Proses kegiatan belajar mengajar saat ini terpaksa dilakukan secara daring dikarenakan pandemi corona yang mengejutkan semua orang,  khususnya perguruan tinggi yang terbiasa dengan pembelajaran tatap muka, kini harus menjalankan pembelajaran daring. Hal ini tentu tidak mudah untuk dilakukan karena mengimplementasikan metode daring dengan sistematis merupakan sebuah tantangan.

Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu faktor penting yang mendukung sistem belajar secara daring. Berbeda dengan perguruan tinggi biasanya, Universitas Terbuka (UT) diketahui menerapkan sistem belajar yang tidak dilakukan secara tatap muka. Sejak awal mahasiswa diharapkan dapat belajar secara mandiri dengan menggunakan media cetak seperti modul maupun media non-cetak seperti internet, komputer, video, siaran radio, dan televisi.

Program Studi Ilmu Ekonomi Program Sarjana Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII)  pada Jumat, 1 Mei 2020 melaksanakan kegiatan Sharing Session secara daring yang dihadiri oleh para dosen dari Universitas Terbuka. “Saat ini, ada complain mahasiswa bahwa kuliah daring membosankan dan mahal, karenanya kami ingin mengetahui bagaimana Universitas Terbuka yang justru sepenuhnya menggunakan E-learning,” terang Moh Bektie Hendrie Anto SE., M.Sc selaku Sekretaris Program Studi Ekonomi Pembangunan Program Sarjana FBE UII.

Dr. Etty Puji Lestari SE., M.Si yang merupakan pembicara dalam kegiatan ini menerangkan terkait E-learning yang sudah dikembangkan UT sejak tahun 2005. UT telah terbiasa menggunakan metode daring dan terkait dengan platform yang digunakan adalah moodle. Kemudian ketika hampir semua orang mulai melakukan work from home, UT tanpa meminta bayaran, memberikan kemudahan dalam mengakses platform-nya untuk siapa saja yang membutuhkan agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif.

Metode E-learning UT didukung oleh adanya perpustakaan digital, suaka UT dan sistem pendidikan dimana hal ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa. Selaras dengan hal ini, E-learning pastinya mempunyai kelebihan seperti jauh lebih efektif didalam biaya. Namun, disamping kelebihan yang ada, pun terdapat kekurangan pada E-learning misal, kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar.

Etty mengatakan, “Ada Learning Management System (LMS), merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola khusus atau pelatihan yang mendukung E-learning dimana didalam LMS ini sudah terdapat modul, jurnal atau referensi pendukung yang juga dapat diakses oleh setiap orang. Sederhananya semua ada di digital.” (SSL/ARA)