,

Meningkatkan Kualitas Pendidikan Internasional: FEM UNIDA Lakukan Benchmarking dengan FBE UII

Senin (19/02), Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Gontor Darussalam (FEM UNIDA) melakukan kunjungan ke Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) untuk melakukan pembandingan sistem pendidikan, sehingga dapat meningkatkan sistem pendidikan yang lebih baik lagi. Pertemuan ini dipimpin oleh Bapak Drs. Achmad Tohirin, M.A., Ph.D., selaku Wakil dekan bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan alumni. Kegiatan diawali dengan diskusi hangat mengenai Asean University Network Quality Assurance (AUN QA), Tohirin mengungkapkan, “Menurut saya menarik sekali AUN QA, meskipun bukan untuk akreditasi tapi untuk sertifikasi.” Walaupun berbentuk sertifikasi, AUN QA sendiri banyak memberikan kemudahan dalam akses internasional seperti internship, peningkatan kemampuan bahasa, student exchange maupun lecture exchange, tanpa adanya proses yang rumit.

Selain AUN QA, FBE UII juga sedang berproses menuju akreditasi Internasional yakni Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA). Menurut Sahabudin Sidiq, Dr., MA., selaku Dosen FBE UII, “Prosesnya sudah setengah jalan dan semua prodi FBE sudah kami usahakan.” Tantangan terberat di FIBAA menurut Sidiq sendiri tidak jauh berbeda dengan AUN QA karena secara prinsip keduanya hampir sama AUN QA berbentuk sertifikasi, sedangkan FIBAA berbentuk akreditasi dan keduanya sama-sama Internasional.

Untuk meningkatkan minat pelajar terhadap FBE UII, menurut Rokhedi Priyo Santoso, S.E., M.I.Dec., selaku Dosen FBE UII hal yang harus diperhatikan adalah akreditasi kampus karena akreditasi merupakan salah satu point penting untuk mahasiswa memilih kampus. “Sehingga, sertifikasi dan akreditasi Internasional yang dimiliki UII itu dapat meningkatkan branding dari UII itu sendiri,” tutur Rokhedi.

Lalu untuk perbedaan Internasional Program (IP) dan reguler di UII, selain biayanya yang berbeda tentu saja pengalaman belajarnya juga berbeda. “Untuk Program internasional diperkuat pada karakter building, seperti outbond, exposure AISm, student mobility. Selain itu, perkuliahan sehari-hari juga menggunakan bahasa Inggris, tetapi kurikulum yang digunakan tetap sama dan ijazah serta sertifikat international,” ungkap Tohirin. 

Kegiatan benchmarking ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan bermanfaat bagi dunia akademik. Selain itu, kegiatan ini dirancang agar universitas dapat meningkatkan kualitas mengajar serta fasilitas pembelajaran.

(IAS)