Halim Alamsyah NHumble dan mempunyai karisma, begitulah kesan yang terlintas di benak ketika pertama kali bertemu dengannya. Halim Alamsyah, Ia merupakan salah satu alumni lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) program studi Ilmu Ekonomi yang pada saat itu masih bernama Ekonomi Pembangunan. Pria kelahiran 6 Maret 1957 di Sungai Liat, Bangka ini, sempat mengenyam pendidikan di Bangka dan juga Palembang, kemudian pindah ke Jakarta sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pada waktu itu Ia dua kali pindah sekolah, mulai SMA N 10 di kelas satu, lalu pindah ke SMA katolik Budi Mulya pada tahun kedua atau SMA kelas dua. Satu hal yang selalu diingat oleh beliau dari seorang ayah adalah selalu menitik beratkan kepada pendidikan dan “jangan sampai melupakan atau berhenti belajar, berarti kita sudah berhenti sebagai manusia” ujar ayahnya. Dan kata-kata ini yang beliau terapkan kepada anak-anaknya sekarang.

Masa kecil beliau hampir sama dengan anak-anak lainnya, mungkin cukup nakal. Beliau juga pernah bolos dengan teman-teman sekelasnya sampai dimarahi oleh guru dan juga teringat dengan seorang guru bahasa yang mengajarkannya bahwa tidak hanya belajar yang sifatnya sains tetapi belajar seni itu juga harus dipelajari sehingga menjadi seimbang. Dan itu yang paling teringat dan berkesan ketika masih SMA. Dan juga menjadi latar belakang kepindahannya ke Yogyakarta, kota yang dijuluki sebagai kotanya mahasiswa. Beliau datang ke Yogja pertengahan 1974 dan pada tahun 1975 Ia mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri, yang mana jurusan psikologi diambilnya. ketika test wawancara, ternyata beliau tidak lulus dan memutuskan untuk memilih UII sebagai pelabuhannya. Di tahun kedua beliau test kembali dan ternyata lulus di Fakultas Hukum salah satu PTN di Yogyakarta.

Pada waktu kuliah, beliau pernah dijuluki sebagai “Orang Kaya” karna beasiswa beliau lebih tinggi dari gaji pegawai negeri pada saat itu. Ketika itu masih ditingkat tiga menuju ketingkat empat, kemudian ada penawaran beasiswa dari Bank Indonesia (BI) yang jenisnya ikatan dinas dan pada saat itu beasiswa yang diterima sebesar Rp. 30.000,- sedangkan gaji dari seorang pegawai negeri untuk golongan III A pada saat itu sebesar Rp. 18.000,- sampai Rp. 20.000,-. Setelah lulus dari FE UII pada tahun 1980, karena beasiswanya yang sifatnya ikatan dinas, maka Ia harus langsung bekerja di Bank Indonesia dan selama 9 bulan harus mengikuti PCPM (Program Pendidikan Calon Pegawai Muda), setelah pengumuman Ia berhasil menjadi juara, dan langsung dikumpulkan oleh Direktur PSDM dengan peserta lainnya yang juga lulus, didalam perbincangan Direktur PSDM terkejut ketika mendengar kalau Halim Alamsyah ini juga merupakan lulusan dari FE. Dan pada saat itu beliau lebih dikenal sebagai lulusan FE ketimbang lulusan FH.

Setelah penempatan di tahun 1982, beliau kemudian dibiayai untuk bersekolah di Amerika yang pada tahun itu terdapat kebijakan khusus dibuat BI. Setelah Ia balik lagi ke Indonesia kira-kira pada tahun 1985, Ia ditempatkan dibagian research dan lebih banyak membantu pimpinan dalam bentuk analisis paper yang digunakan untuk seminar, dan juga membuat pidato untuk pimpinan. Setelah itu perubahaan yang terjadi terhadap beliau benar-benar diluar dugaan, karena setelah dapat menyelesaikan prosiding yang belum selesai hampir tiga tahun lamanya. Beliau dipanggil oleh Syahril Sabirin yang dulunya masih menjabat sebagai Kepala Urusan dan diminta untuk ikut dalam Tim Studi Kuantitatif untuk menjadi Administratifnya. Dalam selang waktu yang tidak terlalu lama, beliau diminta untuk ikut ke Belanda bersama Tim Studi Kuantitatif selama tiga bulan untuk membenahi makro modeling. Dan Halim Alamsyah pernah dalam kurun waktu enam tahun sudah hampir empat kali berganti kursi kepemimpinan, sebelum akhirnya ditempatkan sebagai Direktur DPNP pada maret 2007 dan sekarang menjadi Ketua Dewan Komisioner Chairman di LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). ”Jadilah seseorang yang memiliki prinsip dalam hidup, prinsip yang dimanapun kita berada yang kalau disebutkan kepada orang lain akan iya dengan prinsip kita dan apabila ingin mencapai tujuan yang kita inginkan jangan lupa peran agama disertakan” pungkasnya dalam harapan untuk penerusnya kedepan.