Blank NewsPeradaban Islam pada masa lalu memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang luar biasa. Bahkan menjadi salah satu pemegang hegemoni dunia pada saat itu, bersama Tiongkok dan India, yang dikenal sebagai Globalisasi Timur (Eeastern Globalization).Globalisasi Timur mulai menunjukkan tanda-tanda signifikan untuk hadir kembali pada kendali Tiongkok dan India. Hal ini bisa dilihat dari terbangunnya bank dunia baru yaitu Bank Investasi dan Infrastruktur (BII) dan ketegaran Tiongkok di Laut Cina Selatan. Hal ini membuat geram pesaing-pesaing mereka yang berasal dari hegemoni peradaban barat.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Diskusi Bedah Buku “Ekonomi Politik Peradaban Islam Klasik” yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (PPs FE UII). Acara ini menghadirkan dosen Fakultas Ekonomi UII, Drs. Suwarsono Muhammad, MA, yang sekaligus merupakan penulis buku tersebut. Disampaikan oleh Suwarsono, bahwa buku ini mencoba mencari jawaban dari surutnya imperium Islam yang pernah berjaya, serta mencoba mencari indicator dan formula kejayaan: apa yang menjadikan peradaban Islam pernah bangkit, tumbuh, berkembang, dan meraih puncak kejayaan. Suwarsono mencoba meraba, berbagai ajaran Islam yang telah ada seperti sejarah dan “tafsir” yang dikenal selama ini “telah benar adanya”.

Bedah buku yang dilaksanakan di Aula Utara, Gedung Prof.Dr.Ace Partadiredja, Kampus FE UII (23/5)memilih topik ini atas dasar kekhawatiran adanya distorsi yang bisa terjadi terutama karena pengaruh kekuasaan politik. Suwarsono merasa ada begitu banyak penghalusan sejarah, sekalipun tidak sampai pada sepenuhnya penyembunyian fakta-fakta sejarah. Politik selalu mengintervensi penulisan sejarah, pada masa sekarang maupun yang telah lalu. Suwarsono menambahkan, adanya intervensi kebudayaan dari umat generasi awal yang meneruskan ajaran itu ke umat generasi berikutnya. Sedangkan, mungkin, umat generasi awal sudah tercampuri pemahamannya dengan kebudayaan. Seringkali amat sulit memisahkan mana elemen kebudayaan dan manakah yang benar-benar ajaran Islam. Buku ini bertujuan membuka tabir itu, walaupun tidak sepenuhnya terbuka lebar.

Juga hadir dalam diskusi dan bedah buku ini yaitu Prof. Dr. Faisal Ismail, MA, guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang memberikan beberapa catatan penting yaitu bahwa kajian peradaban Islam klasik dari persepekstif sosial politik lebih melihat bagaimana sosok peradaban Islam klasik itu dibangun, ditumbuhkan, dikembangkan sehingga menjadi peradaban besar. Lazimnya, penjabaran seperti ini lebih mementingkan peranan, pergantian dan pengangkatan seorang khalifah. Masih perlunya kajian dan pembahasan yang menjelaskan tentang perkembangan dan pencapaian peradaban Islam klasik dari perspektif sosial ekonomi atau ekonomi politik. Faisal menambahkan poin penting dalam buku ini adalah pemaparan masa pra-Islam yang sudah identik dengan kemajuan, kebudayaan, dan perdaban kota karena menjadi pusat perdagangan, menjadi cikal bakal yang memberikan momentum historis semakin tinggi. Islam mengubah peradaban Arab pra-Islam tersebut menjadi peradaban yang berbasis tauhid. Inilah titik tolak yang ditemukan oleh Suwarsono Muhammad.

Buku “Ekonomi Politik Peradaban Islam Klasik” disusun dengan bahasa yang baik, bernas, dan mudah dipahami. Ide dan uraian yang disampaikan penulis mengalir secara sistematis, sehingga perlu diberikan apresiasi atas terbitnya buku ini. Ditambah kajiannya terfokus pada peradaban Islam klasik yang diulas dan dibahas dari perspektif ekonomi politik. Ini merupakan hasil karya dari salah satu akademisi senior FE UII yang diharapkan mampu memberikan sumbangsih pemikiran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.