YUNITA ANGGRAINI | GM HRD Sambal Layah Corp

Sesuatu yang kita beli sendiri dari hasil keringat kita sendiri akan membuat kebahagian yang jauh lebih besar dari pada dibelikan oleh orangtua kita. Itu lah pesan dari Almahum seorang Ibu pendiri Sambal Layah Corp yaitu Yunita Anggraini. Wanita kelahiran kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah ini adalah salah satu alumni prodi manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) tahun 1988.

Yunita anak terakhir dari lima bersaudara. Ayahnya berprofesi sebagai seorang camat. Profesi ayahnya ini lah yang membuat Yunita berpindah-pindah sekolah, karna harus mengikuti tempat kerja ayahnya. Saat menempuh pendidikan sekolah dasar (SD) Yunita 4 kali harus berpindah sekolah dan sewaktu Sekolah Menengah Atas (SMA) ada 2 tempat sekolah yang dia rasakan.

Wanita yang sangat menyukai seni ini dari kecil sudah bisa menari dan bermain gitar. Bahkan, sejak SD dia sudah bermain gitar di pentas seni. Dan sewaktu menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Yogyakarta, Yunita sering di Undang untuk pentas seni menari. ‘ dulu kita ikut perkusi smp 8, sering di sewa keliling jogja dan dapat bayaran 1500 sekali pentas”- kenangnya sambil tersenyum.

Dengan latar belakang dari keluarga yang bekerja sebagai pegawai beliau berhasil bergelut dibidang wirausaha didukung oleh saudara sepupu beliau yang bernama Wawan. Sepanjang perjalanan menuju ke Klaten itulah beliau mengobrol bersama saudaranya mengenai “sambal layah”. Beliau berpikir akan membuka usaha tanpa membayar biaya franchise dan ingin membuka usaha untuk kalangan masyarakat middle low. Pada tahun 2013, beliau pertama kali mencoba untuk membuka warung di Purwokerto kemudian di Purbalingga setelah itu beliau membuka di Yogyakarta dengan 20 cabang yang ada di Yogyakarta  Beliau merasa dapat berkiprah banyak ketika beliau sudah membuka cabang di Yogyakarta.

Selain bisnis warung makan sambal layah beliau juga memiliki usaha yang bernama “sambal bledek” di Purwokerto yang sudah membuka 8 cabang.  Ada juga bisnis beliau yang bernama “sambal gebyur” yang terdapat di Pekalongan dan Purwokerto, kemudian yang terakhir bisnis beliau yang bernama “Warung Kekinian atau WK” yang sudah terdapat di Pemalang dan Purwokerto. Keluarga beliau  yang didominasi dari pendidikan ilmu Akuntansi dan tidak ada jiwa entrepreneur sedikitpun tetapi mampu memberikan dukungan sehingga dapat memiliki usaha seperti ini.

Beliau berkiprah dibagian HRD sambal layah, beliau mampu menciptakan karyawan yangs sesuai dengan kinerjanya masing – masing. Disinilah menjadi tantangan terbesar beliau ketika dari pihak HRD diminta untuk mencari karyawan dalam kurun waktu 1 bulan di dalam perubahan tim recruitmennya. Selain mengurusi bisnis beliau juga menjadi Trainee Konsultan.

Kunci bisnis itu ketika mengalami fase penurunan maka jangan menghindar dan meninggalkannya. Tetapi mencari cara untuk menaikan bisnis tersebut. Bisnis apapun itu, jika kita serius melakukannya pasti orang akan menangkapnya dengan baik, ungkap beliau. Prinsip beliau dalam berbisnis adalah untuk menyenangkan orang lain, karena produk yang kita ciptakan itu produk yang akan dibutuhkan oleh orang lain.

Salah satu keinginan beliau adalah disetiap bisnis beliau dapat menjadi wadah untuk akhirat. Beliau tetap memberikan nilai keagamaan dalam lingkungan bisnisnya seperti sholat dhuha bersama, pembacaan kultum.

“Janganlah menjadi orang yang terlalu teoritis, mari praktikan ilmu yang kita miliki.”  pesan beliau untuk mahasiswa FE UII agar siap dalam memasuki dunia kerja.

“Kemuliaan tertinggi adalah ketika kita mampu memberikan kemanfaatan  terbanyak bagi umat, jadilah orang yang paling mulia dengan cara memberikan hal yang terbaik bagi orang lain.” pesan beliau.