Dalam era globalisasi yang ditandai dengan hilangnya batas-batas, internasionalisasi merupakan suatu keniscayaan. Fenomena internasionalisasi terjadi pada berbagai sektor di dunia,  termasuk di dunia pendidikan tinggi. Internasionalisasi merupakan ruh dari akreditasi internasional yang ingin dicapai oleh sebuah program studi atau fakultas. Akreditasi internasional sendiri diyakini mampu menjadi penggerak perubahan dan perbaikan yang berkelanjutan bagi program studi. Demikianlah topik yang dibahas dalam Lokakarya Internasionalisasi Program Studi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Sudarso Kaderi Wiryono, DEA, Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) yang diselenggarakan di Fakultas Ekonomi UII (2/5).

Lokakarya yang diselenggarakan sebagai rangkaian dari implementasi Program Hibah Kompetisi Program Studi (PHK-PS) tersebut merupakan forum untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan aktif para dosen Program Studi Manajemen dan seluruh pejabat struktural Fakultas Ekonomi UII dalam meraih akreditasi internasional ABEST21. ABEST21 merupakan sebuah lembaga internasional berpusat di Jepang yang bereputasi baik dalam memberikan akreditasi internasional bagi berbagai penyelenggara pendidikan tinggi di bidang bisnis dan ekonomi.

Ketua Program Studi Manajemen Program Sarjana, Anjar Priyono, Ph.D. mengatakan bahwa kegiatan Lokakarya ini merupakan bagian dari ikhtiar Program Studi Manajemen untuk mengajak para dosen secara bersama-sama untuk berkontribusi dalam meraih akreditasi internasional. “Melalui lokakarya ini, diharapkan para dosen memahami ruang lingkup standar ABEST21 dan merumuskan  bagaimana transformasi standar ABEST21 ke dalam sistem dan proses belajar mengajar  dalam rangka memperoleh akreditasi internasional”, terang Anjar. Meski akreditasi internasional ABEST21 adalah hal yang harus diraih, namun Anjar berpendapat bahwa hal tersebut hanyalah sarana untuk perbaikan berkelanjutan dan bukanlah tujuan akhir. “Akreditasi internasional bukanlah usaha untuk mencapai garis finish, namun usaha untuk selalu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu”, jelasnya.

Prof. Dr. Ir. Sudarso Kaderi Wiryono, DEA. selaku narasumber yang juga merupakan Vice President ABEST21 menekankan pentingnya misi organisasi sebagai penggerak untuk melakukan perbaikan berkelanjutan. Perbaikan berkelanjutan sendiri menurut Sudarso merupakan keunikan dari akreditasi internasional ABEST21. “Kaizen atau perbaikan berkelanjutan merupakan kunci dalam mewujudkan misi organisasi, hal inilah yang menjadi keunikan dan membedakan ABEST21 dibandingkan dengan lembaga akreditasi internasional lainnya”, terang Sudarso.

Sudarso juga menekankan manfaat akreditasi internasional ABEST21 bagi program studi. Menurutnya, raihan akreditasi internasional ABEST21 dapat mendukung dan menjamin akreditasi BAN-PT. “Saat ini sedang diwacanakan bahwa program studi yang telah terakreditasi ABEST21, maka tidak perlu lagi diakreditasi oleh BAN-PT dengan syarat akreditasi sebelumnya telah berhasil meraih peringkat ‘A’ untuk mendaftar ABEST21”, jelasnya. Selain itu, raihan akreditasi internasional ABEST21 juga dapat membuka peluang untuk melakukan ekstensifikasi kerja sama dengan perguruan tinggi unggul lainnya yang telah terakreditasi ABEST21. “Beberapa perguruan tinggi unggul di luar negeri memiliki kecenderungan untuk hanya bekerja sama dengan perguruan tinggi yang telah terakreditasi internasional, sehingga raihan ABEST21akan memiliki dampak yang sangat strategis”, pungkasnya. (BAD/EM).