Imam Subchan: Jadikan Bisnis sebagai Hobimu

Menjadi konsultan bisnis adalah hobi saya” jelas Imam Subchan. Bapak dua anak ini merupakan salah satu Alumni Universitas Islam Indonesia Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi tahun 1992. Pria kelahiran Bandung,  24 April 1974 saat ini bertempat tinggal di Solo bersama keluarganya. Imam Subchan sekarang berprofesi sebagai Senior Konsultan Bisnis. Tepat pada hari Sabtu tanggal 9 November 2017, bertemu secara langsung dan berbagi ilmu dengan beliau adalah suatu kesempatan emas bagi kami. Sosok yang sederhana dan ke-bapakan ini sudah menggeluti bidang bisnis sejak duduk dibangku kuliah.

Sejak kecil beliau dilahirkan oleh keluarga yang mendidik dan demokratis. Segala sesuatu kita harus tahu apa yang benar dan harus dilakukan. Ayah beliau yang selalu mendedikasikan waktunya dalam pekerjaan pernah berkata “ tidak boleh mengeluh, tidak boleh mengeluh! Bukan seberapa penting, tetapi seberapa besar yang dapat kita lakukan.”  Kata-kata itulah yang hingga sampai saat ini selalu beliau ingat dan lakukan. Membaca sudah menjadi kebiasaan bagi beliau semenjak Ayahnya memberinya sebuah buku bacaan, Tak heran sejak menduduki sekolah dasar hingga sekolah menengah, beliau merupakan siswa yang berprestasi.

Selepas Sekolah Menengah Atas (SMA), beliau memutuskan untuk berkuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Berawal dari referensi keluarga, berkuliah di Universitas Islam Indonesia merupakan keputusannya sendiri. Menurutnya, Universitas Islam Indonesia bukan hanya terkenal karena islamnya saja tetapi nilai yang diberikan. Kualitas pengajar dan pembelajaran sudah tidak diragukan lagi namun organisasi mahasiswanyalah yang menarik. Selain berkuliah di UII, secara bersamaan beliau juga berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Selama berkuliah di UII beliau mengikuti organisasi kemahasiswaannya. Ketertarikan akan bidang jurnalistik membuatnya terjun dan ikut dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa Ekonomika. Beliau sangat aktif, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua sebuah event besar yang diselenggarakan bersama Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Menjadi seorang jurnalistik juga membuatnya dapat berkeliling seluruh Indonesia. Menurut beliau, mengikuti organisasi di kampus membuatnya dapat memiliki kemampuan dan ketrampilan yang berguna saat bekerja.

Mencapai kelulusan pada waktu itu merupakan hal yang tidak mudah bagi seorang Imam Subchan. Bisnis pertama yang ia jalankan merupakan usaha keluarga. Ekspor dan impor barang-barang seperti aksesoris, furniture dan marbel ia jalankan pada saat kuliah. Sehingga membuatnya lulus dengan waktu yang cukup lama. Setelah lulus, ia memutuskan melanjutkan apa yang ia sukai yaitu berwirausaha. Beliau sadar akan kemampuan dan keterbatasan yang ia miliki sehingga ia memilih untuk berwirausaha saja. Hampir lebih dari 10 tahun Ia berwirausaha tetapi juga ada jatuh bangunnya. Pesan beliau adalah jangan greedy atau rakus dalam berbisnis. Segala sesuatunya harus kita syukuri apa adanya. Ketika kira merasa cukup maka insyaallah akan diberi lebih kedepannya. Bahkan dalam teori ekonomi mengajarkan tentang keseimbangan dalam penjualan dan penawaran. Begitu pula dalam hidup kita haruslah seimbang dan tidak boleh berlebihan. Dalam berbisnis tantangan terbesarnya adalah konsisten dan persisten. Jika kita yakin akan satu tujuan, segala halangan yang ada haruslah dihadapi. Selain bisnis, kesibukan lainnya yang dijalani oleh beliau adalah menjabat sebagai Ketua Nasional Akademi Berbagi. Akademi Berbagi merupakan salah satu ruang dan wadah bagi siapapun untuk belajar secara gratis. Beliau tergerak untuk secara suka rela mengikuti kegiatan ini adalah sebagai salah satu bentuk terimakasih atas apa yang ia miliki saat ini dan alangkah lebih baiknya ilmu itu harus dibagikan ke orang lain. Pesan terakhir dari beliau adalah bagi mahasiswa diluar sana rajinlah membaca, karena saat ini sedikit sekali yang suka membaca. Padahal Rasulullah menerima wahyu pertamanya yaitu tentang Iqra’! yang berarti bacalah.

Fajrin Noor Hermansyah: Totalitas dalam Mengerjakan Suatu Pekerjaan

Fajrin Noor Hermansyah adalah salah satu alumni dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) angkatan 2000.  Pria kelahiran tahun 1981 di Yogyakarta ini telah menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara kemudian melanjutkan kuliah di FE UII. Mendapat kesan baik mengenai UII dari saudara membuat fajrin menetapkan untuk membangun masa depannya bersama Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Mempunyai minat belajar yang tinggi terhadap pasar modal membuat Fajrin aktif dalam salah satu organisasi kampus yaitu Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FE UII.

Berkeinginan untuk masuk dalam dunia kerja yang kompetitif, membuat Fajrin merantau ke Jakarta. Setelah lulus dari UII tahun 2004, Fajrin langsung meniti karir mulai dari berkerja di salah satu kantor akuntan publik. Selang berapa lama berkerja sebagai staff, fajrin dapat tugas untuk mengaudit salah satu pelabuhan di Jambi, dengan latar belakang yang sudah ada, audit tersebut lancar dijalani. Tidak lama kemudian, Fajrin mendapatkan informasi penerimaan pegawai salah satu bank konvensional. Dengan pengalaman yang sudah pernah dijalaninya, Fajrin pun diterima sebagai staff adminstrasi reksadana pada bank konvensional tersebut dan selang beberapa bulan, Fajrin pun menikahi istrinya yang merupakan alumni FE UII juga angkatan 2000.

“Pekerjaan apapun yang kita kerjakan, kita harus totalitas dalam mengerjakannya”, tutur Fajrin. Alhasil setelah meniti karir di bank tersebut selama 4 tahun, dengan pengalaman yang banyak, ia pun ditawari untuk membangun portal investasi online pertama di Indonesia. Dengan berbekal ilmu dan pengalaman yang luar biasa, Fajrin pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan menekuni pembuatan portal investasi berbasis online tersebut. Setelah beberapa tahun dikembangkan, akhirnya sistem tersebut diluncurkan pada tahun 2015. Dirintis dari bawah, dengan bantuan teknologi dan media sosial yang sangat maju, portal investasi online pertama di Indonesia mulai berkembang pesat. Dengan awal pendapatan 6 konsumen per harinya, sekarang sudah berkali-kali lipat per harinya dan sekarang menjadi portal investasi yang terkenal dan telah bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam segala hal terkait reksadana.

Keberhasilan tersebut tidaklah dicapai dengan sendirinya, melainkan dari usaha, restu orang tua, dan tentunya doa dan ibadah kepada Allah SWT.

“Jangan sia-sia kan masa muda kalian dalam berkuliah di Universitas Islam Indonesia, karena jika tidak mendapatkan manfaat pada saat kuliah, kalian akan menyesal pada saat memasuki dunia kerja, tetap semangat ya!”- Fajrin Noor Hermansyah.

Citra Kurniawati: Jangan Pernah Berhenti dan Takut dalam Menghadapi Tantangan

Citra Kurniawati atau yang biasa disapa Citra merupakan salah satu alumni dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII), jurusan akuntansi. Lahir di Batang pada tanggal 12 Januari 1983, Citra bisa dianggap telah berhasil dalam menjalani dunia karirnya. Bekerja di bank Muamalat Citra sekarang menduduki posisi sebagai Head of Dealing Room (Treasury) Bank Mu’amalat. Berasal dari kampung tidak membuat Citra berhenti untuk menuntut ilmu dan bercita-cita tinggi. Anak terakhir dari tiga bersaudara ini bahkan memiliki sifat paling pemberontak diantara kakak saudara laki-lakinya yang lain tetapi berkat sifat pemberani yang terkesan pemberontak itulah yang membuatnya mampu sampai diposisinya yang sekarang.

Menjadi pribadi yang selalu ingin memiliki pengalaman dan suasana baru terutama di dunia pendidikan membuat Citra selalu berpindah-pindah dari waktu ke waktu. Berada dikampung halaman untuk bersekolah hanyalah bertahan hingga lulus SMP, setelah lulus SMP di kota Batang, Citra memutuskan untuk pindah ke Semarang untuk melanjutkan pendidikannya di SMA N 5 Semarang, tidak berakhir di situ saja, petualangannya dalam mengeyam pendidikan pun berlanjut hingga akhirnya memilih Kota Pelajar sebagai labuhannya untuk merasakan dunia perkuliahan. Bisa dikatakan tidak terlalu banyak prestasi yang Citra dapatkan di dalam akademiknya, hal itu bukan tanpa sebab, karena kenyataannya, kedua orang tua Citra lebih mendukung putra-putrinya untuk mengikuti kegiatan yang lebih melakukan aktivitas ketimbang akademisi tetapi tetap dengan tidak mengabaikan perihal pendidikan dan bukan berarti tidak pernah berprestasi di dunia akademisi.

Ajaran itu pulalah yang membuat dunia perkuliahannya lebih sering dipenuhi dengan kegiatan diluar akademisi. Citra adalah seorang anggota dari Ekonomika Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, berawal dari kecintaan dan hobinya dalam dunia menulis, membuatnya tidak bisa terlepas dari hal yang berbau menulis, mulai dari ketua mading hingga akhirnya bergabung dengan Ekonomika. Bahkan, Citra menyadari bahwa berada di Ekonomika jauh lebih sering ketimbang di dunia kenyataan. Menjadi anggota aktif dari Ekonomika tidak membuatnya cukup puas karena selanjutnya Citra memilih untuk juga bekerja sebagai freelance di koran Bisnis Indonesia cabang Yogyakarta. Kuliah sekaligus freelance tidaklah mengganggu dunia perkuliahannya.

Sesuatu hal yang menarik dari Citra dalam perjalanannya mencari perguruan tinggi adalah ketika Citra merasa diculik oleh ayahnya sendiri. Berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan perguruang tinggi di daerah Jawa Timur, tepatnya Malang, hal itu harus dikubur karena sang ayahanda berkenan untuk Citra berkuliah di Yogyakarta. Menariknya, ketika diculik dan diminta untuk kuliah di Yogyakarta jiwa pemberontak dan keinginan kerasnya seketika luntur dan memenuhi keinginan ayahanda untuk berkuliah di Yogyakarta tepatnya di UII.

Menjadi seorang bankir, Citra mendapati berbagai macam halangan dan rintangan. Kehilangan yang paling terasa bagi Citra ketika masuk ke dunia perbankan pertama kali adalah ketika dia harus menyadari bahwa dunia kerjanya di perbankan sangatlah berbeda dari pada ketika dia di Ekonomika ataupun di Bisnis Indonesia dan oleh sebab itu Citra harus meninggalkan terlebih dahulu hal yang dicintainya di dunia menulis untuk mengejar karirnya. Berbagai macam kejadian telah dialaminya baik menyenangkan ataupun tidak. Semuanya tetap Citra lakukan sebagai pertanggungjawabannya sebagai Treasury bank Muamalat. Seperti pesan dari guru yang selalu dia ingat bagaimana dia harus bisa melakukan yang tebaik dalam melakukan hal apapun karena usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Citra dalam pesan terakhirnya untuk mahasiswa mengatakan

“Jangan pernah stuck, kamu harus selalu mendapatkan ilmu yang baru, jangan mau berenti disatu tempat, dan jangan pernah takut ketika harus menghadapi tantangan baru”- Citra Kurniawati.

Dimas Novriandi: Jangan Menjadi Generasi Everything Instant

Setiap orang memiliki ciri khasnya masing–masing dalam membentuk karakternya. Cepat beradaptasi adalah salah satu cara yang dilakukan oleh Dimas Novriandi dalam membentuk karakternya. Dimas Novriandi merupakan alumni dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Program studi Akuntansi International Program. Dimas Novriandi-yang akrab disapa Dimas-lahir di Sumatra Selatan, Prabomulin, pada tanggal 12 November 1980. Dimas dibesarkan diberbagai kota dikarenakan Ayahnya yang bekerja di perusahaan minyak yang mengharuskan Dimas untuk mengikuti Ayahnya dalam bertugas. Pada akhirnya Dimas memutuskan untuk menetap di Yogyakarta saat menduduki bangku SMP bersama kakaknya yang sedang duduk dibangku SMA. Si bungsu dari lima bersaudara ini menjadi terbiasa hidup mandiri dikarenakan sejak kecil sudah berpindah–pindah tempat tinggal dan menemukan hal–hal dari tiap daerah tempat tinggalnya.

Dimas memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia pada Program Studi Akuntansi yang direkomendasikan oleh teman–teman semasa SMAnya karena banyak lulusan dari SMA nya yang melanjutkan pendidikan di FE UII dan dengan dosen–dosen yang suportif. Selain itu, Dimas memilih FE UII karena UII merupakan kampus swasta terbesar dan terletak di Yogyakarta. Dimas juga memikirkan untuk melanjutkan pendidikan di FE UII, karena ia merasa tidak perlu untuk keluar daerah. Dimas sempat bergabung di lembaga jurnalistik yang ada di FE UII yang bernama Ekonomika, karena sejak SMP Dimas suka menulis. Pada masa SMA nya Dimas juga sudah menulis di hibernas dan kolom pelajar. Selain itu selama kuliahnya Dimas juga part time dan menjadi penyiar di beberapa studio yang ada di Yogyakarta. Dengan berbagai macam kesibukan yang dilakukan Dimas selama kuliahnya tak membuat ia lupa akan kuliahnya. Teman–teman seangkatannya juga menjadi salah satu faktor Dimas untuk semangat belajar karena baginya teman–temannya memiliki semangat kuliah yang sangat tinggi dan sangat kompetitif.

Pengaruh temanlah yang membuat Dimas terdorong untuk ingin cepat lulus. Sejak kuliah Dimas sudah terbiasa dalam berkarir, hal itu membuatnya setelah lulus dari FE UII mudah dalam mencari pekerjaan. Setelah lulus dari FE UII Dimas mencoba mengikuti tes di beberapa perusahaan di Jakarta dan diterima, tetapi Dimas lebih memilih untuk bekerja di Telkomsel yang berada di Yogyakarta. Dimas memutuskan untuk pindah bekerja ke Jakarta setelah menyelesaikannya kuliah Double Degree-nya. Seperti yang dilihat, jurusan akuntasi yang diambil oleh Dimas tidak relevan dengan pekerjaannya pada saat ini yaitu Digital Banking Social and Brand Activation LEAD pada Instansi Jenius di bank BTPN yang mendapatkan Awards Marketing Public Relations (PR) mendapatkan silver awards. Menurut Dimas, pekerjaan yang didapatkaan saat ini bukan dilihat dari relevan atau tidaknya dengan jurusan yang diambil pada masa kuliahnya, bahkan ia mengatakan bahwa apa yang didapatkan pada saat kuliah itulah yang dapat membantunya dibidang digital ini seperti networking, kemampuannya berbahasa inggris juga sudah diasah sejak kuliah dijurusan Akuntasn IP. “kalo kampus kita tidak oke, pikiran kita tidak oke”, ungkap Dimas.

Pesan Dimas untuk mahasiswa FE UII lebih berani untuk berbicara agar tidak terlibas oleh negara lain, karena dunia kerja itu bisa diibaratkan dengan dunia luar. Berkarir, tetapi tidak dapat memberikan feedback kepada orang lain itu sia–sia.

Jangan menjadi generasi everything instant. Gunakan kesempatan kalian selagi masih muda untuk berkreasi semaksimal mungkin.-Dimas Novriandi.

Genia Sagita: Mengambil langkah bukan menjadi hal yang perlu disesali

Berkesempatan bertemu dengan alumni yang cantik ini adalah salah satu kesempatan berharga bagi kami, para penulis. Genia Sagita, alumni UII dari Fakultas Ekonomi, tepatnya jurusan Akuntansi IP. Beliau kini bekerja menjadi  Financial System Surveillance Analyst di Bank Indonesia. Banyak pengalaman berharga beliau yang beliau ceritakan kepada kami. ‘’Dulu sih saya sebenarnya ingin sekolah seni’’, ceritanya. Ibu cantik yang kerap di sapa Genia ini bercerita bahwa dulu sebenarnya ia ingin sekali sekolah seni. Sebab, ia sendiri memiliki hobi dalam bidang desain. Namun, keinginan orang tua yang menggiring beliau pada akhirnya terjun ke dunia ekonomi. Tak sampai di Indonesia saja, Ibu Genia juga berkesempatan mengeyam pendidikan S2 nya di Durham Business School Inggris, yang merupakan beasiswa dari Bank Indonesia. Walaupun pada akhirnya beliau merupakan jebolan Universitas Dunia, namun beliau mengaku tetap bangga pernah menjadi bagian dari UII. UII menjadi tempat pertama baginya untuk mempelajari banyak hal mengenai Ekonomi.

Selain itu, beliau juga ternyata aktif dalam salah satu organisasi di Kampus kala itu, Ekonomika namanya. Buatnya, walaupun dahulunya beliau ingin sekolah seni, namun langkahnya untuk mengambil jurusan Ekonomi pada akhirnya bukan menjadi hal yang perlu disesali. Sebab, berangkat dari sinilah ia bisa menjadi seseorang yang sukses hingga bisa menjadi bagian dari Bank Indonesia. Usut punya usut, di UII juga beliau bertemu dengan jodohnya. Ya, ibu Genia bertemu dengan suaminya saat ini ketika ia masih di bangku kuliah.

‘’ Lucu sih, saya dulu sama dia sama-sama jurusan Akuntansi IP, eh ternyata jodoh’’.

Ceritanya ketika mengingat nostalgia semasa kuliah. Banyak kesan yang ia sampaikan selama kuliah di UII.

Carlina Vitandriani: Jangan Pernah Sia-Siakan Kesempatan yang Ada

Cantik, muda, dan energik, begitulah kesan yang didapatkan ketika pertama kali bertemu dengan sosok Carlina Vitandriani, perempuan yang biasa disapa dengan panggilan Vita ini lahir di Semarang, 6 September 1981 merupakan alumni program internasional jurusan akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) angkatan 1999. Memiliki pengalaman berpindah-pindah tempat tinggal hingga harus ke Palembang karena mengikuti ayahanda bekerja membuat pengalaman masa kecil Vita bewarna. Meskipun sudah menjadi yatim sejak kelas 3 SMP tidak membuat anak kedua dari empat bersaudara ini patah semangat dan malah menjadi anak yang pekerja keras dan suka membantu orang tuanya, bahkan semua pendidikan berhasil sukses dienyam Vita dan ketiga saudaranya hingga selesai diperguruan tinggi, tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya Vita kini bekerja sebagai Head Department of Contact Center di Danone Indonesia.

Sebagai anak yang cukup sering berpindah dari satu kota ke kota lain tidak membuat masa kecil Vita tidak menyenangkan. Banyak pengalaman yang dia dapatkan. Meskipun juga tidak memungkiri bahwa dirinya pernah mengalami shock culture dikarenakan perpindahan budaya ketika dia pindah dari SD swasta yang ketat ke SD negeri yang berbudaya lebih bebas. Perjalanannya tidak berhenti disitu, sempat kembali ke kota kelahiran di Semarang tepatnya di SMP N 3 Semarang, perjalanannya berlanjut ke kota pelajar, Yogyakarta. Yogyakartalah kota yang menjadi pelabuhan terakhir Vita dalam menjalani studinya baik di SMA ataupun kuliah.

Menyadari dan mengakui bahwa dirinya bukanlah tipikal anak yang akademisi hari-hari Vita masa kanak-kanak mengikuti banyak kegiatan non-akademis, pernah juara lomba tingkat nasional dalam paduan suara, tim dance sekolah hingga les bahasa inggris mulai sejak SD hingga kuliah semua itu dilakukan karena kesukaannya. Sebagai seorang anak yang suka tertantang membuat Vita selalu berusaha membuktikan persepsi orang yang meremehkan dirinya. Mulai dari kuliah, meskipun tidak punya IPK yang cumlaude saat itu Vita membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi asisten dosen mengalahkan calon yang lainnya, kebiasaan ini berlanjut di dunia pekerjaan.

Dunia pekerjaan diawali Vita bergabung dengan Axa Mandiri, perjalanan kariernya di Axa Mandiri tergolong singkat, hanya dua tahun, itu dikarenakan setelah itu di terimanya Vita di Danone melalui jalur Manager Trainee. Memiliki sifat yang suka tantangan, Vita membuktikan bahwa dirinya memiliki kapabilitas untuk berada di posisi tersebut. Berawal ditempatkan pada bagian divisi internal auditor lebih tepatnya pada bagian internal controling process Vita mengambil kesempatan untuk menjadi Manajer di Contact Center, meskipun awalnya sangatlah susah untuk berpindah ke posisi lain dikarenakan Vita merupakan anak kesayangan dari mentornya di bagian Internal Auditor dan diharapkan untuk bisa menjadi suksesor di divisinya tersebut, dengan berbagai pertimbangan akhirnya Vita memilih untuk pindah ke bagian Contact Center Manager, meskipun harus mengorbankan kariernya di bidang Accounting. Kembali menghadapi tantangan di Dunia baru yang sama sekali belum pernah disentuhnya membuat Vita terus belajar dan berusaha hingga hasilnya terlihat dengan diangkatnya Vita menjadi Head Department of Contact Center. Semua itu dijalani oleh Vita dengan prinsip “harus melakukan sesuatu, jangan pernah bilang tidak bisa, sesusah apapun lakukan terlebih dahulu. Jangan biarkan kamu menilai hasil pekerjaanmu tapi biar orang lain yang menilai sehingga kamu tau kamu bisa dan berhasil atau tidak”. Prinsip inilah yang membuatnya tetap bertahan dan motivasi yang dipegangnya adalah:

“Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada dan selalu lakukan yang terbaik”

Irma Rimadhona: Berkaryalah Agar Mermanfaat

Irma Rimadhona Siregar adalah alumni Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Kehidupan masa kecil Irma dilaluinya di Medan sampai masa SMA, kemudian pindah ke Yogyakarta dan bekerja di Jakarta. Irma merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Perempuan tertua yang dilahirkan dari seorang ayah dan seorang ibu yang berdarah Medan bersuku Batak. Ia merupakan siswa berprestasi disekolah dan aktif dalam kegiatan non akademik seperti organisasi. Ketika SMP Irma mengikuti Pramuka dan Jambore Nasional, ia juga menjadi Sekretaris Umum di OSIS. Lalu ia ditunjuk sebagai utusan dari SMA yang mengikuti seleksi siswa teladan tingkat Kota Madya, kemudian berlanjut pada tingkat Provinsi dan hal ini membuatnya menerima kesempatan untuk maju ke tingkat Nasional. Pada seleksi tingkat Provinsi ia mendapat Juara 1 Se-Provinsi Sumatera Selatan. Sedangkan pengalaman masa kecil Irma ketika SMP mengikuti ekstrakurikuler teater dikampungnya.

Ayah Irma bekerja sebagai seorang bankir di BRI sedangkan Ibunya bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi Medan sebagai Pegawai Negeri. Irma termasuk seseorang yang mampu menyeimbangkan waktu belajar dan bermainnya. Kesibukan orang tuanya menjadikan Irma terlatih mandiri sejak kecil untuk mengatur jadwal belajar, serta kesadaran atas tanggung jawabnya sebagai seorang anak. Irma lebih senang belajar sambil mendengarkan musik, karena hal itu membuatnya semangat dalam belajar. Keinginan Irma dan keinginan orang tua untuk menjadi dokter, ketika SMP Irma melihat buku–buku psikologi yang dimiliki oleh ibunya dan sering membacanya. Sejak kecil Irma sudah terbiasa dalam membuat timeline untuk mencapai target yang telah ditentukannya. Pada awalnya Irma berminat untuk mengikut tes UNMPTN pada Program studi Kedokteran dan Psikologi, akibat nervous dalam menjawab soal belum berhasil untuk lolos.  Kemudian pamannya merekomendasikan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Islam Indonesia yang merupakan perguruan tinggi Nasional tertua di Indonesia. Namun dikarenakan UII belum memiliki Program studi Kedokteran, pamannya merekomendasikan Irma untuk mengambil Program studi Akuntansi di Fakultas Ekonomi UII. Dengan berbagai pertimbangan ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi UII dan aktif dalam organisasi KOPMA FE UII.

Kebersamaan yang tidak dapat dilupakan oleh Irma selama ia berkuliah di FE UII. Kampus adalah rumah pertama yang dianggap oleh Irma. “Setiap diri kita itu adalah arsitek bagi diri kita sendiri”. Kalimat tersebut menjadi prinsip hidupnya. Sehingga  pada saat pembuatan skripsipun ia sudah mulai merencanakan arah masa depannya. Pada saat itu  Irma mulai mendata bank–bank yang ada di Indonesia dan mencatat alamat–alamat kantor pusat bank untuk dapat mengirimkan CV. Awal karirnya dimulai di Bursa Berjangka selama sebulan, kemudian Irma diterima di Bank Universal. Setelah itu, Irma melanjutkan karirnya di BII pada Department Risk Management atas pilihannya sendiri, karena ia berhasil menjadi The Best Trainee dan berhak memilih Department yang diinginkan. Pada saat itu Risk Management menjadi hal baru pada sektor  perbankan di  Indonesia dan Irma mulai tertarik bergabung dalam divisi tersebut selama 8 tahun.

Berkat sifat mandiri, performance orinted dan disiplin target yang dimilikinya, Irma berhasil menjadi Vice President-Risk Management Departement di PT Bank ICBC Indonesia. Dimana hal ini adalah puncak pencapaian karirnya di usia 38 tahun. PT Bank ICBC Indonesia merupakan bank kelima dari perjalanan karir Irma. Menurut Irma, pengaruh Almamater FE UII terhadap dirinya dinilai sangat berperan karena membantunya dalam mengimplementasikan keilmuannya dikampus. Selain itu, dosen serta teman–temannya dapat membantu dalam pembentukan karakter dan kepribadiannya.

Pesan Irma untuk mahasiswa FE UII teruslah berjuang, teruslah berkarya, teruslah berusaha agar menjadi orang yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang banyak dunia dan akhirat. Prinsip yang ditanamkan di dirinya yaitu siapa yang bersungguh–sungguh, berusaha Insya Allah akan memperoleh apa yang dia usahakan.

Siapa yang menanam ia akan menuai apa yang ia tanam dan siapa yang berusaha Insya Allah ia akan memperoleh kejayaannya. -Irma Rimadhona Siregar.

Santoso Rohmad: Bercerminlah pada Kegagalan

Santoso Rohmad yang akrab disapa Santoso merupakan salah satu alumni program studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia tahun 1985. Anak kesepuluh dari dua belas bersaudara. Santoso berasal dari kabupaten Bantul provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan keluarga yang berpendidikan agama yang cukup tinggi. Sejak kecil Santoso telah dididik oleh orang tuanya untuk menuntut ilmu di sekolah dengan latar belakang islam. Sehingga saat ia masih dibangku Sekolah Dasar (SD) orangtuanya memindahkan Santoso dari SD Negeri yang dekat dengan rumahnya ke SD Muhammadiyah yang sangat jauh dari rumahnya. Orangtua Santoso ingin mengajarkan arti perjuangan hidup kepada anaknya walaupun mereka telah hidup berkecukupan. Hal itu membuat Santoso belajar banyak tentang saling menghargai dan berbagi dengan masyarakat disekitar sekolahnya. Serta bagaimana perjuangan beliau untuk menempuh jarak yang jauh menuju sekolahnya dengan jalan yang berlubang serta berlumpur.

Pada tahun 1984 Santoso lulus dari bangku SMA dan  bercita–cita  menjadi AKABRI, tetapi belum berhasil. Kemudian  ia mencoba untuk melanjutkan pendidikan di program studi Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia. Setelah itu, pada tahun kedua Santoso mendaftarkan dirinya di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia sehingga Santoso kuliah dengan dua jurusan. Sebelum berkuliah di Fakultas Ekonomi UII, beliau sempat bingung dalam menentukan program studi apa yang akan ia ambil. Sebelumnya Santoso ingin berkarir dalam bidang jasa kontruksi maka beliau lebih memilih untuk melanjutkan kuliah ke Fakultas Teknik Sipil UII. Namun setelah dijalani, ternyata teknik sipil bukan menjadi passion-nyaMelihat kemampuan dan passion-nya, ia lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi UII dan berfokus pada program studi manajemen. Pada akhirnya di tahun ketiga kuliah Santoso melepas jurusan teknik sipil kemudian fokus untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi UII. Menurutnya, dunia perkuliahaan membentuk pola pikir seseorang untuk bertindak dan berpikir logis.

Ilmu yang didapat dalam bangku kuliah merupakan sesuatu yang bermanfaat baik untuk kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Namun, ilmu yang kita pelajari sebaiknya dikombinasikan dengan ilmu yang kita pelajari di masyarakat dan lingkungan. Santoso mengatakan bahwa penting untuk bersilaturahmi dengan semua kalangan, karena kita akan mendapat banyak ilmu dari sebuah proses dan kegagalan yang dialami. Kita juga dapat memiliki planning untuk hidup kedepan dengan bercermin dari interaksi lingkungan kita.

“Suatu saat nanti, kita akan tertolong dengan silaturahmi, karena orang yang dulunya bukan siapa-siapa, di masa yang akan datang bisa menjadi orang yang hebat. Jadi berbuat baiklah dengan semua orang”- Santoso Rohmad.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi UII, Santoso melanjutkan pendidikan S2 dan selesai pada tahun 1991. Dalam karirnya Santoso menjabat sebagai Account Officer BPD DIY, Penyelia, dan menjadi wakil pimpinan cabang BPD DIY di Wates divisi Sumber Daya Manusia. Sekarang Santoso Rohmad menjabat sebagai Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY. Tantangan terberat baginya adalah waktu ia bekerja di divisi Sumber Daya Manusia, ia merasa kesulitan untuk merubah budaya perusahaan dan merubah sikap mental seseorang. Santoso dikenal sebagai direktur yang ramah dan merakyat, dikarenakan sejak kecil beliau dibiasakan dengan nilai–nilai keagamaan dan sosial oleh orang tuanya. Ilmu–ilmu yang telah ia dapatkan sejak kecil sangat bermanfaat baginya sampai saat ini dan menjadi fundamental dalam dirinya. Lingkungan yang telah mengajarkan Santoso untuk mampu menghadapi persoalan–persoalan yang dihadapinya. Di samping itu, menurut Santoso, ia juga merupakan orang yang sering mengalami kegagalan, seperti tidak diterima di AKABRI sesuai dengan cita-citanya. Tetapi kegagalan-kegagalan tersebut yang membuat santoso menjadi semakin taff.  “Walau cita-cita saya untuk menjadi Jendral tidak terwujud, namun jalan Allah menunjukan saya menjadi Jendral di tempat lain, di BPD ini” jawab Santoso dengan tertawa ringan.

Selain kesibukannya sebagai direktur bukan berarti melupakan kesehatan tubuhnya, beliau memiliki beberapa kegemaran seperti rutin lari pagi, bersepeda, dan sesekali bermain golf dengan rekan kerjanya. Terkadang beliau bersepeda menuju rumah stafnya hanya sekedar untuk saling mendekati diri. Selain olahraga, beliau memiliki kegemaran mengendarai motor besar, sesekali beliau mengajak sang istri dan anaknya untuk berkeliling dengan motornya. Jika ada waktu luang, beliau beberapa kali mengikuti konvoi komunitasnya hingga ke luar Jawa.

Menurut Santoso, interaksi adalah salah satu sumber untuk mendapatkan informasi. Menjadi pemimpin cabang terbaik di Yogyakarta merupakan salah satu keberhasilan yang telah ia capai. Prinsip beliau pada saat menjadi pemimpin adalah harus dapat membuat sejarah serta menjadi panutan dan gemar mencari ilmu di tempat lain. Karena seorang pemimpin tidak akan selamanya berada diposisi yang sama, sehingga harus membagikan ilmunya kepada bawahannya yang kelak akan meneruskan jejaknya. Harapan bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi UII adalah agar mahasiswa dapat menciptakan lapangan usaha untuk membuka lapangan pekerjaan baru.

Kesuksesan merupakan bagaimana cara kita untuk mengatasi persoalan yang hadapi. – Santoso Rohmad.

Harapan Santoso untuk kedepannya, ia ingin Bank BPD DIY dapat bersaing dengan BUMN dan perbankan nasional dalam menguasai teknologi dan penerapan good corporate governance. Untuk mewujudkan itu, banyak persoalan yang harus diselesaikan, sehingga hal tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi. Selain itu, harapan untuk keluarga kedepannya adalah menjadi keluarga yang “sukses”, dapat membina keluarga dari sisi moral dan akademik. Seperti mendidik anaknya untuk dapat mampu menyelesaikan persoalan hidup yang tidak didapat di bangku kuliah.

Iqbal Himawan: Jadikanlah Hambatan Sebagai Suatu Tantangan

Iqbal Himawan, pria kelahiran Semarang, 23 Januari 1986 ini adalah salah seorang alumni dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia yang berlatar belakang dari keluarga PNS. Sejak kecil Iqbal sudah diajarkan untuk melawan ketakutan dengan tidak menjadikan ketakutan itu sebagai phobia, tetapi juga harus pandai mengatasinya. Selain itu, Iqbal sejak kecil juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, penasaran dengan hal–hal baru dan ingin mencobanya. Sifat ingin tahu itu merupakan salah satu pendorong Iqbal menjadi seorang jurnalis, sehingga tak heran pencapaian karir Iqbal ini sesuai dengan apa yang telah dilakukannya sejak kecil. Saat ini Iqbal menjabat sebagai News Anchor di Metro TV. Sebuah tantangan ketika orang tua yang sudah terbiasa bekerja dibidang birokrat dan sangat sulit bagi Iqbal untuk meyakinkan kedua orang tua bahwa pekerjaan sebagai jurnalis itu adalah pekerjaan yang sangat bermanfaat dan membanggakan.  Mendengarkan berita pada channel tv international sudah dilakukan Iqbal sejak kecil dan kagum melihat para jurnalis meliput dalam segala situasi, dari lokasi manapun sehingga dapat memberikan laporan informasi yang jelas terhadap pemirsa.

Iqbal menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) disuatu kota kecil, yaitu Purwodadi. Kemudian lulus dari bangku SMP Iqbal mengikuti student exchange ke Australia dan melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Iqbal mengambil jurusan Ilmu Ekonomi (International Pembangunan) dengan mempertimbangkan berbagai alasan pendukung, salah satunya Iqbal memiliki passion dibidang bahasa dan ia beranggapan Ilmu Ekonomi dapat menunjang profesinya untuk menjadi  seorang jurnalis dan mengasah kemampuan net working-nya. Selain itu juga Iqbal beranggapan bahwa masih sedikit perguruan tinggi yang menyediakan International Program pada Jurusan Ekonomi di Yogyakarta. Baginya Yogyakarta merupakan kota yang sangat kondusif untuk mengenyam pendidikan. Pada masa kuliah, Iqbal mengidolakan dua orang dosen yang menjadi favoritnya sekaligus motivator terbesar dalam dirinya yaitu, Bu Endang yang mengajarkan ketegasan dan Pak Edi Suwandi Hamid yang selalu menjelaskan sesuatu hal rumit bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana sehingga dapat diaplikasikan dengan mudah.

Melalui pekerjaannya, hidup Iqbal dekat dengan berbagai macam petualangan yang membuatnya harus selalu siap siaga. Seperti mewawancarai presiden, mewawancarai Antasari Azhar, mewawancarai istri teroris, bahkan mewawancarai seorang ayah yang memperkosa anaknya sendiri. Sejak kecil sosok Iqbal dikenal sebagai anak yang selalu ingin mencoba segala hal baru dan memiliki empati yang tinggi. Baginya empati dapat membantu diri untuk selalu bersyukur. Semakin sukses seseorang, semakin merendah dan selalu humble pada siapapun.

Anggaplah sebuah hambatan itu menjadi tantangan, karena kita tidak pernah tahu bahwa hambatan bisa menjadi sebuah kesempatan. – Iqbal Himawan

Sebelum menjadi News Anchor, Iqbal sempat bekerja di bank selama 3 tahun. Tahun pertama ia bekerja di bank Danamon, kemudian dua tahun selanjutnya bekerja di bank BRI. Kemudian Iqbal berpikir untuk menjadi jurnalis namun tetap menggunakan background dirinya sebagai alumni Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi UII. Selain menjadi News Anchor di Metro TV, Iqbal juga sering menjadi moderator untuk anak – anak kurang mampu dan panti asuhan.

Diakhir wawancara, Iqbal Himawan menyampaikan beberapa pesannya untuk mahasiswa yaitu, bersikaplah lebih prihatin karena setelah memasuki dunia kerja kita merasakan bahwa mencari uang itu susah. Kumpulkanlah pengalaman dan network sebanyak–banyaknya, manfaatkan internet sebaik-baiknya, dan bergabunglah dengan komunitas agar membuat kita lebih siap dalam menghadapi dunia kerja. Selain itu Iqbal juga menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan Finding Alumni, semoga dapat terus terbentuk kerjasama alumni dengan Fakultas Ekonomi UII dalam membangun sinergi alumni dan dapat bertukar pikiran dengan mahasiswa.

Restu Satriotomo: Temukanlah Passion yang Membuat Anda Spesial

Restu Satriotomo merupakan salah satu alumni Fakultas Ekonomi Unversitas Islam Indonesia angkatan tahun 2000 program studi Manajamen. Pria kelahiran 20 Juli 1982 dibesarkan Yogyakarta serta beberapa negara. Mempunyai latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja, Ayahnya merupakan pegawai yang bergerak di bidang ekonomi membuat ia dan adik-adiknya selalu diajari tentang ekonomi. Pernah menempuh pendidikan di SMA Indonesia Hongkong Konsula yang terletak di Hongkong selama 1 tahun. dan kembali ke Indonesia ketika SMA kelas 2 melanjutkan pendidikan di SMA 1 Magelang. Tomo sapaan akrabnya, bukanlah anak yang cerdas ketika itu tetapi kegigihannya patut diteladani. Lalu ia melanjutkan pendidikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Alasan  memilih  Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia dikarenakan merasa berbeda dari fakultas lain dan sosok ayahnya membuat beliau menjadi menyukai ekonomi membuat ia dapat mencapai titik kesuksesan karena sejak kecil sudah dikenalkan dengan ekonomi. 

Ketika kecil, ia mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter dikarenakan suka membantu orang lain. Akan tetapi, nilai yang dibutuhkan untuk menjadi dokter tidak sesuai harapannya dan membuat ia mencoba mempelajari ekonomi seperti yang diajarkan oleh ayahnya. Ketika kecil  pun, sudah harus bertemu pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan ketika berpindah-pindah negara untuk menempuh pendidikan dikarenakan mengikuti orang tua nya yang bertugas dan membuatnya sempat lupa cara berbicara Bahasa Indonesia ketika kembali ke Indonesia.

Pada tahun 2004, beliau lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia dan masih mempunyai cita-cita untuk bersekolah di luar negeri sembari mencari kerja dan mencari informasi tentang perkuliahan di luar negeri. Beliau pada awalnya telah diterima di perusahaan Valbury Sekuritas Indonesia tetapi ditolaknya agar bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri yaitu Cleveland State University California, Amerika prodi Master of Business Administration. Beliau mendapatkan pilihan yang cukup berat untuk berpindah dari Amerika ke Eropa karena harus meninggalkan pekerjaan yang sangat bagus saat itu dan harus mengulang dari nol pada saat di Eropa.  Alhasil dengan minitih karir beberapa kali di Eropa, akhirnya beliau saat ini menjabat sebagai Assistant Vice Pressident Sumitomo Mitsui Banking Corporation di Brusssels Area, Bulgium.

“Passion. Walaupun anda merasa minoritas, tetapi temukanlah passion yang membuat anda spesial”.

Keberhasilan beliau dicapai dengan kegigihan beliau untuk menggapai cita-citanya dan dukungan dari keluarga. Keinginanya yang belum tersampaikan, ia ingin anak-anak daerah mencicipi pengalaman ke luar negeri bahwa ke luar negeri anak biasa saja bisa tidak perlu menjadi orang super, serta adanya motivasi dan keinginan yang kuat. Pesan yang ingin disampaikan beliau untuk memotivasi para pembaca terutama mahasiswa UII sekarang ialah “Kita harus mencari added value di dalam diri kita agar menjadi orang yang spesial walaupun kita terlihat biasa, biarlah Indonesia seperti kotak biarlah Yogyakarta seperti kotak. Setiap kalian melangkah lewati kotak-kotak itu berarti kalian keluar dari zona nyaman dan jangan pernah tergoyah”.