Halal Bihalal sering dimaknai bahwa saling memaafkan itu hanya dilakukan saat hari raya saja. Padahal, Islam sendiri mengajarkan kita untuk dapat saling memaafkan di setiap waktu. Hal tersebut dinyatakan oleh Ustaz Mohammad Bekti Hendrie Anto, S.E., M.Sc. dalam kegiatan Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Marketing and Communication Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (Marcomm FBE UII) pada Jumat (21/5). Dengan mengusung tema “Sucikan Hati, Kuatkan Silaturahmi”, turut hadir pula Baziedy Aditya Darmawan SE., MM. selaku Kepala Unit Hubungan Masyarakat FBE UII. “Pandemi yang terjadi hingga saat ini telah memisahkan jarak satu dengan yang lainnya. Sehingga pada momen yang bagus ini, semoga dapat mengantarkan kita pada silaturahmi yang semakin erat meskipun belum dapat bertemu secara langsung,” ucapnya.

Mencoba meluruskan argumennya kembali. Bekti menyatakan, “Padahal, Islam sendiri mengajarkan kita untuk dapat saling memaafkan di setiap waktu. Sedangkan hal yang paling relevan ketika telah selesai menjalankan ibadah di bulan Ramadan yakni seharusnya dapat mengevaluasi apakah tujuannya telah tercapai”.

Bekti lebih lanjut menjelaskan mengenai tujuan ibadah bulan Ramadan. “Inti ibadah di bulan Ramadan adalah puasa (shaum) yang memiliki tujuan untuk dapat membentuk manusia yang bertakwa (muttaqin). Manusia bertakwa itu adalah manusia yang menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Disaat bulan Syawal inilah yang merupakan awal dari pembuktian ketakwaan manusia yang dibentuk saat bulan Ramadan,” tutur Bekti. Adapun alasan mengapa kita sebagai umat Islam harus bertakwa itu karena memang merupakan sebuah konsekuensi apabila kita telah berikrar bahwa Allah Swt. merupakan satu-satunya Tuhan kita dan Nabi Muhammad saw adalah utusannya. Dengan inilah kalimat syahadat dapat bermakna dan diimplementasikan secara benar, sehingga ketakwaan tersebut dapat mengantarkan kita ke surga.

Selain itu, dikatakan juga bahwa di masa depan terdapat hal yang akan sulit dikendalikan. Hal ini disebut dengan VUCA (Vulnerability, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Kemudian, untuk menghadapi VUCA ini sangatlah diperlukan karakter, kompetensi, dan kolaborasi yang mana ketiga hal tersebut sudah pasti ada dalam diri orang-orang yang beriman. “Mulai dari aspek karakter, yakni orang-orang beriman pasti memiliki tujuan hidup yang jelas. Kemudian, aspek kompetensi. Untuk mengetahui bagaimana aspek kompetensi tersebut, kita dapat melihat Rasulullah saw yang memiliki keahlian sehingga dapat mengusai Jazirah Arab. Sedangkan aspek kolaborasi yakni dapat dilihat bahwa Islam sangat menyukai kebersamaan,” lanjutnya.

Nyatanya, ketika bulan Ramadan berakhir, itu bukanlah menjadi akhir juga bagi manusia untuk menggiatkan ibadahnya. Melainkan menjadi sebuah permulaan. “Jadi, makna dari bulan Syawal ini adalah menyiapkan kita untuk mencapai ketakwaan pada Allah Swt.,” pungkas Bekti menutup acara. (AMA)