HUT LPM Ekonomika FE UII

Mahasiswa merupakan agent of change, yang diharapkan dapat bertindak sebagai penggerak yang mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi dengan pertimbangan berbagai ilmu, gagasan, dan pengetahuan yang mereka miliki. Sehingga mahasiswa memiliki banyak aspirasi atau suatu keinginan yang kuat untuk kedepannya dapat merubah negaranya menjadi lebih baik lagi. Lembaga Pers Mahasiswa Ekonomika Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia  (LPM Ekonomika FE UII) hadir untuk menjadi salah satu media aspirasi dan inspirasi mahasiswa. Ekonomika FE UII telah berdiri selama 42 tahun dan telah banyak menampung aspirasi mahasiswa serta menjadi salah satu saksi jatuh bangunnya perekonomian Indonesia sejak Orde Baru hingga masa Reformasi.

Dalam merayakan hari berdirinya LPM Ekonomika FE UII diadakan lomba dan sharing fotografi yang mengusung tema “Human Interest: Bahagia itu Sederhana Ala Anak 90-an”. Diadakannya lomba fotografi, karena fotografi merupakan salah satu jenis seni yang saat ini sedang populer di kalangan anak muda dan fotografi menjadi salah satu aspek penting dalam suatu berita karena foto yang dihasilkan harus dapat menyampaikan suatu pesan melalui visualisasi dari sebuah peristiwa. Lomba ini diselenggarakan tidak hanya untuk mahasiswa FE UII namun juga untuk mahasiswa aktif se-Indonesia. Tanggapan diadakannya lomba fotografi ini sangat positif dapat dilihat dari banyaknya jumlah peserta yang mengikuti lomba tersebut.

Alur perlombaan fotografi diawali dengan tahapan pendaftaran dan pengumpulan karya pada tanggal 1-30 November 2018 kemudian diikuti dengan sesi penjurian pada tanggal 1-7 Desember 2018 dan sebagai penutupan yaitu sesi sharing dan pengumuman lomba pada tanggal 8 Desember 2018 yang diselenggarakan di Hall Tengah FE UII. Sesi sharing kali ini diisi oleh seorang fotografer professional yaitu Yosafat Y. Krishnanda. Pada sesi sharing Yosafat menjelaskan mengenai fotografi dan salah satu jenisnya yaitu human interest. Seperti yang telah kita ketahui fotografi memiliki arti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka terhadap cahaya. “Landasan dalam menciptakan sebuah karya fotografi ada empat yaitu pencahayaan, efek gerak, fokus dan ruang tajam komposisi” ucap Yosafat.

Banyak sekali jenis-jenis foto dalam fotografi yaitu jenis landscape, portrait, aerial, stage, wildlife, human interest, macro, food, dan masih banyak lagi. Namun saat ini jenis fotografi yang paling populer yaitu human interest karena memiliki banyak peminat dan tidak membosankan karena dalam human interest kita seperti “membekukan” waktu. Fotografi human interest adalah potret dari kehidupan seseorang yang menggambarkan suasana/mood dan menimbulkan simpati dari orang yang melihatnya. Human interest merupakan bagian dari foto jurnalisme, foto dalam human interest menggambarkan kehidupan dan interaksi manusia dengan lingkungannya serta menggambarkan kehidupan masyarakat dengan perekonomian ke bawah atau di daerah pedalaman. Sesuai dengan namanya objek yang dipotret dalam human interest yaitu manusia.

Pada sesi sharing, Yosafat juga memberikan tips dan trick dalam pengambilan fotografi. Tips yang pertama yaitu jangan takut dengan orang, maksudnya yaitu ketika ingin memotret kita harus melakukan komunikasi dengan objek yang ingin kita potret. “Jangan biasakan mengambil foto tanpa izin dan setelah selesai langsung pergi begitu saja”, tutur Yosafat. Tips yang kedua yaitu belajar untuk menunggu momen dan tips yang terakhir yaitu ambil close-up objek tersebut. Yosafat juga berpesan untuk usahakan hasil dari foto human interest ini senatural mungkin dan mengatakan “Jika foto mu kurang bagus berarti kamu kurang dekat dengan objek”. (SHP)

Tantangan Implementasi Keuangan Syariah di Era Revolusi Industri

Perkembangan Teknologi dan Informasi yang semakin pesat menuntut pelaku bisnis harus siap menghadapi tantangan. Munculnya istilah Industri 4.0 sudah tidak asing lagi di bidang keuangan dan akuntansi. Program Studi Magister Akuntansi Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan 1st National Conference on Accounting and Finance yang bertema “Tantangan Implementasi Keuangan Syariah di Era Revolusi Industri 4.0” yang dilaksanakan tanggal 8 Desember 2018 di Fakultas Ekonomi UII. Prof. Mahfud Sholihin, M.Acc., PhD. Dan Prof. Dr. Hadri Kusuma, MBA menjadi key note speaker atau pembicara utama dalam acara ini dan Drs. Arief Bachtiar, MSA sebagai moderator. Acara dimulai dengan sambutan dari Aditya Pandu Wicaksono, S.E. M.Ak., Ak selaku ketua acara dari 1st National Conference on Accounting and Finance dan dilanjutkan oleh Dr. Jaka Sriyana, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Sejumlah 101 peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi pada acara ini.  Konferensi ini nantinya akan diisi oleh 43 peserta yang datang dari seluruh penjuru negeri, yang secara teknis dibagi ke dalam 4 kelas dan 4 sesi presentasi dengan sistem paralel. Berbagai penelitian yang baik, edukatif, dan menarik akan disampaikan oleh para pemakalah. Dari beberapa penelitian itu akhirnya akan dipilih menjadi 2 best presenter dan 2 best paper, serta paper yang terpilih dari konferensi ini akan dimasukkan kedalam jurnal yang dikelola oleh Program Studi Akuntansi dimana pada saat ini Program Studi Akuntansi sudah mengelola dua jurnal dan jurnal yang dianggap baik akan tetap di review sesuai dengan prosedur yang ada.

Prof. Mahfud Sholihin, M.Acc., PhD sebagai key note speaker  membawakan judul Revolusi Industri 4.0 yang pada awalnya bermula pada tahun 2011 di Jerman, yang dimana revolusi industri sendiri menurut Prof. Mahfud Sholihin, M.Acc., PhD berkarakteristik disruptive technology, big data, dan artificial technology. Sedangkan, Prof. Dr. Hadri Kusuma yang merupakan salah satu key note speaker membawakan judul “Revolusi Indutri 4 Dan Profesi Akuntansi” sebagai materi yang dibawanya. Pada materi ini dijelaskan bahwa Revolusi Industri 4.0 merupakan Revolusi Industri yang ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, cloud computing, sistem big data, rekayasa genetika dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak (The Fourth Industrial Revolution by Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum). Namun Revolusi Industri sendiri memiliki beberapa ancaman diantaranya adalah secara global era digitalisasi akan menghilangkan sekitar 1–1,5 miliar pekerjaan sepanjang tahun 2015-2025, karena digantikannya posisi manusia dengan mesin otomatis (Gerd Leonhard, Futurist) dan diestimasi bahwa di masa yang akan datang 65% murid sekolah dasar di dunia akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada di hari ini (US Department of Labor report). Selain memiliki ancaman, revolusi industri juga memiliki peluang seperti era digitalisasi berpotensi memberikan peningkatan jumlah tenaga kerja hingga 2.1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025, serta terdapat potensi pengurangan emisi karbon sekitar 26 miliar metrik ton dari tiga industri: elektronik (15,8 miliar), logistik (9,9 miliar), dan otomotif (540 miliar) dari tahun 2015-2025 (World Economic Forum). Prof. Dr. Hadri Kusuma menyampaikan pada akhir materinya bahwa “Perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Manfaaatkan atau jadi korban adalah sebuah pilihan dan teknologi itu hanya alat seperti istilah a man behind the gun,  bahwa yang terpenting adalah siapa yang menggunakan alat tersebut.”

Keliling Dunia Melalui International Student Mobility

Bepergian ke luar negeri kini bukan menjadi hal yang sulit bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, pasalnya beberapa fakultas di UII memiliki dua program dalam pendidikannya yakni reguler dan international program (IP). Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi UII yang bekerjasama dengan IP kali ini mengadakan info session yang berjudul International Student Mobility pada hari Jumat, 30 November 2018 di Aula Utara FE UII. Acara ini membahas terkait program gelar ganda (double degree) yang ditawarkan kepada mahasiswa FE UII. Seperti dilansir dari Ristekdikti, program kembaran atau gelar ganda (double degree) adalah penyelenggaraan kegiatan antar perguruan tinggi baik dalam negeri maupun melalui kerjasama antara perguruan tinggi di dalam negeri dengan perguruan tinggi di luar negeri, untuk melaksanakan suatu program studi secara bersama serta saling mengakui lulusannya. Sehingga mahasiswa yang mengikuti program ini nantinya akan mendapat dua gelar dari dua universitas yang berbeda. Acara ini diisi oleh Nihlah Ilhami selaku Manajer dari International Mobility UII, Diaswanto Rosyad selaku Presidium PPI Deventer City Netherlands 2017-2018, Fauzan Goldiano Putra sebagai Head of Global Talent & Entrepreneur Global Talent AIESEC Indonesia, dan Arif Singapurwoko sebagai moderator acara.

Pada awal sesi, Nihlah Ilhami memberikan pengetahuan dan informasi terkait cara yang bisa ditempuh mahasiswa FE UII untuk melanjutkan studi ke luar negeri dan meraih gelar ganda melalui berbagai program. Mahasiswa bisa memilih sendiri negara tujuan yang diinginkan baik di Asia hingga ke Eropa. Nihlah Ilhami menjelaskan negara Asia yang sering dipilih oleh mahasiswa adalah Malaysia, Jepang, Thailand, dan sebagainya. Sedangkan negara Eropa yang biasa dipilih oleh mahasiswa diantaranya adalah Jerman, Inggris, dan Perancis, umumnya mahasiswa enggan jika harus melanjutkan studi ke luar negeri dengan alasan biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, namun Nihlah Ilhami menjelaskan bahwa banyak universitas di luar negeri yang memberikan beasiswa (scholarship ) untuk mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Dengan adanya beasiswa ini maka mahasiswa tidak perlu membayar uang kuliah, bahkan beberapa universitas memberikan biaya hidup sehingga mahasiswa hanya perlu mengurus uang transport saja, namun tentunya beasiswa yang diberikan ini tidak semena-mena diberikan tetap ada persyaratan yang harus dipenuhi.

Pada sesi kedua disampaikan oleh Fauzan Goldiano Putra selaku utusan dari AISEC Indonesia. AISEC merupakan organisasi pemuda terbesar di dunia yang mecakup beberapa negara di belahan dunia. Menurut pria yang akrab di panggil Faldi ini, AISEC Indonesia merupakan wadah bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk menemukan potensi diri serta mengembangkan kemampuan sebagai seorang pemimpin.  AISEC Indonesia menawarkan beberapa program kepada pemuda-pemudi khususnya mahasiswa yang ingin memiliki pengalaman di luar negeri, salah satu program AISEC Indonesia adalah Global Volunteer. Program ini menawarkan pemuda-pemudi menjadi relawan global dengan melakukan suatu langkah awal untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di dunia. Senada dengan hal itu, Faldi juga mengatakan bahwa AISEC merupakan wadah untuk sharing knowledge dengan pemuda-pemudi di berbagai belahan dunia. Pada sesi terakhir di sampaikan oleh Diaswanto Rosyad selaku Presidium PPI Deventer City Netherlands 2017-2018. Di sesi keetiga ini beliau banyak bercerita mengenai budaya serta flow perkuliahan di Belanda yang sangat berbeda jauh dengan perkuliahan di Indonesia. Beliau juga menyampaikan apabila mahasiswa yang sedang exchange ke luar negeri harus bisa survive artinya bisa mengelola pengeluaran sebaik mungkin agar tidak boros dan bisa meraih nilai ujian yang bagus, karena sistem perkuliahan di Belanda terbilang lebih sulit di banding sistem perkuliahan di indonesia.

Info Session ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa FE UII bahwa menempuh pendidikan tidak hanya di dalam negeri saja tetapi dapat di lakukan hingga ke berbagai belahan dunia. Sudah seharusnya mahasiswa mengambil peran yang penting sebagai agent of changes dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada agar menjadi individu yang berguna bagi masyarakat, negara serta agama.

Mengasah Pengetahuan Lembaga Keuangan Islam

Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, Indonesia dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan sistem perekonomian berbasis syariat Islam. Berdasarkan data dari Global Islamic Economic Indicator 2017, perkembangan ekonomi syariah Indonesia berada di urutan ke-10 dunia. Menanggapi hal tersebut Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia mengadakan Conference on Islamic: Management, Accounting, and Economics. Dalam konferensi tersebut dibahas mengenai perkembangan dari Lembaga keuangan Islam di Indonesia yang bervisi keumatan. Acara tersebut dihadiri oleh para mahasiswa FE UII dan peserta paper konferensi Islam di ruang kuliah P1/2 (28/11). Conference on Islamic ini bertujuan sebagai wadah untuk mengasah kepekaan masyarakat terkait perkembangan ekonomi syariah di Indonesia utamanya mahasiswa sebagai agent of change.

Menurut Jaka Sriyana selaku dekan FE UII menuturkan bahwa “P3EI merupakan pusat pengkajian ekonomi Islam yang berdiri sejak tahun 1992 dan lembaga yang pertama kali mengadakan seminar terkait ekonomi Islam pertama di Indonesia hingga saat ini”.

Perkembangan ekonomi Islam tidaklah berjalan dengan mudah, sekitar 5%-6% keberadaan Bank Syariah di Indonesia yang sampai saat ini masih terus melakukan peningkatan mutu dan pelayanan. Selain itu adanya bisnis Syariah juga tak luput dari perkembangan ekonomi di Indonesia, karena hal tersebut Dr. Imam Teguh Saptono selaku pembicara pertama mengatakan bahwa “Dalam menjalankan bisnis Islam harus Fillah dan Lillah sehingga tidak akan merisaukan untung dan rugi”. Beliau juga menjelaskan bahwa menjadi pebisnis Syariah harus memliki konsep celestialpreneur yaitu sebagai seorang pebisnis perlu beriman untuk menjadi dermawan, dimana saat ini konsep yang dianut adalah Socioprener yaitu seorang pebisnis tidak perlu beriman untuk menjadi dermawan. Selain itu konsep social CSR semata-mata hanya untuk keuntungan perusahaan sendiri.

Salah satu bukti dari perkembang ekonomi Islam adalah berdirinya Baitul Maal wa Tamwil (BMT) di berbagai daerah di pelosok Indonesia. Kehadiran BMT sebagai cara untuk mendapatkan modal tanpa melakukan riba. Pada kesempatan tersebut, BMT yang menjadi contoh adalah BMT UGT Sidogiri, Pasuruan. Menurut KH. Abdul Majid Umar selaku pengamat keuangan BMT Sidogiri mengatakan ”BMT Sidogiri berdiri karena keresahan masyarakat akan modal yang dipinjam dari rentenir yang merajalela dan harus mengembalikannya dengan bunga”. BMT ini selain sebagai Lembaga keuangan mikro juga sebagai koperasi bagi masyarakat disekitar yang menjual berbagai produk halal. Hingga saat ini eksistensi dari koperasi BMT tersebut telah tersebar sebanyak 157 unit di Jawa timur, beberapa di Jawa tengah, dan Luar Jawa. Konsep dari BMT ini adalah melakukan simpanan dan pinjaman kepada masyarakat dimana pada akhir periode masa tabungan akan dibagikan kembali kepada masyarakat tetapi terdapat infak. Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa konsep penting yang dianut BMT Sidogiri adalah konsep barokah dalam Islam dengan keyakinan riba diharamkan dan menyuburkan sedekah.

Senada dengan hal tersebut, Ahmad Tohirin, PH. D juga menjelaskan bahwa BMT merupakan salah satu Lembaga keuangan Syariah yang ideal dimana mensejahterakan nasabahnya. Lebih lanjut beliau juga memberikan edukasi mengenai deposan bank Islam dan perbankan Syariah, dimana bagi hasil yang dibagikan bank Syariah berupa profit sharing. Pendirian dari Bank Syariah sendiri harus berupa Perseroan Terbuka (PT), hal tersebut sesuai dengan hukum yang telah berlaku di Indonesia. Perkembangan dari perbankan Syariah dianggap penting karena Bank Syariah berupaya untuk mengimplementasikan kontrak-kontrak fiqih muamalah dalam Islam.

Conference on Islamic Management, Accounting, and Economics ini diharapkan mampu mengasah kepekaan dan pengetahuan masyarakat khususnya mahasiswa tentang perkembangan ekonomi Islam di Indonesia. Selain itu, juga menjadi edukasi supaya masyarakat menggunakan Bank Syariah dan mulai meninggalkan Lembaga keuangan yang menganut sistem riba. (SHF/FJR).

Memulai Bisnis Sejak di Bangku Perkuliahan

Memulai pengalaman bisnis merupakan hal yang baik untuk dilakukan sejak dini, khususnya ketika memasuki bangku perkuliahan. Banyak mahasiswa-mahasiswi yang memiliki ide bagus untuk dijalankan sebagai suatu bisnis atau usaha. Namun beberapa dari mereka tidak mengeksekusi bisnis tersebut dan hanya sampai dalam tahap ide saja. Kurangnya wadah yang disediakan untuk mahasiswa-mahasiswi dalam menjual produknya menjadi salah satu faktor yang membuat mereka tidak mengeksekusi ide bisnisnya. Menyediakan wadah bagi mahasiswa-mahasiswi dapat sangat membantu mereka dalam mengeksekusi bisnisnya.
Senada dengan hal tersebut, Program Studi Manajemen menyelenggarakan acara Expo Kewirausahaan secara gratis yang berlangsung di Hall Tengah dan Lapangan Sorak Fakultas Ekonomi UII menggunakan tenda Sarnaville (29/11).
Acara ini mengusung tema mengenai ajang kreativitas mahasiswa yang mempunyai bisnis atau ide bisnis kewirausahaan dan praktik untuk kelas Bisnis Pengantar semester 1 jurusan Manajemen. Sehingga mayoritas peserta adalah dari mahasiswa semester 1 jurusan Manajemen. Acara ini melekat dengan mata kuliah Bisnis Pengantar, akan tetapi tidak menutup kesempatan untuk mahasiswa lain selain yang dari mahasiswa di mata kuliah tersebut untuk bergabung di acara Expo Kewirausahaan. Ada sekitar 10 stand yang berasal dari eksternal mahasiswa semester 1 di kelas Bisnis Kewirausahaan. Acara Expo Kewirausahaan untuk yang internal yang dimaksud adalah dari Bisnis Kewirausahaan Program Studi Manajemen, untuk yang eksternal yang dimaksud adalah dari 3 Program Studi yaitu Manajemen, Akuntansi, dan Ilmu Ekonomi. Adanya acara Expo Kewirausahaan ini juga dimanfaatkan oleh salah satu Study Club Entrepreneur Community (EC) FE UII untuk melatih anggota magangnya untuk merealisasikan rencana bisnisnya.
Ada 64 tenant yang mengisi acara Expo Kewirausahaan tahun ini, termasuk 10 diantaranya yang berasal dari tenant eksternal. Dari 64 tenant tersebut diisi mayoritas hampir 95% dari produk makanan, namun ada juga produk lain seperti minuman, pakaian, dan kerajinan. Penyelenggara memberikan penghargaan berupa uang tunai kepada 3 pemenang dari masing-masing kategori yaitu dari kategori orisinalitas ide bisnis, perspektif ide bisnis, dan portofolio ide bisnis. Pemenang ditentukan melalui pemungutan suara yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi UII melalui akun UII.
“Untuk rencana tahun depan atau dua tahun kedepan sebenarnya acara Expo Kewirausahaan ini ingin menjadi satu rangkaian dengan acara yang terkait dengan Program Studi manajemen seperti Workshop Kewirausahaan, dan lomba Bisnis Model Kanvas. Untuk konsepnya akan tetap dari mata kuliah Bisnis Pengantar, namun untuk yang eksternal berkeinginan Workshop nya dari awal, lalu memberikan pelatihan melalui Bisnis Model Kanvas, kemudian diadakan lomba, dan dari lomba tersebut kemudian finalis-finalisnya dapat membuka Expo nya disini.” Tutur Istyakara Muslichah S.E., MBA..
“Acara ini merupakan acara rutin tahunan yang diadakan tiap semester ganjil. Dalam pelaksanaan acara ini, Ketua program studi Manajemen menggaet divisi EDP yakni Entrepreneur Development Program dan dari pihak Kaprodi yang diberi amanah untuk menjalankan acara ini adalah saya.” Jelas Istyakara.
Dalam hal untuk pelaksanaan teknisnya, seperti dalam hal pembawa acara, desain-desain dan dokumentasi acara Expo Kewirausahaan ini bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) yang biasa disebut Management Community (MC).
“Tujuan atau output yang diharapkan dengan adanya acara Expo Kewirausahan ini adalah supaya mahasiswa-mahasiswi mengetahui bagaimana caranya sales atau menjual produknya dan brain storming untuk produknya.” Jelas Istyakara. (NFS)

Pintar Finansial Bersama Jenius

Kepala Public Relation dari Jenius Theoreza Hardianto memberikan kuliah umum pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia mengenai cara pintar mengelola finansial, serta memperkenalkan berbagai layanan yang dimiliki Jenius.

Reza menjelaskan bagaimana digitalisasi telah merubah banyak aspek dalam hidup. Dari data yang dimiliki oleh Jenius, Indonesia telah sangat berubah baik dari aspek digital, maupun sosial. Indonesia memiliki 132 juta pengguna aktif internet, selain itu pengguna smartphone dan laptop telah mengalami banyak peningkatan dari beberapa tahun terakhir. Terakhir Indonesia telah menjadi pasar utama instagram di Asia Pasifik.

“We believe that every decision we take in our life has a financial consequence”

Jenius hadir sebagai layanan perbankan yang diluncurkan oleh PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional, TBK (BTPN) yang dirancang dan dikembangkan untuk membantu masyarakat dalam mengatur kehidupan finansial, agar lebih mudah, cerdas, dan aman langsung lewat smartphone. Dengan menawarkan fitur yang revolusioner seperti $Cashtag yang menjadikan nama sebagai nomor rekening.

“Bank pada umumnya akan memakai nomor rekening sebagai akun nasabah, hal ini yang disadari oleh Jenius. Kami mengganti nomor rekening tersebut dengan $Cashtag yang dirasa lebih personal dimana nama rekeningnya adalah namanya sendiri”, tutur Reza.

Selain itu, fitur unggulan lain dari Jenius adalah Send It, dimana menungkinkan untuk mengirim uang baik ke rekening bank, nomor ponsel, atau alamat surel. Selanjutnya ada Pay Me, untuk mengirim permintaan uang dan Split Bill, untuk membantu berbagi tagihan. Dan terakhir adalah fitur Dream Saver yang berfungsi untuk menabung harian secara otomatis.

Selain sharing dan sosialisasi mengenai Jenius. Reza juga berbagi cerita mengenai bagaimana Jenius mem-branding dan memposisikan diri sebagai bank yang berbeda dengan bank lain. Dimana dari sisi brand image yang dibentuk ditunjukan untuk semua kalangan tetapi lebih ditujukan pada kategori milenial, yang terlihat dari penggunaan atribut promosinya. Bank lain akan cenderung menggunakan foto dan hal yang terlihat serius, sementara Jenius menggunakan avatar yang berbeda dengan yang lain.

Reza juga menjelaskan mengenai 5 langkah yang dapat diterapkan dalam digital pasaring, cara-cara digital yang pertama target audience. Pertama kita harus tahu siapa audience kita. Kedua adalah data, data pendukung berguna agar kita bisa melihat secara keseluruhan pasar di Indonesia itu seperti apa. Kreatif, harus relevan dengan kehidupan mereka. Cara penyampaian juga harus secara ringan sehingga dapat diterima oleh kalangan millenial saat ini.

Channel, harus disesuaikan. Tidak semua bisnis dipromosikan di instagram tapi bisa melalui semua media sosial yang ada. Saat ini start up yang hadir di Indonesia telah menggunkan aplikasi. Aplikasi dapat menjembatani segala proses yang rumit menjadi lebih mudah. Terakhir ada A/B Testing, sebelum suatu produk diluncurkan, maka terlebih dulu dilakukan uji pasar. Sehingga dapat menemukan formula yang tepat untuk bisnis yang akan dijalankan.

Kuliah umum ditutup dengan sesi tanya jawab dengan mahasiswa yang hadir. Salah satu peserta bertanya mengenai keamanan dari layanan Jenius sendiri. Mengingat salah satu hal yang menarik adalah dalam membuka rekening nasabah tidak harus datang ke kantor maupun gerai, cukup mengunduh aplikasi, serta melakukan swafoto dengan ktp atau kartu tanda pengenal lain untuk verifikasi.  Demikian juga  mengenai sistem $Cashtag dimana sangat mungkin bagi nama-nama yang sama perlu melakukan penyesuaian seperti layaknya username pada media sosial.

Jenius hadir memenuhi kebutuhan nasabah yang terhubung secara digital dengan mobilitas tinggi. Serta sebagai aplikasi yang terhubung dengan ekosistem perbankan nasional dan sistem pembayaran internasional. (ETD/IF/AAT)

Pentingnya Digital Marketing di Era Teknologi

Dalam perkembangan bisnis yang semakin meningkat setiap hari, membuat masyarakat lebih berfikir cara untuk mempromosikan bisnis yang dimilikinya. Marketing melalui digital membuat kita mendapatkan impression dan  A Job Thing yang sangat tinggi serta membutuhkan strategi yang tepat. Dalam cara promosi melalui ketok pintu atau langsung, marketing membutuhkan upaya keras dimana sangat menghabiskan waktu  bahkan uang yang semakin terkuras. Berbeda melalui digital, yang hanya dengan sekali unggah dapat memperoleh jangkauan yang mencapai ribuan dan bisa semakin bertingkat dan luas apabila menggunakan layanan periklanan. Untuk mendukung pengertian dan konsep tentang digital marketing itu sendiri, salah satu kegiatan yang berjudul “Sukses Melalui Digital Marketing” dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 November 2018 yang bertempat di P1/2 Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Kegiatan tersebut diisi dengan pemaparan secara rinci tentang digital marketing.

Dalam berbisnis, ada beberapa pemikiran dari dalam diri sendiri yang dapat membantu maupun mendorong untuk mencapai tujuan dalam berbisnis. Berawal dari fisik atau kesehatan diri, seperti harus selalu bersikap profesional selama menyanggupi di depan klien. Lalu ada faktor lingkungan yang mendukung untuk melangkah lebih maju dan lebih baik.  Setelah itu ada personal branding yang dimana harus bisa mengasah diri sendiri untuk dapat dikenal orang lain dengan layanan yang baik terhadapnya. Selanjutnya adalah people trust yang dapat dijadikan sebagai jejaring antar diri sendiri terhadap orang lain dan dijadikan sebagai contoh, bahwa diri kita bisa untuk membawakan sesuatu dengan baik agar dipercaya dengan orang sekitar, dimulai dengan memberanikan diri dengan orang lain dan jangan merasa canggung dalam membawakannya. Skill set memiliki dua jenis yaitu hard skill dan soft skill. Hard skill sendiri ditujukan untuk  teknis, sedangkan soft skill lebih ditujukan kepada komunikasi atau cara untuk menumbuhkan kreativitas. Apabila tidak memiliki salah satu diantaranya, dapat mengakibatkan tidak adanya kemajuan dalam diri ataupun dalam berbisnis dan juga harus menjalani semua kegiatan sesuai apa yang disukai yang dapat dilakukan dengan santai dan akan terlihat lebih mudah.

Dalam pelaksanaan digital marketing, aset yang diperlukan dalam melakukan kegiatan berbisnis tersebut dinamakan personal credibility atau tools yang digunakan dalam kegiatannya. Tools yang dipaparkan untuk digunakan dalam digital marketing ada tiga: pertama adalah Search Engine Optimization (SEO) yang digunakan melalui situs web dan berisi tentang bagaimana cara mendapatkan impression sebanyak mungkin dari masyarakat. Lalu yang kedua ada Search Engine Marketing (SEM), sejenis SEO namun berbayar contohnya seperti Google Ads yang lebih memainkan kata kunci dalam pencarian di Google. Lalu ada sosial media yang dinilai paling mudah untuk menjangkau banyak orang dalam waktu yang singkat. (ATE/MFR)

Genset Tenaga Surya Bagi Desa Wukirsari

Diseminasi genset tenaga surya merupakan salah satu program penerapan teknologi tepat guna yang diselenggarakan oleh Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenrisdikti) sebagai bentuk pengabdian yang ditujukan kepada masyarakat. Program      penerapan teknologi tepat guna diambil dari hasil-hasil riset atau penelitian yang dilakukan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia atau lembaga penelitian dan pengembangan (Litbang) yang ada untuk bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan bisa langsung diterapkan di masyarakat, dengan begitu hasil riset yang telah dilakukan tidak hanya akan berbentuk laporan akhir saja namun dapat bermanfaat.

Serah terima diseminasi teknologi genset tenaga surya yang diadakan di Balai Desa Wukirsari, kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 9 November 2018 merupakan suatu bentuk kerjasama riset dan pengabdian masyarakat antara Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang diwakili oleh Dr. Achmad Buchori, M.Pd selaku ketua diseminasi dan Sigit Ristanto, S.T., M.SC. selaku anggota diseminasi dengan Universitas Islam Indonesia (UII), yang diwakili oleh Listya Endang Artiani, S.E., M.Si., CSRS dalam bentuk teknologi terapan untuk masyarakat yang didukung oleh Kemenrisdikti. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Kemenrisdikti Robbi Prayudha, S.Si, Wakil Rektor IV Universitas PGRI Semarang Ir. Suwarno Widodo, M.Si. Wakil Kepala Desa Wukirsari, Dr. Rasiman, M.Pd. (Plt Ketua LPPM), Dr. Achmad Buchori, M.Pd. Ketua Tim Diseminasi UPGRIS serta anggota Tim Diseminasi Bapak Sigit dan Ibu Listya serta perwakilan warga Desa Wukirsari.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh Ibu Ima Nurrohmah lalu dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Purwo Prayitno sebagai rangkaian pembukaan acara. Setelah itu pemberian sambutan dari ketua tim diseminasi oleh Dr. Achmad Buchori, sambutan dari Sekretaris Desa Wukirsari, serta sambutan dari Dr. Rasiman selaku ketua LPPM. Selanjutnya arahan dari Kemenrisdikti oleh Robbi Prayudha serta diakhiri dengan serat terima alat genset secara administrasi.

Desa Wukirsari terpilih karena desa ini merupakan desa penyangga sekaligus desa terluas yang masuk ke dalam nominasi desa inovasi di Indonesia, namun Desa Wukirsari memiliki masalah utama yaitu seringnya mati listrik, selain itu di Desa Wukirsari memiliki beberapa destinasi wisata yang jauh dari jangkauan listrik PLN sehingga muncul solusi yang dapat membantu yaitu bantuan berupa genset untuk membantu menyalurkan listrik. Bantuan genset sejumlah tiga buah di distribusikan di tiga tempat Desa Wukirsari yaitu Hunian Tetap Gondang Dua Dusun Ngepringan, Hunian Tetap Dongkelsari Dusun Sodokan, dan Dusun Cakran. Hunian tetap merupakan tempat relokasi dari pasca meletusnya Gunung Merapi pada tahun 2010. Dalam acara ini dijelaskan juga cara penggunaan genset oleh Drs. Noer Chanief pada penghujung acara.

“Program ini memang salah satu yang diinginkan oleh Presiden Jokowi, jadi penelitian itu harus applicable yang kemudian hasilnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Saya diminta untuk mencari lokasi yang sesuai dengan hasil teknologi dari teman-teman UPGRIS hasilkan yaitu genset tenaga surya. Karena selama ini yang kita tahu genset berbahan bakar solar, namun kali ini menggunakan solar sel yang menjadikan salah satu daya tarik sehingga proposal disetujui oleh Kemenrisdikti” ujar Listya.

Pengabdian masyarakat juga merupakan salah satu bentuk catur dharma UII yang harus dilakukan dan diwujudkan bersama salah satunya melalui program ini yang bertujuan dapat membantu menyelesaikan masalah yang dimiliki oleh warga Desa Wukirsari. (NFS/LID)

Melalui Pajak Bertutur, Mahasiswa Diajak Untuk Berkenalan Dengan Pajak.

Sektor pajak memiliki peran yang sangat signifikan bagi keberlangsungan pembangunan negara. Pajak merupakan satu-satunya sumber penerimaan negara yang minim risiko, serta dapat meningkatkan kemandirian bangsa. Pajak juga merupakan sumber utama pendapatan negara yang membantu menunjang pembangungan infrastruktur negara, ekonomi, pendidikan, bahkan kesejahteraan masyarakat. Namun peran penting ini masih belum banyak disadari oleh masyarakat. Kepatuhan masyarakat terhadap pajak baik itu dalam pembayaran maupun pelaporan pajak masih tergolong rendah bahkan masih dipandang negatif oleh sebagian besar masyarakat. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menggelar sosialisasi dan edukasi guna untuk memberikan pemahaman lebih kepada masyarakat mengenai perpajakan yang dimana kegiatan ini merupakan salah satu upaya dari Ditjen Pajak dalam meningkatkan kesadaran wajib pajak melalui jalur pendidikan.

Kegiatan yang diberi nama “Pajak Bertutur” ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada hari Jumat, 9 November 2018. Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri acara tersebut diselenggarakan oleh DJP DIY dan bertempat di Aula Utara Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Kegiatan tersebut antara lain diisi dengan uji kompetensi perpajakan secara daring, kuliah umum, debat singkat, serta sesi tanya jawab. Sebelum kuliah umum dimulai, para peserta diminta untuk mengikuti uji kompetensi singkat mengenai perpajakan. Uji kompetensi secara daring yang berdurasi 10 menit ini terdiri atas 20 soal yang berisikan tentang pertanyaan umum mengenai ruang lingkup perpajakan dan pada akhir sesi, 10 peserta yang meraih nilai tertiggi berhak mendapat hadiah dari DJP DIY.

Kepala Kantor Wilayah DJP DIY, Dionysius Lucas Hendrawan selaku pembicara pada kuliah umum menegaskan bahwa kegiatan yang mengajarkan nilai-nilai kesadaran pajak ini diselenggarakan pada jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi yang berada di wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP).

“Ada tiga sumber pembiayaan negara: pinjaman luar dan dalam negeri, menjual sumber daya alam, dan pajak.” ujarnya sambil menjelaskan bahwa dana dari pajak merupakan sumber dana yang lebih baik karena merupakan satu-satunya sumber penerimaan negara yang minim risiko.

Pinjaman luar dan dalam negeri dapat memberatkan posisi APBN, karena hutang tersebut harus dibayarkan beserta dengan bunganya. Di sisi lain, penjualan sumber daya alam secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, serta membuat sumber daya alam tersebut lama kelamaan akan langka bahkan habis. Itulah mengapa pajak dinilai sebagai penerimaan negara yang paling minim risiko.

Melalui slide power point, Lucas Hendrawan menjelaskan secara detil apa itu pajak, sejarah perpajakan di Indonesia, untuk apa saja uang pajak, pengaruh pajak bagi negara, dan fakta pelaksanaan pajak dalam masyarakat. Tercatat dari banyaknya 265 juta populasi Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP), hanya 1,3 juta WP yang taat membayar pajak. Sedangkan untuk WP Badan, tercatat 1,3 juta Badan yang terdaftar, hanya 0.32 juta WP yang taat membayar pajak. Namun kenyataannya, banyak wajib pajak yang menuntut pelayanan premium dari negara.

Target pajak 2018 dengan jumlah 1.424 triliun berasal dari 2 juta WP OP dan Badan yang membayar pajak. Bayangkan saja apabila WP yang membayar pajak meningkat menjadi 5 juta, anggaran bisa saja meningkat dua hingga tiga kali lipat. “Mereka yang tidak membayar pajak akan tetapi ia menuntut hak dan menikmati subsidi, itu disebut dengan free rider.” ujar Lucas Hendrawan sembari mengajak para peserta kuliah umum untuk menghindari perilaku seorang free rider.

Ia berharap agar mahasiswa bisa mewujudkan masa depan Indonesia yang gemilang dengan budaya yang sadar pajak. “Pajak jangan dibilang sebagai suatu hal yang menakutkan, pajak merupakan bentuk gotong royong kita bersama dalam rangka pembangunan negara.” jelas Lucas Hendrawan kepada para peserta kuliah umum. (MRP/SAL)

Menggerus Sentimen Negatif Terhadap Pasar Modal

Dewasa ini maraknya sentimen negatif terhadap pasar modal Indonesia menjadikan banyak investor enggan untuk menanam modal di beberapa perusahaan. Sentimen yang dominan terjadi di pasar, kenaikan suku bunga di Amerika, hingga turunnya nilai tukar dolar. Hal-hal ini memicu turunnya harga saham yang berakibat pada sedikitnya penanam modal asal Indonesia dibanding luar negeri. Generasi milenial diharapkan mampu mengikis sentimen yang beredar di masyarakat. Sebagai generasi yang jumlahnya paling banyak dan paling dekat dengan teknologi, generasi milenial memiliki lebih banyak kesempatan untuk turut andil dalam lingkup pasar modal. Berdasarkan data yang diperoleh, generasi milenial memiliki turn over yang tinggi. Hal ini akan berakibat pada keloyalitasan para pekerja. Oleh karena itu, pasar modal menjadi suatu hal yang menarik untuk dicoba.

Interaksi teknologi dengan para generasi milenial memberikan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Gadget yang digunakan dapat menjadi sarana bagi masyarakat usia kerja untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mulai dari berjualan daring, bekerja pada aplikasi transportasi, hingga ikut trading saham. Trading saham adalah proses yang dilakukan trader yang frekuensinya lebih banyak dari investor karena jangka waktu transaksi yang pendek. Dalam proses trading para trader selalu memanfaatkan fluktuasi harga untuk mendapatkan keuntungan. Fluktuasi harga yang naik-turun dapat selalu dipantau pada gadget masing-masing trader. Hal ini yang menjadi alasan generasi milenial diharap mampu turut serta dalam kegiatan trading.

Selain ini kenaikan suku bunga Amerika Serikat memicu adanya Net Sell Arj. Datanya telah terlihat sejak tahun 2004 silam. Walaupun begitu, IMF mengemukakan bahwa Indonesia yang seharusnya terkena imbas dari kenaikan tersebut malah mengalami pertumbuhan saham yang relatif stabil. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di level VWAP.  

Penanam modal yang berasal dari Indonesia tidak perlu khawatir karena berdasarkan laporan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) Indonesia cukup banyak mendapat aliran dana dari potofolio yang masuk. Sebagai langkah persuasif, pihak BEI beserta CGSCIMB yang merupakan salah satu perusahaan listing yang berada dibawah BEI mendatangi para mahasiswa pascasarjana dan doktor Fakultas Ekonomi UII. Kedatangan yang bertajuk ‘Investasi Di era Digital Bagi Generasi Milenial’ ini mengajak para milenial yang lahir pada kisaran 1980-1995 untuk mulai menabung saham. Gerakan ini mereka beri nama ‘Yuk Nabung Saham.’ Selain itu, BEI juga menyediakan wadah bagi para perintis Start Up. Wadah ini bernama Ideas Incubator yang diperuntukkan bagi start up bisa menggunakan fasilitas itu untuk go public.

Banyaknya keuntungan yang diungkap para pembicara Seminar Pasar Modal (27/10) itu mampu mengesampingkan sentimen yang beredar. Bahwa menjadi satu solusi bagi para pelajar di era digital untuk melakukan trading saham. Kedekatan teknologi yang sudah menjadi kebutuhan primer sekarang ini, tidak hanya sekadar untuk hidup dalam dunia maya tetapi bisa menghasilkan keuntungan. Ciri khas anak milenial yang bekerja tergantung pada keadaan dan cenderung kurang loyal mampu diatasi dengan adanya trading saham. “Bahkan dengan modal seratus ribu teman-teman bisa mengikuti trading saham online, yang selalu bisa teman-teman pantau” ungkap perwakilan dari BEI pagi itu.

Seminar yang dipadati oleh mahasiswa pascasarjana dan doktor FE UII ini mampu membuka wawasan bahwa menabung saham itu perlu. Dengan adanya tabungan saham tersebut masyarakat akan mampu memperoleh hasil dari fluktuasi harga. Investor yang memiliki ciri khas berpikir visoner tentu mampu berekspektasi dan mencoba untuk memenuhi ekspektasinya tersebut.(BTG/ANA)