,

Outlook Ekonomi Indonesia 2023: “Perkuat Sinergi dan Kolaborasi Dalam Menghadapi Ancaman Resesi di 2023”

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) kembali adakan event tahunannya, ‘Outlook Ekonomi Indonesia’ di Aula Utara Lantai 3 Gedung Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) pada Rabu, (7/12) secara hybrid. ‘Strategi Kebijakan Ekonomi Indonesia 2023, Tumbuh Lebih Kuat dan Berkelanjutan’ diangkat sebagai tema untuk seminar tahun ini. Seminar diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Miftahul Hidayah, mahasiswi Prodi Akuntansi.

Alhamdulillah kerja sama antara FBE UII dengan ISEI Yogyakarta, kami dapat melaksanakan kembali acara rutin tahunan, yaitu seminar tutup tahun di mana menilai kembali kondisi ekonomi tahun-tahun sebelumnya serta memprediksi mengenai ekonomi kita di masa mendatang,” ungkap Priyonggo Suseno, S.E., M.Sc. membuka seminar pagi itu sekaligus mewakili Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., Rektor UII, yang berhalangan hadir.

Optimis tetapi tetap waspada, perkuat sinergi, koordinasi, serta kolaborasi bagi pemangku kebijakan di dunia bisnis dan akademisi menjadi poin penting yang disampaikan oleh Perry Warjiyo, S.E., M.Sc., Ph.D. pada sambutannya selaku Gubernur Bank Indonesia serta Ketua Umum ISEI. “Indonesia ke depan akan tahan dan dapat bangkit menahan gejolak global untuk bisa menuju Indonesia maju,” tambah Perry. 

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama speakers dan peserta seminar dengan topik bahasan mengenai strategi kebijakan ekonomi Indonesia tahun 2023 terutama bagaimana peran perbankan nantinya di tahun 2023. Sesi diskusi ini diisi oleh speakers yang pakar pada bidangnya, di antaranya Dr. Y. Sri Susilo selaku Sekretaris ISEI Yogyakarta, Prof. Agus Widarjono, Ph.D. selaku akademisi FBE UII, Robby Kusumaharta selaku Wakil Ketua KADIN DIY, dan Rifat Pasha selaku Asisten Deputi Direktur BI DIY.

Ronny Sugiantoro, S.E., M.M. selaku moderator menyampaikan beberapa kesimpulan dari hasil diskusi bersama para speakers pada seminar kali ini, di mana ia menyimpulkan bahwa ancaman resesi 2023 perlu dihadapi secara cerdas dan bijaksana. Lebih lanjut ia juga memaparkan pentingnya Bank Syariah sebagai salah satu kekuatan pendorong bagi pembangunan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). “Selain itu, sektor UMKM dan pariwisata juga menjadi sektor pemicu dalam perekonomian DIY yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Tentunya hal ini juga didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi kunci untuk meningkatkan ekonomi daerah yang didukung dengan transformasi digital,” ungkap Ronny.

Kewaspadaan terhadap kondisi perekonomian 2023 perlu diantisipasi dan dihadapi dengan mempererat sinergi dan kolaborasi sehingga Indonesia pada umumnya dan DIY pada khususnya, mampu menghadapi gejolak dan bangkit lebih kuat secara berkelanjutan. “Terakhir, akademisi, bisnis, dan pemerintah harus bersatu menghadapi ancaman resesi 2023,” pungkas Ronny. (ADC/NARD)