Iqbal Himawan: Jadikanlah Hambatan Sebagai Suatu Tantangan

IQBAL HIMAWAN | News Anchor Metro TV

Iqbal Himawan, pria kelahiran Semarang, 23 Januari 1986 ini adalah salah seorang alumni dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia yang berlatar belakang dari keluarga PNS. Sejak kecil Iqbal sudah diajarkan untuk melawan ketakutan dengan tidak menjadikan ketakutan itu sebagai phobia, tetapi juga harus pandai mengatasinya. Selain itu, Iqbal sejak kecil juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, penasaran dengan hal–hal baru dan ingin mencobanya. Sifat ingin tahu itu merupakan salah satu pendorong Iqbal menjadi seorang jurnalis, sehingga tak heran pencapaian karir Iqbal ini sesuai dengan apa yang telah dilakukannya sejak kecil. Saat ini Iqbal menjabat sebagai News Anchor di Metro TV. Sebuah tantangan ketika orang tua yang sudah terbiasa bekerja dibidang birokrat dan sangat sulit bagi Iqbal untuk meyakinkan kedua orang tua bahwa pekerjaan sebagai jurnalis itu adalah pekerjaan yang sangat bermanfaat dan membanggakan.  Mendengarkan berita pada channel tv international sudah dilakukan Iqbal sejak kecil dan kagum melihat para jurnalis meliput dalam segala situasi, dari lokasi manapun sehingga dapat memberikan laporan informasi yang jelas terhadap pemirsa.

Iqbal menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) disuatu kota kecil, yaitu Purwodadi. Kemudian lulus dari bangku SMP Iqbal mengikuti student exchange ke Australia dan melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Iqbal mengambil jurusan Ilmu Ekonomi (International Pembangunan) dengan mempertimbangkan berbagai alasan pendukung, salah satunya Iqbal memiliki passion dibidang bahasa dan ia beranggapan Ilmu Ekonomi dapat menunjang profesinya untuk menjadi  seorang jurnalis dan mengasah kemampuan net working-nya. Selain itu juga Iqbal beranggapan bahwa masih sedikit perguruan tinggi yang menyediakan International Program pada Jurusan Ekonomi di Yogyakarta. Baginya Yogyakarta merupakan kota yang sangat kondusif untuk mengenyam pendidikan. Pada masa kuliah, Iqbal mengidolakan dua orang dosen yang menjadi favoritnya sekaligus motivator terbesar dalam dirinya yaitu, Bu Endang yang mengajarkan ketegasan dan Pak Edi Suwandi Hamid yang selalu menjelaskan sesuatu hal rumit bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana sehingga dapat diaplikasikan dengan mudah.

Melalui pekerjaannya, hidup Iqbal dekat dengan berbagai macam petualangan yang membuatnya harus selalu siap siaga. Seperti mewawancarai presiden, mewawancarai Antasari Azhar, mewawancarai istri teroris, bahkan mewawancarai seorang ayah yang memperkosa anaknya sendiri. Sejak kecil sosok Iqbal dikenal sebagai anak yang selalu ingin mencoba segala hal baru dan memiliki empati yang tinggi. Baginya empati dapat membantu diri untuk selalu bersyukur. Semakin sukses seseorang, semakin merendah dan selalu humble pada siapapun.

Anggaplah sebuah hambatan itu menjadi tantangan, karena kita tidak pernah tahu bahwa hambatan bisa menjadi sebuah kesempatan. – Iqbal Himawan

Sebelum menjadi News Anchor, Iqbal sempat bekerja di bank selama 3 tahun. Tahun pertama ia bekerja di bank Danamon, kemudian dua tahun selanjutnya bekerja di bank BRI. Kemudian Iqbal berpikir untuk menjadi jurnalis namun tetap menggunakan background dirinya sebagai alumni Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi UII. Selain menjadi News Anchor di Metro TV, Iqbal juga sering menjadi moderator untuk anak – anak kurang mampu dan panti asuhan.

Diakhir wawancara, Iqbal Himawan menyampaikan beberapa pesannya untuk mahasiswa yaitu, bersikaplah lebih prihatin karena setelah memasuki dunia kerja kita merasakan bahwa mencari uang itu susah. Kumpulkanlah pengalaman dan network sebanyak–banyaknya, manfaatkan internet sebaik-baiknya, dan bergabunglah dengan komunitas agar membuat kita lebih siap dalam menghadapi dunia kerja. Selain itu Iqbal juga menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan Finding Alumni, semoga dapat terus terbentuk kerjasama alumni dengan Fakultas Ekonomi UII dalam membangun sinergi alumni dan dapat bertukar pikiran dengan mahasiswa.