan Manajemen Keuangan, dan saat ini mengemban amanat menjadi Group Head HCM yang merupakan tanggung jawab di bidang sumber daya manusia perusahaan.

 “Hari ini harus bisa lebih dan hari esok harus lebih baik lagi”

Hal itu adalah harapan Helmy kepada seluruh mahasiswa UII. Walaupun, pada dasarnya manusia harus selalu memiliki motivasi dan motivator terbaik di dunia ini adalah diri sendiri karena mau bagaimanapun seseorang diberikan motivasi oleh orang lain namun ketika ia belum mau menjadi lebih baik, motivasi hanya akan menjadi sebuah harapan dan hanya kata-kata.

Arinto Wicaksono: Yakin dan Manfaatkan Waktu Sebaik Mungkin

ARINTO WICAKSONO | Kepala Divisi Kepatuhan Lembaga Penjamin Simpanan.

Arinto Wicaksono, merupakan salah satu alumni lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) program studi akuntansi. Menurut beliau, UII merupakan universitas yang luar biasa. Selama mengenyam perkuliahan di UII, beliau mendapat banyak pengalaman baik itu dari segi keilmuan maupun dari segi agama. Menurutnya, orang yang sukses bukan hanya dilihat dari segi dunia nya saja, tetapi orang yang sukses juga harus punya keseimbangan pada segi agamanya.

Pria yang merupakan anak dari seorang tentara ini menghabiskan masa studinya di SD Negeri Adisucipto 1 Yogyakarta, SMP Negeri 5 Yogyakarta, dan SMA Negeri 6 Yogyakarta. Setelah lulus SMA, beliau sempat down karena tidak lolos ke perguruan tinggi yang ia idam-idamkan, dan juga tidak dapat memenuhi keinginan ayahnya untuk menjadi penerus yang menggeluti bidang elektro. Namun tidak butuh waktu yang lama untuknya bangkit dari kegagalan itu. Pada zaman dahulu pada saat ia masih duduk di bangku SMA, beliau sering sekali melewati gedung kampus UII yang terletak di jalan Cik Di Tiro, yang kemudian membuat ia berpikir bahwa di kampus ini kita belajar sambil menuntut agama. Yang dimana hal ini selaras dengan apa yang selalu diajarkan oleh ayahnya, “Kamu harus punya kesuksesan di dunia yang menuju ke akhirat.” Akhirnya beliau memilih UII untuk menjadi tempat ia mengenyam perkuliahan.

Salah satu hal yang selalu ia yakini, bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Even itu hanya sehelai daun yang jatuh dari pohonnya, itu pasti sudah direncanakan oleh Allah. Dan pada saat menjalani masa kuliah, keyakinan tersebut ada benarnya. Allah memberi jalan begitu mudahnya, beliau dipertemukan dengan teman teman yang mau membantu beliau dalam mempelajari akuntansi, juga dosen-dosen yang memiliki kualitas yang baik. Salah satu dosen yang masih beliau ingat adalah Pak Sugiarto, dosen akuntansi yang mengajarkan beliau bahwa belajar akuntansi itu bukan dihafal, melainkan dimengerti. Sampai saat ini, tidak ada rasa khawatir sedikitpun dibenaknya karena Allah punya rencana dan pasti akan datang pertolongan.

Selain belajar mengenai ilmu akuntansi, di FE UII pak Arianto mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan yang disampaikan oleh dosen yang mengampunya. “Manusia itu cuman bisa berusaha, lalu kita yang menjalani, nanti Allah yang memutuskan. Perkara itu bagus atau tidak, ya itu Allah yang punya kewenangan. Yang penting kita sudah maksimal, Allah pasti akan menolong kita. Itu value yang sampai saat ini saya pegang.” ujarnya, sambil mengenang masa kuliah. “Hingga saat ini, apabila saya menemui kesulitan dalam bekerja, saya kembalikan lagi sama Allah.”

Tidak berhenti sampai disitu, keyakinan yang ia pegang terus menuai hasil. Setelah ia lulus kuliah pada tahun 1999, tidak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal pada tahun 1999-2000 merupakan tahun dimana terjadinya krisis ekonomi, banyak pegawai yang harus keluar dari pekerjaan mereka. Tapi, ternyata Allah memberi kemudahan kepada beliau yang dalam waktu kurang dari satu bulan sudah bisa bekerja di BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) sebagai auditor, dan mengalahkan teman-temannya yang bisa dikatakan merupakan lulusan dari universitas yang lebih besar.

Setelah bekerja di BPPN, beliau bekerja di Bank CIMB Niaga di bidang kepatuhan. Kebetulan, unit kepatuhan merupakan unit yang baru, karena delapan puluh persen faktor yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi adalah disebabkan karena para pekerja melanggar peraturan, maka diperlukan satu unit yang bisa mencegah supaya mereka tidak melanggar peraturan. Tidak lama bekerja di CIMB Niaga, beliau diminta untuk men-set up sebuah organisasi di Bank BRI Syariah. Hal ini merupakan salah satu jawaban dari doa beliau, yang selama ini memikirkan hukum dari riba dan dampak dari riba itu sendiri. Pada saat bekerja di BRI Syariah, beliau diminta untuk bergabung di LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Hingga saat ini beliau menjabat sebagai Kepala Divisi Kepatuhan Lembaga Penjamin Simpanan.

Keberhasilan yang berhasil diraih hingga saat ini merupakan buah manis dari keyakinan yang selalu ia pegang, yakni berserah kepada Allah. Apapun yang ia hadapi, ia serahkan semuanya pada Allah. “Insyaallah, ada saja jalan. Dan selama ini, yang saya hadapi Allah selalu kasih jalan. Kuncinya cuman satu. Jalani kewajiban-Nya, jauhi larangan-Nya.”

“Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, belajar itu tidak akan ada habisnya. Berusahalah menggunakan waktu sebaik mungkin, karena dengan memanage waktu, hal itu bisa mengawali kesuksesan kalian.” pesan beliau untuk mahasiswa FE UII agar bisa dengan bijak memanfaatkan dan memanage waktu sehingga bisa mengawali kesuksesan.

Agus Bastian: Manfaatkan Waktu dan Berorganisasilah!

AGUS BASTIAN | Bupati Purworejo

Kreatif dan pantang menyerah, adalah kesan pertama saat dengan bertemu dengan Agus Bastian. Beliau adalah salah satu dari ribuan atau bahkan jutaan alumni sukses Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Beliau mengambil program studi Ekonomi Perusahaan atau yang sekarang lebih dikenal dengan program studi manajemen saat menimba ilmu disana. Sekarang beliau menjadi orang ternama nomor satu di Kabupaten Purworejo. Tentu banyak cerita menarik yang begitu inspiratif sebelum beliau bisa menjadi seperti sekarang ini.

Kisah masa kecil kerap menjadi kenangan tersendiri bagi kebanyakan orang. Agus salah satu sosok yang masih memiliki ingatan kuat untuk menceritakan masa kecilnya. Ia lahir dari pasangan seorang ayah dan ibu yang sama-sama seorang guru. Namun, saat kecil ia diasuh oleh oang tua asuh yang merupakan tantenya sendiri karena orang tua yang tidak cukup waktu dan biaya untuk mengurus anak-ankanya. Masa kecilnya begitu berwana tutur Agus. Ia tidak pernah menetap di satu sekolah, bahkan saat SD ia pindah sampai lima kali. SMP ia habiskan di tiga sekolah, dan SMA ia berpindah sampai dua sekolah.

Merantau menjadi suatu pilihan Agus saat melanjutkan kuliah. Ia menjadikan Yogyakarta menjadi Kota yang akan ia singgahi di perantauan. Universitas Islam Indonesia memang menjadi pilihan kedua saat ia memilih perguruan tinggi, namun ia tidak pernah ada penyesalan pernah berkuliah di universitas swasta ternama itu.

Begitu banyak warna yang ia torehkan saat ia menempun masa kuliah. Ia aktif di berbagai organisasi. Ia juga pernah memenangkan lomba lawak pada tahun 1979. Berbagai demo ala mahasiswa pun tidak lupa ia ikuti. Salah satu demo yang begitu berkesan adalah demo tentang penolakan ospek yang dianggap keras pada masa itu. selain aktif di berbagai kegiatan kampus, ia juga bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Sampai sampai, jadwal rutinitasnya pun begitu padat. Pagi hari sebelum berangkat kuliah ia harus menjadi loper Koran, selesai kuliah ia membuat berbagai kerajinan seperti sabuk, dompet sampai gantungan kunci. Dan malamnya ia gunakan untuk menjual hasil karyanya.

Ia juga pernah menjadi seorang cleaning service di kantor notaris saat kuliah. Karen aketekunan dan kerajinannya, Bapak Suryanto Partaningrat, S.H yang merupakan bossnya sendiri mengapresiasi pekerjaannya dengan memberikan CV. Abadi Multi Service kepadanya. itu merupakan langkah awal ia merambah ke dunia entrepreneur sesungguhnya. Saat awal berdiri ia hanya memiliki dua karyawan dan akhirnya berkat ketekunannya berhasil berkembang menjadi besar. Selain menjadi boss cleaning service ia juga merambah ke dunia lembaga pendidikan dan perhotelan. Perkerjaan itulah yang membuat Agus berbeda dari mahasiswa pada umumnya.

Jatuh bangun pun menjadi asupannya pada masa itu. ia memang belum lulus kuliah saat memulai bisnisnya. Bahkan ia butuh 13 tahun untuk menyelesaikan kuliahnya. Namun karena dorongan dan perkataan orang tua bahwa orang tua tidak pernah bangga jika ia pulang membawa mobil namun belum lulus kuliah membuat Agus termotivasi untuk segera melanjutkan kuliahnya.

Saat memegang berbagai usaha hanya satu kuni yang ia pegang, yaitu kunci kreativitas. Dengan kreatif usaha apapun bisa eksis, namun jika tidak usaha apapun akan tersaingi oleh pesaing yang lebih kreatif. Selain itu harus bisa menggali potensi dengan optimal dan jangan pernah nyaman di zona nyaman. Dengan begitu usaha apapun bisa menonjol dari pesaing yang lain.

“Tetap semangat dalam berproses dan isilah waktu mu dengan hal yang bermanfaat”

Harapan Agus kepada Mahasiswa UII masa kini bisa mewarnai smua lini progresi. Mulai dari birokrasi, banker, entrepreneur dan lain-lainnya. Hal lain yang ia harapkan adalah jangan pernah menghabiskan masa muda dengan belajar saja, namun gunakan waktu untuk mencari pengalaman lebih di dunia organisasi.

Sri Wulan : Jangan Takut Untuk Melangkah

SRI WULAN | Anggota DPR RI

Sri Wulan, wanita kelahiran Pati, 8 April 1977 lahir dari keluarga yang memiliki semangat bisnis yang luar biasa. Bisnis keluarganya bergerak dibidang peternakan sapi dan pertanian di Pati, Jawa Tengah. Bertekad untuk memajukan bisnis keluarga, Wulan memberanikan diri merantau ke Yogayakarta untuk menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Saat kuliah dulu, Wulan tidak banyak mengikuti kegiatan organisasi. Ia lebih sering menghabiskan waktu luangnya bersama teman-temannya ataupun untuk mengembangkan dirinya sendiri. Namun, sedikitnya kegiatan di bangku kuliah bukan berarti ia menghindari sosialisasi yang berguna untuk menunjang di masa depannya, tetapi banyak hal lain yang ia perjuangkan untuk dirinya dan masa depannya kelak.

Saat ini, Wulan bekerja di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi IX periode 2014-2019. Sebelumnya, Wulan menjabat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi periode 2009-2014. Sebagai anggota DPR RI, Wulan memiliki tujuan untuk mensejahterkan masyarakat dengan selalu siap membantu mereka yang sedang dalam kesulitan dan mendekatkan dirinya kepada masyarakat luas agar masyarakat lebih mudah dalam menyampaikan keluh-kesah maupun aspirasinya.

Selain berkecimpung dalam dunia politik, Wulan juga menjalani serangkaian bisnis yang juga memiliki tujuan yang selaras dengan kegiatannya di DPR RI, yaitu memberikan sarana menampung aspirasi masyarakat. Kegiatan bisnis yang Wulan jalani saat ini adalah mengelola travel umrah, Sekolah Menengah Kejuaruan (SMK) Tama Jaya School di Pati, dan berkecimpung dalam kegitan sosial melalui komunitas yang dinamakan Sahabat Wulan, serta klinik kesehatan. Dalam mengelola bisnis travel umrah, pada awalnya Wulan mengalami berbagai kendala terutama saat banyaknya isu terhadap agen travel umrah yang melakukan penipuan. Namun, Wulan tetap menjalankan bisnis travel umrahnya dengan gigih dan ikut terjun langsung dalam proses bisnisnya dalam melayani calon jamaahnya. Lalu di komunitas Sahabat Wulan sendiri merupakan komunitas yang dibangun oleh Wulan dan teman-temannya. Awalnya Sahabat Wulan hanya komunitas rekreasi bersama antara Wulan dan kerabatnya. Namun, saat ini Sahabat Wulan juga bergerak dalam kegiatan sosial. Wulan juga mengepalai sebuah SMK yang bernama SMK Tama Jaya School di Pati, Jawa Tengah. SMK yang telah berjalan sekitar 3 tahun ini merupakan sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu. SMK yang dibangun oleh Wulan memiliki tujuan mempersiapkan dan membekali siswa-siswinya untuk bersaing di dunia kerja setelah lulus SMK. Tahun pertama pembangunan, sekolah ini tidak memungut biaya apapun untuk uang pembangunan karena kembali ketujuan utama, sekolah ini diprioritaskan untuk masyarakat tidak mampu. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Bendahara Umum Ikatan Keluarga Kabupaten Pati di Jakarta.

Dalam menjalani kegiatannya, Wulan sangat didukung oleh keluarga dan tidak pernah dibatasi selama kegiatan yang ia jalani merupakan kegiatann yang positif. Saat ini, Wulan sudah dikaruniai 3 orang putra. Ia mengaku bahwa ia memiliki waktu yang kurang untuk bersama keluarga, terutama karena pekerjaan yang membuatnya terus bergerak dari satu kota ke kota yang lainnya. Disela-sela kegiatan yang sangat padat dan berbekal hobi traveling, Wulan selalu menyempatkan dirinya untuk meluangkan waktu bersama keluarga dengan berekreasi keberbagai daerah maupun negara. Wulan juga selalu memegang teguh prinsip hidupnya, yaitu jujur kepada diri sendiri dan jangan pernah takut untuk melangkah, hadapi masa depan dengan positif, karena keluarga pasti mendukung.

Anastuty Kusumowardhani: Bergantung Hanya Kepada Allah SWT

ANASTUTY KUSUMOWARDHANI | Deputi Direktur Bank Indonesia

Anastuty Kusumowardhani, kalau ditanya siapa dia mungkin sebagian besar orang yang kita tanya akan menjawab dengan geleng kepala, lain halnya ketika kita bertanya tentang siapa yang mengenal Bank Indonesia, mungkin sebagian orang justru akan melontarkan pertanyaan seputar lowongan pekerjaan yang ada di tempat tersebut, giliran Ibu Anastuty yang menggelengkan kepalanya. Ia terkenal sebagai anak yang berprestasi semasa kecilnya, namun ayahnya tidak suka akan hal itu “dulu ayah nggak suka ke sekolahku karena paling-paling cuma suruh ambil piala, mungkin karena beliau pegawai negeri ya” ceritanya sembari tertawa kecil. Terbiasa dengan lingkungan tempat tinggalnya di Sukamandi mungkin membuat Anastuty menjadi penggemar olahraga sedari kecil mulai dari kehidupan bangku sekolahnya yang pertama. Ia tinggal disebuah rumah besar di komplek Belanda disitulah Anastuty sering merebahkan dirinya untuk istirahat sepulang sekolah mulai dari TK hingga SMP. Kehidupanya di Sukamandi hanya bertahan hingga Anastuty menginjak SMP kelas 2, ia harus pindah ke Tanah Kusir awalnya ia tak mau pindah, ia menangis jika harus meninggalkan kampung halamanya, karena baginya sudah terukir kenangan indah disetiap sudut. Ia tak akan bisa lagi menikmati indahnya alam, atau hanya sekedar menghirup nafas di sekitaran sawah hijau nan lapang. Tetapi semua itu harus dilaluinya demi menggapai masa depan yang lebih baik, pada kesempatan kali ini Anastuty lebih aktif dari sebelumnya ia mengikuti kegiatan – kegiatan yang berada di sekolah khususnya ekstrakurikuler. Perjalanan pendidikanya ketika SMA bisa dibilang sangat lancar ia pun aktif di lingkungan organisasi terutama OSIS, hingga akhirnya tibalah saat ketika Anastuty harus melanjutkan ke studi yang lebih tinggi. Anastuty yang tadinya ingin menjadi insinyur mencoba dengan mendaftar Perguruan Tinggi dengan mengambil jurusan Teknik Industri namun usahanya belum berbuah manis, tak berhenti sampai disitu ia kembali mencoba dengan mendaftar Arstiek namun apa daya usahanya juga belum berhasil, hingga pada suatu hari ayahnya tak berbicara panjang lebar langsung membelikan tiket ke Jogja untuk tes di UII. Seperti kebanyakan mahasiswa lainya, Anastuty menuntut ilmu di UII ia lalui dengan berbagai aktivitas yang tak jauh beda ketika dia SMA, ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman – temanya “mencari network lah ya” pungkasnya. Dentuman drum dan iringan musik khas Marching Band akan selalu terngiang di kepala Anastuty, belum lagi ditambah senda gurau bersama teman satu timnya inilah momen yang selalu mengisi keseharian Anastuty ketika ia sedang bosan dengan rutinitas kuliah.

Anastuty lulus dari UII pada tahun 1990, tidak ingin menunggu lama dalam proses memulai kerja ia langsung mencari pekerjaan dengan mendaftar dibeberapa perusahaan bonafit di Indonesia. Sebelum masuk ke Bank Indonesia, Anastuty pernah bekerja di lembaga pendidikan BNI dan di perusahaan minyak asing namun tak lama bekerja disana dalam waktu 2 bulan, ia mendapat panggilan dari Bank Indonesia walaupun awalnya Anastuty bahkan tidak tahu apa itu Bank Indonesia tetapi akhirnya ia tetap memenuhi panggilan tersebut. Tahun itu 1992, ia resmi bekerja di Bank Indonesia, perjalanan karirnya pun cukup cepat karena pada tahun 1993 Anastuty diangkat menjadi Asisten Manajer hingga tahun 1999 ia dipromosikan menjadi Manajer. Selanjutnya pada tahun 2000 karena tuntutan pekerjaan ia harus melanjutkan studi ke Australia, hingga pada akhirnya tahun 2011 Anastuty diangkat menjadi Deputi Direktur Bank Indonesia, ketika ditanya tentang kendala ia menjawab “Banyak sih kendalanya tapi harus stay calm, tipsnya jadi orang baik” tutur Anastuty. Memiliki banyak jaringan dengan orang – orang yang dikenalnya melalui organisasi maupun sekedar bermain biasa dahulu kala kuliah menjadi support system tersendiri bagi Anastuty, “selain peran Almamater, saya juga dulu ya banyak mainnya juga organisasi, saya jadi kenal banyak orang” ceritanya sambal menikmati minuman yang dipesan. Ia mengatakan dalam kuliah kita harus fokus karena kuliah membentuk cara kita berpikir, bagaimana cara kita bergaul juga menentukan bagaimana kita suskes nanti dan pesan bagi mahasiswa zaman sekarang khususnya mahasiswa FE UII “Jangan bergantung dengan orang lain, bergantunglah pada Allah SWT” ucapnya penuh makna.

Tanti Widia Nurdani: Imbangi Usaha dengan Doa

TANTI WIDIA NURDANI | Kadiv Komunikasi dan Humas Badan Keuangan Haji

Pancaran raut wajah yang ceria dan murah senyum, itulah kesan pertama kami saat bertemu dengan Tanti Widia Nurdani, Ia merupakan Kepala Cabang Bank Jatim Syariah dikota Malang. Tentunya banyak perjuangan yang ia lakukan sebelum menduduki posisinya sekarang, didikan mandiri yang diajarkan sejak kecil dirumahnya membuat Tanty tumbuh menjadi seorang wanita yang tangguh, semua pembelajaran yang sudah didapatkannya selama dirumah ia jadikan bekal untuk merantau di kota Pelajar semasa memasuki bangku Sekolah Menengah Atas.

Tanti Widia Nurdani yang lahir di Kabupaten Tuban pada tanggal 26 Mei 1981 ini memang sudah terlihat bakat kecerdasaannya, hal ini dibuktikan dengan prestasi yang diraihnya pada saat lulus di bangku sekolah dasar dengan meraih nilai Ujian Akhir Berstandar Nasional kedua tertinggi se-kabupaten Tuban. Selanjutnya ketika lulus SMP Tanti kembali meraih prestasi masuk tiga besar nem terbaik di sekolahnya.

 “Saya itu orangnya selalu one step ahead dibanding teman teman seusia saya”

Tanti adalah seorang yang visioner dan berpikir kedepan, dia tidak ingin menggantungkan nasibnya di universitas dan jurusan yang biasa biasa saja. Akhirnya Tanti memilih Universitas Islam Indonesia sebagai tempatnya berlabuh dan menimba ilmu , dia memilih UII Fakultas Ekonomi jurusan Menejemen program internasional. Alasan dia memilih UII karena kampus ini  adalah satu satunya kampus yang sudah memiliki Program kelas Internasional kala itu, dan untuk alasannya mengambil jurusan menejemen,dia mengungkapkan bahwa karena hasil tesnya bagus maka otomatis dia masuk ke jurusan menejemen yang kala itu menjadi program studi terbaik di Fakultas Ekonomi.

Ada beberapa organisasi  yang diikutinya selama menjadi mahasiswa diantaranya, menjadi pengurus KSPM atau (Kesatuan Pasar Modal) , lalu menjadi anggota English Club UII dan aktif dalam organisasi masjid yang kala itu bernama JAM. Waktunya semasa kuliah tidak banyak dihabiskan untuk banyak nongkrong dan menghabiskan uang untuk hal hal yang menurutnya tidak penting. Fokusnya adalah kuliah dan berkegiatan yang menurutnya bermanfaat. Akhirnya dalam kurun waktu 3,5 tahun Tanti sudah dapat menyelesaikan kuliahnya.

Tak ingin menyia-nyiakan waktu kala itu dengan SKL (Surat Keterangan Lulus) Sementara, Tanti langsung memasukan CV nya untuk melamar kerja di berbagai perusahaan. Berbagai perusahaan dia jajal, ada yang memanggilnya untuk interview banyak juga yang tidak. Akhirnya pada saat itu Tanti mendapat panggilan interview di Bank Mandiri Syariah. Di bank Mandiri Syariah Tanti menjadi Customer Service bank. Empat bulan berlalu akhirnya Tanti pun resmi lulus dari Fakultas Ekonomi dan mendapat gelar Sarjana Ekonomi saat wisuda. Tanti bergabung di Mandiri Syariah hanya kurang lebih satu tahun. Setelah itu dia menjajal bekerja di Bank BTN dengan posisi Account Officer, kemudian Relationship Management Officer, Sub Branch Head, dan kemudian menduduki jabatan yang lebih tinggi yaitu Branch Manager. Dia pun lolos tahap seleksi dan menduduki jabatan Branch Manager di cabang Soekarno Hatta Kota Malang Jawa Timur selama kurang lebih 9 Tahun dari tahun 2004 sampai tahun 2013.

Tahun 2010 saat dimana ibunda tercinta terkena stroke  dan pada saat itu Tanti seorang ibu yang juga baru memiliki bayi harus bergantian dalam mengurusi sang bunda dan anaknya, setiap pagi sebelum pergi bekerja dia menyempatkan menyuapi sang bunda yang lumpuh total serta anaknya juga yang masih bayi. Setelah 9 Tahun menjabat sebagai Branch Manager Tanti tertarik untuk mencari jabatan yang lebih tinggi, dan akhirnya dia mencoba memasukan surat lamaran pekerjaan di Bank Jatim Syariah Malang, tak disangka diapun diterima dan langsung mendapat jabatan yang tinggi. Dia merasa dibalik semua keberuntungannya pasti ada sebuah Invisible Hand  yang membantu memuluskan karirnya, invisible Hand yang dimaksud yaitu doa yang terucap dari kedua orang tua Tanti, terutama doa ibundanya yang walaupun secara fisik lumpuh namun doa dari ibundanya selalu mengalir untuk suksesan sang anak.

“Berusahalah semaksimal mungkin dan jangan lupa imbangi dengan doa,percayalah invisible hand pasti akan ada membantu melancarkan kesuksesan kita.”

Bambang Tri Baroto: Nikmati Hidup Dengan Passion

BAMBANG TRI BAROTO | Corporate Secretary Bank BRI

Datang dari tanah Paris Van Java dan singgah di Yogyakarta adalah dia yang bernama Bambang Tri Baroto, atau Bambang sapaan akrabnya. Putra ke-6 dari 9 bersaudara Bapak R. Sumarlan dan Ibu Siti Mariah ini lahir pada 8 Februari 1962 di Bandung dan langsung merintis kisah perjalanan hidupnya di Yogyakarta. Langit sore di sudut Sagan tepatnya belakang SMA 9 Yogyakarta tempat Bambang setiap hari melepas penatnya seusai sekolah, Bambang memulai rangkai pendidikanya di SD Ungaran, Kotabaru. Seperti kebanyakan anak lainya Bambang meneruskan sekolahnya setelah jenjang Sekolah Dasar, ia melanjutkan ke bangku sekolah menengah di SMP 8 Yogyakarta dan melanjutkan ke SMA 4 Karangwaru. Kisah semasa kecil hingga remajanya diisi dengan permainan dan tren pada zamanya dengan kawan seperjuangan tentunya, ditambah lagi ia harus ditinggal oleh ayahnya yang bekerja di luar kota. Tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, perjalanan kesuksesanya tidak berjalan mulus seperti yang ia harapkan, seusai lulus SMA ia dipaksa merasakan pahitnya ditolak berkali-kali ketika mendaftar perguruan tinggi, tak ada satupun perguruan tinggi yang didaftarnya menerima usaha Bambang. Jiwa perjuangan yang tak mudah dipatahkan memang sudah melekat dalam dirinya, semangatnya datang dari warisan yang diberikan oleh orang tuanya.

“Sebagai orang tua kita hanya bisa mewariskan pendidikan untukmu, gapailah pendidikan setinggi mungkin”

Warisan berharga dari Bapak dan Ibu Bambang, kata – kata ini mendorong Bambang untuk mengikuti bimbingan demi mengisi waktu luangnya sebelum kembali mendaftar Perguruan Tinggi. Semangat dan usahanya melayangkan perasaan bahagia ketika ia menerima kabar dirinya diterima oleh 3 Perguruan Tinggi bonafit di Yogyakarta. Perguruan Tinggi berkelas UII, UGM, dan IKIP (sekarang UNY) seakan menyapu semua rasa lelahnya perjuangan Bambang dalam mendapatkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dunia seolah berada digenggam tanganya, tidak ingin menelantarkan kesempatan emas itu, UGM dan UII dipilihnya dengan jurusan Sosiologi (UGM) dan Ekonomi Perusahaan (UII) yang sekarang berubah nama menjadi Manajemen. Namun di tengah perjalanan ia memutuskan untuk berfokus ke satu Perguruan Tinggi saja, UII dipilihnya dengan peluang karir yang menjanjikan, “Ekonomi lebih mudah dan prospek” pungkasnya.

Tongkat pemukul, helm pelindung, sarung tangan, dan seragam kebanggaan milik Bambang menjadi saksi bisu perjuanganya dalam perjuanganya menorehkan prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) bidang Softball. Lahan rumput hijau, sorak sorai suporter mungkin menjadi hal yang setiap detik dirindukan oleh Bambang. Saat itu adalah tahun pertamanya menjadi mahasiswa tingkat satu, “Saya memang suka banget olahraga, passion saya olahraga” ucapnya dengan nada bangga. Dua kali menorehkan prestasi dalam ajang PON menjadi kisah yang akan selalu membekas di benak Bambang, “Benar-benar momen yang tak terlupakan” tambahnya. Memiliki karakter yang gigih dan tak mudah menyerah tentu saja tidak didapat oleh Bambang dengan cuma – cuma, ia mendapatkan hal tersebut karena sudah membiasakan diri dengan kompetisi, baginya ia sangat bersyukur telah banyak mengikuti kompetisi untuk bekalnya dalam membangun daya juang. Mengikuti banyak kegiatan di luar kampus menjalin hubungan dengan banyak orang menjadi hal yang digemari oleh Bambang selain olahraga, demi membangun sebuah koneksi yang nanti akan membantunya dalam mencari pekerjaan, semua itu ditempuh dengan jalan yang berbeda tentunya, ada yang dengan menjadi kelompok belajar ada juga yang berperan sebagai teman dikala waktu libur melanda, “Pernah mendaki ke Merbabu dan Merapi walaupun cuma sekedar ikut – ikut sih, jaman dulu main itu hal utama” tuturnya.

Tahun 1987 adalah tahun saat Bambang mengenakan toganya dengan bangga, berdiri di hadapan ratusan bahkan mungkin ribuan manusia saat itu menyambut kelulusan sarjana muda ini. Petualanganya belum selesai masih banyak yang harus dilakukan, masih banyak lahan yang bisa ia jadikan prestasi. Seusai kelulusanya dari UII, Bambang langsung mencari pekerjaan dan didapatinya pekerjaan di sebuah Perusahaan Swasta, namun saat itu menurut Bambang jenjang karir di Perusahaan Swasta tidak menentu. Setelah lamanya dua tahun bekerja sebagai karyawan Perusahaan Swasta, ia mengintip kesempatan lain dengan mendaftar didua Perusahaan Perbankan, BRI dan CIMB dipilihnya saat itu. Dengan prestasinya yang telah diukir selama masa perkuliahan memudahkan Bambang diterima didua perusahaan yang didaftarnya tersebut dengan mudah. Bambang lebih memilih BRI pada akhirnya karena itu pilihan merupakan pilihan pertamanya. Hampir seluruh jabatan pernah diraih oleh Bambang dalam perjalanan karirnya, dimulai dari menjadi Staff, Wakil Kepala Bagian, Kepala Bagian, hingga Wakil Pemimpin Wilayah. Semua pernah dirasakan olehnya, bahkan dalam merintis karirnya ia pernah ditempatkan di enam wilayah yang berbeda di Indonesia antara lain Jakarta, Semarang, Jogja, Padang, Denpasar, dan Bandung tentu dengan jabatan yang berbeda–beda disetiap wilayahnya, “Pas jadi Staff itu di Jakarta, terus jadi Wakil Kepala Bagian di Jogja, jadi Kepala Bagian pas di Padang, terus jadi Wakil Pemimpin Wilayah di Bandung sama di Jakarta” ceritanya. Prestasi ini diraih oleh bambang lantaran dirinya sudah biasa berkompetisi, bersaing di dalam perusahaanpun tak ada bedanya “Saya tidak pernah mengincar jabatan dalam bekerja, yang penting kerja semaksimal mungkin dan menjaga amanah dengan begitu prestasi yang akan mengejar kita bukan sebaliknya” tuturnya. Semua ini juga diraihnya karena ilmu yang telah ia dapat pada saat berkuliah di UII, menurutnya jurusan yang ia ambil sangat relevan dan berkaitan. Menurutnya pengalaman, relasi, dan passion adalah kunci yang harus dipegang untuk adik–adik mahasiswa,

“Hidup sesuai dengan passion masing–masing, hidup harus dinikmati tentu juga semua dilakukan demi Allah SWT” begitulah pesan yang disampaikan oleh Bambang.

Yunita Anggraini: Kunci Sukses Berbisnis

YUNITA ANGGRAINI | GM HRD Sambal Layah Corp

Sesuatu yang kita beli sendiri dari hasil keringat kita sendiri akan membuat kebahagian yang jauh lebih besar dari pada dibelikan oleh orangtua kita. Itu lah pesan dari Almahum seorang Ibu pendiri Sambal Layah Corp yaitu Yunita Anggraini. Wanita kelahiran kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah ini adalah salah satu alumni prodi manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) tahun 1988.

Yunita anak terakhir dari lima bersaudara. Ayahnya berprofesi sebagai seorang camat. Profesi ayahnya ini lah yang membuat Yunita berpindah-pindah sekolah, karna harus mengikuti tempat kerja ayahnya. Saat menempuh pendidikan sekolah dasar (SD) Yunita 4 kali harus berpindah sekolah dan sewaktu Sekolah Menengah Atas (SMA) ada 2 tempat sekolah yang dia rasakan.

Wanita yang sangat menyukai seni ini dari kecil sudah bisa menari dan bermain gitar. Bahkan, sejak SD dia sudah bermain gitar di pentas seni. Dan sewaktu menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Yogyakarta, Yunita sering di Undang untuk pentas seni menari. ‘ dulu kita ikut perkusi smp 8, sering di sewa keliling jogja dan dapat bayaran 1500 sekali pentas”- kenangnya sambil tersenyum.

Dengan latar belakang dari keluarga yang bekerja sebagai pegawai beliau berhasil bergelut dibidang wirausaha didukung oleh saudara sepupu beliau yang bernama Wawan. Sepanjang perjalanan menuju ke Klaten itulah beliau mengobrol bersama saudaranya mengenai “sambal layah”. Beliau berpikir akan membuka usaha tanpa membayar biaya franchise dan ingin membuka usaha untuk kalangan masyarakat middle low. Pada tahun 2013, beliau pertama kali mencoba untuk membuka warung di Purwokerto kemudian di Purbalingga setelah itu beliau membuka di Yogyakarta dengan 20 cabang yang ada di Yogyakarta  Beliau merasa dapat berkiprah banyak ketika beliau sudah membuka cabang di Yogyakarta.

Selain bisnis warung makan sambal layah beliau juga memiliki usaha yang bernama “sambal bledek” di Purwokerto yang sudah membuka 8 cabang.  Ada juga bisnis beliau yang bernama “sambal gebyur” yang terdapat di Pekalongan dan Purwokerto, kemudian yang terakhir bisnis beliau yang bernama “Warung Kekinian atau WK” yang sudah terdapat di Pemalang dan Purwokerto. Keluarga beliau  yang didominasi dari pendidikan ilmu Akuntansi dan tidak ada jiwa entrepreneur sedikitpun tetapi mampu memberikan dukungan sehingga dapat memiliki usaha seperti ini.

Beliau berkiprah dibagian HRD sambal layah, beliau mampu menciptakan karyawan yangs sesuai dengan kinerjanya masing – masing. Disinilah menjadi tantangan terbesar beliau ketika dari pihak HRD diminta untuk mencari karyawan dalam kurun waktu 1 bulan di dalam perubahan tim recruitmennya. Selain mengurusi bisnis beliau juga menjadi Trainee Konsultan.

Kunci bisnis itu ketika mengalami fase penurunan maka jangan menghindar dan meninggalkannya. Tetapi mencari cara untuk menaikan bisnis tersebut. Bisnis apapun itu, jika kita serius melakukannya pasti orang akan menangkapnya dengan baik, ungkap beliau. Prinsip beliau dalam berbisnis adalah untuk menyenangkan orang lain, karena produk yang kita ciptakan itu produk yang akan dibutuhkan oleh orang lain.

Salah satu keinginan beliau adalah disetiap bisnis beliau dapat menjadi wadah untuk akhirat. Beliau tetap memberikan nilai keagamaan dalam lingkungan bisnisnya seperti sholat dhuha bersama, pembacaan kultum.

“Janganlah menjadi orang yang terlalu teoritis, mari praktikan ilmu yang kita miliki.”  pesan beliau untuk mahasiswa FE UII agar siap dalam memasuki dunia kerja.

“Kemuliaan tertinggi adalah ketika kita mampu memberikan kemanfaatan  terbanyak bagi umat, jadilah orang yang paling mulia dengan cara memberikan hal yang terbaik bagi orang lain.” pesan beliau.

Yulianto Setiawan : Keluar dari Zona Nyaman, Terimalah Tantangan

YULIANTO SETIAWAN | Deputy General Manager PT. Bank Rakyat Indonesia (Pesero) Tbk. Cabang Singapura

Karismatik dan pembawaan tenang, itulah kesan pertama saat bertemu dengan beliau. Yulianto Irawan, Ia merupakan salah satu alumni lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) program studi Akuntansi International Program. Pria kelahiran 2 Juli 1978, Kudus ini, lahir dan besar di Kudus hingga akhirnya merantau ke Yogyakarta untuk mengenyam perkuliahan. Ayahnya sendiri merupakan seorang pegawai instansi terkait di kota Kudus. Dari sosok ayahnya inilah, Iwan sapaan akrabnya, bisa mencapai titik kesuksesan hingga sekarang. Sosok seorang ayah yang keras membuat beliau ingat yang diajarkan ayahnya adalah selalu menanamkan kedisiplinan, dimana kedisiplinan tersebut membawanya pada prestasi-prestasi di sekolah dan ranking disekolah. Prestasi yang didapatnya tersebut selalu diapresiasi ayahnya dengan memberikan reward seperti membelikan buku. Akan tetapi jika beliau melakukan kesalahan akan mendapat punishment, tetapi punishment yan membangun seperti hafalan surat dan pelajaran. Hal tersebut juga beliau terapkan ke anak-anaknya.

Masa kecil beliau tidak jauh beda dengan masa kecil anak lainnya, Kudus sendiri merupakan kota santri dimana setiap sore dihabiskan dengan membaca ayat-ayat alquran bersama anak-anak lain. Ia juga masih mengingat pengalaman yang tidak terlupakan ketika ditugaskan menjadi pembawa bendera, dan saat mengibarkan benderanya terbalik. Tetapi titik balik kehidupan beliau ketika ayahnya meninggal pada saat ia masih duduk dibangku SMA. Beliau berpikir saat itu ibunya sendirian sehingga ia harus sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu karena jika tidak masih terdapat tanggungan kedua adiknya. Karena hal itu ia selalu menargetkan sesuatu secara tepat waktu dan fokus pada pendidikannya karena jika ia tidak lulus tepat waktu maka pendidikan adik-adiknya juga akan terhambat.

Pada zaman kuliah dulu, awalnya ia bercita-cita untuk menjadi arsitek dikarenakan kegemaran menggambar. Tetapi saat ujian UMPTN ternyata tidak lolos, dan dipilihlah UII akuntansi karena saat itu UII merupakan swasta terbaik di Yogyakarta dan UII sendiri adalah kampus bernuansa islami. Beliau sendiri bukan termasuk orang berkegiatan organisasi di kampus, bukan karena ia tidak suka dan tidak mau, akan tetapi ada ketakutan tidak bisa membagi waktu antara organisasi dan Pendidikan. Selain berkutat dengan dunia akademik, kesibukan kuliah dihabiskan dengan menjadi ketua pada event scrabble untuk Jogja dan DIY serta mengurus pojok international program.

Pada tahun Juli 2001 mulai bekerja di BPD D.I. Yogyakarta bagian account officer, selama 7 bulan. Febuari 2002, pindah di BRI Jakarta sebagai calon staf atau saat ini disebut Management training, di BRI ia sudah 16 tahun dan sudah pindah 8 cabang. Sempat 2005 mendapat beasiswa di Australia kemudian balik ke Jakarta bekerja dibagian investor relation divisi corporate secretary BRI. Kemudian dipindahkan ke Semarang sebagai operasional manajer, tidak selang lama dipindahkan kembali ke Kalimantan sebagai pemimpin cabang pembantu, sering dipindah tugas tidak meyurutkan semangat beliau, bahkan karena hal itu yang membawanya untuk membuka cabang BRI di Singapura tahun 2014 sampai saat ini. Awal pendirian banyak terdapat hambatan dan tantangan mulai dari pendirian kantor bank, izin pendirian, hingga ketatnya regulasi pendirian bank di Singapura. Hingga saat ini BRI cabang Singapura berhasil mencapai break event point selama 2 tahun karena adanya kerjasama dan komunikasi dalam tim. “Keluarlah dari zona nyaman dan terimalah tantangan, jangan pernah takut untuk gagal dalam tantangan tersebut tetapi cobalah terus hingga bisa mencapai achievement” pungkasnya dalam harapan untuk penerus bangsa.