IMAM TAUFIK | Direktur PT. Mahkota Mutiara

Ramah, ceria, supel menandai ciri khas utama saat seseorang bertemu Imam Taufik. Imam Taufik akrab disapa dengan nama “Opik” termasuk menjadi contoh alumni sukses jebolan Fakultas Ekonomi UII. Opik dahulu menjadi mahasiswa jurusan Manajemen dengan spesifikasi ilmu Manajemen Pemasaran.  Sejak tahun 2006 sampai sekarang, Opik menjabat sebagai Direktur Utama PT. Mahkota Mutiara Makmur. Menjadi pemilik sekaligus pengelola perusahaan rintisan sendiri merupakan prestasi yang dapat kita contoh dari kemandirian Opik.

    Pria kelahiran Cirebon pada 23 September 1973 telah menghabiskan masa kecil sampai jenjang SMA di kota Cirebon, lalu kemudian memutuskan untuk merantau menimba ilmu di Jogja ketika kuliah dan memilih Universitas Islam Indonesia sebagai tujuannya. Bukan tanpa alasan ia memilih Universitas Nasional Tertua ini. Ia mengaku memilih UII dengan pilihan sendiri dan juga merasa senang serta lebih enjoy menjalani hari-hari menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi UII.

    Menempuh studi selama 5 tahun membuat Imam memperoleh banyak pengalaman. Ketika kuliah, Opik bergabung dengan sebuah lembaga di kampus yaitu LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Ekonomika. Opik tercatat sebagai kontributor dalam pembuatan majalah “Perspektif” pada masa itu. Dari kesibukan organisasi kampus, ia bisa menemukan banyak hal, terutama bisa mengasah kepribadiannya dan belajar mengembangkan diri menjadi seseorang yang mandiri, profesional, dan ulet.

    Sosok Imam Taufik tidak seperti kebanyakan alumni FE UII pada umumnya. Jika mayoritas alumni FE UII ingin untuk mendapatkan kesempatan berkarir di pasar modal dan sektor perbankan, hal ini berbeda dengan keinginan Opik. Sejak awal, ia bermimpi menjadi seorang wirausaha. Akan tetapi karena pada saat ia lulus, sekitar tahun 1998, kondisi perekonomian Indonesia sedang dalam masa peralihan dari situasi krisis, sehingga impian Opik sedikit terhambat untuk menjadi wirausaha. Pada akhirnya Opik mencoba peruntungan dengan mendaftarkan diri ke berbagai bank. Namun nasib belum juga memberi kabar baik untuknya. Pria yang gemar membaca buku itu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di sebuah perguruan tinggi di Jakarta.

    Perjalanan hidup Opik tidak lepas dari dukungan dan restu dari kedua orangtuanya. Pada saat ia melanjutkan studi S2 pun orangtuanya sangat berperan dalam menentukan lokasi. Pada awalnya ia diterima untuk melanjutkan studi S2 di Kota Jogja, namun karena orangtuanya tidak mengizinkan, akhirnya ia memilih sebuah perguruan tinggi yang disarankan oleh kedua orangtuanya di Jakarta. Orangtua dari Opik ingin lebih dekat dengan anaknya, mengingat ia sudah pernah merantau di Jogja cukup lama.  Dari sini kita bisa melihat betapa besar kasih sayang dan wujud hormat Opik terhadap kedua orangtuanya, dimana sikap tersebut jarang kita jumpai saat ini. Kalau dalam istilah jawa, Opik termasuk anak yang manut (patuh) kepada perkataan orangtua dan tidak nyeleneh (aneh-aneh).

    Opik dibesarkan dalam lingkungan yang sedang, sederhana, dan agamis. Dari kecil ia sudah dibiasakan oleh orangtuanya untuk pergi ke langgar (semacam mushola) untuk mendapatkan pendidikan keagamaan. Kemudian ketika SMP pernah mengikuti pesantren. Nilai-nilai keagamaan yang ia dapatkan semasa itu dijadikannya prinsip hidup sampai sekarang. Menurut Opik, agama bisa menjadi tempat untuk kontemplasi, instropeksi, sarana penyemangat, dan menumbuhkan pikiran positif.

    Di tengah kesibukan mengelola aktivitas bisnisnya, Opik masih bisa membagi waktunya untuk mengikuti organisasi di luar. Saat ini ia tergabung dalam organisasi HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) di kota Cirebon.  Selain itu ia juga terlibat dalam aktivitas kemasyarakatan. Opik ikut dalam sebuah proyek NU (Nahdatul Ulama) kota Cirebon yaitu pengembangan produk air mineral. Diakhir wawancara ia berpesan kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi UII, “Teruslah belajar dengan baik, kemudian berprestasi, jangan lupa menjalin silaturrahim dengan cara ikut organisasi. Teruslah berpikiran positif untuk selalu kreatif, maju, dan segera lulus menjadi wirausaha. Jangan terlalu bergantung untuk mencari pekerjaan, sebisa mungkin ciptakan lapangan pekerjaan sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar”.