Masih tingginya angka pengangguran terdidik di Indonesia salah satunya disebabkan oleh kurangnya skill yang dimiliki lulusan. Selain itu, kalangan industri juga berpendapat bahwa pengetahuan dan skill yang dimiliki lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja. Oleh karena itu, perlu usaha untuk menjembatani lulusan meningkatkan skill melalui pembelajaran alternatif. Permasalahan tersebut menginspirasi mahasiswa UII Jurusan Manajemen IP Fakultas Ekonomi 2015, Muhammad Yoga Izzani untuk menggagas ide E-learning mengenai pengembangan skill pada aplikasi Maxstream.

Menurut Yoga, kebanyakan lulusan di Indonesia hanya mendapatkan ilmu teoritis di kampus saja, tanpa mempunyai skill khusus yang dibutuhkan di dunia kerja. “Lulusan di Indonesia kebanyakan tidak mempunyai skill khusus. Oleh karena itu, saya membuat ide E-learning pada aplikasi Maxstream untuk skill-skill yang dibutuhkan di dunia kerja. Contohnya seperti sertifikasi Digital Marketing, sertifikasi software adobe, dan lain-lain.” Jelasnya.

Melalui gagasan e-learning di aplikasi Maxstream, setiap orang dapat belajar skill-skill baru yang nantinya berguna di dunia kerja. Untuk belajar hanya diperlukan niat dan kesungguhan karena aplikasi dapat diakses dengan mudah di mana saja dan kapan saja.

Ia melanjutkan, para peserta E-learning diharapkan nantinya bisa menonton seluruh video pembelajaran kapanpun dan di manapun dari para profesional trainer dan di akhir episode pembelajaranya akan ada tes online untuk mendapatkan sertifikasi.

“Target marketnya sebenarnya bukan hanya para job seeker saja, tapi juga bisa digunakan untuk para lulusan yang ingin jadi pengusaha atau para pengejar beasiswa. Pastinya mereka juga membutuhkan spesifik skill yang belum mereka miliki.” Tambahnya.

Gagasan milik Yoga ini berhasil menghantarkannya sebagai Best Talent melalui ajang IndonesiaNext 2018 setelah mengalahkan lebih dari 17 ribu peserta lainnya di seluruh Indonesia. Setelah melakukan presentasi mengenai gagasannya tersebut, ia pun terpilih berkesempatan menuju Tokyo, Jepang bersama 10 pemenang lainnya untuk mengikuti short course di perguruan tinggi dan beberapa perusahaan ternama di sana pada bulan April mendatang.

IndonesiaNEXT merupakan program unggulan CSR Telkomsel berupa sertifikasi yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan mempersiapkan keahlian mahasiswa dalam menghadapi persaingan global yang lebih kompetitif. IndonesiaNEXT 2018 diisi dengan rangkaian acara berupa seminar yang memberikan inspirasi bagi para mahasiswa, pelatihan kompetensi, dan ditutup dengan program ujian sertifikasi tingkat nasional dan internasional.

Yoga juga menjelaskan begitu banyak kesan yang ia dapatkan selama mengikuti ajang IndonesiaNext 2018 seperti pengalaman pembelajaran, training, sertifikasi serta bertemu dengan orang-orang hebat lainnya dari berbagai universitas di Indonesia. Menurutnya hal itu tidak bisa ia dapatkan di bangku kuliah. Ke depannya, Ia berharap akan banyak mahasiswa UII yang bisa ikut program ini. (NIQ/ESP)

Sumber: uii.ac.id

International Program Dance Club Universitas Islam Indonesia (IPDC UII) berhasil meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi tari tingkat dunia bertajuk International Folk Festival in Catalonia 2019. Kompetisi yang berlangsung di provinsi Catalunya, Spanyol pada tanggal 3 hingga 6 Februari 2019 ini diikuti oleh grup tari serta seniman dari berbagai belahan dunia.

Dalam kegiatan ini, IPDC UII menampilkan 2 tarian asal Aceh, tarian Ratoeh Jaroe dan kombinasi tarian antara Ratoeh Jaroe dengan Tarek Pukat. Tarian itu sendiri merupakan tarian yang memang difokuskan oleh IPDC UII.

Tak diragukan lagi, sejak 2016 International Program Dance Club (IPDC) memang sudah menorehkan tinta kemenangan di kancah internasional. Sejak saat itu, keikutsertaan IPDC pada kompetisi internasional sudah menjadi budaya bagi grup tari tradisional itu di setiap tahunnya. Tak pernah berpuas diri, kini IPDC kembali mengharumkan nama UII dan Indonesia dengan menyabet gelar tertinggi atau juara umum atas pertunjukan tari tradisional asal Aceh yaitu Ratoh Jaroe. Para delegasi dari Indonesia berhasil memukau para juri dan penonton acara tersebut.

Agustus 2018 merupakan awal pembentukkan tim. Dengan jumlah anggota sekitar 50 orang, dipilih 13 orang untuk mengikuti perlombaan. Persiapan yang terbilang sangat singkat itu membuat kerja keras, tetes keringat dan perjuangan nyata terbayarkan dengan kepuasan dan kebanggaan tersendiri bagi IPDC.

Hari pertama rangkaian kegiatan lomba dimulai dengan gladi bersih lalu pada hari kedua, perlombaan sesungguhnya baru dimulai. Tim IPDC bersaing ketat dengan sembilan tim yang menampilkan budaya aslinya sendiri-sendiri. Tim IPDC yang berjumlah 13 penari dan tiga pemusik ini menunjukkan hasil latihannya dengan sangat indah. Gerakan tangan berpadu dengan dendangan musik terlihat begitu kompak dan sigap. Alhasil tarian tersebut memukau para juri dan penonton.

Pada hari itu juga pengumuman pemenang langsung diumumkan, IPDC dinobatkan sebagai pemegang juara umum. Haru dan bangga jelas meliputi hari bahagia tersebut. Hari ketiga dalam rangkaian acara diisi dengan field trip mengitari Spanyol dan pada hari keempat peserta dipersilahkan untuk check out.

Suka maupun duka jelas dirasakan dalam perlombaan kali ini. Duka dalam setiap tetes keringat saat latihan maupun lelah dan jenuh dengan tarian telah dirasakan oleh hampir semua penari. Namun dalam setiap perjuangan tidak akan ada hasil yang mengecewakan. Suka yang dirasakan jauh lebih besar dibanding duka yang dialami. Itu yang membuat para penari terus termotivasi dan terus bertahan dalam proses latihan yang tidak mudah.

“Semua itu lelah, namun semua itu nyata terbayar saat hal itu benar-benar tercapai”

Itulah hal yang dituturkan Zahra Chairani Bachtiar, mahasiswi Akuntansi Internasional Program 2016 yang juga merupakan anggota IPDC.

Dukungan terhadap tim IPDC juga diberikan oleh pihak kampus dan pihak fakultas. Baik dukungan materi maupun moral terus mengalir untuk menyokong IPDC dalam perlombaan kali ini. Terlebih dukungan moral dari fakultas yang begitu dirasakan. “Ketika kami down, dukungan dari fakultas sangat berperan penting. Kami selalu dipantau dan mendampingi oleh fakultas, mereka selalu ada buat kami ketika kami butuh support” jelas Zahra.

Harapan kedepannya IPDC tetap mengirimkan perwakilannya dalam kejuaraan internasional di setiap tahun. Selain itu mereka juga berharap untuk menjadi lebih baik sebelumnya dan mempertahankan Grand Prix sampai kedepannya. Selain itu mereka juga berharap agar UII tetap mendukung IPDC dalam setiap kegiatannya.

Memasuki usia genap ke-76, Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, pengajian, serta pemerikasaan kesehatan di Desa Lembu Purwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Minggu (17/2). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai salah satu bagian dari rangkaian acara Milad ke-76 UII, yang mengangkat tema Khidmat UII untuk Bangsa.

Dipilihnya Lembu Purwo sebagai lokasi kegiatan karena desa ini merupakan wilayah dari Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diampu oleh Dosen Pengawas Lapangan dari Fakultas Ekonomi UII. Tujuan utama dari kegiatan tersebut sebagai syiar agama Islam, memperkenalkan UII dan berbagi rezeki.

Kepala Desa Lembu Purwo, Bagus Wiranto menuturkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan sangat positif. Ceramah yang disampaikan mampu mengobati besarnya antusiasme masyarakat dalam menyambut kegiatan yang digelar.

Bagus Wiranto menambahkan, keberadaan mahasiswa KKN UII di desanya juga telah berpengaruh besar terhadap masyarakat. “Tidak hanya ilmu akademik, namun ilmu pertanian dan teknologi yang disampaikan mahasiswa KKN UII juga menambah wawasan bagi masyarakat,” terangnya.

Dalam kesempatan ini, Fakultas Ekonomi UII juga membagikan 250 paket sembako murah untuk warga setempat. Listya Endang Artiani selaku ketua panitia kegiatan berharap paket sembako murah dan layanan kesehatan yang diberikan Fakutas Ekonomi UII dapat membantu masyarakat sekitar.

Menurut Listya, “Beberapa Desa di Indonesia masih terdapat penduduk miskin dengan ketidakterjangkauan ekonomi dan layanan kesehatan, salah satunyna di Lembu Purwo ini. Sehingga penyediaan sembako murah dan layanan kesehatan gratis harapannya akan memberikan banyak manfaat.”

Bagus Wiranto berharap kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan lagi oleh FE UII dengan pengembangan program yang lebih banyak dan lebih baik . “Desa Lembu Purwo sangat berterima kasih, ke depannya pintu kerja sama akan selalu terbuka. Meski kegiatan ini sifatnya sederhana, namun kegiatan seperti inilah yang sangat ditunggu oleh masyarakat,” pungkasnya. (MNZ/MAR)

Diskusi tentang Peradaban Islam, khususunya dipelajari dari kemunduran dan keruntuhannya, secara umum perlu didasarkan pada telaah historis dunia islam. Padahal sejarah peradaban islam itu sendiri terbentang dalam kurun waktu yang panjang, lebih kurang 15 abad dan terentang dalam sistem peradaban yang sangat luas beragam.

Hari Kamis, tanggal 31 Januari 2019, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (P3EI) mengadakan acara diskusi publik yang membahas tentang Kemunduran dan Keruntuhan Peradaban Islam, khususnya membahas pada proses, sebab dan pemikiran di masa yang akan dating. Adapun pemateri pada diskusi tersebut disampaikan oleh Suwarsono Muhammad, M.A sebagai Ketua Pengurus Harian Yayasan Badan Wakaf UII, selain itu beliau juga Penulis buku dari Kapitalisme Perdagangan ke Kapitalisme Religius. Selain itu, materi juga disampaikan oleh Prof. Dr. Dudung Abdurahman, M.Hum, beliau adalah Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga dan menjabat sebagai Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Yogyakarta.

Rangkaian acara diskusi ini diawali dengan pembukaan acara serta pembacaan kalam Ilahi dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Ekonomi UII, Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D. Selanjutnya yaitu masuk ke dalam acara inti yaitu penyampaian materi diskusi bersama para pemateri yang diawali oleh penyampaian materi dari Prof. Dr. Dudung Abdurahman, M.Hum  dan dipandu oleh moderator.

Prof. Dr. Dudung Abdurahman, M.Hum memaparkan bahwa pada umumnya sejarahwan menunjukan bahwa fase kemunduran berlangsung pada 1250-1500 M. yang selama zaman ini desentralisasi dan diintegrasi bertambah meingkat, karena diintegrasi pada masa sebelumnya ( 1000-1250 M.) juga telah terjadi perpecahan umat islam dalam bidang politik kekuasaan khalifah menurun dan hilangnya khilafah sebagai kesatuan politik umat islam.

Ada empat penyebab kemunduran umat islam yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Dudung Abdurahman, M.Hum yang diambil dari ringkasan sejarawan dan cendikiawan, yaitu Harun Nasution, yang pertama penyebarannya bahwa pintu itjtihad tertutup di kalangan umat islam. Yang kedua yaitu pengaruh negatif tarekat,khususnya sikap fatalistic dan pemujaan atau pengkultusan terhadap guru Sufi. Pendapat yang ketiga adalah kurangnya perhatian terhadap ilmu pengetahuan, sehingga umat islam menjadi terbelakang daripada peradaban Barat. Dan pendapat yang terakhir adalah umat islam di Spanyol dipaksa masuk Kristen atau keluar dari daerah itu.

Sesi kedua dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Suwarsono Muhammad, M.A. Didalam penyampaian materinya beliau menyinggung tentang peradaban yang pernah jaya dimasanya dan dalam perjalanannya pernah redup namun dimasa kini mulai bangkit kembali. Beliau mencontohkan yaitu tentang peradaban china yang di masa modern ini mulai menguat dalam segala sektornya salah satunya sektor ekonomi yang sangat krusial.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu oleh moderator. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan para peserta menanggapi apa yang sudah disampaikan para pemateri dan ada juga yang menanyakan terkait pendapat para pemateri tentang sebuah opini yang disampaikan oleh peserta yang bertanya. Acara ini dilanjutkan dengan simbolis pemberian merchandise dari panitia penyelenggara diskusi kepada kedua pemateri, dan diakhiri dengan foto bersama. (DMZ/FDV)

 

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta terbaik dan tertua di Indonesia, Universitas Islam Indonesia sering menerima kunjungan dari berbagai universitas lain. Seperti Rabu (23/1) silam, berkunjung ke Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII), menjadi salah satu agenda dari kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Musi Rawas, Lubuklinggau. Dengan maksud pengenalan serta diskusi bersama, acara ini dihadiri oleh Wakil Dekan STIE Musi Rawas, beberapa dosen pembimbing, serta lebih dari 200 mahasiswa STIE Musi Rawas.

Acara dibuka dengan ucapan selamat datang dan pengenalan secara umum Universitas Islam Indonesia oleh Bapak Jaka Sriyana selaku Dekan Faklultas Ekonomi UII. Dalam sesi pembukaan tersebut, Bapak Supriyanto, Wakil Dekan STIE Musi Rawas juga mengutarakan rasa terimakasih serta pemaparan tujuan dari kunjungan tersebut. “Dari kunjungan ini, kami ingin belajar bersama Universitas Islam Indonesia dalam menumbuhkan serta mengasah keterampilan berwirausaha. Harapannya, mahasiswa kami dapat turut andil dalam menciptakan lapangan pekerjaan sendiri serta terjaganya silaturahmi antara STIE Musi Rawas dengan Universitas Islam Indonesia,” tuturnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata sebagai simbol terjalinnya silaturahmi antara Fakultas Ekonomi UII dengan STIE Musi Rawas, serta sebagai kenang-kenangan kepada kedua pihak. Hal tersebut dimaksudkan agar silaturahmi yang terjalin semakin erat, sehingga mampu membawa pembangunan bersama yang lebih baik.

Puncak acara dari kunjungan mahasiswa STIE Musi Rawas yaitu, diskusi bersama yang dipandu Bapak Arief Rahman selaku Wakil Dekan Fakultas Ekonomi UII. Sesi ini merupakan pemaparan serta perbandingan program-program antar kedua universitas yang dibantu oleh Ketua Program Studi Manajemen Program Sarjana, Bapak Anjar Priyono dan Ketua Program Studi Akuntansi Program Sarjana, Bapak Mahmudi. Dengan antusiame yang cukup baik dari peserta kunjungan, memberikan semangat terhadap kedua pihak dalam berbagi informasi dan kiat-kiat dalam membangun universitas yang lebih baik.

Pada sesi diskusi pertanyaan pun bermunculan, salah satunya yang dilontarkan oleh Diah, mahasiswa STIE Musi Rawas perihal dukungan terhadap prestasi mahasiswa serta beasiswa yang disediakan UII kepada mahasiswanya. Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Bapak Arief Rahman, bahwa di UII khususnya Fakultas Ekonomi besar karena mahasiswanya. Sehingga Fakultas Ekonomi UII memiliki skema penelitian bersama dosen dan mahasiswa yang menjadi unggulan dan terlibat aktif dalam mengikuti konferensi hingga menjadi jurnal penelitian internasional. Fakultas Ekonomi UII akan mendukung secara penuh mahasiswanya yang berprestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Sedangkan untuk sistem beasiswa, UII  memiliki dua jenis beasiswa yang disediakan, yaitu beasiswa yang disediakan oleh Dikti dan UII sendiri seperti beasiswa duafa serta hafiz Al-Quran. Selain itu, UII juga menyediakan beasiswa yang bekerjasama dengan beberapa instansi terkait.

Selain hal-hal tersebut, masih banyak topik yang diperbincangkan seperti, penerapan kurikulum di Fakultas Ekonomi UII, program penunjang prestasi mahasiswa, serta kiat-kiat dalam menumbuhkan serta mengasah minat berwirausaha bagi mahasiswa. Sesi diskusi berjalan dengan santai, sesekali para rombongan dan perwakilan FE UII saling melempar canda. Acara diskusi pun berakhir sesaat sebelum azan zuhur berkumandang dan ditutup dengan penyampaian ucapan terima kasih atas kesempatan diskusi serta transfer ilmu yang telah diselenggarakan. Didasari dengan kesadaran akan pentingnya membentuk jiwa berwirausaha, seluruh peserta diskusi berharap, dengan adanya kunjungan ini mampu memupuk silaturahmi antar kedua universitas sehingga keduanya mampu mencetak bibit-bibit unggul untuk Indonesia. (SAR)

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII), sedang melangsungkan kegiatan Economic Weeks (Ecoweek) yang ketiga kalinya dan kegiatan yang diadakan setiap tahunnya. Ecoweek merupakan ajang untuk meningkatkan branding internal FE UII serta memberikan wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat serta bakatnya dalam bidang kewirausahaan. Ecoweek kali ini bertemakan “Kursi Kreasi” yang dimaksudkan bahwa kursi adalah salah satu sarana untuk mengeksplorasi kreatifitas serta berinovasi bagi mahasiswa FE UII. Rangkaian kegiatan Ecoweek berlangsung sejak tanggal 1 hingga 9 Oktober 2018.

Ecoweek 2018 memiliki 5 kegiatan, yaitu Trivia Quiz, Photo Challenge, Creative Talk, Sharing Session, dan Expo Kewirausahaan. Trivia Quiz adalah kuis seputar FE UII, Photo Challenge adalah lomba foto di lingkungan sekitar FE UII, Sharing Session adalah sesi berbagi informasi dengan mahasiswa yang mengikuti student exchange dan mahasiswa berprestasi Acara Creative Talk dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2018 dengan mengusung tema “Bergerak Lebih, Menggapai Mimpi.” Acara Creative Talk kali ini mengadopsi konsep Tedx, dimana para pembicara dapat menyampaikan ide serta menginspirasi penonton lewat materi yang diterjemahkan secara sederhana namun sarat makna.

Creative Talk Ecoweek 2018, dibuka oleh sambutan Dekan FE UII, Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D. yang memberikan semangat pada para penonton agar terus berkarya dimana pun mereka berada. Tidak hanya di lingkungan Fakultas Ekonomi, tapi juga di lingkungan luar. Sesuai dengan quote Steve Jobs, inovasi adalah pembeda antara seorang pemimpin dan pengikut. Dari quotes tersebut, seorang pemimpin harus berani, berwawasan luas dan berinovasi menciptakan sesuatu. Inovasi tidak akan lahir jika tidak kreatif. Jika tidak bisa membuat sesuatu menjadi yang terbaik, bisa mebuat sesuatu menjadi yang pertama, atau menjadi yang berbeda.

Creative Talk hadir dengan mendatangkan pembicara-pembicara dari alumni FE UII, yaitu Lutfi Zanwar K. yang merupakan Pegiat Podjok Batja dan Pegiat Rumah Baca Komunitas, sebagai pembicara pertama. Pembicara kedua, Nafisah Arinilhaq sebagai professional marketing specialist, CEO Startup, dan mahasiswa teladan FE UII tahun 2013, serta Syahrian Malik V. yang merupakan Founder Ruang Belajar.

Lutfi Zanwar membawakan tema “Hidup Bersama Buku” dalam materi yang ia disampaikan. Menurut Lutfi, manfaat buku dan mengikuti organisasi tidak semata-mata hanya untuk waktu yang singkat. Namun, akan memeberikan manfaat dalam waktu yang sangat panjang. Berangkat dari hobi membaca, Lutfi mendirikan Podjok Batja dan Rumah Baca Komunitas. Dari hobinya tersebut, ia juga dipertemukan oleh orang-orang yang memiliki visi yang sama dengannya. Saat kuliah dulu, Lutfi tergabung dalam tim marketing and communication (Marcomm) FE UII dan terkenal dengan sebutan Engkong. Karena saat berumur 27 tahun ia masih kuliah dan banyak juga orang-orang disekitarnya yang pesimis terhadap perjalanan kuliahnya. Menurut Lutfi, untuk berwirausaha harus mempunyai banyak keahlian, baik soft skill maupun hard skill. Creative talk ini menumbuhkan semangat mahasiswa FE UII untuk dapat mengembangkan kreativitas dan inovasi, seperti pembicara Nafisah Arinilhaq dan Syahrial Malik untuk menjadi orang sukses tidak bisa secara instan tetapi harus mengasah soft skill maupun hard skill. Syahrial Malik memberikan tips untuk menjadi orang sukses adalah bagaimana kita bisa memaknai hidup yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

Rangkaian acara lainnya yaitu Trivia Quiz yang diadakan pada tanggal 1,3,5,7 Oktober kemudian Photo Challenge diadakan pada tanggal 1-8 Oktober Expo Kewirausahaan merupakan penutup rangkaian acara Ecoweek. Acara ini berlangsung 2 hari dari tanggal 8-9 Oktober 2018. Ada 16 tenant yang lolos seleksi dan peserta dari expo ini merupakan mahasiswa aktif FE UII selain kreasi bisnis dari mahasiswa FE UII, ada stand fakultas dan stand Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi yang juga membuat berbagai games seru berhadiah merchandise FE UII.

Walaupun market share keuangan syariah Indonesia masih dibawah 10% dan dikatakan masih cukup lemah, Indonesia bisa dikatakan negara yang memiliki lembaga syariah yang cukup banyak. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan ilmu ekonomi syariah.  Oleh karena itu perlu penanganan sistematis dan serius untuk mengembangkan keuangan syariah di Indonesia. Selain itu, Ekonomi syariah juga menjadi ladang amal saat kita berkontribusi mengembangkan ilmu yang telah hadir secara resmi lebih dari dua dasawarsa silam ini. Hal itulah yang disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Ekonomi UII Bidang Sumber Daya, Arief Rahman, SE., M.Com., Ph.D. ketika memberi sambutan saat acara Public Hearing yang bertemakan “Masterplan Ekonomi Syariah” di ruang P1/2 Fakultas Ekonomi UII.

Prof. Abdul Ghafar Ismail sebagai salah satu pembicara pada acara hari ini (26/12) sekaligus pakar ekonomi syariah internasional bertutur bahwa peningkatan jumlah populasi muslim dunia 1,84 Milyar pada tahun 2017. Hal ini merupakan kabar baik dalam meningkatkan sektor halal industri di dunia. Posisi Indonesia sendiri dalam penerapan ekonomi syariah global cukup potensial. Indonesia merupakan konsumen terbesar di dunia namun bukan produsen utama.

“Potensi Indonesia besar, namun baru konsumsinya saja yang besar”

Namun untuk menghadapi kenyataan itu, dari data yang ada, industri makanan dan minuman memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki infrastruktur memadai serta nilai ekspor besar. Oleh karena itu, dalam masterplan sektor ini akan dijadikan sebagai prioritas. Namun ada empat sektor Industri halal lain yang dapat dikembangkan di Indonesia. Empat sektor itu adalah pariwisata, kosmetik dan obat-obatan serta tekstil.

Tak lupa, halal value chain juga penting dalam konteks ini. Tujuannya adalah untuk menaikkan peringkat Indonesia menjadi tiga besar. Ada beberapa strategi untuk mencapai target tersebut, yaitu konsolidasi pasar dalam negeri, memperkuat dan meningkatkan efektivitas institusi terkait halal industri serta meningkatkan jangkauan dan efektivitas. Itulah yang disampaikan oleh Muhammad Abdul Ghoni

Ada beberapa catatan masterplan yang dituturkan Achmad Tohirin, yaitu bukan hanya produk halal saja yang dikembangkan, nanum juga toyib. Selain itu berdasar riset yang telah dilakukan menunjukan bahwa pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah masih sangat rendah. Bahkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai riba, gharar dan maysir. Hal itu merupakan PR besar untuk menyosialisasikan tentang ekonomi syariah ke masyarakat sebelum memantapkan masterplan lima tahun mendatang. Selain itu tentang industry keuangan syariah sendiri, perkembangan perbankan dan keuangan syariah yang menuntut adanya terobosan baru dan perlunya tinjauan ulang atas bentuk keembagaan bank syariah. sebenarnya potensi yang kita punya dalam keuangan syariah cukup besar namunperlu adanya pembenahan kelembagaan dan pembenahan regulasi.

Industri halal akan menjadi master dalam perekonomian dunia dalam waktu dekat. Oleh karena itu hal ini menjadi tantangan kita untuk ikut ambil bagian dalam berkontribusi dalam pengembangan ekonomi syariah. Ekonomi syariah memang memberi maslahah yang luar biasa bagi perekonomian Indonesia. Harapan kedepannya, Kegiatan Public Hearing ini bukanlah satu-satunya kesempatan kita berkontribusi dalam megembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Selain belajar, ekonomi syariah juga menjadi ladang amal yang sangat luas jika kita mengimplementasikannya dengan benar di kehidupan sehari-hari.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta terbaik di Indonesia, Universitas Islam Indonesia telah melahirkan alumni yang kini tersebar di berbagai jenjang karier dan bidang usaha, baik di tingkat nasional maupun internasional. Karier alumni yang kini menjadi tokoh nasional dan memegang posisi penting di dalam pemerintahan juga ikut meningkatkan nama baik alumni UII. Dalam bidang ilmu Manajemen misalnya, UII telah melahirkan banyak professional, akademisi maupun entrepreneur yang umumnya terkenal sebagai pakar dibidangnya.

Aspek integrasi memang memiliki kedudukan penting dalam langkah menuju arah yang lebih baik. Minggu, 23 Desember 2018, Jurusan Manajemen UII menyelenggarakan Temu Alumni dan Focus Group Discussion Alumni di FE UII. Dengan semanagat untuk saling menjalin silaturahmi yang mampu mewadahi aspirasi dan kontribusi,, para alumni terlihat antusias dalam mengikuti acara ini.

Acara Temu Alumni Jurusan Manajemen memang rutin dilaksanakan setiap tahun, bahkan ini adalah kali ketiga Temu Alumni digelar di tahun 2018. Sebelumnya, Temu Alumni telah dilaksankan pada awal dan pertengahan tahun 2018. Namun, ada yang berbeda dengan temu alumni kali ini. Acara ini bukan hanya temu kangen biasa melainkan ada FGD yang memberi variasi berbeda dipagi hari ini. FGD kali ini memiliki tujuan untuk me-review kurikulum yang akan diterapkan di Jurusan Manajemen sendiri. Dengan adanya FGD, alumni yang bertemu sudah didesain sedemikian rupa dari berbagai jenis profesi. Secara garis besar ada 3 profesi yang dicitakan dari Jurusan Manajemen UII, yaitu :

  1. Professional, dimana alumni bekerja di industri sebagai manajer maupun direktur
  2. Akademisi, peneliti dan staf konsultan
  3. Entrepreneur

Anjar Priyono selaku Kaprodi Manajemen saat diwawancarai bertutur bahwa temu alumni yang dihadiri dari berbagai angkatan dan profesi ini akan diminta review dan masukan mengenai kurikulum agar sesuai dengan kondisi lapangan terkini. Dengan jumlah yang sudah didesain kurang lebih enam puluh peserta, harapannya FGD ini efektif dan efisien. Pertimbangan jumlah enam puluh peserta karena jika terlalu sedikit peserta akan menghasilkan sedikit ide, namun dengan jumlah peserta yang terlalu banyak juga akan menyulitkan dalam membuat keputusan di akhir sesi FGD. Jangkauan alumninya juga dari berbagai penjuru Nusantara dan sengaja mengambil momen libur akhir tahun sehingga banyak alumni yang pulang maupun libur panjang di kota Gudeg ini.

Acara non-formal ini dimulai dengan morning tea seraya berkangen ria menukas beberapa memori pengalaman masa-masa perkuliahan. Tak lupa, tidak sedikit alumni yang hadir juga mendokumentasikan momen spesial hari ini dengan foto bersama kawan lamanya. Acara dilanjutkan dengan Parallel Session untuk membahas kurikulum yang dikelompokan berdasar masing-masing profesi. Acara ini memang berlangsung satu hari, namun untuk proses review akan terus berlangsung dan akan tetap ada follow up di kesempatan lain. (AMH, AFM, DYH)

Memahami secara rinci tentang pendidikan jenjang perguruan tinggi merupakan hal yang penting bagi kalangan remaja khususnya SMA sederajat. Bagi mereka yang ingin melanjutkan penjelajahan ilmu di bangku kuliah tentu informasi tersebut sangat membantu. Hal-hal yang dapat dijadikan indikator suatu perguruan tinggi itu banyak diminati adalah akreditas. Menurut Pak Arif Rahman yang merupakan Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Ekonomi UII, akreditas merupakan hal yang utama jika memilih perguruan tinggi karena akan berkaitan dengan karir setelah lulus nanti. Pria berkaca mata itu juga menerangkan bahwa dunia kerja akan cenderung memilih tenaga kerja dari lulusan perguruan tinggi berakreditasi minimal B. Hal tersebut karena tingkat kesulitan dan kurikulum yang digunakan oleh perguruan tinggi berakreditas B keatas tentu berbeda dengan dibawah akreditas B. Sehingga kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan juga memiliki kompetensi yang berbeda. Hal ini yang diyakini oleh para perusahaan yang membuka lowongan kerja.

Oleh karena itu, kedatangan siswa-siswi SMA Islam PB Soedirman 2 Bekasi dan SMK Negeri 1 Sambeng disambut baik oleh Fakultas Ekonomi UII. Kunjungan ini dilaksanakan dengan maksud mengatasi kegelisahan para siswa kelas dua belas memilih perguruan tinggi, fakultas, hingga jurusan. Antusiame dari peserta kunjungan sangat baik sehingga menumbuhkan semangat bagi pihak Fakultas Ekonomi untuk memberikan informasi-informasi terkait perguruan tinggi(11/10).

Sudah bukan menjadi persoalan yang tabu lagi jika calon mahasiswa menanyakan perihal SPP dan biaya kuliah lainnya. Menurut sebagian besar siswa, biaya menjadi salah satu alasan untuk memilih perguruan tinggi. Sedangkan, perguruan tinggi yang memiliki akreditas baik tidak sedikit yang memerlukan biaya yang banyak pula. Berbeda dengan perguruan tinggi lain, UII menerapkan sistem transparansi dalam pembiayaan pendidikan hingga lulus menjadi sarjana. Semua telah tertuang secara rinci dan spesifik dalam buku panduan penerimaan mahasiswa baru. Transparansi ini dilakukan agar calon mahasiswa mampu memepertimbangkan kelanjutan pendidikannya, sehingga segala jenis biaya telah dipersiapkan bahkan sebelum mulai mendaftar.

Mencari, meneliti, dan memilih perguruan tinggi bisa menjadi langkah awal penetuan nasib di masa depan. Hal ini dilakukan oleh para siswa itu hingga berkeliling jawa demi menentukan jalan sukses mereka. “Dengan kedatangan kami kesini, kami harap banyak informasi yang kami dapatkan secara langsung. Sehingga memberikan kemudahan juga bagi anak-anak kelas tiga ini untuk menentukan universitas mana yang akan mereka tuju. Juga di UII ini sebenrnya sudah banyak alumni kami.” Pangkas Pak Wagino S.Si M. Pd selaku Wakil Kepala Sekolah asal Bekasi yang memimpin kunjungan tersebut. Selain itu, Bapak Drs Matadi selaku Kaprodi Akuntansi dan Keuangan sekolah asal Lamongan itu menyampaikan bahwa mereka sangat berharap dengan kedatangan siswa-siswi mereka mendapatkan wawasan baru dan memahami lebih dalam lagi tentang perguruan tinggi.

Kunjungan ke Fakultas Ekonomi UII ini juga dapat menambah relasi antara universitas dengan sekolah-sekolah khususnya SMA. Tidak hanya dari Bekasi dan Lamongan tetapi kunjungan seperti ini juga sering dilakukan oleh banyak sekolah karena dianggap lebih efektif dalam memahami lebih dalam tentang suatu universitas. Proses ini juga sekaligus mampu mengedukasi tentang sejarah berdirinya UII, alumni-alumni yang menginspirasi, hingga program penerimaan mahasiswa baru yang menjadi informasi paling penting. Informasi-informasi tersebut diberikan oleh Pak Baziedy yang merupakan perwakilan dari tim promosi Fakultas Ekonomi. Disela-sela penyampaian materi ia mengatakan “Mencapai kesukseskan di masa muda sangat memungkinkan”, satu kalimat yang membuat beberapa siswa mengangguk paham.

Perguruan tinggi merupakan gerbang lanjutan yang lebih kompleks dan mengerucut pada bidang keahlian tertentu. Oleh karena itu, memang sudah sepatutnya dalam mencari perguruan tinggi perlu banyak indikator-indikator pengukurnya, tergantung pada prioritas masing-masing individu. Walaupun pendidikan tidak hanya didapatkan di ruang kelas tetapi cara menggali potensi mahasiswa perlu dilakukan karena dunia kerja yang merupakan fase kehidupan yang sebenarnya tergantung pada apa yang mereka miliki saat ini. (ANA/SND)

Menghadapi dunia kerja bukanlah persoalan yang mudah, diperlukan adanya persiapan yang matang baik itu dari segi soft skill maupun hard skill. Kebutuhan akan pekerjaan merupakan kebutuhan dalam hal aktualisasi diri dan sebagai ajang untuk memperbaiki taraf hidup yang lebih baik. Disamping itu, persaingan yang semakin ketat serta banyaknya job seeker semakin menambah angka pengangguran dan sempitnya lapangan pekerjaan di Indonesia. Berdasarkan data dari BPS 2018, pengangguran di Indonesia pada Febuari 2018 mencapai 5,13% dengan jumlah pengangguran sebesar 6,87 juta orang. Ditambah lagi saat ini telah memasuki era industri 4.0 dimana sebagai seorang mahasiswa bukan saatnya untuk mencari pekerjaan tetapi membuat sebuah pekerjaan yang mengasah kreativitas mereka. Karena hal tersebut, Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia mengadakan Workshop Recruitment Preparation and Simulation. Dalam acara tersebut dibahas mengenai tips dan trick mengahadapi dunia pekerjaan serta hal apa saja yang diperlukan saat mencari pekerjaan. Acara tersebut dihadiri oleh Mahasiswa Fakultas Ekonomi di ruang Aula Utara FE UII Senin, 10 Desember 2018.

Baziedy Aditya Darmawan, S.E., M.M selaku moderator serta dosen prodi manajemen FE UII menuturkan bahwa adanya kuliah umum seperti ini merupakan suatu yang langka dan menjadi sebuah kesempatan bagi mahasiswa untuk mengetahui apa saja tantangan yang dihadapi di dunia pekerjaan, selain itu seorang diploma ataupun sarjana yang baru saja lulus masih buta akan dunia kerja, sehingga ini merupakan sebuah kesempatan yang bagus agar mahasiswa dapat terserap di dunia industri.

Dalam kesempatan tersebut, perusahaan yang membagikan pengalamannya terkait recruitment adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN). Seperti yang diketahui PLN adalah BUMN yang bergerak dibidang sumber daya listrik di seluruh Indonesia. Dimana PLN memiliki 11 anak perusahaan dan 56 unit instansi yang dibawahinya. Evi Supriani selaku wakil dari PLN mengatakan bahwa PLN merupakan perusahaan yang berorientasi pada kepuasaan pelanggan. Selain sebagai BUMN Indonesia, PLN juga memberikan andil di bidang sosial yaitu fokus utama PLN adalah melistriki daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Selanjutnya Evi menjelaskan terkait proses rekruitmen PLN.

“Proses rekruitmen PLN saat ini dapat diakses melalui website online PLN, karena saat ini sudah berbasis teknologi sehingga lebih cepat dan mudah dalam pengiriman berkas pelamar” jelas Evi Supriani. Evi juga menambahkan hal-hal yang perlu diperhatikan saat rekruitmen adalah kesehatan jasmani dan rohani, keterampilan sosial seperti berkelakuan baik dan mudah beradaptasi, serta pintar dalam menanggapi isu-isu terkini. Terdapat 6 tahapan yang dilakukan PLN pada saat rekrutmen yaitu administrasi, akademik dan Bahasa Inggris, psikotes, tes kesehatan, dan wawancara. Hanya sekitar 30% yang berhasil lolos pada saat tes psikotes, karena tes tesebut mengungkapkan kepribadian dari pelamar.

Senada dengan hal tersebut, Ratna Syifa’a Rachmahana S.Psi., M.Si selaku direktur PPT UII mengatakan bahwa adanya tes psikotes yaitu untuk melihat bagaimana seseorang bertindak secara tepat dan untuk mengukur potensi seseorang. Karena potensi seseorang belum tentu sejalan dengan prestasi dan potensi merupakan kemampuan yang orisinil bukan hasil dari belajar. Selain menjadi pribadi yang memiliki keterampilan sosial baik dan mudah beradaptasi, seorang mahasiswa maupun pelamar perlu mengetahui passionnya masing-masing. “Satu hal yang perlu diputuskan saat ini adalah what is your passion, temukan dahulu passionmu. Karena dalam dunia perkuliahan bagai berada di menara gading tetapi saat memasuki dunia kerja sudah memasuki hutan belantara” terang Ratna Syifa’a. Menurutnya passion itu penting karena hal tersebut yang menuntun seseorang untuk memilih dunia pekerjaan mana yang akan digeluti.

Dengan adanya workshop ini diharapkan mampu membuka mata mahasiswa terkait rekrutmen dalam dunia kerja dan bagaimana mempersiapkan tantangan yang akan dihadapi, serta memberikan pemahaman kepada mahasiswa untuk meningkatkan kemampuannya agar mampu bersaing dalam dunia kerja. (SHF/NFS)