haris syahrizalHaris Syahrudin, pria kelahiran Yogyakarta, 22 September 1960 ini merupakan salah satu alumni Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) yang lahir dari keluarga seorang pendidik, yaitu kedua orang tuanya. Sejak kecil Haris sudah diajarkan nilai-nilai kepribadian dan religius yang kuat, sehingga tak heran pencapaian karir sosok seorang Haris ini sesuai dengan pendidikan yang kedua orang tuanya tanamkan. Saat ini Haris menjabat sebagai Direktur Operasi dan Pemasaran di PT. Elnusa Petrofin. Haris sangat bersyukur, ia bisa sukses seperti sekarang berkat didikan dari kedua orang tuanya. Bagi Haris, orang tuanya adalah sosok yang luar biasa dan hebat. Ayah bundanya telah melatih diri ia sejak kecil untuk rajin beribadah, displin, jujur, dan bahkan menyayangi tanaman dan binatang.

Riwayat pendidikan Haris ditempuh di Yogyakarta sejak TK sampai perguruan tinggi.  Setelah lulus dari bangku SMA, Haris pun memutuskan kuliah di FE UII dan mengambil program studi Manajemen dengan mempertimbangkan alasan pendukung pertama kali karena adanya pembinaan agama yang ia anggap akan mengiringi di masa perkuliahan dan akan membangun kepribadian yang lebih baik lagi. Selain itu, dimata Haris manajemen merupakan sebuah studi dasar yang bisa diterapkan dimana saja dan bisa memberikan peluang kerja yang luas.

“Harus total dan jadi the best! Harus fight dan struggle!”

Dalam hidupnya, Haris dekat dengan berbagai macam petualangan Melalui berbagai hobi yang ia senangi seperti motor cross, sepatu roda, melukis, bernyanyi, dan memancing. Haris terkenal menjadi sosok anak yang bandel sejak kecil. Prinsip Haris, walaupun ia terkenal bandel ia harus bisa berprestasi. Berbagai macam kejuaraan pun telah ia raih semasa kecil. Haris sadar jika ketika muda dahulu menjadi anak yang bandel. Tetapi, dengan didikan komitmen dan tanggung jawab yang kuat, Haris harus memiliki prestasi akademik dibalik kebandelannya. Terbukti dengan nilai matematikanya yang mendapatkan nilai sembilan ketika SMA. Menurutnya, banyak hobi dan bermain sangat lah penting namun, tanggung jawab kita kepada orang tua yaitu sekolah adalah hal yang paling utama.

Menjadi anak yang bandel dan mencoba berbagai kegiatan yang memacu adrenalin sudah membentuk seorang Haris menjadi sosok yang gigih dan bersemangat. Lulus kuliah, ia sadari mencari pekerjaan tidak lah mudah sampai ketika itu Haris merantau ke Jakarta dan mencoba melawar pekerjaan di sana. Sebelum bekerja di PT. Elnusa Petrofin, ia pernah kerja pada seluk beluk teknik sipil dan berkawan dengan para engineer. Hal itu tidak menyurutkan semangat dalam bekerja walaupun bidang kerjanya berbeda dari yang ia tekuni ketika kuliah. Bahkan ia tak lelah untuk mempelajari hal yang baru, termasuk ketika itu ia juga tidak enggan untuk belajar yang berkaitan dengan hal-hal teknik sipil. Meraih kesuksesan seperti Haris saat ini bukanlah seperti membalikkan telapak tangan, tapi butuh usaha dan kerja keras seperti menaiki anak  buah tangga. Prinsip dalam dirinya, dasar menjadi pemimin yang yang baik adalah jadilah staff yang baik.

Diakhir wawancara, Hasris menyampaikan beberapa pesan. Bagi mahasiswa, selagi masih menjadi mahasiswa, diharapkan bisa memulai membangun sebuah bisnis. Ini bisa menjadi sarana berlatih untuk mandiri dan tekun. Karena membuka sebuah bisnis membutuhkan kreatifitas dan kesabaran. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang tekun dan komitmen tinggi. Haris juga menyampaikan bentuk apresiasi dari kegiatan Finding Alumni ini, harapannya terbentuk kerjasama alumni dengan FE UII dalam membangun sinergi alumni. Bahkan menurutnya, prestasi alumni harus terus disampaikan kepada masyarakat. Ini sangat penting dilakukan terkait dengan membangun kepercayaan. Disampaikannya lagi dengan adanya penyusunan database alumni serta pembuatan web khusus yang memuat informasi tentang alumni. Sebagai penutup,  “Berharaplah kepada Allah SWT dengan melakukan shalat tahajjud, puasa Senin dan Kamis, serta shalat Duha untuk mencapai kesuksesan. Kebersihan hati  dan keikhlasan dalam menjalankan kegiatan akan menghantarkan keberkahan (Haris Syahrudin, 2016).