VCOMenjadi mahasiswa tidak sekedar hanya kuliah dan belajar di kampus, namun juga aktif mengembangkan kegiatan lain di luar kampus yang membawa manfaat. Setidaknya itulah yang diyakini oleh dua orang mahasiswa Fakultas Ekonomi UII, Farid Ramadhan Singgih dan Rita Purnamasari. Di samping kuliah, kedua mahasiswa ini juga aktif menggeluti dunia wirausaha dengan mengembangkan potensi masyarakat lokal di daerah Purworejo. Bisnis yang mereka jalankan tidak lain adalah pengembangan produk virgin coconut oil (VCO) yang mengusung brand “Sri”. Dalam proses produksi produk ini, mereka menjalin kemitraan dengan masyarakat Desa Sidorejo, Kabupaten Purworejo.

Berkat ketekunannya tersebut, belum lama ini keduanya berhasil menyabet penghargaan sebagai juara I dalam Lomba Teras Usaha Mahasiswa Kategori Sociopreneur regional Yogyakarta yang diadakan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Kompas Gramedia. Proposal bisnis yang mereka ajukan berhasil lolos seleksi dari 66 proposal yang masuk ke panitia lomba dan menjadi finalis pada sesi final, 19 Oktober silam, sebelum meraih juara.

Atas kemenangan ini, keduanya mendapat hadiah senilai Rp 15 juta dan pendampingan selama 6 bulan. Keduanya juga didaulat untuk mewakili regional Yogya dalam kompetisi lanjutan di tingkat nasional.

Dikatakan oleh Rita Purnamasari, bahwa ide untuk mengembangkan bisnis VCO berawal dari keinginannya untuk menggarap potensi lokal di Purworejo. “Sewaktu menjalani program KKN di Sidorejo, saya melihat di desa itu banyak sumber daya buah kelapa yang melimpah. Oleh penduduk, kelapa biasanya hanya dijual mentah sehingga belum memiliki nilai tambah”, ujar mahasiswi yang aktif di lembaga pers mahasiswa itu.

Berawal dari itulah, ia kemudian terpantik untuk mengembangkan ide bisnis VCO yang dapat memberi nilai tambah bagi produk kelapa. Ide itu mendapat sambutan positif dari rekannya, Farid Ramadhan S. sehingga keduanya pun intens menggarap bisnis tersebut.

VCO2Ditambahkan oleh Farid Ramadhan, yang terpenting dari ide bisnisnya adalah untuk mengajak keterlibatan masyarakat lokal. Hal ini memerlukan proses panjang di mana ia dan Rita harus intens memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang bagaimana mengolah produk kelapa menjadi VCO bernilai jual tinggi. Seiring berjalannya waktu, satu per satu anggota masyarakat yang menyadari potensi VCO pun mulai bergabung dengan mereka.

“Jadi tidak semata-mata mengejar profit namun bagaimana masyarakat desa menjadi berdaya dan memperoleh manfaat tambahan dari sumber daya lokal. Kami tidak ingin mereka hanya menjadi penonton”, kata mahasiswa yang berkecimpung dalam komunitas wirausaha FE UII ini.

Kini mereka bersama sebagian masyarakat Sidorejo sudah dapat memproduksi minyak VCO secara kontinyu. Minyak VCO berlabel “Sri” itu dikemas dalam botol-botol kecil yang menarik dan ada pula yang dikemas dalam bentuk gel. “Produk VCO kami jual di pasaran dengan harga Rp 35 ribu. Semoga ke depannya dapat semakin berkembang”, pungkas Farid.

sumber : www.uii.ac.id