Santoso Rohmad: Bercerminlah pada Kegagalan

Santoso Rohmad yang akrab disapa Santoso merupakan salah satu alumni program studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia tahun 1985. Anak kesepuluh dari dua belas bersaudara. Santoso berasal dari kabupaten Bantul provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan keluarga yang berpendidikan agama yang cukup tinggi. Sejak kecil Santoso telah dididik oleh orang tuanya untuk menuntut ilmu di sekolah dengan latar belakang islam. Sehingga saat ia masih dibangku Sekolah Dasar (SD) orangtuanya memindahkan Santoso dari SD Negeri yang dekat dengan rumahnya ke SD Muhammadiyah yang sangat jauh dari rumahnya. Orangtua Santoso ingin mengajarkan arti perjuangan hidup kepada anaknya walaupun mereka telah hidup berkecukupan. Hal itu membuat Santoso belajar banyak tentang saling menghargai dan berbagi dengan masyarakat disekitar sekolahnya. Serta bagaimana perjuangan beliau untuk menempuh jarak yang jauh menuju sekolahnya dengan jalan yang berlubang serta berlumpur.

Pada tahun 1984 Santoso lulus dari bangku SMA dan  bercita–cita  menjadi AKABRI, tetapi belum berhasil. Kemudian  ia mencoba untuk melanjutkan pendidikan di program studi Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia. Setelah itu, pada tahun kedua Santoso mendaftarkan dirinya di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia sehingga Santoso kuliah dengan dua jurusan. Sebelum berkuliah di Fakultas Ekonomi UII, beliau sempat bingung dalam menentukan program studi apa yang akan ia ambil. Sebelumnya Santoso ingin berkarir dalam bidang jasa kontruksi maka beliau lebih memilih untuk melanjutkan kuliah ke Fakultas Teknik Sipil UII. Namun setelah dijalani, ternyata teknik sipil bukan menjadi passion-nyaMelihat kemampuan dan passion-nya, ia lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi UII dan berfokus pada program studi manajemen. Pada akhirnya di tahun ketiga kuliah Santoso melepas jurusan teknik sipil kemudian fokus untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi UII. Menurutnya, dunia perkuliahaan membentuk pola pikir seseorang untuk bertindak dan berpikir logis.

Ilmu yang didapat dalam bangku kuliah merupakan sesuatu yang bermanfaat baik untuk kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Namun, ilmu yang kita pelajari sebaiknya dikombinasikan dengan ilmu yang kita pelajari di masyarakat dan lingkungan. Santoso mengatakan bahwa penting untuk bersilaturahmi dengan semua kalangan, karena kita akan mendapat banyak ilmu dari sebuah proses dan kegagalan yang dialami. Kita juga dapat memiliki planning untuk hidup kedepan dengan bercermin dari interaksi lingkungan kita.

“Suatu saat nanti, kita akan tertolong dengan silaturahmi, karena orang yang dulunya bukan siapa-siapa, di masa yang akan datang bisa menjadi orang yang hebat. Jadi berbuat baiklah dengan semua orang”- Santoso Rohmad.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi UII, Santoso melanjutkan pendidikan S2 dan selesai pada tahun 1991. Dalam karirnya Santoso menjabat sebagai Account Officer BPD DIY, Penyelia, dan menjadi wakil pimpinan cabang BPD DIY di Wates divisi Sumber Daya Manusia. Sekarang Santoso Rohmad menjabat sebagai Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY. Tantangan terberat baginya adalah waktu ia bekerja di divisi Sumber Daya Manusia, ia merasa kesulitan untuk merubah budaya perusahaan dan merubah sikap mental seseorang. Santoso dikenal sebagai direktur yang ramah dan merakyat, dikarenakan sejak kecil beliau dibiasakan dengan nilai–nilai keagamaan dan sosial oleh orang tuanya. Ilmu–ilmu yang telah ia dapatkan sejak kecil sangat bermanfaat baginya sampai saat ini dan menjadi fundamental dalam dirinya. Lingkungan yang telah mengajarkan Santoso untuk mampu menghadapi persoalan–persoalan yang dihadapinya. Di samping itu, menurut Santoso, ia juga merupakan orang yang sering mengalami kegagalan, seperti tidak diterima di AKABRI sesuai dengan cita-citanya. Tetapi kegagalan-kegagalan tersebut yang membuat santoso menjadi semakin taff.  “Walau cita-cita saya untuk menjadi Jendral tidak terwujud, namun jalan Allah menunjukan saya menjadi Jendral di tempat lain, di BPD ini” jawab Santoso dengan tertawa ringan.

Selain kesibukannya sebagai direktur bukan berarti melupakan kesehatan tubuhnya, beliau memiliki beberapa kegemaran seperti rutin lari pagi, bersepeda, dan sesekali bermain golf dengan rekan kerjanya. Terkadang beliau bersepeda menuju rumah stafnya hanya sekedar untuk saling mendekati diri. Selain olahraga, beliau memiliki kegemaran mengendarai motor besar, sesekali beliau mengajak sang istri dan anaknya untuk berkeliling dengan motornya. Jika ada waktu luang, beliau beberapa kali mengikuti konvoi komunitasnya hingga ke luar Jawa.

Menurut Santoso, interaksi adalah salah satu sumber untuk mendapatkan informasi. Menjadi pemimpin cabang terbaik di Yogyakarta merupakan salah satu keberhasilan yang telah ia capai. Prinsip beliau pada saat menjadi pemimpin adalah harus dapat membuat sejarah serta menjadi panutan dan gemar mencari ilmu di tempat lain. Karena seorang pemimpin tidak akan selamanya berada diposisi yang sama, sehingga harus membagikan ilmunya kepada bawahannya yang kelak akan meneruskan jejaknya. Harapan bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi UII adalah agar mahasiswa dapat menciptakan lapangan usaha untuk membuka lapangan pekerjaan baru.

Kesuksesan merupakan bagaimana cara kita untuk mengatasi persoalan yang hadapi. – Santoso Rohmad.

Harapan Santoso untuk kedepannya, ia ingin Bank BPD DIY dapat bersaing dengan BUMN dan perbankan nasional dalam menguasai teknologi dan penerapan good corporate governance. Untuk mewujudkan itu, banyak persoalan yang harus diselesaikan, sehingga hal tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi. Selain itu, harapan untuk keluarga kedepannya adalah menjadi keluarga yang “sukses”, dapat membina keluarga dari sisi moral dan akademik. Seperti mendidik anaknya untuk dapat mampu menyelesaikan persoalan hidup yang tidak didapat di bangku kuliah.