Foto Liputan 10 - Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) menyelenggarakan workshop bertajuk “Optimalisasi E-Journal dan LSEG Workspace untuk Publikasi Jurnal Internasional/TA” di Auditorium Prof. Ace Partadiredja, FBE UII pada (21/10). Acara ini menghadirkan jajaran narasumber dari ProQuest dan LSEG, yakni Dwi Janto Suandaru, SE., Anky Pahlandy, serta Teddy Matthew Sunandar, dengan dipandu oleh Akmal Faradise, S.IP., MA. selaku moderator 

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dekan FBE UII, yang menyoroti pentingnya akses data berstandar global untuk mendukung riset sivitas akademika. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa keberadaan fasilitas database yang dilanggan kampus harus dimanfaatkan seoptimal mungkin, baik untuk menyelesaikan tugas akhir mahasiswa maupun mendorong publikasi ilmiah dosen. “Datang langsung ke perpustakaan itu memberikan suasana tersendiri serta sebuah pengalaman dan kenangan mendalam tentang bagaimana kita berinteraksi dengan karya-karya ilmiah,” ujar Dekan FBE UII saat mengajak mahasiswa untuk mengoptimalkan seluruh fasilitas perpustakaan kampus. 

Sesi materi diawali oleh penjelasan dari Anky Pahlandy selaku Business Development Lead – Workflow & Data Analytics LSEG. Dalam pemaparannya, Anky mengulas perjalanan panjang LSEG Workspace yang berakar dari layanan data finansial Thomson Reuters sejak 1987 di Indonesia. Layanan yang dulunya berfokus pada transaksi perbankan ini kini telah berkembang pesat dan diakuisisi oleh London Stock Exchange Group (LSEG). 

Anky menjelaskan bahwa LSEG Workspace menyediakan basis data keuangan global yang sangat relevan untuk kebutuhan penelitian dosen dan mahasiswa. Menurutnya, platform ini mempermudah penyusunan karya ilmiah karena menyediakan data komparatif yang komprehensif. “Lewat LSEG Workspace, peneliti bisa membandingkan kondisi ekonomi antarnegara, bahkan hingga tingkat kota dan kabupaten. Seluruh data berstandar global ini siap dieksplorasi untuk kebutuhan skripsi, tesis, maupun publikasi jurnal,” jelas Anky. 

Memasuki sesi inti, Teddy Matthew Sunandar (Customer Success Manager LSEG) memandu peserta melalui demonstrasi langsung penggunaan platform LSEG Workspace. Teddy memperagakan tata cara pencarian data keuangan perusahaan, analisis indikator makroekonomi, hingga penarikan data historis pasar finansial secara real-time. Selain itu, peserta juga diajarkan mengoptimalkan fitur integrasi LSEG Workspace dengan Microsoft Excel. Fitur ini memudahkan peneliti dan mahasiswa dalam mengunduh serta mengolah himpunan data (dataset) skala besar secara efisien untuk kebutuhan pemodelan statistik dan analisis tugas akhir. 

Tidak hanya data finansial, kebutuhan referensi literatur ilmiah bereputasi internasional juga dikupas tuntas oleh Dwi Janto Suandaru, SE. dari ProQuest. Dwi memaparkan bahwa ProQuest telah berkomitmen sejak 1932 dalam mendukung pustakawan dan peneliti dunia. 

Melalui koleksi ProQuest Central Premium dan ABI/INFORM Collection, mahasiswa serta dosen FBE UII dapat mengakses puluhan ribu journal peer-reviewed terkemuka, seperti Journal of Economic Literature, Accounting Review, hingga MIT Sloan Management Review. Selain jurnal, platform ini juga menyediakan rujukan komprehensif berupa ratusan ribu disertasi, tesis, working papers, dan case studies bisnis dari berbagai belahan dunia untuk memperkuat landasan teori penelitian. 

Melalui workshop interaktif ini, FBE UII berharap pemanfaatan sumber daya riset dan fasilitas perpustakaan dapat meningkat secara signifikan, sehingga mempercepat masa studi mahasiswa sekaligus menaikkan kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah internasional bagi para dosen. 

(AFB)

 

Foto Kelas Interaktif - Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) kembali berkolaborasi dalam kegiatan Sehari Menjadi Mahasiswa UII yang diselenggarakan oleh Direktorat Pemasaran UII pada Rabu (3/6/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan Universitas Islam Indonesia serta berbagai fakultas yang ada di dalamnya kepada para peserta. Dalam pelaksanaannya, acara tersebut menghadirkan beragam rangkaian kegiatan, mulai dari talkshow, tur kampus, festival kampus, hingga kelas interaktif yang diselenggarakan oleh masing-masing fakultas. 

Mengangkat isu ekonomi yang tengah dihadapi Indonesia, FBE UII mengemas kelas interaktifnya melalui sebuah simulasi bertajuk Salary Day. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya pengelolaan keuangan di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, khususnya ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan. Alih-alih langsung menerima materi, peserta terlebih dahulu diajak merasakan pengalaman sebagai penerima gaji dalam sebuah simulasi ekonomi sederhana.

Saat memasuki kelas, setiap peserta SMM UII menerima buku tabungan dan amplop berisi gaji dengan nominal berbeda-beda untuk mencerminkan ragam pendapatan di masyarakat. Sesuai instruksi MC, amplop tersebut baru boleh dibuka saat sesi Ice Breaking. 

Ice Breaking dimulai dengan meminta peserta membuka amplop dan menghitung gaji mereka. Selanjutnya, uang tersebut terus berkurang setiap kali kebutuhan hidup diumumkan. Simulasi ini sukses memberikan reality check. Ruang kelas seketika hening; ekspresi dingin dan diamnya peserta justru menunjukkan bagaimana mereka tertegun menghadapi realita finansial. Ada yang beruntung uangnya tersisa, namun banyak yang terdiam karena gajinya habis seketika. Dari keheningan inilah, peserta mulai sadar bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan hidup sangat bergantung pada besarnya pendapatan, bukan sekadar cara mengelolanya.

Simulasi Saving the Rupiah: Salary Day tidak hanya mengajarkan peserta mengenai pentingnya menabung atau mengelola pendapatan. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa permasalahan keuangan tidak selalu disebabkan oleh kurangnya pendapatan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang lebih luas.

Dalam simulasi tersebut, gaji yang diterima peserta sebenarnya telah dirancang agar mencukupi seluruh kebutuhan yang diberikan. Akan tetapi, berbagai penyesuaian harga yang muncul selama permainan menggambarkan dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap kenaikan harga barang dan jasa. Akibatnya, kemampuan peserta dalam memenuhi kebutuhan menjadi semakin terbatas meskipun jumlah pendapatan yang diterima tetap sama.

Untuk mengupas lebih dalam fenomena tersebut, Marcomm FBE UII menghadirkan Dr. Listya Endang Artiani, S.E., M.Si., dosen Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia, sebagai narasumber utama dalam sesi Saving the Rupiah.

Dalam pemaparannya, Dr. Listya menjelaskan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar angka yang muncul dalam pemberitaan ekonomi, melainkan fenomena yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan makroekonomi, peserta diajak memahami bagaimana nilai tukar rupiah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi global, aktivitas perdagangan internasional, serta kebutuhan terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat (USD) yang dikenal sebagai salah satu mata uang utama dalam perdagangan dunia. 

Dr. Listya menjelaskan bahwa banyak komoditas ekspor Indonesia yang bahan bakunya masih diimpor dari luar negeri, seperti ilustrasi tas milik peserta bernama Mas Tegar yang 60% komponennya berasal dari luar negeri. Ketika rupiah melemah (misalnya dolar AS naik dari Rp16.000 ke Rp17.000), biaya produksi otomatis membengkak sehingga harga jual produk ikut naik. 

“Inflasi itu adalah kenaikan tingkat harga secara umum. Kalau gula pasir aja yang naik itu belum inflasi. Tapi kalau udah gula pasir, terigu, apa? Kangkung, bayam, kemudian mie instan, semuanya naik, nah itu yang disebut sebagai inflasi. Inflasi adalah kenaikan harga secara umum dalam waktu tertentu.”, jelas Dr. Listya.

Untuk mengatasi pelemahan rupiah, pemerintah dan otoritas terkait dapat menerapkan berbagai kebijakan ekonomi. Dalam sesi Ekonomi Kebijakan, Dr. Listya menjelaskan beberapa alternatif yang dapat dilakukan, seperti menaikkan suku bunga, melakukan intervensi di pasar valuta asing, maupun memberikan subsidi dan bantuan sosial kepada masyarakat. Masing-masing kebijakan memiliki manfaat dan risiko yang perlu dipertimbangkan karena dapat memberikan dampak yang berbeda terhadap perekonomian. 

“Untuk mengatasi pelemahan rupiah adalah naikin tingkat suku bunga. Kalau naikin suku bunga itu tugasnya Bank Indonesia yang kita sebut sebagai otoritas moneter. Ada kelebihannya, rupiahnya jadi stabil. Tapi ada kelemahannya juga, kreditnya lebih mahal.”, papar Dr. Listya. 

Selain solusi jangka pendek, Dr. Listya juga menekankan pentingnya strategi pembangunan jangka panjang untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan industri dalam negeri, peningkatan nilai tambah ekspor, serta penguatan literasi keuangan masyarakat. Menurutnya, langkah-langkah tersebut diperlukan agar Indonesia tidak hanya mampu menghadapi gejolak ekonomi global, tetapi juga memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan di masa depan. 

Melalui simulasi Salary Day dan sesi interaktif Saving the Rupiah, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman mengelola pendapatan dalam situasi ekonomi yang dinamis, tetapi juga memahami bagaimana pelemahan rupiah dapat mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan pemahaman tersebut, diharapkan peserta semakin sadar akan pentingnya literasi ekonomi dan pengelolaan keuangan yang bijak sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa depan. 

(AFB)