Temu Alumni : Menukas Ingatan, Mereparasi Jurusan

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta terbaik di Indonesia, Universitas Islam Indonesia telah melahirkan alumni yang kini tersebar di berbagai jenjang karier dan bidang usaha, baik di tingkat nasional maupun internasional. Karier alumni yang kini menjadi tokoh nasional dan memegang posisi penting di dalam pemerintahan juga ikut meningkatkan nama baik alumni UII. Dalam bidang ilmu Manajemen misalnya, UII telah melahirkan banyak professional, akademisi maupun entrepreneur yang umumnya terkenal sebagai pakar dibidangnya.

Aspek integrasi memang memiliki kedudukan penting dalam langkah menuju arah yang lebih baik. Minggu, 23 Desember 2018, Jurusan Manajemen UII menyelenggarakan Temu Alumni dan Focus Group Discussion Alumni di FE UII. Dengan semanagat untuk saling menjalin silaturahmi yang mampu mewadahi aspirasi dan kontribusi,, para alumni terlihat antusias dalam mengikuti acara ini.

Acara Temu Alumni Jurusan Manajemen memang rutin dilaksanakan setiap tahun, bahkan ini adalah kali ketiga Temu Alumni digelar di tahun 2018. Sebelumnya, Temu Alumni telah dilaksankan pada awal dan pertengahan tahun 2018. Namun, ada yang berbeda dengan temu alumni kali ini. Acara ini bukan hanya temu kangen biasa melainkan ada FGD yang memberi variasi berbeda dipagi hari ini. FGD kali ini memiliki tujuan untuk me-review kurikulum yang akan diterapkan di Jurusan Manajemen sendiri. Dengan adanya FGD, alumni yang bertemu sudah didesain sedemikian rupa dari berbagai jenis profesi. Secara garis besar ada 3 profesi yang dicitakan dari Jurusan Manajemen UII, yaitu :

  1. Professional, dimana alumni bekerja di industri sebagai manajer maupun direktur
  2. Akademisi, peneliti dan staf konsultan
  3. Entrepreneur

Anjar Priyono selaku Kaprodi Manajemen saat diwawancarai bertutur bahwa temu alumni yang dihadiri dari berbagai angkatan dan profesi ini akan diminta review dan masukan mengenai kurikulum agar sesuai dengan kondisi lapangan terkini. Dengan jumlah yang sudah didesain kurang lebih enam puluh peserta, harapannya FGD ini efektif dan efisien. Pertimbangan jumlah enam puluh peserta karena jika terlalu sedikit peserta akan menghasilkan sedikit ide, namun dengan jumlah peserta yang terlalu banyak juga akan menyulitkan dalam membuat keputusan di akhir sesi FGD. Jangkauan alumninya juga dari berbagai penjuru Nusantara dan sengaja mengambil momen libur akhir tahun sehingga banyak alumni yang pulang maupun libur panjang di kota Gudeg ini.

Acara non-formal ini dimulai dengan morning tea seraya berkangen ria menukas beberapa memori pengalaman masa-masa perkuliahan. Tak lupa, tidak sedikit alumni yang hadir juga mendokumentasikan momen spesial hari ini dengan foto bersama kawan lamanya. Acara dilanjutkan dengan Parallel Session untuk membahas kurikulum yang dikelompokan berdasar masing-masing profesi. Acara ini memang berlangsung satu hari, namun untuk proses review akan terus berlangsung dan akan tetap ada follow up di kesempatan lain. (AMH, AFM, DYH)