Saat ini kita tengah berada di masa revolusi industri 4.0 yang ternyata menimbulkan banyak isu didalamnya. Beberapa isu yang terjadi saat ini ada pada bidang penelitian, marketing, dan ambiguitas. Isu ini penting untuk didiskusikan karena akan menambah wawasan serta mengintegrasikan pendapat-pendapat yang mungkin bertolak belakang antara beberapa pihak. 

Menanggapi hal tersebut Jumat (6/12),  Program Studi Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) menggelar diskusi yang bertajuk “Current Research : Impact of Goodwill on Firms Capital Structure”. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen serta mahasiswa MM FE UII. 

Turut dihadirkan juga narasumber yang memiliki keahlian di bidangnya, seperti Prof. Dr. Bany Ariffin Amin Noordin dari Universiti Putra Malaysia, Syamsul Hadi SE., MM. dari Praktisi Bisnis & Alumni MM FE UII, dan Prof. Dr. D. Agus  Harjito, M. Si. yang merupakan Ketua Prodi MM FE UII.

Untuk membuka diskusi pada acara kali ini, Prof. Dr. Bany Ariffin Amin Noordin menyampaikan terkait dampak Goodwill atau aset tidak berwujud pada struktur modal perusahaan. 

Bany mengungkapkan bahwa “Manajer perusahaan berbasis aset tidak berwujud di negara berkembang dan negara maju dapat merumuskan kebijakan pinjaman mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan manajer perusahaan berbasis aset berwujud. Selain itu, pembuat kebijakan di negara berkembang harus merumuskan terlebih dahulu terkait kebijakan pendidikan mereka. Hal tersebut dikarenakan pendidikan  merupakan salah satu komponen penting dalam berinvestasi pada perusahaan.”

Selanjutnya, Syamsul Hadi SE., MM., turut menyampaikan terkait kloning bisnis yang terjadi pada marketplace. Kloning yang dimaksud adalah adanya kesamaan bisnis antara beberapa pengusaha, hal ini akan menciptakan kesempatan dan ancaman secara bersamaan. 

Syamsul mengatakan bahwa “Kita perlu melakukan riset tentang produk populer dengan cara membuka di marketplace, belajar pada ahli, biaya produk, dan trade off.”

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. D. Agus Harjito, M. Si. juga menyampaikan bahwa ambiguitas menjadi hambatan utama pada era 4.0. Ambiguitas merupakan sesuatu hal yang memiliki makna ganda atau lebih singkatnya ketidakjelasan. 

“Untuk  mencegah adanya ambiguitas maka pemimpin perusahaan dituntut untuk memiliki kejelasan visi dan misi dalam jangka panjang. Selain itu, turut didukung juga oleh para akademisi yang memiliki kreatifitas, kompetensi serta soft skill yang memadai. Pengambilan keputusan manajemen yang fleksibel juga dapat menanggulangi adanya ambiguitas,” pungkas Agus Harjito.  (WEM/LTG)